Shanna pulang ke rumahnya tanpa sepatah kata pun. Langkahnya berat, tubuhnya terasa kosong, dan pikirannya kacau. Dingin malam yang menusuk tidak sebanding dengan dinginnya hatinya saat ini. Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan menjatuhkan dirinya ke atas kasur.
Ia ingin tidur. Ingin melupakan semuanya. Tapi matanya tetap terbuka, menatap langit-langit dengan kosong. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya terasa hancur.
Beberapa hari berikutnya, Shanna tidak keluar dari kamarnya. Ia tidak masuk kuliah, tidak mengangkat telepon, dan bahkan tidak membalas pesan dari teman-temannya. Bahkan ibunya pun mulai khawatir.
Di kampus, ketidakhadiran Shanna mulai menimbulkan pertanyaan. Sebagai mahasiswa aktif yang jarang absen, menghilangnya Shanna begitu saja adalah sesuatu yang janggal. Beberapa teman dekatnya mencoba menghubunginya, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya, mereka bertanya pada Rivan.
"Van, lo tau Shanna ke mana? Udah beberapa hari ini dia gak masuk," tanya Adinda saat mereka sedang di kantin kampus.
Rivan yang awalnya asyik memainkan ponselnya segera mengangkat wajah. “Dia gak masuk?” tanyanya seolah benar-benar baru tahu.
"Iya. Lo gak tau apa-apa?"
Rivan terdiam sejenak. Pikirannya berputar. Ia tidak menyangka bahwa Shanna akan sampai mengurung diri seperti ini.
"Gue coba cek ke rumahnya," kata Rivan akhirnya.
Sore itu, Rivan langsung menuju rumah Shanna. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, ibu Shanna yang membukakan. Wajahnya tampak cemas.
“Rivan?”
“Selamat sore, Tante. Saya Rivan, teman kuliah Shanna.”
“Oh, iya. Shanna ada di rumah, tapi dia sedang tidak enak badan,” ujar ibunya dengan nada khawatir.
Rivan memasang ekspresi sepeduli mungkin. “Saya boleh ketemu dia, Tante? Saya khawatir karena dia juga gak masuk kuliah beberapa hari ini.”
Ibu Shanna ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. “Coba saja kamu bicara dengannya. Saya sudah membujuknya, tapi dia tidak mau bicara dengan siapa pun.”
Rivan melangkah ke depan kamar Shanna dan mengetuk pintunya pelan.
"Shan? Ini aku, Rivan."
Tidak ada jawaban.
"Shan, aku cuma mau bicara. Aku khawatir," ucapnya lagi, berusaha membuat suaranya terdengar selembut mungkin.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah pelan dari dalam. Pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah Shanna yang pucat dan mata sembab.
Melihatnya dalam keadaan seperti itu, hati Rivan mencelos. Tapi ia harus tetap tenang.
"Shan…" panggilnya lirih.
Shanna diam, hanya menatapnya dengan ekspresi sulit dijelaskan. Ada luka, ada ketakutan, dan ada sesuatu yang seolah ingin ia ucapkan tetapi tertahan.
Rivan tersenyum kecil, mencoba membuat suasana lebih hangat. “Aku boleh masuk?”
Shanna ragu sejenak, tetapi akhirnya membuka pintu lebih lebar. Rivan melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya.
Mereka berdiri dalam keheningan selama beberapa saat.
“Kamu kenapa?” tanya Rivan akhirnya.
Shanna menghela napas panjang. "Aku cuma... aku butuh waktu sendiri, Van."
Rivan mendekat, perlahan mengangkat tangannya dan menggenggam jemari Shanna dengan lembut. "Aku ngerti. Tapi jangan menjauh dariku kayak gini."
Shanna menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Aku gak tahu harus gimana, Van. Setelah apa yang terjadi..." suaranya melemah, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Rivan mengeratkan genggamannya. “Dengar, Shan. Apa yang terjadi kemarin itu... bukan sesuatu yang harus bikin kita jauh. Justru itu bikin kita semakin terikat.”
Shanna mengernyit, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Terikat?"
Rivan mengangguk, matanya menatap Shanna dengan dalam. "Iya. Aku gak akan ninggalin kamu, Shan. Apapun yang terjadi, kita tetap bersama."
Shanna menggeleng pelan. "Tapi—"
"Tidak ada 'tapi', Shan," potong Rivan lembut. "Aku gak akan membiarkan ini jadi sesuatu yang memisahkan kita. Aku akan selalu ada buat kamu. Aku janji."
Matanya yang tajam seolah menyalurkan keyakinan ke dalam diri Shanna.
"Jadi, tolong... jangan menjauh."
Shanna masih ragu. Perasaannya bercampur aduk. Tapi ada sesuatu dalam suara Rivan—sesuatu yang membuatnya sulit menolak.
Ia menunduk, membiarkan genggaman tangan mereka tetap erat.
Shanna menelan ludah. Ia masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan Rivan, tetapi hatinya yang rapuh saat ini membuatnya ingin percaya. Ingin berpegang pada sesuatu yang bisa membuatnya merasa aman, meskipun entah itu benar atau tidak.
Rivan menggenggam tangannya lebih erat, lalu menariknya ke dalam pelukan. "Aku di sini, Shan. Aku gak akan ninggalin kamu," bisiknya di dekat telinga Shanna.
Shanna terdiam di dalam pelukan Rivan. Tubuhnya kaku, tapi perlahan-lahan ketegangan itu melemah. Ia ingin marah, ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa semua ini salah. Tapi kata-kata itu tak kunjung keluar. Yang ada hanyalah air mata yang kembali mengalir, membasahi bahu Rivan.
Rivan membiarkan Shanna menangis tanpa berkata apa-apa. Ia hanya mengusap punggungnya perlahan, menunggu sampai tangisnya mereda.
Setelah beberapa menit, Shanna akhirnya menarik diri, mengusap matanya yang bengkak. "Aku capek, Van."
Rivan tersenyum kecil. "Aku tahu."
Shanna menghela napas panjang. "Aku masih butuh waktu."
"Aku ngerti. Tapi satu hal yang pasti, apapun yang terjadi kita akan tetap sama-sama, Shan. Aku akan tanggung jawab dan gak akan biarin kamu sendiri."
Shanna menatapnya ragu. Ada sesuatu dalam mata Rivan yang sulit ia baca—sebuah keyakinan yang begitu kuat, tapi juga samar-samar terasa seperti jebakan.
"Tidurlah. Aku di sini," kata Rivan, membimbing Shanna untuk duduk di kasurnya.
Shanna menurut. Ia terlalu lelah untuk berpikir lebih jauh.
Rivan duduk di sampingnya, menatapnya sampai Shanna akhirnya memejamkan mata. Namun sebelum benar-benar tertidur, satu pertanyaan melintas di kepalanya.
Benarkah Rivan tidak akan meninggalkannya? Atau justru ia yang semakin terperangkap?
Malam itu, Shanna tidur dengan gelisah. Kepalanya dipenuhi berbagai pikiran yang tak bisa ia kendalikan. Kenangan tentang kejadian di apartemen Rivan terus berputar seperti kaset rusak, membuatnya terbangun beberapa kali dengan keringat dingin. Setiap kali ia membuka mata, ia mendapati Rivan masih duduk di sampingnya, sesekali menggenggam tangannya, seolah ingin memastikan bahwa Shanna tidak akan pergi kemana-mana.
Pagi harinya, sinar matahari menembus jendela kamar, menyadarkan Shanna dari tidurnya yang tidak nyenyak. Ia mengerjapkan mata, mendapati Rivan masih ada di sana, tertidur di kursi dengan kepalanya bersandar ke dinding. Shanna menghela napas panjang, merasa dadanya begitu sesak.
Rivan benar-benar tidak pergi. Ia tetap di sampingnya, seperti yang ia katakan. Begitu Shanna hendak beranjak, Rivan menyapanya.
"Pagi Shanna .."
"Pagi Van"
"Jadi, kamu mau sarapan?" tanya Rivan, dengan nada ringan.
Shanna ragu sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Iya..."
Rivan tersenyum, lalu menarik tangannya. "Ayo. Aku pesenin makanan favorit kamu."
Shanna membiarkan dirinya dituntun ke luar kamar. Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa tidak benar. Seolah-olah ia sedang berjalan ke arah yang semakin menjebaknya, bukan membebaskannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments