Sejak malam itu, hidup Shanna terasa berbeda. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Namun, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Rivan ada di sisinya. Rivan tidak meninggalkannya. Itu sudah cukup, bukan?
Hari-hari berlalu dengan Rivan yang semakin perhatian. Ia menjemput Shanna ke kampus, memastikan gadis itu makan dengan benar, dan selalu ada setiap kali Shanna membutuhkannya. Rivan seolah menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, dan itu membuat Shanna bimbang. Ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan bahwa ini salah, bahwa ada sesuatu yang tidak benar dengan semua ini, tetapi setiap kali Rivan menggenggam tangannya dan berkata, "Aku selalu ada buat kamu," semua keraguan itu perlahan memudar.
Shanna mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini mungkin adalah bentuk cinta yang lain. Mungkin cinta bukan hanya tentang hal-hal manis, tapi juga tentang menerima satu sama lain apa adanya, bahkan saat keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Namun, ada satu hal yang masih menghantuinya—rasa takut.
Setiap kali ia menatap Rivan, ada bagian kecil dari dirinya yang bertanya: Apakah aku benar-benar mencintainya? Atau aku hanya takut kehilangannya?
Semakin lama, Rivan mulai menunjukkan sikap berbeda. Ia tidak lagi sekadar menjaga dan menemani, tapi mulai mendorong Shanna untuk menerima sesuatu yang tidak ia inginkan.
Suatu malam, saat mereka sedang duduk di balkon apartemen Rivan, menikmati udara malam sambil berbincang ringan, Rivan tiba-tiba menggenggam tangan Shanna lebih erat.
"Kita udah sejauh ini, Shan. Aku rasa nggak ada salahnya kalau kita... ya, melakukannya lagi," ujar Rivan dengan nada lembut yang nyaris menipu.
Shanna menegang. "Jangan gila, Van. Gimana kalau sampai kejadian yang enggak-enggak?"
Rivan tertawa kecil, seolah menertawakan kecemasan Shanna. "Aku main aman, kok. Buktinya sampai sekarang kamu nggak hamil, kan?"
Shanna menatapnya tak percaya. "Kemarin kita beruntung. Belum tentu keberuntungan itu datang dua kali."
"Kamu terlalu serius, Shan. Banyak pasangan di luar sana yang melakukannya bertahun-tahun dan tetap aman-aman aja."
Shanna menggeleng. "Aku nggak mau. Aku nggak bisa. Kalau cuma ini yang kamu mau, mending kita putus, Van."
Tatapan Rivan mengeras, tetapi ia segera mengendalikan ekspresinya. "Kamu beneran mau ninggalin aku cuma gara-gara ini?"
"Ini bukan hal kecil, Van. Aku nggak nyaman," suara Shanna bergetar, tetapi ia mencoba tetap tegas.
Rivan terdiam sejenak, lalu menghela napas seolah pasrah. "Aku ngerti, Shan. Aku nggak akan maksa."
Shanna mengangguk pelan, berharap semuanya bisa kembali seperti semula. Namun, ia tak tahu bahwa ini hanya awal dari permainan Rivan.
Sejak malam itu, sikap Rivan berubah. Bukan dalam cara yang langsung terlihat, tetapi dalam hal-hal kecil yang membuat Shanna merasa bersalah.
Ia tidak lagi sering menjemput Shanna. Ia mulai lebih sering diam saat mereka bersama. Bahkan, ketika Shanna mengirim pesan, butuh waktu lama bagi Rivan untuk membalas.
Shanna merasa ada sesuatu yang salah.
Saat mereka akhirnya bertemu lagi, Shanna mencoba berbicara. "Van, kamu kenapa?"
Rivan tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya. "Aku baik-baik aja, Shan. Mungkin aku cuma butuh waktu buat nerima keputusan kamu."
Shanna menggigit bibirnya. "Aku nggak bermaksud nyakitin kamu, Van."
"Aku tahu," jawab Rivan, tetapi nada suaranya membuat Shanna semakin merasa bersalah.
Dan itulah yang diinginkan Rivan. Ia tahu bahwa Shanna memiliki hati yang lembut. Ia tahu bahwa jika ia menunjukkan luka, Shanna akan merasa bertanggung jawab.
Pada akhirnya, Shanna mulai merasa bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali Rivan yang dulu adalah dengan menyerah pada keinginannya.
Suatu malam, saat mereka duduk berdua di apartemen Rivan, Shanna menatap pria itu dengan ragu.
"Van..." panggilnya pelan.
Rivan menoleh, mengangkat alis seolah bertanya.
Shanna menarik napas dalam. "Aku nggak mau kehilangan kamu."
Rivan tersenyum tipis. "Aku juga nggak mau kehilangan kamu, Shan."
"Aku cuma... aku nggak tahu harus gimana biar kita bisa kayak dulu lagi."
Tatapan Rivan melembut, tetapi di balik matanya ada sesuatu yang berbeda. "Kamu nggak harus ngelakuin apa-apa, Shan. Aku sayang kamu, tapi aku juga manusia. Aku nggak bisa terus-terusan nahan kalau kamu selalu nolak aku."
"Maksud kamu gimana Van ?"
"Kalau aku mau aku bisa lakuin itu sama siapa aja Shan. Banyak perempuan diluar sana yang bisa aku bayar." Ucapan Revan mengagetkan Shanna tentunya.
"Tapi .."
"Aku cuman punya rasa ke kamu. Aku sayang ke kamu dan aku lakuin ini juga bukan karena dorongan nafsu aja. Tapi karena aku pengen selalu sama kamu."
Shanna merasa dadanya sesak. Ia tahu apa yang diinginkan Rivan. Dan yang lebih menyakitkan, ia tahu bahwa dirinya mungkin akan menyerah.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Shanna merasa seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Rivan menelusupkan tangannya ke belakang leher Shanna, diantara rambutnya.
"Jangan lihat ini sebagai cara aku memenuhi nafsu belaka, tapi lihat ini sebagai cara kita saling mengungkapkan cinta. Kita udah tiga tahun sama sama, ini suatu yang wajar dan buat aku hanya kamu Shan, buat kamu juga hanya aku kan ?" Rivan masih bersi keras membunuk Shanna.
Shanna tak lagi menolak sentuhan itu, perlahan Rivan menarik dagu Shanna lalu memberikan lumatan dalam. Awalnya Shanna tak membalas hanya diam memproses segala bentuk kejadian. Namun Rivan mendorongnya semakin dalam hingga Shanna hanya mengikuti nalurinya membalas dan mengecap.
Senyum kemenangan memancar dari bibir Rivan, perlahan mereka semakin tenggelam sampai tak terasa kini mereka sudah berada di kamar dengan Shanna berada dalam kuasa Rivan.
"Hmm Van .." desah Shanna ketika Rivan memberikan tanda kepemilikan di leher dan dada Shanna.
"Rileks dan nikmati aja sayang"
Shanna meremas sprei yang ada di sekitarnya. Hati nya menolak namun otak nya berpikir bahwa tak ada lagi yang harus di lindungi dari dirinya toh mereka sudah pernah melakukan itu, mengapa tidak dirinya mengikuti alur saja.
Meski terkesan masih kaku, namun Shanna kini melakukannya dalam keadaan sadar. Bisa merasakan setiap sentuhan Rivan yang sangat lembut dan memabukkan.
Sesuatu dalam diri Shanna terasa bergejolak, entah apa Shanna tak mengerti dan tak bisa menjelaskan perasaan itu.
"Ah Van .." Shanna mencengkram punggung Rivan.
"Lepaskan sayang, jangan di tahan." Rivan menekan Shanna lebih cepat dan lebih dalam, membuat Shanna terlihat menggeliat tak karuan. Nafasnya memburu seiring pelepasan yang di dapatkannya. Rasa yang tak pernah Shanna bayangkan sebelumnya.
"Sekarang giliran aku Shan." Rivan mempercepat tempo permainannya, sampai ledakan hangat itu terasa mengalir disana.
Rivan turun dari atas tubuh Shanna, berbaring lalu mendekap Shanna erat.
"Terimakasih Shan, kalau saja kita melakukannya lebih awal kita bisa sama sama menikmati ini tanpa berdebat."
Tak ada jawaban dari Shanna. Shanna hanya membalas pelukan Rivan lalu mereka terlelap bersama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments