Setelah berhari-hari dalam hutan, sampai hari menyabung nyawa dengan binatang buas, akhirnya, Aji, dkk, tiba di tempat yang dimaksud. Aji langsung menerima jabat tangan dari salah seorang warga di kampung yang mereka datangi.
"Bonar," kata salah seorang warga yang berkumis dan berlogat lebih lantang dari masyarakat di mana Aji tinggal.
"Panggil saja Aji," jawab Aji.
"Kalian dari mana asalnya, Kawan?" tanya Bonar masih tersenyum. "Kelihatannya kalian ini, bah, bukan asli sini."
Yang menjawab adalah Tumijan, "Kalau aku dan Aji, kami berdua dari Yawadwipa. Pulang di ujung selatan Suwarnadwipa."
"Oh," Bonar mengangguk-anggukkan kepala. "Adakah pulau di sana? Kukira, di sana hanya ada lautan luas, yang di dalamnya, banyak ikan-ikan besar yang hobi memangsa manusia."
"Omong-omong," Nawang Wulan berusaha menanyakan apa yang ia mau tanyakan, meski dengan takut-takut. "a-apa... apa benar masyarakat di sini memiliki kebiasaan suka memakan orang?"
Bonar tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... rupanya kalian termakan isu tentang kami. Sebagian benar, sebagian lainnya keliru. Praktik itu memang ada, tapi harus seizin pemimpin kami. Dan, biasanya kami memakan daging dari tawanan perang. Itu pun dari mereka yang menjalani hukuman. Tapi, percayalah, kami tak pernah memakan daging dari orang-orang yang bukan dari masyarakat kami."
Aroma asap kayu tercium samar-samar di udara ketika rombongan Aji memasuki pemukiman yang tampak sederhana namun tertata. Pohon-pohon sagu mengelilingi kampung itu, dan di tengah-tengahnya terdapat beberapa rumah panggung yang dibangun dari kayu gelap serta atap daun rumbia. Tidak ada tanda-tanda keganasan seperti yang diceritakan orang luar. Tidak ada tengkorak berserakan atau jerat-jerat mengerikan. Justru yang ada hanyalah suara tawa anak-anak, perempuan yang menumbuk sagu, dan pria-pria yang membawa hasil buruan.
Ketika Bonar tertawa mendengar kekhawatiran Nawang Wulan, suara tawanya langsung menarik perhatian beberapa warga lain. Mereka menoleh dengan waja…
Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Tidak Se-kanibal Dugaan Mereka
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 248 Episodes
Comments