NovelToon NovelToon
I Love You Kakak

I Love You Kakak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami
Popularitas:5M
Nilai: 4.6
Nama Author: Rani

Lanjutan dari karya Perjodohan membawa bahagia. Disarankan mampir ke karya sebelumnya agar tidak menimbulkan kebingungan.

Karena sebuah wasiat dari orang tua kandung kakak angkatnya, ia dan sang kakak angkat dinikahkan. Pernikahan karena perjodohan itu menimbulkan banyak masalah, terutama masalah hati. Karena sesungguhnya, sang kakak angkat sudah memiliki wanita lain yang ia cintai dengan sepenuh hati dan hanya menganggap dia sebagai adik.

"Aku mencintai kamu sebagai kekasih, kakak." Yolanda Aditama.

"Maaf Yolan. Aku tidak bisa menerima cinta itu. Karena selamanya, kamu akan tetap berada dalam hatiku sebagai adik. Aku tidak bisa menggubah perasaan itu." Dewa Sujianda.

Akankah perasaan Dewa bisa berubah? Atau bahkan, akan tetap selamanya bertahan seperti itu? Mungkinkah pernikahan mereka akan bertahan? Atau bahkan, akan hancur karena orang ketiga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Episode 1

"Mama! Papa! Kalian kapan pulang?" Dewa berucap dengan perasaan kaget bercampur bahagia ketika melihat Kania dan Brian yang sedang duduk di sofa ruang tamu vila mereka. Lelah yang ia bawa dari kantor, sekarang hilang seketika saat melihat kedua orang tua angkat yang sudah lama tidak pulang untuk menemuinya.

"Sayangku .... " Kania berucap sambil bagun dari duduknya. Ia bergegas menghampiri Dewa dan langsung memeluk tubuh tinggi dan tegap tersebut dengan penuh kasih sayang.

"Mama kangen kamu, Nak." Kania berucap sambil memeluk erat tubuh Dewa.

"Aku juga kangen mama. Kenapa gak bilang dulu sih kalo mau pulang? Kan aku bisa jemput mama sama papa di bandara."

"Mama kamu itu yang gak mau ngomong. Dia bilang, mau bikin kejutan buat kamu. Jadi, bukan salah papa ya."

"Ya kalo dikasih tau sama kamu, mana mungkin jadi kejutan lagi."

"Iya-iya. Terima kasih buat kejutannya ya, Ma, Pa. Aku cukup kaget sekaligus sangat bahagia. Oh ya, di mana Yoland? Kok gak kelihatan batang hidungnya itu anak," kata Dewa sambil celingak-celinguk mencari orang yang ia maksud.

"Yola gak ikut. Dia belum bisa pulang sekarang. Nanti, dia akan nyusul." Brian memberikan penjelasan untuk memuaskan rasa penasaran di hati Dewa.

"Oh, aku pikir dia juga ikut pulang dengan mama dan papa. Ternyata tidak."

"Kenapa? Kamu kangen ya sama Yola?" tanya Kania dengan nada menggoda sambil mencolek pinggang Dewa.

"Ya tentu saja aku kangen sama dia, mama. Secara, si bawel itu adik aku. Iya kan? Mana mungkin gak kangen sama dia. Udah sepuluh tahun lho gak ketemu. Cuma bertemu lewat udara saja. Mana enaknya."

"Ya ... walaupun adik angkat," ucap Dewa lagi membenarkan kata-katanya yang telah ia ucapkan barusan.

"Hmm ... iya-iya. Mama tahu kamu pasti kangen sama dia. Tenang aja, dia pasti akan pulang tidak lama lagi."

"Kapan pastinya dia akan pulang, Ma. Biar aku jemput dia di bandara. Oh ya, jangan sampai dia pulang setelah hari ulang tahun ku. Aku pasti tidak akan mengampuni dia karena tidak ikut merayakan ulang tahunku yang ke dua puluh lima tahun ini."

"Tenang saja. Yola pasti akan pulang sebelum hari ulang tahunmu tiba."

"Dewa, sebenarnya, kepulangan mama dan papa kali ini, ingin menyampaikan sesuatu untuk ulang tahun kamu yang ke dua puluh lima tahun ini." Brian berucap dengan wajah serius.

"Mau menyampaikan apa, Pa?" tanya Dewa ikut memasang wajah serius.

"Duduk dulu, Nak," ucap Kania.

Dewa mengikuti apa yang mama angkatnya katakan. Ia pun memilih duduk di samping Kania. "Apa yang ingin papa dan mama sampaikan untuk ulang tahun aku yang ke dua puluh lima ini? Kayaknya, sesuatu yang sangat serius."

Brian langsung membuka koper yang ada di sampingnya. Mengeluarkan map biru dari koper tersebut, lalu menyerahkan map itu pada Dewa.

"Apa ini, Pa?" tanya Dewa dengan perasaan penasaran sambil menerima map tersebut.

"Lihat dan baca saja sendiri apa isinya! Maka kamu akan tahu."

Karena rasa penasaran sudah menguasai hati, Dewa langsung membuka map tersebut. Ia langsung membaca kata demi kata yang tertulis di atas kertas putih itu dengan perasaan campur aduk.

Mata Dewa melotot, dadanya berdebar-debar. Jantung Dewa berdetak tidak karuan saat kata demi kata semakin jauh ia telusuri. Tangannya gemetaran seakan tak sanggup menerima apa yang ada di atas kertas tersebut.

"Dewa." Kania langsung memanggil anak angkatnya ketika melihat ekspresi yang tidak wajar itu.

"Tidak, Ma. Ini tidak benar. Bagai ... bagaimana mungkin? Tidak!" Dewa menggelengkan kepalanya sambil menatap Kania.

"Apanya yang tidak mungkin, Dewa? Semua yang tertulis di atas kertas itu murni tulisan tangan papa kandung kamu sebelum ia meninggal, Nak." Kania bicara sambil mengelus punggung Dewa.

"Bagaimana bisa, Ma? Yoland itu adikku. Aku tidak ... tidak mungkin bisa menikah dengannya. Rasa ini tidak akan bisa aku ubah, Ma, Pa."

"Dewa, kami tahu ini berat untukmu. Karena sejak Yola lahir, hingga berusia sepuluh tahun, kamu dan Yola hidup bersama-sama dengan orang tua yang sama. Tapi, Nak. Bukankah sepuluh tahun terakhir, kalian hidup berjauhan?" tanya Kania dengan rasa sedih bercampur kesal.

"Jadi, itu alasan kalian pergi membawa Yolan tinggal keluar negeri? Kalian ingin menjauhkan aku dengan Yolan?"

Brian dan Kania saling pandang. Lalu kemudian, Kania mengangguk pelan.

"Walaupun begitu, walau hidup berjauhan selama sepuluh tahun terakhir, aku tetap menganggap Yolan sebagai adikku, Ma, Pa. Bagaimana bisa .... "

"Dewa. Kami paham apa yang kamu rasakan. Tapi, wasiat ini harus kamu jalani, Nak. Ini bukan keinginan mama dan papa. Tapi, ini semua keinginan almarhum dan almarhumah orang tua kamu. Ini wasiat, permintaan terakhir mereka," ucap Brian tak ingin berdebat lagi.

Dewa terdiam sambil menundukkan kepalanya. Perasaan yang ada dalam hati Dewa saat ini, sedang kacau balau. Bercampur aduk bak semangkok es campur yang di jual kang cilok di pinggir gang depan vila nya.

Ia berusaha menenangkan hatinya. Lalu, mengangkat kepala kembali, namun dengan tatapan lurus ke depan.

"Apa Yolan tahu soal wasiat ini?"

"Ya. Yola sudah tahu." Kania menjawab dengan nada lembut.

"Apa tanggapan Yolan, Ma?" tanya Dewa sambil menoleh ke arah Kania.

"Ia menerima perjodohan ini. Dan sepertinya, Yola sangat senang."

'Yolan senang? Aku? Ya Tuhan ... kenapa bisa begini?' Dewa bicara dalam hati sambil mengusap kasar wajahnya.

"Ma, Pa. Bagaimana kalau .... " Dewa menahan kata-kata yang sebelumnya ingin ia ucapkan.

"Kalau apa?" tanya Kania tak sabar lagi.

'Tidak. Aku tidak bisa katakan pada mama kalau sebenarnya, aku sudah punya seseorang yang sangat aku cintai. Karena, ini semua bukan keinginan mama dan papa. Melainkan, keinginan papa dan mama kandungku sebelum mereka meninggal.' Dewa bicara dalam hatinya.

"Dewa." Kania memanggil anak angkatnya untuk menyadarkan sang anak angkat dari lamunannya.

"Iy--iya, Ma."

"Kok diam. Mau ngomong apa barusan? Kalau apa?" tanya Kania dengan nada tegas.

"Tidak ada, Ma. Aku cuma mau bilang, aku setuju menikah dengan Yolan. Tapi, aku tidak ingin menikah dengan pesta yang terlalu mewah. Resepsinya hanya sekedar saja. Bagaimana?"

Kania tidak langsung menjawab. Ia melihat Brian untuk mendapatkan jawaban atas kata-kata yang Dewa ucapkan.

"Terserah kamu saja. Jika tidak ingin menikah dengan acara yang mewah, maka tidak akan ada pesta pernikahan yang megah," kata Brian menjawab.

1
M Bibin
🥰🥰
💟노르 아스마💟
Luar biasa
sakura
....
Shifa Burhan
kau thor apa yang jadi masalah dalam novel mu adalah sikap tidak adil mu dalam memperlakukan emeran utama wanita (istri) dan pemeran utama pria (suami)

*saat novel mu yang konfliknya suami melakukan kesalahan pasti kau buat istri tidak mudah memaafkan, pasti kau buat suami dapat balasan, mengemis maaf dan berjuang keras, dan pasti kau hadirkan lelaki lain yang membuat istri membalas perlakuan suami

banding dengan novel yang konfliknya istri melakukan kesalahan semudah itu dimaafkan, karakter suami kau buat bodoh dan semudah itu memaafkan malah balik minta maaf kayak pengemis, dan kalian tidak berani hadirkan wanita lain (kayak kalian hadirkan lelaki lain)

karena ini lah pola pikir egois wanita ketika suaminya salah tidak semudah itu dimaafkan tapi ketika dia salah mau dimaafkan begitu saja dan sikap egois ini mereka bawa kedalam novel

adalah lagi pola pikir egois yang terkesan munafik wanita dalam berkarya yaitu mereka melaknat pelakor tapi memuja pebinor

miris
Atik Bunga
apa ini kakah burhan
Atik Bunga
jangan ladang bunga yg dimaksud saka itu kebun bunga punya mamahnya yola
Atik Bunga
jangan2 dokter leo suka sama yola
Atik Bunga
kasihan hanas anak yg tdk diharapkan oleh johan malah tersakiti
sharvik
sulis it siapa y dewa ya . . d eps sblm y mngatakan yola adalah orang yg sngat dewa syang stelah sulis. .
watini fitrah
knpa rata rata CEO bodoh klu udh di depan pelakor
Rani: nah, ceo kek gini cuma ada di dalam karya aja yah. keknya, di dunia nyata ngga akan nemu🤣
total 1 replies
Rika Fitria
zaka kayaknya anak Zara
Rika Fitria
Luar biasa
Mas Sigit
itu kakekmu yolan
Mas Sigit
bagus yolan kmu hrs tegas biar dewa sadar bagaimana jahatnya si hanas
Mas Sigit
dadaku sdh mulai sesak bayangin jd yolanda
Mas Sigit
pasti Hanas ga bakalan tinggal diam mlihat dewa sm yolan mrnikah
Al Fatih
iya,, kadang sbg perempuan,, merasa miris,, sdh d hina,, d tolak,, masih ngemis2 juga,, jujur lebih suka karakter perempuan kuat,, ga mudah d tindas....,,
Al Fatih
lengkap sdh semuanya,, wlwpun itu wasiat,, harusx Brian dan Kania pastikan dulu dewa ad pacar ga,, wlwpun Yola cinta dewa,, tapi dewa kan ga,, beresiko Yola akan d tersakiti,, dewa juga plin plan,, Johan juga gitu,, anaknya Johan juga gt...😅
ShaHana Rania Norali
menarik.. dan tak sabar baca sampai episode akhir. 🥰
alnino
drma bnget bnyak omong wkwk si yola keburu nyampk rumh mreka ado argumen.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!