DI BALIK PINTU YANG TERKUNCI

​"Silahkan makan apa yang ada. Jika Ibu tidak mau, silahkan belanja sendiri," ucap Isma datar namun penuh penekanan.

​Tanpa menunggu balasan dari ibu mertuanya yang terpaku dengan bibir terkatup rapat, Isma berbalik arah. Ia melangkah tenang meninggalkan area dapur dan meja makan yang dipenuhi hawa ketegangan. Di belakangnya, ia bisa mendengar sayup-sayup gerutuan Aini yang mengeluh serta nada bicaranya yang memprovokasi Ibu Lestari, tetapi Isma tak lagi peduli. Ia sudah cukup lelah mengalah demi menjaga perasaan orang-orang yang terus menindasnya.

​Begitu melangkah masuk ke dalam kamar, Isma segera memutar kunci dan membiarkan keheningan ruangan menyambutnya. Rasa lelah di dada perlahan terangkat saat ia menarik kursi dan duduk di depan meja kerja. Di sudut meja itu, laptop tipisnya yang selalu setia menampung tiap bait imajinasi telah menyala tenang.

​Isma membuka peramban dan masuk ke dalam dasbor penulisnya serta aplikasi mobile banking. Di sana, deretan angka di rekening pribadinya berkilat dengan jelas. Saldo tabungan ratusan juta rupiah yang terus bertambah saban bulan dari royalti penulisan novel maratonnya, penjualan hak adaptasi digital, hingga bonus bestseller berdiri kokoh sebagai bukti kerja kerasnya. Tidak ada satu pun orang di rumah ini—bahkan Mas Yoga sekalipun—yang tahu bahwa menantu yang selalu mereka sepelekan dan anggap sebagai beban finansial ini sebenarnya memiliki ketahanan finansial yang jauh melampaui seluruh penghuni rumah tersebut.

​Isma meletakkan jemarinya di atas papan ketik. Suara ketukan tombol berirama mulai memenuhi kamar. Menulis bukan sekadar sarana baginya untuk menghasilkan uang yang melimpah, melainkan tempat ia memegang kendali penuh atas hidupnya sendiri. Di dunia nyata, mereka boleh saja mengucilkan dan meremehkannya, namun di balik layar ini, Isma adalah sosok berkuasa yang mampu menentukan alur jalannya sendiri.

​Sambil merangkai bab baru untuk novel terbarunya yang sedang hangat dibicarakan jutaan pembaca di internet, Isma menyunggingkan senyum tipis. Ia akan tetap menyimpan rahasia besar ini rapat-rapt sampai saat yang tepat tiba—saat di mana mereka semua harus menyadari siapa sosok yang sebenarnya selama ini mereka injak-injak.

​Suara denting sendok yang bertabrakan secara kasar dengan piring kaca meng Menggema di ruangan tengah. Dengan wajah yang dilipat masam, Ibu Lestari akhirnya menarik kursi kayu di ujung meja makan. Di sampingnya, Aini mengekor dengan bibir cemberut sambil melempar pandangan jijik ke arah mangkuk berisi tumis kangkung dan piring penuh potongan tempe goreng yang mulai dingin.

​"Benar-benar tidak punya sopan santun," gerutu Ibu Lestari seraya menyendok nasi ke atas piringnya dengan kasar. "Masa mertua sendiri disuruh makan makanan seperti ini? Kalau tahu begini, tidak akan aku biarkan Yoga menikahi perempuan tidak berguna itu dulu."

​Aini menaruh sepotong tahu bacem ke piringnya dengan enggan, lalu menyenggol lengan mertuanya pelan. "Iya, Bu. Aini juga kaget. Biasanya kan Kak Isma selalu masak enak, ada rendang atau minimal ayam goreng. Sekarang malah cuma dikasih ginian. Sepertinya Kak Isma sengaja mau balas dendam karena Mas Yoga kasih uangnya ke Ibu."

​"Biarkan saja! Dia pikir dia siapa mau mengancam Ibu?" balas Ibu Lestari tajam, meski jemarinya tetap menyuapkan nasi dan tempe goreng itu ke dalam mulutnya. Rasa lapar yang tak bisa ditahan memaksa gengsiannya runtuh. "Lihat saja nanti kalau Yoga pulang. Ibu bakal adukan perbuatan istrinya ini. Supaya Yoga makin sadar kalau Isma itu bukan cuma mandul, tapi juga menantu yang durhaka dan tidak bisa menghormati orang tua!"

​Aini tersenyum puas mendengar omongan mertuanya. Dalam hatinya, ia merasa berada di atas angin. Semakin buruk citra Isma di mata Ibu Lestari, semakin besar peluang dirinya dan Arman untuk menguasai perhatian serta aset di rumah ini. Aini lalu menyuap makanannya seraya terus mengipasi amarah mertuanya dengan berbagai sindiran halus.

​Sementara itu dari balik pintu kamar yang terkunci rapat, Isma bisa mendengar sayup-sayup perbincangan mereka dari meja makan. Jemarinya sempat terhenti sejenak di atas papan ketik laptop, namun senyum dingin mengembang tipis di paras cantiknya. Isma tidak merasa sedih ataupun gentar lagi. Biarlah mereka mengadu pada Yoga, biarlah mereka menyebar kebencian sesuka hati.

​Isma kembali memfokuskan pandangannya ke layar monitor, melanjutkan ketukan jemarinya untuk merangkai kisah novelnya. Setiap kalimat yang ia tulis kini dipenuhi energi dan ketegasan baru. Ia tahu, masa-masa menjadi Isma yang penurut dan serba mengalah telah berakhir.

Episodes
1 LAYAR PONSEL YANG DINGIN
2 UANG BELANJA DAN RASA TERASING
3 BUJUKAN YANG MEMBENTUR DINDING HENING
4 PILIHAN HATI DAN LANGKAH PERTAMA
5 DI BALIK PINTU YANG TERKUNCI
6 MAKAN SIANG DAN PERHATIAN BARU
7 PESAN SINGKAT DIANTARA JARAK
8 OBROLAN DITENGAH BATAS YANG KABUR
9 PEMBELAAN YANG SALAH ALAMAT
10 PELUKAN YANG TERASA ASING
11 UNDANGAN DAN LANGKAH BESAR
12 TEPI KEPUTUSAN DAN LANGKAH PERTAMA
13 PERTEMUAN DAN BAYANGAN YANG TERTANGKAP
14 PONDASI KEMERDEKAAN
15 JEJAK DIGITAL YANG TERKUAK
16 PERANGKAP DIBALIK LAYAR
17 PONDASI RUMAH BARU
18 KUNCI MENUJU MASA DEPAN
19 KUNCI DAN GERBANG KEBEBASAN
20 PANGGILAN TIBA-TIBA
21 HAK YANG TAK PERNAH ADA
22 LINI MASA KEHANCURAN
23 KESALAHPAHAMAN DI HALAMAN RUMAH
24 KEPULANGAN DAN UMPAN MANIS
25 TOPENG YANG TERLEPAS
26 GARIS BATAS DAN KEMERDEKAAN
27 PANGGILAN PANIK DAN HAK MILIK
28 BABAK BARU
29 PANIK YANG MULAI MERAYAP
30 BERKAS KEBEBASAN
31 AKAR YANG TAK PERNAH LUPA
32 JEJAK YANG TERENDUS
33 TAMPARAN KESADARAN DAN BATAS KESABARAN
34 KONTRAS YANG NYATA
35 BISIKAN KEHANCURAN
36 PERTEMUAN YANG TAK DISANGKA
37 PERCAKAPAN DI SUDUT CAFE
38 KEHANCURAN DIATAS PUING KESOMBONGAN
39 MATA YANG AKHIRNYA TERBUKA
40 NADA BARU DI PAGI HARI
41 TAMPARAN KENYATAAN
42 Pahitnya Nasi Dan Garam
43 Wajah Diatas Langit Kota
44 Senjata Makan Tuan
45 Bisik bisik Di Meja Makan
46 Wajah Dibalik Pagar
47 Batas Dibalik Pagar
48 Pertanyaan di Tengah Kegelapan
49 Riuh Sambutan dan Bayang-Bayang Sepi
50 Panggilan yang Mengejutkan
51 Senyum Terakhir dan Garis Batas
52 Luka Lima Tahun dan Keteguhan Hati
Episodes

Updated 52 Episodes

1
LAYAR PONSEL YANG DINGIN
2
UANG BELANJA DAN RASA TERASING
3
BUJUKAN YANG MEMBENTUR DINDING HENING
4
PILIHAN HATI DAN LANGKAH PERTAMA
5
DI BALIK PINTU YANG TERKUNCI
6
MAKAN SIANG DAN PERHATIAN BARU
7
PESAN SINGKAT DIANTARA JARAK
8
OBROLAN DITENGAH BATAS YANG KABUR
9
PEMBELAAN YANG SALAH ALAMAT
10
PELUKAN YANG TERASA ASING
11
UNDANGAN DAN LANGKAH BESAR
12
TEPI KEPUTUSAN DAN LANGKAH PERTAMA
13
PERTEMUAN DAN BAYANGAN YANG TERTANGKAP
14
PONDASI KEMERDEKAAN
15
JEJAK DIGITAL YANG TERKUAK
16
PERANGKAP DIBALIK LAYAR
17
PONDASI RUMAH BARU
18
KUNCI MENUJU MASA DEPAN
19
KUNCI DAN GERBANG KEBEBASAN
20
PANGGILAN TIBA-TIBA
21
HAK YANG TAK PERNAH ADA
22
LINI MASA KEHANCURAN
23
KESALAHPAHAMAN DI HALAMAN RUMAH
24
KEPULANGAN DAN UMPAN MANIS
25
TOPENG YANG TERLEPAS
26
GARIS BATAS DAN KEMERDEKAAN
27
PANGGILAN PANIK DAN HAK MILIK
28
BABAK BARU
29
PANIK YANG MULAI MERAYAP
30
BERKAS KEBEBASAN
31
AKAR YANG TAK PERNAH LUPA
32
JEJAK YANG TERENDUS
33
TAMPARAN KESADARAN DAN BATAS KESABARAN
34
KONTRAS YANG NYATA
35
BISIKAN KEHANCURAN
36
PERTEMUAN YANG TAK DISANGKA
37
PERCAKAPAN DI SUDUT CAFE
38
KEHANCURAN DIATAS PUING KESOMBONGAN
39
MATA YANG AKHIRNYA TERBUKA
40
NADA BARU DI PAGI HARI
41
TAMPARAN KENYATAAN
42
Pahitnya Nasi Dan Garam
43
Wajah Diatas Langit Kota
44
Senjata Makan Tuan
45
Bisik bisik Di Meja Makan
46
Wajah Dibalik Pagar
47
Batas Dibalik Pagar
48
Pertanyaan di Tengah Kegelapan
49
Riuh Sambutan dan Bayang-Bayang Sepi
50
Panggilan yang Mengejutkan
51
Senyum Terakhir dan Garis Batas
52
Luka Lima Tahun dan Keteguhan Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!