Part 05

Elara POV

Sepanjang acara tangan Ares terus melingkar di pinggangku, kami tersenyum manis pada semua rekanan bisnis dan media yang juga hadir pada acara amal tersebut.

Bibirku serasa pegal, karena senyuman terpaksa itu. Aku mendekatkan wajahku pada telinga Ares lalu berbisik. "Setelah ini aku pulang sendiri."

Ares menoleh hingga hidung kami hampir bersentuhan, aku menjauhkan wajahku darinya. "Mau kemana?"

"Bukan urusanmu," desisku.

"Wah... kalian selalu membuat iri siapa saja, meski sudah lama menikah. Kalian selalu romantis ya," suara salah satu awak media mengejutkan kami. Kami pun tersenyum kikuk menanggapi.

"Kami lebih terlihat seperti teman," sanggahku.

"Teman hidup," sahut Ares membuatku memelototinya.

"Ya benar, teman hidup. Boleh kah kami mengambil beberapa gambar kalian? Kami akan menaruhnya di halaman depan," ucap wartawan itu antusias.

Aku hanya mengangguk, sedangkan Ares tersenyum senang. Ada apa dengannya? Apa dirinya salah makan tadi pagi?

Pengambilan beberapa foto selesai, acara pun berakhir dan kini aku sudah berada di lobby hotel. Ares menyusulku dari belakang dengan terburu-buru.

"Elara!" Ares mencekal tanganku.

Ekor mataku melirik pada tangannya, ia kemudian melepasnya.

"Sebaiknya kau ikut pulang bersamaku," pintanya.

"Untuk apa?" Aku merentangkan jariku dan menelisik setiap cat kuku yang baru kuaplikasikan tadi pagi. Warna ungu, warna janda... apa aku akan berakhir menjadi janda?

Aku menoleh pada Ares. "Tidak perlu khawatir... aku hanya sedang ingin menghirup udara segar. Akhir-akhir ini udara di rumah menjadi pengap," tambahku membuatnya pria itu menghela nafas.

"Baik, biar aku an-"

"Aku sedang ingin sendiri... jauh... jauh darimu, aku harap kau mengerti."

"Apa maksudmu?"

"Kau ingin kita buat keributan di sini?" pancingku dengan seringai.

Ares menoleh ke segala arah, masih banyak orang di sana. Ia akhirnya mengalah dan pulang sendiri tanpa aku.

"Aahh... bagus... pergilah... melihatmu membuatku sesak." aku bermonolog.

Setelah itu aku berjalan tanpa arah, menikmati hembusan angin yang terasa dingin membeku.

🍁🍁🍁

Author POV

"Cepat cari!" perintah seorang pria paruh baya pada beberapa bodyguard.

Suara dering ponsel mengagetkannya hingga hampir melompat. Wajahnya pias saat melihat siapa yang menelponnya. Didekatkannya ponsel itu pada telinga sambil memejamkan mata ngeri.

[Ya, Tuan Besar.]

[DIMANA DIA?] bentak seseorang di seberang sana membuat pria itu menjauhkan ponselnya.

[Ma-maaf Tuan besar... Tuan Muda tiba-tiba menghilang,] keluhnya dengan pasrah.

[CARI DIA SAMPAI KETEMU!! jika tidak... aku akan menyumpal mulutmu dengan kaos kakiku, MENGERTI?] panggilan pun terputus.

Tubuh pria paruh baya itu merosot ke tanah, rasanya ia ingin menghilang saja.

"Tuan Muda... kasihanilah saya... saya belum mau mati karena kaos kaki bapakmu, Tuan..." gumamnya nelangsa.

Yang bersangkutan malah sedang asik cekikikan di bangku taman sambil memainkan game di ponselnya.

"Aku tidak mau menghadiri acara membosankan itu, buang-buang waktu!" monolognya.

Tidak lama suara panggilan dari seseorang terdengar samar. Pria muda itu berdecak.

"Sial... cepat juga mereka," ia beranjak dari bangku taman kemudian tatapannya terpaku pada badut yang sedang istirahat dibangku taman yang lain.

"Hei kamu!" panggil pria itu pada badut yang sedang duduk.

"Saya?" badut itu menunjuk pada diri sendiri.

"Ya, kamu... kemari!" pinta pria muda itu.

Sang badut pun menghampiri. "Ada apa bang?"

Weiittss... dipanggil abang... emang tukang bakso?

"Saya bukan abangmu, enak saja panggil abang," ucap pria muda itu ketus.

"Eh, iya maaf... Mas..."

"Ini lagi, Mas... Mas... ah terserah lah!" pria muda itu menengadahkan tangannya pada badut itu. Sedangkan sang badut mengeryitkan kening bingung.

"Hadeuuhh... pinjami aku costummu, nanti aku kembalikan."

Badut itu tampak merengut sambil memegang costumnya erat. Pria muda itu mendesah lelah kemudian merogoh saku celananya, diambilnya beberapa lembar uang kertas berwarna merah dari dompetnya.

"Aku pinjam tidak gratis, cepat!" Pria muda itu menyodorkan uang itu pada sang badut.

Tanpa kata, badut itu pun melepas kostumnya dengan wajah berbinar. Kapan lagi bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Bahkan selama seminggu keliling kampung pun hasilnya tidak akan sama dengan uang yang diberikan pria muda tersebut.

Pria muda itu memakai costum itu terburu-buru, bertepatan dengan segerombolan bodyguard yang mencari dirinya datang.

"Dek, lihat pria ini tidak?" tanya bodyguard sambil memperlihatkan foto seseorang.

Bocah tanggung itu menoleh pada badut yang duduk manis di bangku tanpa suara, kemudian menggeleng pada bodyguard.

"Tidak lihat ya? Haduh... dicari ke mana lagi neh?" tanya bodyguard itu pada rekannya.

"Makan siang dulu yuk, ada nasi padang tuh di seberang. Capek udah keliling tidak ketemu juga," ajak rekannya yang kemudian dianggukinya.

Pria muda itu melihat para bodyguard yang pergi, lalu membuka costum kepalanya sambil tersenyum.

"Good boy," ucapnya sumringah. Ia beranjak dari bangku hendak pergi. "Aku pinjam dulu ya sampai sore, nanti kita ketemu lagi di sini," jelasnya yang diangguki bocah tanggung itu.

Pria muda itu kembali memasang costum badut yang terlihat kusam. Sepertinya ia menikmatinya, dapat pergi bebas ke mana saja tanpa di kejar-kejar oleh anak buah ayahnya.

Saat ia berjalan sambil memandangi hingar bingar kota tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Salah satu kesulitan memakai kostum itu adalah melihat ke bawah karena terganjal kostum kepala yang tidak bisa menekuk.

"Aduh... maaf..."

Suara lembut terdengar menarik perhatiannya. Pria muda itu meraih pinggang seseorang tersebut karena tadi hampir terjatuh.

"Hei... kau boboboi, terima kasih."

Pria muda itu hanya bisa terdiam saat melihat siapa yang ia tabrak. Wanita yang sangat cantik yang belum pernah ditemuinya. Bahkan mulutnya tidak mampu mengeluarkan suara karena terpesona.

"Kau diam saja... tidak mau menjawab?"

Pria itu memilih diam... lalu menggeleng. Mungkin sebaiknya ia tidak memperlihatkan identitasnya dulu, apalagi para bodyguard itu masih berkeliaran mencarinya.

"Hm... memang badut itu diam saja ya, seperti caplin," ucap wanita itu. "Baiklah, bisakah kau menemaniku? Hatiku sedang tidak baik," suara wanita itu terdengar getir.

Pria itu hanya diam sambil terus mengamati wanita itu dengan seksama.

"Aku akan membayarmu, pasti lelah sekali kamu harus berkeliling mencari uang," wanita itu meraih tangan costum. "Ayo! temani aku makan ice cream." Wanita itu membawa badut bersamanya ke arah stan ice cream.

Please rate, vote dan likenya yach!

Sertakan comment kalian agara aku lebih baik lagi, Enjoy!

Hayo tebak... siapa yang pake costum badut?

terus yang nabrak siapa ya??

Ares cari-cari kesempatan biar bisa deket lagi sama Elara... kasih kesempatan gak??

Terpopuler

Comments

Ney Maniez

Ney Maniez

wahhh ktmu jodoh nihhh

2023-09-17

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

apakah jodoh nya Elara

2023-05-25

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

apakah jodoh nya Elara

2023-05-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!