Author POV
Ares menoleh pada Sophie yang pura-pura tertidur. Dirinya sempat mendengar jika Dokter keluarga Atmaja telah meninggal dunia. Batinnya berkecamuk, apa itu juga campur tangan pria itu? Sampai merenggut nyawa seseorang? Ini bukan hal sepele.
Ares duduk di samping Sophie sambil menatap perut yang mulai terlihat agak membuncit.
Akan lebih baik jika Elara yang hamil.
Ares menyelumuti Sophie kemudian keluar dari kamar, bersamaan dengan itu Elara kebetulan baru sampai rumah. Elara melintasi Ares yang berjalan berlawanan arahnya begitu saja. Ares memanggil wanita itu kemudian.
"Elara..."
"Kau sudah tanya alasan dirinya menampakkan diri?"
"Dia hanya ingin dikenal,"
"Dan kau memakluminya?"
"Perutnya sakit, aku tidak tega menekannya lagi. Akan berbahaya jika bayinya stress." Elara menoleh saat mendengar ucapan konyol Ares.
"Dan tidak masalah jika aku yang stress maksudmu? Aku cukup tertekan dengan keberadaannya di sini, kau sama sekali tidak tahu itu? Atau mungkin tidak peduli," ucapnya sinis.
"Elara, aku minta kau menerimanya. Kau akan menjadi ibu sambung anak itu," bujuk Ares.
Mata Elara melebar. "Apa kau bilang? Kau suruh aku jadi babysitter anak dari simpananmu? Aku tidak menyangka kau akan sekejam ini!"
"Itu sudah tugasmu, sebagai Nyonya Atmaja."
"Kau gila! Aku tidak mau, jangan sampai kau lupa siapa aku," ucapnya penuh penekanan. Rasanya Elara ingin meledak jika terus berada di rumah ini.
Ares masih memanggil istrinya saat wanita itu memutar tubuh untuk kembali berjalan ke kamarnya. Dasar pria tidak punya hati, mendengar dirinya menikah lagi saja Elara sudah serasa ditikam sebilah belati ... dan kini ia memintanya merawat anak dari hubungannya dengan wanita lain? Bunuh saja dirinya sekalian. Biarkan menjadi hantu yang akan menghantui mereka seumur hidup.
Brengsek!!!
Elara membanting pintu dengan keras, dia tidak perduli jika pintunya rusak. Oh, ia butuh berendam. Wanita itu mendesah perlahan, mengatur nafasnya yang sempat memburu karena emosi.
Relax Ara... kau bisa... mengatasi ini.
Rasa sesak di dada berangsur-angsur menghilang, nafas pun menjadi lebih stabil. Dia menatap diri di dalam cermin. Wanita cantik dengan nasib tak secantik parasnya, Tuhan begitu adil. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Elara melangkahkan kaki menuju kamar mandi, menyalakan shower membasahi diri tanpa melepaskan pakaian. Memorinya berputar pada saat dia baru saja menikah dengan Ares, mereka sangat bahagia ... tidak ... dia yang sangat bahagia. Elara akhirnya menikahi pria yang bersamanya dari kecil. Pria pertama yang mengutarakan perasaan padanya.
Dia menengadah menikmati kucuran air bersamaan dengan air mata yang mengalir. Ingin berteriak, jika hatinya sakit, perasaan tidak terima. Elara tidak mau berbagi hati apa lagi berbagi suami, sungguh tidak mau ....
"Aku sakit..." ucapnya dengan lirih sambil memegang dada.
🍁🍁🍁
Dokter Marni datang menggantikan Dokter Gilang, beliau mengucapkan rasa prihatinnya atas meninggalnya Dokter Gilang selaku rekan sesama dokter.
"Saya turut prihatin dengan meninggalnya Dokter Gilang," ucap wanita paruh baya itu.
"Iya, saya juga tidak percaya dengan apa yang Romi sampaikan. Saya minta untuk sementara Dokter Marni menggantikan posisi Dokter Gilang."
"Dengan senang hati, Tuan." Dokter wanita itu memberikan secarik kertas pada Ares. "Nyonya Sophie tidak boleh mendapat tekanan, saya takut akan berpengaruh pada janinnya. Ini saya berikan resep yang bisa Tuan tebus di apotek, kebetulan saya tidak bawa obat. Mengingat tadi ke sini dengan terburu-buru," jelasnya.
Ares mengangguk mengerti. Dokter itu pun pamit. Sophie tampak terbangun dari tidurnya. Diam-diam wanita itu tersenyum tipis.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ares yang sudah duduk di pinggiran ranjang. Mengusap rambut Sophie lembut.
"Lebih baik, Tuan."
"Syukurlah, nanti kau harus minum obat. Jaga anak kita," ucap Ares membuat Sophie sumringah. Ares terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya. Ini sangat bagus untuknya.
"Iya Tuan, aku akan menjaga anak kita," ucap Sophie seraya menggenggam tangan Ares. Pria itu pun mengecup kening Sophie sebelum meninggalkannya untuk beristirahat.
🍁🍁🍁
Manik coklat itu menatap ke arah kamar Elara, ia melangkahkan kaki ke sana. Dilihatnya pintu yang sedikit terbuka, tanpa mengetuk Ares memasuki kamar.
Pria itu mengedarkan pandangan mencari keberadaanku. Bersamaan itu Elara keluar dari kamar mandi dengan baju basah kuyup, lekuk tubuhnya terpampang jelas hingga seluruh underwarenya terlihat. Ares menelan saliva kasar mendapatkan pemandangan gratis dari istri pertamya. Wanita itu sendiri belum menyadari keberadaan Ares, jika tidak melihat pantulan tubuhnya dari cermin. Elara menoleh dengan wajah datar.
"Ada perlu apa kau ke sini?"
Ares menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia memalingkan muka karena malu.
"Aku... ada hal yang ingin aku sampaikan padamu," ucapnya kikuk.
Elara menanggalkan setiap potongan pakaian seolah tidak ada Ares. Perduli setan, dirinya sendiri sudah tidak menganggap keberadaan Elara dengan membawa wanita itu.
"Katakan," ucapnya acuh. Kini wanita itu hanya mengenakan dalaman berwarna hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.
Mata Ares terpaku pada tubuh setengah telanjang Elara, ia berulang kali menelan saliva mengatur degupan jantungnya yang bergemuruh.
Elara menanti apa yang ingin disampaikannya, dia melihat manik Ares yang tidak berkedip menelisik tubuhnya.
"Kenapa? Apa kau masih bernafsu pada wanita cacat sepertiku?" sarkasnya langsung menghujam jantung Ares.
"Ara... "
"Berhenti memanggil nama itu, kau bukan lagi Ares yang dulu."
"Aku masih suamimu!"
"Ya, suamiku yang menikah lagi," ucap Elara sinis.
Ares mengikis jarak antara mereka dan memeluk Elara erat, dengan paksa ia menciumnya dengan brutal. Elara mendorong tubuhnya kuat saat tangan Ares bergerilya ke arah payudara. Wanita itu mendaratkan tamparan ke wajahnya.
PLAK
"Belum cukupkah kau menyakitiku?! AKU BUKAN PELACUR!!!" Elara berteriak, meluapkan emosi.
Cara Ares memperlakukan Elara layak gundik, dipaksa untuk melayaninya? Melayani pria yang sudah berkhianat!
Ares tampak terperangah melihat amarah sang Istri, ia menatap penuh penyesalan pada Elara. Ia berusaha kembali mendekat.
"Elara... maaf..."
"Pergi..."
"Elara, aku-"
"AKU BILANG PERGI!!!"
Dengan berat hati Ares melangkah pergi, langkahnya terhenti saat tepat dia berada di ambang pintu kamar.
"Besok aku akan ke Jerman selama seminggu, aku ingin bertanya kau ingin dibawakan apa?"
Hening, Elara tidak menjawab. Ares akhirnya kembali melangkahkan kaki keluar kamar. Elara segera berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Tangisnya pecah, mengapa dia harus mengalami semua ini? Wanita itu bersandar di balik pintu dengan airmata yang terus mengalir deras. Memeluk diri di tengah malam yang dingin, sedingin hatinya.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Duh... gemes sama Ares, nyakitin hati Ara mulu seh!
Ara sabar ya... Authornya lagi nyari jalan buat kamu... 🤗🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Naomy
bego si elara..knp masih mau bertahan dlm rmh itu
2025-03-09
1
Ney Maniez
klo aku udah pergi
2023-09-17
0
meE😊😊
saluutt sma km ara d tengah kepahitan hidup mu km msih bertahan n bgtu kuat..
2023-01-30
0