Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.
Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.
"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog : Harga Sebuah Keamanan
San Diego, California
Mata Elleta menatap lurus laki-laki tua sekitar berumur 50 tahun, duduk di sofa apartemennya dengan menyilangkan kakinya. "Selama ini Papa cari kamu, El. 6 tahun kamu kabur, kamu malah tinggal di apartemen kumuh seperti ini? apa kebebasan ini ya kamu maksud," cerca Yuda memandang penampilan Elleta dress lusuh yang jauh dari kata mewah.
Elleta mengepalkan tangannya, matanya menyorot tajam. "Apa tujuan Papa datang kesini?" tanya Elleta dengan wajah datar.
Mata Yuda menelusuri setiap detail bangunan apartemen yang ditinggali putrinya, Yuda tersenyum remeh. "Menjemputmu pulang ke tempat yang seharusnya kamu tinggal, bukan di tempat seperti ini, Elleta!"
Elleta berdiri tegak tanpa takut dengan tatapan tajam Papanya, detak jantung yang bergerumuh. "Aku tetap enggak akan pulang, Pa!!" teriak Elleta dengan napas yang memburu.
Yuda menangkap sebuah foto polaroid yang tertempel di kulkas, laki-laki paruh baya itu berdiri. Mengambil foto itu di dalamnya seorang laki-laki muda dan putrinya tertawa riang di pantai. "Apa ini alasanmu menolak pulang, El. Siapa ini? Kekasihmu?"
Yuda berbalik badan, tangannya masuk ke dalam saku. Melangkah mendekat ke arah putrinya, jemarinya menarik ujung baju gadis itu dengan tatapan jijik. "Apa dengan kamu tinggal kayak gini membuatmu cukup? Lihat bajumu, El. Di mana martabat seorang anak raja bisnis Crassia yang terpandang itu, di mana semua kemewahan itu, Elleta Clarissa Crassia!"
Elleta mengibaskan jemari Papanya dari bajunya dengan kasar. "Aku enggak butuh kemewahan, Pa. Apalagi hidup di kekang dan diatur, Papa! Kali ini Elleta enggak bisa diam aja!!" Tangannya Elleta meremat dress kuningnya dengan erat.
Yuda tertawa renyah, menertawakan alasan naif putrinya. "Apa kamu sanggup hidup tanpa kemewahan? Sedangkan kamu dari kecil sudah dibentuk dari kemewahan yang Papa berikan, El. Kamu yakin?" ujar Yuda sinis.
Laki-laki paruh baya itu menatap jendela yang berdebu itu dengan senyuman miring. "Siapa nama laki-laki itu? Sampai kamu bersih keras tidak mau pulang?!"
Elleta menatap Papanya dengan tangannya yang berkeringat dingin. "Papa enggak perlu tahu tentang pacarku!"
Yuda berbalik badan lalu menatap Elleta dengan dingin. "Daniel Alvarez laki-laki berumur 27 tahun, seorang pekerja seni sekaligus pekerja di perusahaan finansial, bukan?"
Bola mata Elleta bergerak kesana kemari, jantungnya berdegup kencang. Mendengar Papanya menyebut kekasihnya tanpa ia beritahu. "Apa yang Papa inginkan?"
Yuda menyilangkan kedua lengannya di dada. Atmosfer di apartemennya mendadak mencekam. "Hanya satu perintahku, El. Pilih pulang ke Jakarta dengan sukarela atau mendengar berita tentang kekasihmu mati ditangaku, tinggal pilih, El. Semuanya keputusan ada di tanganmu, El."
Elleta tahu Papanya hanya menggertaknya, gadis itu tetap berdiri tegak dengan tangan yang mengepal. "Aku tetap disini! Aku enggak akan pulang!!"
"Oke, berarti kamu pilih Daniel kekasihmu itu mati ditanganku?" Yuda merogoh ponsel di saku jasnya, menekan nomor orang kepercayaannya. Sambungan telepon itu terhubung. "Halo, perintahkan seseorang untuk membunuh laki-laki yang bernama..."
Yuda belum menyelesaikan ucapannya, Elleta lebih dulu merebut ponsel itu. "Oke! Aku bakal ikut Papa ke Jakarta. Tapi ada syarat yang harus Papa penuhi, jangan sentuh kak Daniel!"
Yuda menatap putrinya dengan tatapan berbeda, dulu Elleta selalu menurut kepadanya tanpa syarat, senyuman puas terbit di bibirnya. "Bagus! Itu pilihan yang bagus, Elleta. Besok sopir akan menjemputmu jam delapan pagi. Papa pegang kata-katamu, jangan berpikir untuk berubah pikiran, El."
Laki-laki paruh baya itu melangkah keluar dari apartemennya, saat suara pintu tertutup kembali.
Kaki Elleta seperti jelly runtuh ke lantai kayu yang dingin. Ia memeluk lututnya erat-erat. Meraup oksigen yang ikut menguap bersama kepergian Papanya.
Keputusannya yang ia ambil, Elleta harus siap melepaskan kebebasannya yang selama ini ia miliki. Benda pipih di tangannya bergetar, layarnya menyala nama Daniel muncul.
Tangannya enggan mengangkat panggilan telepon itu dengan tangannya yang bergetar.
"Halo, El? Kamu masih di sana? Aku ke apartemenmu, ya. Mau aku bawakan macaron kesukaanmu?" Suara di seberang telepon yang hangat, kontras dengan suasana hatinya yang panas.
Bibirnya keluh tak ada energi untuk membalas ucapan laki-laki itu, bayangan ancaman Papanya teriang-riang di kepala.
Tak sanggup mendengar suara kekasihnya itu, gadis itu cepat-cepat mematikan sambungan telepon itu sepihak.
"Maaf Kak Daniel, aku harus pergi besok. Ini demi keselamatanmu," desis Elleta dengan parau, air matanya tak bisa di bendung lagi, isaknya yang memekikkan telinga memenuhi apartemen minimalisnya.
*
*
*
Di apartemen yang tak jauh dari apartemen Elleta. Daniel, laki-laki itu menatap nanar ponselnya yang mati. Ada perasaan janggal yang hinggap dihatinya.
Pandangan laki-laki itu kosong seakan jiwanya hilang. "Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, El," gumam Daniel pelan. Kepala laki-laki itu penuh tanda tanya besar.