Tepat di hari ini merupakan perayaan ulang tahun kampus. Kampus mereka mengundang seorang eksekutif dari perusahaan Wiratama Group untuk memberikan penghargaan sekaligus menjadi perwakilan memberikan beasiswa secara simbolis.
Acara yang setiap tahun rutin di lakukan oleh kampus mereka dan bekerja sama dengan Wiratama Group.
Beruntungnya tahun ini setelah menjalin lima tahun kerja sama bersama Wiratama Group, yang menghadiri langsung undangan merupakan wakil presiden direktur Wiratama Group. Seseorang yang akan menjadi penerus dari Wiratama yakni Damian Alexander Wiratama, yang merupakan paman dari Rivan.
Damian bisa dibilang anak kesayangan keluarga Wiratama karena selain satu satunya anak lelaki, Damian juga anak terakhir yang dimiliki oleh Rendra. Usia Damian dan Mega kakaknya, terpaut cukup jauh sekitar 15 tahun karena untuk mendapatkan keturunan Rendra harus melalui proses bayi tabung yang sempat beberapa kali gagal sampai akhirnya Damian lahir di tahun ke 18 pernikahan.
Oleh karena itu juga, usia Damian dengan Rivan tak begitu jauh. Hanya terpaut 10 tahun. Sehingga seringkali di bandingkan paman dan keponakan, mereka lebih terlihat seperti adik dan kakak.
Kembali Ke Acara Ulang Tahun Kampus
Shanna yang merupakan mahasiswa aktif organisasi, menjadi panitia yang mempersiapkan acara. Banyak hal Shanna lakukan untuk memastikan acara berjalan lancar, terutama karena ada tamu agung yang kali ini datang ke kampus mereka.
"Om aku yang dateng." Bisik Rivan pada Shanna yang sedang menyiapkan kursi tamu.
"Iya tau."
"Hati hati dia agak sensitif dan tegas." Tambah Rivan.
"Kamu jangan nakutin aku Van."
"Aku ngasih tau biar kamu siap siap." Rivan menyentil kening Shanna.
"Aw, nyebelin."
"Udah ya aku mau duduk di kursi aku dulu. Selamat bertugas ketua pelaksana." Ucap Rivan menyemangati.
"Makasih Van."
Shanna pun melanjutkan tugasnya, sampai acara pun dimulai. Pembawa acara mulai menyampaikan satu persatu agenda kegiatan yang akan di laksanakan, hingga kode dari panitia lain memberikan tanda bahwa Damian sudah datang dan semua bersiap untuk menyambutnya.
"Selanjutnya mari kita sambut kedatangan tamu kita dari Wiratama Group, Wakil Presiden Direktur Damian Alexander Wiratama."
Seketika riuh tepuk tangan terdengar diantara kerumunan.
Damian datang didampingi beberapa orang lain. Diantaranya ada asisten dan juga sekertarisnya.
Setelah Damian memasuki ruangan, semua mata tertuju padanya. Sosoknya yang tinggi dengan jas rapi dan ekspresi serius membuat kehadirannya terasa begitu berwibawa. Beberapa dosen dan petinggi kampus segera maju untuk menyambutnya, sementara mahasiswa yang hadir berbisik-bisik, terkesan dengan kemunculan pria yang dikenal sebagai calon pewaris Wiratama Group.
Shanna, yang berdiri di dekat panggung bersama beberapa panitia lainnya, mencoba tetap fokus pada tugasnya. Namun, ada sedikit kegugupan yang muncul di dalam dirinya. Ia tahu bahwa sebagai salah satu penerima beasiswa Wiratama Group, ia akan dipanggil ke atas panggung untuk menerima penghargaan secara simbolis langsung dari Damian Alexander Wiratama.
Setelah beberapa sambutan resmi, tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Pembawa acara kembali mengambil mikrofon dan mengumumkan,
"Kini, kita akan memasuki sesi pemberian penghargaan bagi mahasiswa berprestasi yang telah berhasil mendapatkan beasiswa dari Wiratama Group. Kami mengundang Bapak Damian Alexander Wiratama untuk menyerahkan penghargaan ini secara simbolis."
Damian bangkit dari kursinya dan berjalan menuju panggung dengan langkah tegap. Wajahnya tetap tenang dan profesional, namun ada sedikit rasa bosan yang tersirat di matanya. Sepertinya ini bukan pertama kalinya ia menghadiri acara serupa.
"Untuk penerima beasiswa tahun ini, penghargaan akan diterima oleh salah satu mahasiswa terbaik yang telah menunjukkan prestasi akademik dan organisasi yang luar biasa. Kami mengundang Shanna Viarsa Darmawan untuk naik ke atas panggung."
Jantung Shanna berdetak lebih cepat. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah ke panggung. Dalam perjalanan menuju ke sana, matanya sempat menangkap ekspresi Rivan yang duduk di antara mahasiswa lain. Rivan tersenyum kecil ke arahnya, seolah ingin mengatakan, "Kamu bisa, Shan."
Saat Shanna sampai di atas panggung, Damian menyerahkan sertifikat penghargaan kepadanya. Tatapan pria itu tajam, mengamati Shanna seolah sedang menilainya. Shanna sedikit gugup, tetapi ia berusaha tetap tenang saat menerima penghargaan dengan kedua tangan.
"Selamat, Shanna," ucap Damian dengan nada formal.
"Terima kasih, Pak Damian," jawab Shanna dengan sopan.
Mereka sempat berjabat tangan. Saat itu, Damian menatapnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu dalam cara pria itu mengamati Shanna—seolah dia mengenalinya atau setidaknya pernah mendengar namanya sebelumnya.
"Viarsa Darmawan..." Damian mengulang nama belakang Shanna dengan pelan, seakan mencoba mengingat sesuatu.
Shanna mengangguk sopan. "Iya, Pak."
Damian tak langsung berkata apa-apa. Namun, tatapannya seolah mengisyaratkan bahwa ia tahu sesuatu yang tidak Shanna sadari. Setelah momen singkat itu, Damian menarik kembali tangannya dan kembali bersikap profesional.
Setelah sesi foto bersama, Shanna kembali ke tempat duduknya, masih merasa sedikit aneh dengan tatapan Damian tadi. Apa pria itu pernah mendengar namanya sebelumnya? Atau mungkin Rivan pernah menyebutkan dirinya dalam percakapan keluarga?
Sementara itu, Damian kembali duduk, namun ekspresi di wajahnya sedikit berubah. Ia menoleh ke arah Rivan yang duduk di barisan mahasiswa dan menyipitkan mata sedikit, seolah baru menyadari sesuatu.
Damian bukan tipe orang yang mudah terkejut, tetapi pertemuannya dengan Shanna barusan meninggalkan kesan yang aneh. Saat menyalaminya di atas panggung, dia menangkap sesuatu dalam tatapan gadis itu—sebuah keteguhan bercampur dengan kegelisahan.
Dia memang tidak mengenal Shanna secara langsung, tetapi nama itu bukan asing baginya. Beberapa kali, dalam percakapan keluarga, terutama dengan Mega dan Rivan, dia pernah mendengar nama "Shanna" disebut.
Sekarang, setelah melihat langsung interaksi Rivan dengan gadis itu, Damian mulai menyadari sesuatu. Tatapan Rivan ke Shanna terasa berbeda—bukan hanya sekadar perhatian biasa, tapi lebih seperti obsesi yang terselubung.
Apakah ini hanya perasaannya saja? Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam antara Rivan dan Shanna?
Sebagai seseorang yang sudah bertahun-tahun bergelut dalam dunia bisnis dan negosiasi, Damian terbiasa membaca bahasa tubuh orang lain. Dan dari yang dia lihat, Shanna seperti tidak benar-benar nyaman di dekat Rivan.
Dia tidak ingin menyimpulkan terlalu cepat, tetapi firasatnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Setelah beberapa jam acara pun selesai, Damian berpamitan kepada seluruh dosen dan pantia yang sudah berhasil menyelenggarakan acara ini dengan meriah. Meski Damian nampak tegas dan dingin, namun Damian cukup pandai menempatkan diri sehingga ketika diperhatikan Damian cukup ramah dalam berinteraksi.
Saat Damian bersalaman dengan beberapa dosen dan panitia, matanya sempat kembali mencari sosok Shanna di antara kerumunan. Ia tidak langsung menghampirinya, tetapi ia mengamati dengan lebih cermat.
Ternyata saat itu Shanna sedang asik berfoto bersama teman temannya. Shanna terlihat lebih lepas dibandingkan tadi, ekspresi tegang dan kekhawatiran yang sangat dominan itu seketika lenyap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments