Rencana Terselubung

Rivan terbangun dengan Shanna masih terlelap di sisinya. Di luar jendela, matahari pagi menyelinap masuk, menyapa ruangan dengan kehangatan lembut. Semalam, mereka menghabiskan waktu bersama di villa ini—sebuah pelarian dari segala penat dan pertentangan keluarga. Rivan ingin menghibur Shanna, ingin menjauhkan gadis itu sejenak dari tekanan yang terus menghimpit mereka.

Ia menggeser tubuhnya pelan, memperhatikan Shanna yang masih tertidur dengan selimut menutupi punggungnya. Pundaknya yang putih bersih terekspos di bawah cahaya pagi, tampak begitu indah dalam pandangan Rivan. Perlahan, ia menundukkan kepala, mengecup pundak itu berulang kali dengan penuh kasih.

Shanna meremang, tubuhnya menggeliat kecil sebelum akhirnya matanya terbuka.

"Pagi, putri tidur," sapa Rivan dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.

"Hmm... pagi, Van," gumam Shanna, suaranya masih malas. Ia meregangkan tubuhnya, mengusir sisa kantuk yang menempel, namun tak bisa menepis rasa pegal yang menyerang akibat pergulatan semalam.

Rivan menyadari gerakan kecil itu dan tersenyum jahil. "Capek?" tanyanya menggoda.

Shanna meliriknya sejenak sebelum berdecak pelan. "Menurutmu?"

"Haha, maafkan aku, Shan. Semalam aku terlalu terbawa suasana," ucapnya ringan. "Kamu makin jago, Shan. Bikin aku gak bisa nahan diri buat bersikap impulsif."

"Sstt, Van! Aku malu," gerutu Shanna, buru-buru menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang mulai memanas.

Rivan hanya tertawa kecil melihat tingkahnya. Namun, jauh di dalam pikirannya, ada sesuatu yang terus berputar.

Rencana yang Tak Terucap

Tanpa sepengetahuan Shanna, semalam adalah kali kedua Rivan melakukannya tanpa pengaman. Dan kali ini, ia yakin benar bahwa masa subur gadis itu sedang berlangsung. Seharusnya, kali ini tidak akan gagal seperti yang pertama. Seharusnya, kali ini rencananya berjalan sesuai harapan.

Jika restu itu tidak bisa kudapatkan dengan cara baik-baik, maka aku akan melakukan sesuatu di luar nalar manusia waras.

Gumaman itu hanya bergaung dalam hatinya. Ia tahu, jika Shanna sampai tahu apa yang ada di kepalanya, gadis itu pasti akan menolak mentah-mentah. Maka, Rivan memilih diam. Ia hanya perlu menunggu.

Hari itu, mereka habiskan bersama, menyingkirkan sejenak perselisihan keluarga, beban akademik, dan segala hal yang menyesakkan. Di villa itu, hanya ada mereka berdua. Tak ada batasan. Tak ada aturan.

Rivan memastikan dirinya memiliki kesempatan menyentuh Shanna berkali-kali. Sebuah upaya terselubung demi memperlancar rencananya.

Saat sore menjelang, mereka kembali hanyut dalam satu sama lain. Napas Shanna masih tersengal saat ia menyandarkan kepalanya di dada Rivan.

"Gak biasanya kamu gini, Van," keluhnya, masih mencoba menstabilkan napas.

Rivan terkekeh kecil, mengusap punggungnya dengan lembut. "Maaf, Shan. Kesempatan kayak gini gak datang dua kali. Lagian, aku juga gak sering, kan?"

Shanna mengangkat wajahnya, menatap Rivan penuh selidik. "Gak sering?" ulangnya, sedikit skeptis.

"Seingatku, setahun ini cuma lima kali," jawab Rivan enteng, seolah sedang membahas sesuatu yang sepele.

Shanna mendecak pelan. "Laki-laki mesum mana yang sampai ngitung hal kayak gini, sih, Van?"

"Ada. Aku," jawab Rivan santai, lalu kembali terkekeh.

Shanna menghela napas, membiarkan saja tingkah lelaki itu. Ini bukan pertama kalinya. Mereka tahu seharusnya tidak membiarkan hal ini menjadi kebiasaan, tapi bagaimana lagi? Mereka terlalu terbuai dalam balutan cinta yang begitu dalam.

Mereka tahu ini salah.

Tapi, siapa yang bisa menolak godaan cinta yang begitu menggoda?

Keputusan yang Tak Terucap

Matahari mulai condong ke barat saat Shanna menyandarkan kepalanya di bahu Rivan. Mereka masih duduk di balkon villa, menikmati semilir angin sore yang menerpa wajah. Hening menemani mereka, hanya suara dedaunan yang bergesekan dan kicauan burung yang sesekali terdengar.

"Kita harus pulang," ucap Shanna akhirnya, suaranya pelan seolah enggan kembali ke dunia nyata.

Rivan menoleh, menatap wajah gadis itu dengan lembut. "Mau di sini lebih lama?" tanyanya menggoda.

Shanna menggeleng, tersenyum kecil. "Kamu tahu kita gak bisa, Van. Besok ada kelas, dan aku masih ada deadline tugas."

"Selalu tentang kuliah," gumam Rivan, setengah bercanda setengah mengeluh. "Kamu serius banget sih, Shan?"

Shanna mengangkat wajahnya, menatap Rivan lurus. "Aku harus serius, Van. Aku gak punya pilihan lain selain sukses. Kamu tahu kenapa."

Tentu Rivan tahu. Sejak awal, Shanna sudah sadar diri. Ia datang dari keluarga sederhana, bukan seseorang yang dengan mudah bisa diterima dalam lingkungan keluarga Rivan. Itu sebabnya ia bekerja lebih keras, belajar mati-matian, dan selalu berusaha membuktikan bahwa ia pantas berdiri sejajar dengan Rivan.

Rivan menarik napas dalam, menahan perasaan yang mengganjal di dadanya. Apa yang akan terjadi kalau rencanaku berhasil? Akankah Shanna membenciku?

Ia ingin percaya bahwa Shanna akan menerimanya, bahwa gadis itu akan tetap mencintainya meskipun ia telah merencanakan sesuatu di luar batas kewajaran.

"Shan," panggil Rivan tiba-tiba.

"Hmm?"

"Kalau seandainya ada sesuatu yang terjadi... yang di luar rencana kita... kamu bakal tetap bersamaku?"

Shanna mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Rivan tersenyum kecil, mencoba menutupi kegelisahannya. "Gak ada. Cuma mau tahu, kalau suatu hari nanti ada sesuatu yang berubah, kamu masih akan tetap di sampingku, kan?"

Shanna menatap Rivan lama sebelum akhirnya menghela napas pelan. "Van, apapun yang terjadi... aku gak akan lari. Selama kita bisa hadapi bareng, aku gak akan ninggalin kamu."

Senyum Rivan mengembang, tapi dalam hatinya, ada rasa bersalah yang diam-diam menyusup.

Mungkin aku egois, Shan. Tapi aku ingin kamu tetap di sisiku... dengan cara apapun.

Pulang dengan Rahasia yang Menggantung

Malam itu, mereka kembali ke kota. Sepanjang perjalanan, Shanna tertidur di bahu Rivan, lelah setelah seharian menghabiskan waktu bersama. Rivan mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam jemari Shanna erat, seolah tak ingin kehilangan gadis itu.

Begitu tiba di depan apartemen Rivan membantu gadis itu turun dari mobil. Shanna yang masih mengantuk hanya menggumam pelan lalu mengeratkan genggamannya pada leher Rivan yang tengah menggendongnya.

"Van, kita gak pulang kerumah ?" Tanyanya setengah sadar.

Rivan tersenyum. "Enggak Shan, kita pulang ke apartemen dulu. Udah terlalu malem."

Setelah memastikan Shanna masuk dengan aman, Rivan kembali ke mobil dan mengeluarkan seluruh perlengkapan yang mereka bawa kemarin.

Rivan kembali ke kamar setelahnya, naik ke ranjang menyusul Shanna yang sudah terlelap lebih dulu. Rivan menatap Shanna lekat.

Pikirannya penuh dengan rencana yang sudah ia susun. Kini, ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat.

Jika benar perkiraannya, dalam beberapa minggu ke depan, segalanya akan berubah.

Dan pada saat itu, keluarga Wiratama tidak akan punya pilihan lain selain menerimanya.

Maaf, Shan. Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku harus melakukan ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!