NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gayboy

Suara desahan mengisi ruangan, semakin lama semakin keras terdengar. Jemari tangannya memainkan rambutku. Dia menahan berat badannya dengan sikut yang di topang di bawah ketiakku.

Sumpah, aku ingin tangannya menyentuhku. Lalu kulepaskan bibirnya dan mendorong tubuhnya hingga dia terlentang. Dia kaget dengan tindakanku itu, namun dia tidak melarang.

Tapi, ahhh. Jeansnya mengganggu! Aku ingin merasakan ereksinya, bukan Jeansnya. Cepat-cepat kubuka kain tebal itu sambil memandang matanya yang membulat melihat perbuatanku yang begitu agresif.

Setelah menurunkan Jeansnya separas lutut, akupun turut melakukan hal yang sama.

****

"Winda! Kenapa tadi tidak angkat telepon papa? Tahu tidak mama dan papa khawatir!"

Suara papa keras menegurku, tapi aku tetap berjalan masuk melewati pintu depan.

"Khawatir kenapa? Winda kan sudah besar?" jawabku enteng.

"Siang tadi Papa jemput kamu di kampus, tapi kamu tidak ada. Papa telpon tidak di jawab. Why?" Papa semakin memuncak, berdiri dengan satu tangan di pinggang.

Aku keluarkan ponsel dalam tas dan memeriksa.

12 missed calls

3 text messenger

Nafas panjang kuhela dalam-dalam menyimpan lagi ponsel ke dalam kantong celana jeans.

"3 tahun papa kirim Winda ke London, perasaan nggak ada tuh papa kuatir Winda sendiri di sana?  So, sekarang nggak perlu lah seperti orang peduli gitu," balasku santai lalu melanjutkan langkah mendaki tangga menuju kamar. Kuhiraukan teriakan papa yang meyeru namaku.

Sesampainya di kamar, aku periksa kembali teleponku. Semua missed calls dari papa. Lanjut kuperiksa pesan salah satunya juga dari papa menanyakan keberadaanku siang tadi. Ada juga dua pesan dari Adri--teman lelakiku.

Baby, malam ini aku tunggu di Starbuck jam 08.00. Kita ngumpul dulu baru make. Oke.

Baby, where are you?

Hah? Jam delapan, sedang jam di tanganku sekarang sudah menunjukkan pukul 20.30. Aku balas pesan dari Adri, menyatakan sedang dalam perjalanan sebelum berlalu ke kamar mandi.

***

Dugaanku benar, papa bertanya macam-macam waktu aku hendak keluar. Tapi, kuberikan alasan pergi belajar kelompok di rumah teman dan papa mengangguk meski wajahnya terlihat ragu. Segera kuambil kunci mobil, lalu berlari keluar.

Aku tiba di Starbucks lewat pukul sembilan. Dari jauh, aku sudah lihat John bersama Adri sedang asyik menghisap vape di booth luar. Aku hampiri mereka dan beradu pipi tanpa canggung. Kemudian, Adri menarikku agar duduk di dekatnya dan mencium bibirku rakus.

"Baru sehari gak ketemu, tapi aku udah rindu banget sama kamu, baby," rengeknya di telingaku.

"Aww. Miss you, too." Aku menyandar di bahunya dan dia memeluk pinggangku dari sisi.

"Woi, Ad! Kasih tau gue, jurus apa yang Lo pake sampai bisa dapat cewek seseksi si Winda ini? Gue juga pengen, bro," celetuk John sambil mengisap vapenya. Adri hanya mengangkat bahu.

"Rehan mana?" tanyaku sambil meraih latte es di depan Adri.

Adri, John dan Rehan merupakan teman satu kampus dan juga tinggal di satu rumah kontrakan. Mereka mahasiswa semester 4, tapi tidak satu kampus denganku. Daerah asal Mereka pun berbeda-beda, ada yang dari Bandung, Surabaya, sedang Adri dari sendiri dari Banten.

Aku kenal mereka 4 bulan lalu di sebuah klub malam. Waktu itu aku baru beberapa minggu pulang dari London, tapi malah mendengar papa dan mama bertengkar hebat. Untuk menenangkan pikiran, aku mengunjungi klub malam di pusat kota.

Adri tiba-tiba datang mendekatiku, dia mendengar segala curhatku dan membuatku kembali happy karna merasa ada yang peduli. Malam itu, aku juga ikut pulang kerumah kontrakannya dan dia memelukku erat hingga kami tertidur.

Berawal dari perkenalan itu, kami semakin dekat dan aku tertarik dengan perhatian yang Adri berikan. Sering aku ikut pulang ke rumahnya, tapi tidak sekalipun dia melakukan sesuatu tanpa izinku. Mungkin disebabkan dia menghargai privacy-ku, aku pun tidak menolak saat dia  memintaku jadi kekasihnya.

Setelah menjadi pasangan kekasih sejak 14 Februari lalu, hubunganku dengan Adri semakin bebas. Perhatiannya yang begitu besar, membuat aku merasa berhutang budi dan makin sayang padanya. Disebabkan itu juga aku sering menghabiskan waktu di rumah kontrakannya dan akhirnya aku juga dekat dengan John dan Rehan.

Beberapa bulan lalu, Adri mengenalkanku dengan 'permen neraka'. Berawal dari situlah, apabila aku merasa stres, aku akan mengajaknya untuk memakai barang haram tersebut, karna hanya dengan itu pikiranku kembali tenang. Terkadang di bawah pengaruh barang haram itu, aku pasrah saat Adri memuaskan nafsuku dengan handjob.

"Rehan pergi. Katanya sih ngajemput temannya."

Jawaban John menghentikan lamunanku.

Adri juga pernah memintaku melakukan blowjob, tapi aku tolak. Aku memang gadis liar, namun aku tidak mau tergesa-gesa dalam melanjutkan hubungan ketahap yang lebih intim. Hubungan percintaan kami terlalu mentah, baru tiga bulan.

***

Jam 11 malam, kami tiba di rusun yang memiliki 5 lantai, dimana Adri dan rekannya mengontrak rumah.

Suasana malam itu cukup hening. Pencahayaan di rusun itu tidak begitu terang, memudahkan Adri membawaku ke rumahnya yang berada di lantai 4.

John terlebih dulu naik, setelah dia memberikan signal clear, barulah Adri dan aku menyusul. Di lantai dua Adri berhenti dan mencium bibirku rakus. Takut ada orang yang melihat, maka aku tolak tubuhnya perlahan. Saat ini aku tidak ada mood.

"Baby, kenapa? Gak ada siapapun disini. Di Starbucks tadi kamu oke oke aja." Adri menjauhkan wajah. Ada riak kecewaij dari suaranya.

"Di dalam aja." Aku membujuknya sambil menarik tangannya. Untungnya dia menuruti kata-kataku.

Baru saja masuk kedalam rumah yang pintunya sudah di buka John terlebih dulu, Adri lansung menarik tanganku, menutup kembali pintu dan mengunci pergerakanku. Kedua tangannya memegang kepalaku dan bibirnya lansung melumat bibirku.

Permen neraka yang aku pakai di dalam mobil tadi sepertinya tidak begitu beraksi, tapi ciuman Adri yang semakin intens membuatku hanyut. Aku bahkan lupa sekarang masih berada di ruang tamu, bukan di dalam kamarnya. Aku semakin terbuai dengan ciuman yang semakin bergairah, malah kini lidah kami saling berpaut mencari sensasi tersendiri.

"Apa-apaan ini?"

Sebuah suara, keras dan tegas tiba-tiba menegur kami hingga aku dan Adri bergelinjak dan seketika melerai pergelutan lidah. Adri melepaskan bibirku dan menoleh kebelakang. Tangannya yang masih menangkup pipiku ku-alihkan perlahan dan Adri memutar tubuhnya menghadap suara itu.

"Lo siapa, hah?" tanya Adri tak bersahabat.

Aku lap bibirku yang basah dengan punggung tangan sebelum maju kedepan. Wajahku menunduk malu karna perbuatan kami barusan ketahuan orang lain. Adri melingkarkan tangannya di bahuku, menarikku lebih rapat ke sisinya dan kubalas dengan merangkul pinggangnya dengan sebelah tangan.

"Hai! Ad, Win! Kenalin ini teman gue, Adam. Dia mau numpang tidur di sini untuk beberapa hari. Gak apa-apa kan?" Rahan tiba-tiba muncul di belakang lelaki itu.

Kuangkat kepala ketika namaku di sebut, rangkulan tangan di pinggang Adri kulepaskan, lalu aku bergerak kedepan menyapa Rehan yang baru datang.

"Apa kabar, Re?" sapaku. Sama seperti yang kulakukan dengan John, kami juga beradu pipi. Ini sudah menjadi kebiasaanku selama tinggal di London. Lalu aku menoleh ke arah lelaki yang menegurku tadi. Dia sedang memandangku.

"Jadi ini teman yang Lo jemput tadi?" tanyaku pada Rehan.

"A..ah... Iya, ini teman yang gue jemput tadi. Namanya Adam."  Rehan kembali memperkenalkan rekannya itu. "Oh ya, Dam. Ini Winda. Pacar Adri." Rehan menepuk bahu lelaki itu yang masih memandangku.

Aku memberanikan diri menantang matanya dan entah kenapa jantungku berdenyut lebih cepat. Matanya sungguh tajam menyorotku.

"Hai, nice to meet you." Kusapa dia sambil tersenyum walau hati masih bergetar. Tangan ku-ulurkan untuk bersalaman, namun tidak di sambutnya.

Kerang ajar!

Tangan kanannya memegang botol minuman, padahal bisa saja dia memindahkan botol minum itu ke tangan kiri dan menyambut uluran tanganku.

"Errr...." Rehan yang mungkin merasa sungkan memandang tanganku, kemudian memandang wajah lelaki itu dan kembali memandangku, seperti salah tingkah.

"Baby, percuma! Dia gak akan melakukan itu." Adri memelukku dari belakang. Mataku masih melekat di mata lelaki itu, begitu juga matanya masih belum lepas dariku.

"Pacar?" Lelaki itu tiba-tiba bersuara dan matanya kini beralih pada Adri.

"Yes, dia pacar gue. Kenapa? Masalah buat Lo?" Adri seperti sengaja menantang lelaki itu. Tangannya lebih erat memelukku, seolah ingin membuktikan kata-katanya kalau aku ini kekasihnya.

Mata lelaki itu beralih ketangan Adri yang melingkar di perutku, jelas sekali seperti tidak suka.

"Dia bukan muhrammu, bro. Tidak baik seperti itu." Lelaki itu memberi teguran membuatku tiba-tiba ikut panas. Siapa dia? Sok alim?

"What? Lo bilang apa? Bukan mahram? Haha.... Lo pikir gue peduli?" Adri mengejek.

Rehan yang menyaksikan itu menggaruk kepala, merasa serba salah. Mungkin dia bingung harus membela siapa. Yang satu teman, yang satu lagi juga teman.

"Lebih baik nikah dulu. Jadikan Winda halal untukmu." Bukannya berhenti, lelaki itu malah semakin tegas mempertahankan pendapatnya. Tapi raut wajahnya seakan kesal.

"Nikah? Haha." Adri tertawa besar. "Eh, Lo lahir di abad berapa sih? Ini zaman milenium coy. Ngapain tunggu halal dulu, rejeki udah depan mata, mau nunggu lagi? Benar-benar gila ini orang." Adri semakin sarkas.

"Tapi wanita untuk di lindungi, bukan untuk di jadikan pelepasan nafsu." Suara lelaki itu masih tenang, walau wajahnya semakin merah, mungkin menahan marah.

"Munafik! Kayak gak pernah nyodok meki aja Lo! Wajah gayboy kayak Lo ini, yang ada laki pun Lo embat!" umpat Adri. Tangan yang tadinya memelukku di lepaskan, lalu melangkah ke depan. Terlalu marah.

Cepat-cepat kutarik tangannya ke belakang, takut keributan ini semakin memanas.

"Oke. Sekarang gini aja. Buang prinsip kalian masing-masing. Berani berbuat berani bertanggung jawab. Oke." Rehan menyala, berdiri diantara Adri dan lelaki itu mencoba menjernihkan keadaan. Kemudian Rehan memberi kode agar Adri masuk ke kamar.

Adri mengambil tanganku dan menarikku menuju kamarnya. Aku masih menoleh kebelakang melihat mata lelaki itu yang belum juga lepas dariku, seolah memohon agar aku tidak ikut ke kamar bersama Adri.

Jantungku semakin tak karuan karna mata itu terus saja menatapku. Lalu, dengan kepala menunduk aku membuka langkah mengikut Adri.

"Winda." Suara itu memanggilku dan berhasil membuat langkahku terhenti. Aku menoleh lagi kearah lelaki itu, namun Adri labih dulu menarik tanganku. Mungkin dia marah.

"Bro, udah lah," ujar Rehan pada lelaki itu memintanya tidak lagi ikut campur. Adri mendengus, lalu menarikku masuk ke kamarnya.

Setelah menutup pintu, Adri meninggalkanku dan membuka bajunya, lalu melempar kasar kelantai bersama baju kotornya yang lain. Kamarnya ini sangat berantakan dengan baju kotor berserak dimana-mana.

"Sialan! Sok alim banget! Belum tau dia siapa gue." Adri masih menggerutu seolah belum puas hati dengan lelaki tadi. Aku bahkan belum pernah melihatnya se-emosi ini. Melihat wajahku yang masih gusar, Adri melepaskan nafas berat.

"Baby, sini dong." Sekelip mata, suaranya berubah manja. Tangannya melambai memanggilku agar mendekat.

Perlahan aku membuka langkah, namun Adri yang tidak sabaran menarik tanganku, lalu di dorongnya ke ranjang.

"Baby, kita nikmati dulu malam ini, oke?" bisiknya sebelum menindih tubuhku dan mengecup seluruh wajahku. Kedua tanganku diangkat keatas, lalu dia menyambar bibirku. Lidahnya menekan-nekan ingin masuk lebih dalam lagi, tapi mulut aku katup rapat.

"Baby, where are you?" rengeknya karna penolakanku. Aku alihkan pandangan ke arah lain, lalu Adri mencium leherku. Dia menggigit nadiku dan mulai menekan pinggulnya. Aku yang kaget dengan perlakuannya itu menolaknya ke samping.

"Where are, Winda?" Suara Adri jelas menunjukkan kesal dengan penolakanku. Biasanya, di bawah pengaruh permen neraka, aku lebih mudah menyerah dengan perlakuannya. Tapi, entah kenapa belakangan ini reaksi permen neraka yang dia berikan seperti kurang bereaksi. Ini bukan kali pertama aku menolak Adri seperti malam ini.

"Sorry, aku lagi gak ada mood." Setelah mengucapkan itu aku pindah dan duduk di kursi belajarnya sambil menyeka bibirku yang basah.

"Gak mood kenapa? Oh....pasti gara-gara gay biadap itu?" Adri bicara sambil menunjuk ke arah pintu. Tentu lelaki 'gay' yang dia maksud adalah lelaki tadi.

"Bukan. Tapi aku gak tau juga kenapa. Kayaknya barang itu gak begitu ada reaksi," jawabku memberi spekulasi sendiri.

Adri melepaskan nafas berat. "Oke. Nanti akan kucari barang yang lebih bagus. Tapi next time aku gak mau ada penolakan lagi." Adri berdiri di depanku dan mengecup kepalaku. Mataku malah tertuju pada bagian resleting Adri yang sudah membukit.

"Sepertinya aku harus pulang sekarang. Aku janji sama papa hanya sampai pukul 12," kataku berbohong.

Adri tampak kecewa, tapi dia tidak bicara apa-apa. Di kecupnya bibirku sekali lagi sebelum kutinggalkan dia di dalam kamar.

Di ruang tamu, lelaki itu tersenyum kecil saat melihatku keluar dari kamar Adri.

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!