Lima belas tahun yang lalu, Maria adalah sosok yang ceria tidak peduli bagaimana asal - usulnya. Namun semenjak dirinya menyatakan cinta pada Yudha dan ditolak, ia jadi memahami mengapa Bibit, Bebet, dan Bobot menjadi standar ditolak dan diterima, dipilih dan dipinang.
Apalagi ketika ia harus terusir dari rumah karena sertifikatnya telah digadai sang ayah. Sedangkan sang ayah sendiri tewas menjadi bulan - bulanan massa setelah tertangkap basah tengah mencopet.
Yudha seorang pria tamvan, mavan, dan rupawan. Karirnya begitu cemerlang. Namun takdir seolah menjungkir balikkan hidupnya ketika sang istri meninggal saat melahirkan buah hati kedua mereka.
Karena harus menitipkan sang bayi di rumah sang ibu, ia kembali bertemu Maria dalam kondisi saling membutuhkan.
"jadilah baby sitter untuk anakku, aku akan menanggung semua kebutuhanmu."
"Hey, kamu nggak takut mempercayakan anakmu padaku. Nanti kalau anak mu rewel kemudian aku bunuh, gimana."
Yudha tersadar, kesalahannya di masa lalu telah membuat Maria tidak lagi sama seperti yang dulu.
Namun Ketika Cinta Telah Bicara, akankah menyatukan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eeeewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Maria dengan sabar menunggu antrian mbah Dukun yang tengah membacakan doa - doa pada sebotol air milik pasiennya. Terbilang setiap bulan dua kali, ia mengantarkan temannya yang bernama Safira untuk mengunjungi mbah D. Bukan tanpa sebab, Safira minta diantar ke tempat tersebut. Intinya semua orang memiliki masalah. Entah itu sakit keras yang tidak ada obatnya, di santet, di ganggu makhluk halus, ingin karirnya lancar, ingin kebal senjata, termasuk ingin mencari jodoh seperti yang dilakukan oleh sahabat Maria.
Mbah D sempat menatap sekilas ke arah Maria. Barangkali beliau merasa heran dengan gadis yang rajin datang berkunjung ke rumahnya itu, namun tidak pernah berniat untuk meminta bantuan dan hanya sekedar mengantarkan temannya. Padahal ditilik dari raut wajahnya, mbah D merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan gadis itu. Sayangnya Maria malu untuk berkeluh kesah pada mbah D. Lha pasien beliau yang cantik dan tajir melintir saja banyak yang kesulitan mendapatkan jodoh. Bagaimana dengan Maria yang tidak tahu siapa ibunya dan ber- ayah seorang penjahat kambuhan, coba?
Setelah menatap Maria, mbah D segera melayani Safira. Maria merasa lega. Sudah hampir satu jam ia mendengarkan para pasien si mbah D berkeluh kesah. Dari curhatan mereka, ia merasa bersyukur. Ternyata di dunia ini, yang hidupnya hampa merana tidak hanya dirinya. Lagipula Maria tidak mau Mbah D membuka aibnya di depan para pasien lain. Biarlah rahasia tentang siapa dirinya tersimpan rapi di dalam hatinya yang paling dalam. Berdamai dengan nasib adalah jawaban paling mumpuni untuk semua cobaan hidup yang harus ia lalui saat ini.
"Lho, mbah. Ingkang dugi mriki kulo rumiyin kok kulo malah dipun langkahi, to," (Lho, mbah. Yang datang kesini saya duluan kok malah saya didahului) protes seorang ibu - ibu yang hendak mencarikan doa supaya anak gadisnya mendapatkan jodoh.
"Sabar! Bu. Aku tak ndisikke mbak'e iki. Soale mbak'e iki arep ana keperluan penting." (sabar, Bu. Aku mendahulukan mbaknya ini, karena mbaknya mau ada keperluan penting). Ucap mbah D sambil menatap Maria penuh empati.
Setelah mbah D selesai memberi doa pada sebotol air mineral milik kliennya, beliau menoleh ke arah Maria.
"Yo wes kono ndang mulih! Sing sabar yo, Nduk."
(Ya sudah sana buruan pulang! Yang sabar ya, Nduk) Ucap mbah D pada Maria.
Maria tidak paham dengan maksud ucapan si Mbah. Padahal ia bukan pasien. Seharusnya teman yang ia antarkanlah yang mendapat perlakuan istimewa bukan dirinya. Toh ia hanya datang untuk menemani saja.
Setelah mengantarkan Safira, Maria pun pulang ke rumah dengan mengendarai motor butut milik bapaknya.
Sampai di depan rumah, Maria dibuat heran ketika banyak sekali orang berada di halaman tempat tinggalnya.
"Kamu dari mana saja?" tanya bapak ketua RT pada Maria.
"Saya dari pergi diajak teman, Pak. Memangnya ada apa kok bapak - bapak berkumpul di rumah saya?" tanya Maria dengan wajah bingung. Kalau semisal ada acara arisan RT, mengapa bapaknya yang sableng itu tidak memberitahukannya. Minimal kalau bapaknya memberitahu, Maria bisa mempersiapkan minum dan camilan sebelum ia pergi bersama Safira.
"Sabar ya! Nak. Tadi ayahmu mengalami musibah. Beliau meninggal dunia."
Tbc