Part 17

Elara POV

Martha membantuku membuka mantel. Dia kemudian menyiapkan air untukku mandi. Gaunku sudah tersampir rapi di pinggir ranjang.

"Jika bukan untuk perusahaan, aku rasanya malas untuk pergi ke acara itu," ucapku sambil mengusap lembut bahan sutera pada gaun malamku.

Warna hijau tosca yang lembut. Terdapat swarovski yang bertabur cantik di sepanjang bibir gaun menambah kesan elegan. Elara selalu dibuat puas oleh hasil jaitan designer keluarganya itu. Mewah namun tidak berlebihan.

"Nyonya jangan begitu, jangan membuat rubah itu semakin besar kepala," Martha memprovokasi.

Aku menanggalkan bajuku, dan memasuki kamar mandi. Tanpa diminta Martha menuangkan aromatherapi pada air bathtube. Aku berendam dengan Martha yang memijit bahuku lembut.

"Biarkan dia berbuat sesuka hatinya, karena semua perbuatan pasti akan menuai hasilnya. Tuhan tidak buta," ujarku sambil menikmati pijatan Martha.

Martha hanya bisa menghela nafas pasrah. "Anda terlalu baik,"

"Tidak, aku hanya baik pada orang yang baik padaku, dan kamu salah satunya," Martha tersipu malu dengan senyuman tipis. Aku melihatnya di balik cermin.

Suara pintu diketuk terdengar. "Saya buka pintu dulu Nyonya," ucapnya pelan.

Aku mengangguk dan membiarkan Martha membuka pintu. Wanita itu kembali kemudian membisikkanku sesuatu. Aku menoleh pada sambil berkata.

"Bilang padanya, jika aku akan menyusul. Aku tidak ingin berada dalam satu mobil dengan wanita itu," titahku.

"Tapi Nyonya, nanti orang-orang berfikir macam-macam jika Nyonya tidak datang bersama Tuan," ucapnya khawatir. Wanita itu tampak meremas jemarinya.

"Kau tenang saja," aku bangkit dari bathtube lalu meraih handukku, mengusap rambut basahku dan mengeringkannya. "Aku akan lebih nyaman jika sendiri," jelasku.

Martha hanya bisa menghela nafas dan kembali berjalan ke arah pintu. Mendekati pelayan yang menunggu jawaban. Pelayan itu pun pergi membawa pesan dari Martha.

Author POV

Ares tampak begitu berkharisma dengan setelan jas berwarna senada dengan Elara. Sophie memilih memakai gaun berwarna hitam agar perutnya yang membuncit tidak terlalu kentara. Gaun panjang dengan kerutan di bawah dada membuatnya tidak terlalu sesak.

Ares mengeryit ketika menerima pesan dari pelayan. Elara yang menyuruhnya untuk pergi lebih dahulu, ini bukan yang pertama kali. Karena wanita itu berusaha untuk tidak berada dalam satu ruangan dengan Ares sejak Sophie menginjakkan kakinya di rumah ini.

"Baiklah jika begitu, aku akan pergi lebih dulu dengan Sophie," ucap pria itu dengan nada datar.

Pelayan yang menyampaikan pesan hanya membungkuk memberi hormat. "Nanti akan saya sampaikan pada Nyonya, hati-hati dijalan Tuan,"

Sophie merangkul lengan Ares dengan wajah sombongnya, melirik mencemooh pada pelayan itu. "Ayo Tuan, nanti kita terlambat," ajaknya dengan lemah lembut.

Ares mengikuti wanita itu dan pergi bersamanya. Pelayan itu hanya bisa mengelus dada, menahan kesal pada wanita ular perusak rumah tangga orang.

Aku harap kau dicampakkan oleh Tuan Ares, masih bisakah kau meremehkan orang lagi?

Batin pelayan itu mengumpat dan menyumpahi sophie, bukankah do'a orang teraniaya akan segera diizabah oleh Tuhan?

🍁🍁🍁

Hotel ***

Ruangan itu terlihat mewah dengan banyaknya lampu Kristal tergantung cantik, ukiran pada pilar bangunan menambah kesan classic. Sentuhan cat berwarna gold dan silver membuat ruangan itu semakin elegan di sepanjang mata memandang.

Aneka kudapan yang menggugah selera tersaji dengan rapi pada meja prasman di setiap sudut ruangan, memanjakan siapa saja yang datang. Berbagai macam minuman tersedia dari yang mulai 0% alcohol hingga mencapai kadar 50%.

Para tamu kalangan elit mulai berdatangan, salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah kedatangan Ares bersama istri ke-2nya. Banyak para wanita yang berbisik membicarakan mereka berdua.

"Tuan Ares datang dengan istri barunya, sungguh tidak punya malu,"

"Kemana Nyonya Elara? Aku lebih suka dirinya, lihat saja cara berjalan wanita itu. Sangat berisik,"

"Apa kau percaya Nyonya Elara mengijinkan suaminya menikah lagi?"

"Aku tidak yakin,"

Bisikan yang membuat hati Sophie panas terdengar samar, wanita itu menatap tajam pada setiap tamu wanita di sana. Ares sendiri tidak menanggapi karena semua itu tidak sampai pada telinganya. Sophie mengeratkan rangkulan membuat Ares menoleh padanya.

"Ada apa?"

"Itu Tuan, mereka-"

Ucapan Sophie tidak terdengar kala riuh suara para tamu mengambil atensi Ares, mereka seperti terpukau dengan sesuatu. Ares yang penasaran melihat ke arah sesuatu itu.

Seorang wanita cantik tampak melangkah anggun berirama hingga membuat yang melihatnya menahan nafas. Gaun hijau tosca lembut dengan taburan Swarovski yang berkilau terbalut sempurna di tubuh wanita itu. Anting bermata zamrud terpasang indah di telinganya.

Bagai seorang peri hutan yang turun ke bumi memberikan kesejukan pada siapa saja yang melihat. Tatapan matanya yang tegas memberikan kesan misterius, tak terjamah membuat siapa saja penasaran. Siapakah wanita itu? Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Elara Nasution.

"Ya Tuhan, itu Nyonya Elara?"

"Cantik sekali,"

"Apakah Tuan Ares buta? Untuk apa menikah lagi jika memiliki istri yang begitu sempurna?"

"Manusia semakin tinggi jabatan semakin tidak pernah puas,"

Para tamu tampak kembali berbisik saling berargumen tanpa perduli jika orang yang mereka bicarakan ada di dekatnya. Rasa empati manusia sekarang memang semakin menipis.

Elara POV

Aku berjalan hingga tepat berhadapan dengan suamiku, Ares. Pria itu bahkan tidak berkedip melihatku. Ah dasar pria. Padahal di sampingnya ada anjing galak yang siap menyalak kapan saja.

"Kau menunggu lama?" tanyaku pada Ares yang tidak bergeming hingga Sophie memanggilnya dengan gemas.

"Tuan!"

Ares menoleh pada Sophie kemudian melihat ke arahku dengan kikuk. "Ti-tidak, kami juga baru saja sampai," aku melihat matanya yang liar seperti menelanjangiku.

Apa pelayanan simpanannya kurang? Hingga tidak tau malu memandang lapar padaku?

Ekor mataku melirik apa yang Sophie kenakan. Aku ingin tergelak jika ini bukan di acara resmi. Mungkin ia mengenakan itu agar perutnya yang mulai besar tidak terlihat. Aku tersenyum simpul, biarkan saja Ara kau tidak boleh mempermalukan dirinya yang memalukan.

"Gaunmu bagus, hanya saja ini bukan pemakaman," ucapku membuatnya mendelik.

"Kau!" Sophie hendak merangsek maju, entah mau apa dia. Namun Ares menahannya.

"Sophie, jaga sikapmu! Ini bukan acara biasa, jangan buat onar," desis Ares.

Sophie tidak terima, dia mengambil segelas minuman dan hendak menyiramnya padaku. Aku sudah bersiap dengan kuda-kuda menghindar namun tangan seseorang menahan tangan wanita itu hingga menggantung di udara.

Tbc.

Please rate, vote dan likenya yach!

Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

Aku bisa ngetik itu pas anak2 udah pada tidur. tolong dimaklumi keterlambatanku. Moga tidak bosan... makasih sudah setia menungguku, beberapa part menuju akhir penderitaan Elara... can't wait!

Terpopuler

Comments

Ney Maniez

Ney Maniez

siapa🤔🤔🤔🤔

2023-09-17

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

pasti Charles

2023-05-25

0

meE😊😊

meE😊😊

lucu aja liat kalkuan si sapiii cuma seonggok smpah mau d sajikan d restoran bintang 5..

2023-01-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!