Hari ini adalah hari senin, aku kembali bangkit dari pembaringan tempatku meratap selama 2 hari setelah jum'at kemarin Ares membawa simpanannya ke rumah. Aku mengunci kamarku meninggalkan mereka dan membukanya saat tengah malam hanya untuk melepas lapar. Ares sempat menggedor kamar hendak masuk tapi aku menolaknya. Aku ingin meluruhkan semua rasa sakitku malam itu. Aku sudah tidak perduli mau di mana ia tidur nanti. Mungkin di dalam dekapan wanita itu.
Hatiku nyeri, begitu mudah Ares membagi hati. Tidakkah dia menganggapku ada selama ini? Apa baginya aku hanya alat penguat perusahaannya saja? Alasan apapun tidak akan aku terima atas penghiatannya padaku. Hingga aku memutuskan untuk melupakannya dan menjaga jarak dengannya mulai hari ini. Meski sekelebat bayangan kami ketika kecil terus berputar bak bianglala di pasar malam. Kami sangat dekat kala itu. Aku selalu ada untuknya begitu pun sebaliknya. Hingga satu kata yang semakin memantapkan diriku untuk menghabiskan waktuku hingga akhir hayat bersamanya.
"Aku menyukaimu ara, aku sangat senang kita akan menikah saat dewasa nanti!" Manik hitam itu berbinar. Kini manik itu menyisakan luka pedih di relungku.
Aku tersenyum miris memandangi wajah dengan kantung mata layak panda. Mengusap kasar sisa air mata yang masih basah.
"Baiklah, anggap saja aku mengabdi sebagai karyawanmu Ares. Entah seperti apa hari-hariku selanjutnya, aku hanya akan mengemban janjiku sebagai Nyonya Atmaja kepada mendiang orang tuamu," monologku.
Aku melangkahkan kaki pada kamar mandi, merendam tubuhku berharap semua akan baik-baik saja. Setidaknya keluargaku masih lengkap, tidak seperti Ares yang sebatang kara. Andai pria itu berfikir ke arah sana, bersama siapa ia akan tua nanti? Tapi kenyataannya Ares memilih mengambil seseorang yang tidak jelas asal usulnya untuk mendampinginya.
Langkah seseorang mengambil atensiku yang sedang terpejam di dalam bath tube.
"Nyonya, pakaian anda dan Tuan sudah siap."
Aku berdecak, kami selalu memakai baju couple selama ini. 7 tahun terlewati dengan sia-sia. Demi terlihat harmonis di depan publik aku harus tetap melakukan hal konyol yang membuatku semakin sesak.
"Terima kasih, Martha."
Aku beranjak dari bathtube. Martha mengenakan handuk kimono padaku.
"Nyonya, apa anda baik-baik saja?"
"Sangat baik, ini adalah hari baru untukku sebagai Nyonya Atmaja."
"Benarkah? Saya senang mendengarnya," Martha menepis rasa khawatirnya.
Aku tersenyum menawan membuat Martha tidak berkedip.
"Kau tidak perlu banyak berfikir," jelasku.
Aku telah selesai mengenakan setelan jas wanita berwarna darkblue. Rambutku disanggul agar terlihat lebih elegan. Sepasang liontin perak menjuntai menghiasi telingaku. Aku akan menghadiri rapat dewan hari ini dan beberapa pertemuan bersama Ares. Membayangkannya saja membuatku muak.
"Anda begitu sempurna, Nyonya." Wanita itu berdecak kagum.
"Nyatanya tidak, rumah tanggaku berantakan." Sahutku membuat Martha menunduk. Aku mengusap bahunya. "Semua manusia punya kelemahan, karena itu... syukurilah segala nikmat yang kau miliki saat ini untuk melunturkan kekurangan itu."
Martha tercekat, dia tidak menyangka Nyonyanya begitu tegar.
"Aku akan menghadapi semuanya, itu yang selalu Ayahku ajarkan. Sepahit apapun itu, pertahankan apa yang memang hakmu!"
Martha mengangguk dengan sudut matanya yang basah.
Ketukan pintu terdengar. Aku membuka pintu dan mendapati pelayan di sana.
"Ada apa?"
"Tuan, memanggil Nyonya."
Sialan, untuk apa lagi dia memanggilku?
"Baik, terima kasih. Dimana Tuan sekarang?
"Tuan berada di kamar dekat ruangan kerjanya, Nyonya."
Ah... di situ ternyata kau menempatkan wanita itu. Bagus, jauh-jauhlah dariku.
Aku berjalan menuju kamar tempat Ares berada, aku mengetuk 3 kali hingga sahutan mengijinkan masuk ku dengar.
Aku melangkah anggun seperti biasanya, ini adalah hal dasar kepribadian yang sudah aku miliki dari kecil. Aku melihat wanita itu sedang memegang sehelai dasi di tangannya. Ares tersenyum melihatku. Aku ingin menonjok wajah itu.
"Untuk apa kau memanggilku?"
"Sophie, bisa kau tinggalkan aku dengan Elara?"
Nama wanita itu Sophie, lembut seperti wajahnya. Entah hatinya? Aku meragukan itu. Wanita itu tampak tidak suka meski akhirnya memilih mematuhi kata Ares.
Pintu telah tertutup. Ares mendekatiku dengan dasi di tangannya.
"Sophie tidak bisa memasang dasi, bisakah kau memakaikannya padaku?"
Tanpa kata aku mengambil dasi itu, memasangnya dengan tatapan terkunci pada dasi. Aku menyadari pandangan Ares padaku, namun dengan sengaja aku tidak membalasnya.
"Selesai," ucapku membuyarkan lamunan Ares.
Aku menjauhi Ares namun tangannya mendekap pinggulku.
"Maafkan aku, aku terpaksa menikahinya. Karena sesuatu hal mengharuskan aku menikahinya," pria itu masih membela diri. Membenarkan tindakannya.
"Banyak jalan menuju roma, banyak cara untukmu tanpa harus menghianatiku." Aku melerai rangkulannya pada pinggulku. "Hanya pengecut yang menyalahkan keadaan atas keputusannya."
"Elara! Jaga ucapanmu, semua ini tidak akan terjadi jika kau bisa memberikan aku keturunan!"
Akhirnya hal itu menjadi penguat semua ini. Apa dia tau aku berusaha menutupi semuanya agar dirinya tidak merasa gagal sebagai suami. Kini dia menyalahkan aku, tanpa mau tau seperti apa keadaan dirinya sendiri. Aku mengepalkan tanganku menahan amarah.
"Jadi, kau pikir semua ini salahku? Kau tidak merasa jika mempunyai kekurangan? Pernahkah kau berusaha mengintrospeksi diri sendiri?"
"Apa maksudmu? Jelas jelas jika rahimmu tidak subur, aku mendengar semuanya dari Romi tentang hasil lab tempo hari. Kau diam saja, sengaja menyembunyikan kecacatanmu!"
Mataku melebar, bagaimana bisa setiap kata tajam itu meluncur bebas dari mulutnya. Menyakitiku hingga ke sumsum tulang.
"Cacat? Kau bilang aku cacat? Kau tidak melihat sendiri hasil lab mu? Kau yang mandul Ares! Aku menutupinya selama ini agar kau tidak memikirkannya. Aku begitu peduli padamu, aku tidak ingin kau terpuruk tapi kau malah menghujatku dengan kata-kata keji!"
"Aku tidak mungkin mandul, Sophie sedang mengandung anakku!"
Aku bagai tersambar petir, wanita itu... hamil anak Ares. Jika begitu, Ares sudah menusukku sejak lama. Aku terkekeh dengan mata yang hampir berkabut. Ares mengatupkan bibirnya, terdapat penyesalan di sana.
"Aku tidak menyangka akan seperti ini... sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," ucapku getir. Aku memalingkan muka kemudian meninggalkan Ares yang menjambak rambutnya frustasi.
"AAAARRGGG!"
"PRANK!!"
Langkahku tidak terhenti meski aku mendengar teriakan dan suara barang pecah di dalam sana. Dia menuduhku, bahkan menghianatiku sejak lama. Aku melihat wanita itu yang berdiri tidak jauh dari kamar itu.
"Kak Elara, aku sangat menyukaimu. Aku harap kita bisa dekat nanti," mata polos wanita itu memang memikat. Ini kah yang Ares inginkan selama ini?
Aku menyeringai mendengar wanita itu dengan berani memanggilku kakak.
"Jaga bicaramu, aku bukan kakakmu. Jangan mendekatiku karena aku tidak menyukaimu," aku melenggang pergi.
"Tuan sangat menyukai aku, asal Nyonya tau!"
"Aku tau, ambillah... aku tidak membutuhkannya," aku meninggalkan wanita itu yang menganga akan ucapanku.
Aku mengangkat kepalaku, aku tidak akan menangisi pria yang begitu jahat dengan prasangkanya. Bahkan dengan pengkhianatan yang secara sadar dilakukannya.
Tbc.
Please rate, vote likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Pay
Good job elaraaaa 👍
2024-01-12
0
Ney Maniez
ya Alloh geregetn😡😡😡...
2023-09-17
0
Yunerty Blessa
mantap Elara.... lepaskan lah Ares masih banyak lagi lelaki yang baik
2023-05-25
1