Suatu Permohonan

Shanna segera memesan taksi online. Tujuannya hanya satu, tempat yang tak pernah ia bayangkan akan ia datangi dalam keadaan seperti ini—kantor pusat Wiratama Group.

Hanya ada satu orang yang bisa menyelamatkan dirinya dan bayinya. Seseorang yang cukup berkuasa untuk menantang keputusan keluarga Wiratama. Dan orang itu adalah bagian dari Wiratama itu sendiri—Damian Wiratama.

Ia tahu Damian bukan pria yang berhati lembut. Sikapnya dingin, tegas, dan tak mudah terpengaruh emosi. Tapi di balik itu, Shanna yakin masih ada sedikit nurani dalam dirinya—setidaknya terhadap darah daging keluarganya sendiri.

Begitu taksi berhenti di depan gedung pencakar langit dengan logo Wiratama Group yang terpampang megah di fasadnya, Shanna menarik napas dalam. Dadanya sesak. Langkahnya terasa berat, tapi ia tak punya pilihan lain. Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu kaca besar dan melangkah masuk.

Lobi megah itu dipenuhi para karyawan yang berlalu-lalang, sibuk dengan urusan masing-masing. Shanna melangkah menuju meja resepsionis, mencoba mengendalikan kegugupannya.

"Aku harus berhasil."

"Saya Shanna. Bisakah saya bertemu Wakil Presdir?" katanya langsung.

Resepsionis, seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan dengan seragam rapi, mengangkat wajahnya dari layar komputer.

"Pak Damian, maksud Anda?" tanyanya, memastikan.

"Ya, betul," jawab Shanna cepat.

"Apakah Anda sudah memiliki janji dengan beliau?"

Shanna menggeleng. "Belum, tapi saya yakin Pak Damian mengenal saya."

Resepsionis itu tampak ragu. Sudah jadi aturan baku di Wiratama Group—tak ada seorang pun yang bisa menemui Wakil Presdir tanpa janji terlebih dahulu.

"Maaf, tapi tanpa janji, saya tidak bisa—"

"Tolong," potong Shanna dengan suara bergetar. "Ini sangat penting. Saya sudah mencoba menghubungi Pak Damian, tapi nomor saya tidak terhubung."

Ia mengangkat ponselnya, menunjukkan riwayat panggilannya. Beberapa kali panggilannya ke nomor Damian tidak dijawab. Resepsionis menatap layar ponsel itu, memastikan bahwa nomor yang tertera memang benar nomor pribadi Damian.

Keraguan di wajahnya sedikit berkurang. Setelah berpikir sejenak, ia mengangguk dan mengambil telepon meja.

"Sebentar, saya akan menghubungi asisten beliau."

Shanna menahan napas saat resepsionis itu menghubungi Willy, asisten pribadi Damian.

"Siang, Pak Willy," sapa resepsionis sopan.

"Ya, ada apa?" suara Willy terdengar dari ujung telepon.

"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Pak Damian. Katanya ini sangat penting."

"Siapa?"

"Namanya Shanna."

Sejenak, hanya ada keheningan. Willy melirik ke arah Damian yang tengah duduk di ruang rapat, dikelilingi beberapa petinggi perusahaan yang sedang membahas proyek besar.

Ia mendekat ke arah Damian dan berbisik pelan, "Pak, ada seorang wanita bernama Shanna yang ingin bertemu. Katanya penting."

Damian yang sedang fokus mendengar laporan, sontak menghentikan pikirannya. Shanna?

Mata Damian menyipit. Pikirannya berkecamuk. Apa yang dilakukan gadis itu di sini? Mengapa ia nekat datang langsung ke kantor?

Setelah beberapa detik berpikir, Damian akhirnya berkata, "Aku kenal dia. Suruh dia menunggu di lobi."

Willy segera menyampaikan instruksi itu kepada resepsionis.

"Baik, Pak."

Setelah menutup telepon, Willy menoleh ke meja rapat dan melihat ekspresi Damian yang mulai kehilangan fokus.

Damian mengembuskan napas berat. Ini akan jadi urusan panjang.

"Untuk sementara, cukup sampai di sini dulu," katanya tiba-tiba, membuat semua yang ada di ruangan menoleh. "Willy, atur jadwal untuk meeting lanjutan."

"Baik, Pak."

Tanpa menunggu lebih lama, Damian bangkit dari kursinya, meninggalkan ruang rapat tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Sementara itu, di lobi, Shanna duduk di kursi tunggu dengan perasaan campur aduk. Kakinya gelisah, jemarinya saling menggenggam erat.

Lalu, tiba-tiba, suasana lobi berubah.

Beberapa karyawan mulai berbisik-bisik ketika melihat Damian muncul dari lift eksekutif. Wakil Presdir mereka—yang dikenal selalu sibuk, selalu formal, dan selalu sulit ditemui—kini berjalan langsung menuju seorang wanita yang sedang menunggunya.

Shanna merasakan tatapan heran dari orang-orang di sekitarnya, tapi ia tak peduli.

Damian berhenti tepat di hadapannya.

"Shanna."

Shanna menoleh. Tatapannya penuh harap, tetapi sorot matanya juga menyimpan kelelahan dan kesedihan yang dalam.

"Kenapa kamu ke sini?" suara Damian terdengar dingin, tapi ada sedikit ketegangan di sana.

Shanna menelan ludah. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia berkata,

"Tolong aku, Om..." suaranya lirih. "Cuma Om yang bisa."

Damian mengerutkan kening. Ia melirik sekeliling, menyadari bahwa semua mata di lobi sedang tertuju pada mereka. Ini bukan tempat yang tepat untuk pembicaraan serius.

"Sebentar, Shanna."

Tanpa banyak bicara lagi, ia memberi isyarat dengan kepalanya. "Ikuti aku. Kita bicara di ruanganku."

Tanpa menunggu jawaban, Damian berbalik dan melangkah menuju lift eksekutif.

Shanna menghela napas panjang sebelum akhirnya mengikuti langkah pria itu, sementara para pegawai masih menatap dengan penuh tanda tanya.

Siapa wanita itu?

Dan bagaimana ia bisa membuat Damian Wiratama, pria paling sulit ditemui di gedung ini, langsung datang menemuinya?

Shanna melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang terasa begitu mewah, bahkan jika dibandingkan dengan rumahnya sendiri. Dinding kaca besar menampilkan pemandangan kota yang menjulang, sementara interior ruangan didominasi warna gelap dengan sentuhan elegan. Aroma kopi dan kayu menguar di udara, menciptakan suasana yang sekaligus megah dan dingin.

Tanpa menoleh, Damian berjalan menuju meja kerjanya, lalu menjatuhkan diri ke kursi kulit hitam yang tampak nyaman. Tatapannya tajam saat ia menoleh ke arah Shanna.

"Duduklah," titahnya singkat.

Shanna menelan ludah, lalu melangkah ke sofa di hadapannya. Begitu ia duduk, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Rasa takut dan cemas masih menguasai pikirannya, tetapi ia harus kuat.

Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak. "Sekarang, jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Shanna menarik napas dalam sebelum akhirnya berbicara, suaranya bergetar.

"Om, saya baru saja melarikan diri. Saya tidak tahu kapan mereka akan menemukan saya… mungkin segera, jika Om tidak membantu saya."

Damian menaikkan alis. "Mereka?"

Shanna mengangguk cepat. "Bu Mega dan orang-orangnya."

Senyum sinis tersungging di bibir Damian. "Dan kenapa saya harus membantu kamu, Shanna?"

Shanna menatapnya lekat-lekat, seolah mencari sesuatu di balik dinginnya pria itu. "Karena saya tahu, di keluarga Wiratama ini… Om berbeda dengan yang lainnya. Om masih punya nurani."

Damian berdecak kecil, lalu menyilangkan tangan di depan dadanya. "Bantuan apa yang kamu inginkan?"

Shanna menelan ludah sebelum menjawab. "Selamatkan saya dan bayi ini, Om. Bagaimanapun juga, bayi ini adalah darah daging keluarga Wiratama."

Ekspresi Damian berubah. Sorot matanya menajam.

"Bayimu itu urusanmu dengan Rivan," katanya dengan nada dingin. "Bukan dengan saya. Kalau ada yang seharusnya bertanggung jawab atas kalian, itu adalah dia."

Shanna mengepalkan tangannya. "Om tahu Rivan tidak ada di sini. Dia pergi ke luar negeri, dan dia… tidak peduli."

Damian menarik napas, menahan diri untuk tidak menghela napas panjang. Ia bisa saja mengusir Shanna sekarang juga. Tapi sesuatu dalam tatapan gadis itu membuatnya menahan diri.

"Jadi, bagaimana caranya saya bisa membantu?" tanyanya akhirnya.

Shanna menunduk sesaat, sebelum mengangkat wajahnya lagi dengan ekspresi putus asa. "Bu Mega membawa saya ke rumah sakit untuk… melakukan aborsi."

Mata Damian sedikit menyipit.

"Awalnya saya akan menurut. Logika saya berkata itu hal yang benar untuk dilakukan. Tapi saat saya sudah di sana… hati saya menolak, Om. Saya berdoa pada Tuhan, dan tiba-tiba saja saya teringat pada Om."

Shanna mengusap wajahnya, suaranya mulai bergetar.

"Mungkin Om adalah jawaban dari doa saya."

Damian tersenyum kecil—sebuah senyum yang lebih mirip ekspresi geli daripada kehangatan.

"Saya tidak mengira kamu cukup religius, Shanna," katanya pelan. "Lalu… apa yang terbayang di kepalamu sebagai jawaban dari Tuhan?"

Shanna membuka mulutnya, tetapi tak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menjawab.

Namun sebelum ia bisa berkata apa-apa, Damian sudah lebih dulu menyipitkan matanya, mengamati ekspresi wajahnya dengan tajam.

"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari saya, Shanna?" tanyanya lagi, kali ini lebih pelan, tapi mengandung ketegasan yang tak terbantahkan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!