Part 10

Author POV

"Elara... kau lama sekali," ucap Ares sambil menghampiri Elara lalu merangkul pinggangnya. Jika bukan di acara pesta, wanita itu sudah mendorong tubuhnya menjauh.

"Ah... maaf Tuan Atmaja, saya menahan istri anda cukup lama. Karena sudah lama tidak bertemu, jadi saya bercerita cukup banyak," sahut Nyonya Widi tidak enak. "Oh ya, perkenalkan Tuan. Ini anak saya Charles, dia yang akan mengurus perusahaan Ayahnya nanti," pungkasnya.

Charles mengepalkan tangannya dengan tatapan tajam bak belati yang siap menghujam ke arah tangan Ares yang merangkul Elara. Jadi, wanita yang dia kagumi telah mempunyai suami... tidak, lebih tepatnya sudah milik orang lain. Charles memandang Ares dari ujung rambut hingga ujung kaki, dia pun berdecih dalam hati.

Pria ini tidak lebih tampan dan gagah darinya, hanya keberuntungan saja hingga memiliki istri seperti Ara, kau sangat beruntung Bro!

Dengan sedikit hentakan, ia menyambut uluran tangan Ares lalu menggenggamnya sambil meremas cukup kuat. Ares sampai mengeryit karena merasa tangannya ngilu, ia menatap bingung pada Charles. Sedangkan Charles menyeringai.

"Tuan Charles... anda menggenggam tangan saya terlalu erat," ucap Ares membuat Elara menoleh pada tangan mereka yang masih terjalin.

Charles berkata sambil memandang Elara, tatapannya itu sulit diartikan.

"Saya hanya menguji sekuat apa Anda, Tuan Ares?" Charles pun melepas jabatan tangan itu. "Dan saya akui anda lumayan," tambahnya.

Ares tersenyum kecut, ada apa dengan pria di hadapannya ini? Sungguh aneh. Tidak lama seorang bodyguard datang menghampiri Ares dan membisikkan sesuatu. Matanya melebar saat itu juga, Elara terusik dengan tingkahnya hingga kehadiran seseorang mengambil atensi mereka semua.

Tampak seorang wanita yang tidak asing melangkahkan kaki dengan angkuh, menghentak sepatunya hingga nyaring menggema keseluruh ruangan. Elara menghela nafas, bagaimana mungkin dia datang ke sini? Beraninya wanita itu menampakkan batang hidungnya di acara resmi yang bahkan dihadiri banyak awak media. Dan yang paling membuat Elara naik pitam, wanita itu memakai gaun yang hampir sama dengannya. Hanya berbeda bahannya, Elara tau itu meski melihatnya dari jauh.

Elara berbisik pada Ares. "Kau sengaja, ingin mempublikasikan hubunganmu dengannya? Kau hebat sekali," sarkasnya.

Ares menggeleng menyangkal, Elara terkekeh melihat wajah brengsek Ares dan tanpa wanita itu sadari sikapnya memancing Charles hingga mata elangnya terus menatapnya.

Sophie tersenyum sumringah menjadi pusat perhatian, dia merasa di atas awan. Dan penampilannya yang menyerupai Elara sukses menjadikan wanita itu seperti topeng monyet, menjadi bisikan di setiap tamu yang datang. Elara memejamkan mata menahan amarah yang menggunung.

"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya... perkenalkan, nama saya Sophie... saya adalah istri Tuan Ares Dawson Atmaja, karena kebaikannya lah saya bisa di sini. Beliau sangat menyayangi saya, dan... Kakak Elara, menerima saya sebagai istri ke-2 suaminya."

Suara riuh di dalam ruangan itu terdengar sekaligus lampu blits yang tidak henti mengenai Sophie. Semua orang pasti terkejut dengan pernyataan wanita itu, bahkan Nyonya Widi hanya bisa menutup mulutnya tidak percaya.

Elara tersenyum miris, wanita itu sedang mengambil hati publik sekaligus memperkenalkan diri jika dirinya adalah istri seorang Ares. Ares berwajah pias, Elara menghentak tangan Ares yang masih merangkul pinggangnya.

"Urus istrimu tercinta, aku pergi," Elara meninggalkan acara diikuti para wartawan yang mengejarnya.

Ares terlihat menarik Sophie dan membawanya pergi. Elara sudah tidak perduli lagi, pasangan brengsek itu benar-benar menghancurkan harga dirinya malam ini. Membayangkan mereka berdua tertawa mengejek di belakangnya, menertawakan sikap Elara yang masih bertahan hingga kini. Untuk apa ia begini?

Sampai kapan?

Elara berjalan tanpa arah hingga sampai di sebuah taman yang lengang. "Apakah ini sudah bukan dalam kediaman Tante Widi? Yang jelas di sini lebih baik... tidak ada siapapun... tidak ada yang akan menatap rendah padaku karena dimadu. Aku... mengapa aku harus merasakan sakit ini lagi, ini lebih buruk. Nama keluargaku pasti terseret, semua pasti berimbas pada kenyataan kami yang belum mempunyai keturunan. Ares... kenapa kau lakukan ini padaku? Dimana Ares yang dulu selalu bersamaku? Apakah 20 tahun itu tidak berarti apapun untukmu? Kau... benar-benar menyakitiku ...."

Wanita itu terisak di bawah malam purnama, meresapi setiap rasa sakit yang ada... cukup lama ia meratapi kemalangan hingga merasakan kehangatan yang menyelimuti, Elara menoleh pada jas yang tersampir pada bahunya. Charles... pria itu ada di sampingnya, menatap iba pada Elara. Ia pun mengusap kasar airmata yang masih merembes keluar dan membasahi pipi. Elara berdiri dan mendongak padanya, mencetuskan kata yang membuat Charles melebarkan mata.

"Jangan kasihani saya, karena saya tidak membutuhkan itu! Maaf telah membuat acara Tuan hancur, saya permisi." Elara melangkah pergi.

Baru dua langkah ia berjalan, tangan Elara dicekal oleh pria itu. Tubuh Elara terhuyung karena tarikan yang Charles lakukan hingga tubuh Elara mendarat dalam pelukannya. Elara menengadah melihat wajah tampan itu, pahatan sempurna yang tuhan ciptakan. Elara segera menepis pikiran itu lalu memalingkan muka.

"Tinggalkan dia, menikahlah denganku."

Elara menoleh cepat pada Charles yang tersenyum, apa ia tidak salah dengar? Bertemu pun belum sampai 1 hari, tapi pria ini dengan mudahnya menyuruh Elara untuk berpisah dengan Ares dan menikah dengannya. Sinting!

Elara melepas pelukannya, ia menatap tajam pada pria itu. "Jangan Anda jadikan saya sama dengannya, dengan mudah memutus hubungan dan menikah lagi. Saya bukan wanita seperti itu!" desisnya.

Charles tampak terkejut dengan jawaban Elara, terlihat dirinya yang kemudian salah tingkah.

"Tidak... aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti suami brengsekmu, kau jauh lebih baik. Aku hanya merasa semua tidak adil untukmu," sergah Charles.

Brengsek? Berani sekali pria itu memanggil Ares brengsek di depanku. Aku mengakui keberaniannya, Elara tersenyum simpul melihat respon Charles yang panik.

Boleh juga.

"Kau... jangan tersinggung, kau wanita luar biasa. Kau tetap tenang meski ada wanita lain mempermalukanmu, biasanya pasti akan ada perkelahian antara istri pertama dan ke-2. Kau memilih pergi, dibanding memancing media... kau mengagumkan ...."

Elara mengakui kehadiran pria ini sedikit mengikis rasa sakit hatinya, bukan karena pujian atau rayuan padanya, tapi karena Elara merasakan ketulusan dari setiap katanya.

"Saya tidak seperti itu, saya tidak sebaik pandangan Anda. Saya hanya wanita biasa yang berusaha menjaga harga diri hingga akhir," sahut Elara sambil tersenyum. Dia melepas jas milik Charles lalu menyodorkan padanya. "Terima kasih atas kata-kata manis anda, saya jadi lebih baik." Charles menerima jas itu.

Elara melenggang pergi meninggalkan Charles yang tidak memutus pandangan pada wanita itu. Elara harus kembali ke rumah yang seperti neraka itu meski langkahnya berat.

🍁🍁🍁

Kediaman Ares.

"Apa yang kau lakukan, Sophie? Sudah aku bilang jangan kemana-mana, kenapa kau harus datang ke acara resmi itu?" Ares menggeram.

"Aku ingin semua tau keberadaanku Tuan, aku ini istrimu. Apa salahnya jika aku diketahui khalayak?"

"Semua tidak semudah itu, kamu..."

Suara Ares tertahan ketika Sophie mengusap perutnya sambil merintih kesakitan.

"Aduhh..."

"Sophie... kau kenapa?"

"Perutku Tuan..."

Ares dengan sigap segera menggendong Sophie dan merebahkannya di atas ranjang, ia menghubungi dokter keluarga Atmaja namun dirinya terhenyak saat tau jika dokter keluarganya telah meninggal dunia seminggu yang lalu.

[Apa? Dokter Gilang sudah meninggal? Bagaimana bisa? Dan kenapa kau baru mengabarkannya padaku?] Ares menggeleng tidak percaya.

[Maaf Tuan, saat itu saya masih di Bali.] Romi menjelaskan.

[Baiklah, kalau begitu tolong panggilkan pengganti Dokter Gilang, Sophie perutnya sakit. Tolong cepat ya, Romi!]

[Segera Tuan.] Sahut Romi, bibirnya tersungging penuh misteri kala telpon tertutup.

Please rate, vote, dan likenya yach!

Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

Sophie ini banyak akalnya ya... jd pengen sentil pake linggis.

Romi mulai tampak, dan Charles... terlalu awal Bos klo langsung nembak. Elara itu jinak2 merpati.

Terpopuler

Comments

Rafinsa

Rafinsa

bener dugaanku Romi pengkhianat . yg menghadirkan Shopie diantara suami istri yg merupakan bosnya sendiri

2025-03-05

1

Srie Sifa

Srie Sifa

Romi penghianat

2024-03-29

1

Ney Maniez

Ney Maniez

wahhh musuh dlm selimut

2023-09-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!