Aku hanya diminta untuk mengandung anaknya.
Tidak untuk dicintai, tidak untuk dipertahankan.
Setelah melahirkan, aku harus pergi… membawa hati yang hancur, dan meninggalkan bayi yang kukandung dengan air mata.
Namaku Naira.
Aku bukan siapa-siapa — hanya wanita yang dijodohkan demi rahimku, agar keluarga besar Arga punya pewaris.
Pernikahan ini semu, cinta ini tidak pernah diminta.
Tapi di setiap detik aku merasakan kehidupan tumbuh di dalam perutku, aku juga mulai merasakan sesuatu yang tak seharusnya: aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.
Namun di rumah itu, ada satu nama yang tak pernah bisa kulewati — Raisa, istri pertamanya.
Wanita sempurna yang tak bisa mengandung, tapi memiliki seluruh hatinya.
Aku hanyalah bayangan, tapi bagaimana jika bayangan ini mulai memiliki cahaya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiw1tt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PERNIKAHAN
Hujan sore itu turun perlahan, menetes di kaca jendela tempat aku berdiri dengan jantung berdebar. Tenggorokan ku tercekat menahan air mata agar tidak jatuh merusak riasan yang begitu cantik.
Gaun putih yang kukenakan terasa begitu berat—bukan karena kainnya, tapi karena beban yang kupikul bersamanya. Sudah dua hari aku menangis tanpa henti. Bayangkan jika kalian harus meninggalkan seseorang yang begitu kalian cintai dan harus menikah dengan seorang pria beristri.
Aku menatap bayangan diriku di cermin.
Wanita dengan mata sembab dan bibir pucat itu adalah aku, Naira—calon istri dari lelaki yang bahkan tidak mencintaiku.
Aku menatap ponsel yang sedari tadi berkedap-kedip. Menampilkan foto Seorang pria dan wanita yang sedang tertawa lepas dengan pantai sebagai latar nya.
'RAJA'
Kontak yang sudah Aku simpan selama hampir 5 tahun. Nama Raja adalah nama favoritku selama ini, bukan hanya nama, tapi seseorang yang Sangat spesial bagiku.
Dan untuk pertama kalinya, Aku tidak berani mengangkat telpon dari orang tersebut. Tanganku bergetar hebat, air mataku juga sudah tidak bisa lagi di bendung.
Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku langsung mengambil handphone tersebut dan mem blokir kontak dengan nama "Raja".
Pernikahan ini bukan tentang cinta.
Ini tentang keinginan keluarga besar Arga untuk memiliki pewaris darah mereka. Arga sudah beristri, tapi sudah 5 tahun pernikahan, mereka belum juga di karuniai seorang anak.
Sedangkan aku adalah seorang wanita yang dipaksa harus menikahi pria ber istri itu. Ayahku terlilit hutang yang begitu besar pada keluarga Arga. Mau tidak mau Aku harus mau menyewakan rahimku secara cuma-cuma pada keluarga Arga sebagaimana persetujuan yang memang aku sendiri tidak punya Hak untuk menolak.
“Sudah siap?” suara seorang wanita paruh baya memecah lamunanku.
Aku tersenyum samar, meski hatiku nyaris hancur. “Iya, Bu.”
“Bagus. Ingat, setelah anak itu lahir, hutang ayahmu akan saya anggap lunas dan kau akan menerima kompensasi sesuai perjanjian. Setelah itu pergilah dari kehidupan Arga. Jangan pernah menuntut apa pun.”
Nada suaranya dingin, seperti memberi tahu aku bahwa aku bukan manusia — hanya rahim yang disewa.
Aku mengangguk pelan. “Saya mengerti, Bu.”
Langkahku terasa berat saat berjalan menuju altar. Bahkan disaat seperti ini, Ayahku tidak mau mendampingi putri satu-satunya ini.
Aku bisa melihat, di pojok sana ayahku sedang berdiri dengan muka menunduk, aku hanya berharap ayah mau menguatkan ku seperti sebelum-sebelumnnya saat aku sedang terpuruk.
Di ujung sana, aku juga bisa melihat Arga berdiri tegak mengenakan jas hitam. Wajahnya tampan, tapi dingin.
Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan.
Matanya kosong, seperti sedang menghadiri pemakaman, bukan pernikahan.
Di barisan kursi tamu, aku bisa melihat Raisa, wanita cantik dengan gaun biru muda. Matanya tajam menatapku dengan penuh kebencian, Aku bisa melihat mata raisa begitu sembab. Aku tau ini sama sekali bukan keinginan Raisa, wajar jika Raisa membenciku.
Andai takdir tak begitu kejam padanya.
Aku ingin berpaling, tapi pandangan Raisa menahanku.
Ada luka di matanya, ada juga kebencian di matanya, siapa yang tidak marah jika suami yang sangat dicintainya harus menikah lagi?
Arga menghampiriku dengan tatapan dingin. aku sama sekali tidak berani menatap nya.
Pendeta mulai berbicara, tapi aku nyaris tak mendengarkan.
Kata-katanya mengalir seperti gema di telingaku — hingga akhirnya suara itu terdengar begitu jelas:
“Apakah Saudari Naira bersedia menerima Tuan Arga sebagai suami, dalam suka dan duka, hingga maut memisahkan?”
Aku menatap Arga.
Ia tak menatap balik. Hanya menunduk pelan, seolah semua ini hanya formalitas.
“Ya, saya bersedia,” jawabku dengan suara bergetar.
Saat pendeta mempersilakan kami bertukar cincin, tangan Arga terasa dingin.
Cincin itu melingkar di jari manisku, tapi hatiku tahu — tidak ada ikatan di balik logam itu.
Semua orang bertepuk tangan ketika kami dinyatakan sah sebagai suami istri. Dengan reflek aku langsung menatap ke arah Raisa yang tengah menangis sambil memeluk ibu mertuanya
Aku tahu, aku baru saja menandatangani kontrak terdingin dalam hidupku.
_____
Setelah acara selesai, kami duduk berdua di mobil menuju rumah keluarga Arga.
Hening.
Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Arga membuka Jas nya dan melemparkannya ke kursi belakang mobil. Ia membuka dua kancing teratas dan melonggarkan dasinya. Aku bisa mendengar Arga bernafas begitu berat.
Suara handphone berbunyi, Ternyata handphone Arga, aku hanya diam saat Arga mengangkat telpon itu.
"Iya sayang"
"....... "
"Oke, Have fun"
"...... "
Aku yakin itu Raisa yang menelfon nya. Suasana kembali hening. Semua keluarga sudah kembali ke kediaman masing-masing. Aku bisa membayangkan betapa canggungnya saat kita sampai di rumah Arga nanti.
Arga mulai menjalankan mobilnya. Matanya begitu fokus ke jalan dengan headset putih yang menempel di kedua telinganya.
Aku memberanikan diri berbicara pelan, “Terima kasih… sudah bersedia menikah denganku.”
Arga menatap keluar jendela. sama sekali tidak merespon apa yang aku ucapkan. Mungkin Arga tidak mendegar ucapanku.
“Jangan salah paham. Aku melakukan ini karena ibuku. Bukan karena aku ingin.” Ucap Arga tiba-tiba.
Aku menunduk. “Aku tahu. Aku tidak akan menuntut apa pun darimu.”
Ia menatapku sekilas. “Bagus. Jangan membuat semua ini rumit, Naira. Setelah bayi itu lahir, kita berdua akan berpisah seperti tidak pernah saling mengenal.”
Hatiku mencelos, tapi aku berusaha tersenyum.
“Baik, Tuan Arga.”
Hujan di luar semakin deras, Rasanya duniaku benar-benar hancur sekarang.
Di tengah suara hujan itu, aku berbisik pada diriku sendiri,
“Setelah aku mengandung, Aku hanya ingin bayi ini lahir dengan selamat. Setelah itu, aku akan pergi, seperti tak pernah ada.”