Author POV
Kediaman Charles
Pintu utama terbuka dengan keras, rupanya itu ulah pria muda yang bernama Charles.
Charles Scoot adalah anak dari Evans Scoot bersama Widiawati, pria keturunan Inggris dan Jawa itu memasuki usia 25 tahun. Pria muda dengan energi pemberontaknya yang selalu membuat ayahnya pusing kepala.
"Anak tidak tau aturan, apa susahnya menghadiri acara amal menggantikan Ayah?" Evans tampak murka, istrinya hanya bisa mengelus punggungnya untuk meredakan amarah sang suami.
Charles memutar bola matanya, hal itu memancing Evans untuk melemparnya dengan sandal.
PLAK
Sandal itu pun mendarat sempurna mengenai wajah Charles.
"Aaaaww! Ayah, apa-apaan melemparku dengan sandal! Kalau wajahku hancur bagaimana?"
"Bagus, lebih baik wajahmu rata. Kerjaan mu tebar pesona ke sana ke mari, tidak ada satu pun wanita baik yang selama ini kau kencani!" bentak Evans.
"Ayah, sudah... sabar..." bujuk istrinya.
"Ya, Ayah sabar saja. Aku sudah menemukan calon pendampingku," ucap Charles bangga.
"Kau mau menikah, sayang?" Widiawati bertanya dengan binar. "Siapa wanita itu?"
Charles menggaruk hidungnya yang tidak gatal. "Hm... baru kenal hari ini," dengan senyum jenaka.
Evans kembali melayangkan sandalnya yang satu lagi untuk dilempar ke arah anaknya.
"Ayah! Ampun, aku pasti akan bertemu lagi dengannya!" ucapnya sambil menghindari sandal ke-2.
"Bagaimana kau yakin dia wanita baik? Tidak seperti yang lainnya? Yang hanya ingin mengeruk uangmu," ejek Evans.
Charles merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah yang sudah terlipat. Evans dan Widiawati mengeryit bingung melihat lipatan uang di meja.
"Apa ini sayang?" tanya Widiawati.
"Ini uang dari Ara, wanita itu memberiku uang."
"Kau menjual dirimu padanya?" Evans mengetatkan rahangnya, anaknya hanya seharga beberapa lembar uang seratus ribuan. Yang benar saja! Berani sekali wanita itu.
Charles mengurut pangkal hidungnya dengan miris, oh Tuhan... Ayahku ini sangat kolot sekali. Jaman sekarang pria juga dibeli.
"Aku bertemu dengannya saat memakai costum badut, ia tidak mengenali siapa aku. Tapi dia malah memberikan aku uang, seolah aku tidak punya apa-apa... bukankah itu tandanya ia wanita baik? Dan juga, dia terlihat bukan orang biasa," jelas Charles panjang lebar.
Evans dan Widiawati tampak mangut-mangut mengerti.
"Lalu, bagaimana caranya kamu bertemu dengannya lagi?" Evans tampak penasaran dengan sosok wanita yang dimaksud anaknya.
"Aku akan ke taman itu lagi besok, dengan memakai costum," ucap Charles sambil menerawang membayangkan wajah Ara. "Aku ingin lebih mengenalnya sebelum aku memberitahu identitasku," pungkasnya.
"Itu lebih baik, jangan seperti membeli kucing dalam karung," sahut Evans.
"Hm... sayang, kau yakin dia lajang?" ujar Widiawati agak ragu. "Jika dia sudah punya pacar, bagaimana?"
"Aku minta putuskan," jawab Charles.
"Jika sudah menikah?"
"Ya suruh cerai," sahut Charles asal sontak membuat Evans kembali menaikkan nada suaranya.
"Dasar gila!!!"
Charles tergelak, dia segera pergi menghindari lemparan barang secara membabi buta dari Ayahnya.
"Bagaimana jika perkataan Ibu benar? Tapi sepertinya dia sedang bermasalah dengan pacarnya, mudah-mudahan mereka putus, " gumam Charles sepanjang jalan ke kamarnya. "Ara... kamu cantik sekali, aku tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi," Charles tersenyum simpul sambil merebahkan tubuhnya pada ranjang.
🍁🍁🍁
Elara POV
Kediaman Ares
Aku sampai rumah tepat pukul 18.00, hanya butuh 1 jam menempuh perjalanan. Ketika memasuki rumah, suasana tampak lengang.
"Kemana semua orang?" gumamku.
Baru saja aku menaiki tangga, namun teriakan wanita terdengar mengusikku. Aku berjalan ke arah suara itu.
"Tuan... aduh... kakiku sakit," Sophie merengek. Sepertinya wanita itu baru saja terjatuh, entah di mana aku pun tidak mau tau.
Tampak Ares menggendongnya dan mendudukkannya di ranjang. Dengan telaten pria itu mengurut pergelangan kaki Sophie.
"Lain kali hati-hati, kamu kan sedang hamil," ucap Ares khawatir.
Entah kenapa aku masih di sini, menyaksikan adegan yang begitu terlihat penuh kasih. Ares sangat peduli pada kandungan wanita itu, hal itu membuatku merasakan sembilu.
"Tuan... temani aku ma-"
"Nyonya sudah pulang?" sela Martha. Dia menghampiriku yang masih berdiri di depan pintu kamar Sophie.
Ares dan Sophie menyadari keberadaanku, pria itu tampak terkejut. Wajahnya seperti melihat hantu saja, memuakkan. Bukankah tadi kau sangat menikmati kebersamaanmu bersama wanita itu? Aku berdecih dalam hati.
"Elara..." ucap Ares lirih.
Aku menatap datar dua makhluk tersebut, kemudian tersenyum simpul.
"Maaf mengganggu, aku hanya kebetulan lewat. Permisi ...." aku meninggalkan tempat itu bersama rasa pedih yang masih sama seperti kemarin. Martha mengekoriku dari belakang sambil menunduk.
"Tidak perlu menunduk Martha, aku baik-baik saja. Semua akan mudah jika sudah terbiasa," ucapku menghibur Martha yang malah terlihat sangat sedih.
Ayolah, aku tidak butuh dikasihani. Ini bukan apa-apa untukku.
Author POV
Ares yang terdiam kemudian bangkit hendak mengejar Elara, namun Sophie menahannya. Dia menggeleng dengan tatapan memohon andalannya.
"Jangan pergi Tuan, kakiku masih sakit," keluhnya.
Ares hanya bisa menatap pintu yang kosong dengan sendu. Kemudian kembali memijit pergelangan kaki Sophie. Tanpa disadarinya, wanita itu menyeringai senang dengan kemenangannya kali ini.
🍁🍁🍁
Elara POV
Makan malam kali ini sama sekali tidak berselera. Aku mengunyah dengan seadanya, kemudian memilih beranjak dari sana. Aku ingin menjauh dari keberadaan mereka berdua. Keberadaan makhluk yang menyakitkan mata dan telinga.
"Elara... kau makan sedikit," ucap Ares menahan langkahku.
Aku menoleh dengan tatapan cemooh. "Jangan mengurusiku, aku tau kadar laparku sendiri. Sebaiknya, kau beritahu istri simpananmu itu agar makan dengan perlahan. Jika tersedak, hanya akan merepotkan orang lain," sarkasku.
Orang yang belum makan selama 3 hari saja tidak seperti dia makannya. Seolah seminggu tidak makan, membuatku mual.
"Elara, berhenti memanggilnya seperti itu! Namanya Sophie dan lagipula dia belum bisa sepertimu. Lambat laun, pasti dia akan menguasai table manner," sergah Ares.
Aku melipat tanganku sambil tersenyum. "Kau ingin dia sepertiku?" Aku menatap Sophie yang masih mengunyah makanannya. "Lakukanlah jika kau mampu, dan jangan minta aku memanggil namanya. Karena dia tidak pantas," pungkasku.
Ares sampai beranjak dari kursi makan mendengar perkataanku, pria itu... yang masih berstatus suamiku menatap tajam padaku.
"Elara, kau sudah di luar batas!" Ares menggeram.
Aku membalas tatapannya tidak kalah tajam. "Apa aku tidak salah dengar? Kau yang di luar batas Ares! Jika bukan karena janjiku pada mendiang Ibumu aku sudah pergi jauh dari sini!" ucapku penuh penekanan.
Ares melebarkan matanya, aku memilih kembali ke kamarku. Aku masih mendengar suaranya yang berteriak memanggil namaku, namun itu tidak menghentikan setiap langkahku.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Rasa panas banget pengen bejek2 Ares sama Sophie. kuatkan imanmu Elara, bentar lagi Author bikin kamu happy deh... hehehe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Rafinsa
kno harus pake POV banyak thor . jadi ribet dan gak fokus ceritanya . 🙏
2025-03-05
1
Ney Maniez
hatiku udah jerat jerit,,, pengen iyalah uyel,,,
tinggalin ajj napaaaa
2023-09-17
0
Yunerty Blessa
Elara pedulikan tentang janji.. pergi saja
2023-05-25
0