Hari-hari berlalu tanpa banyak interaksi antara Rivan dan Shanna. Kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bertemu, tetapi hari ini berbeda. Rivan mengabarkan bahwa dirinya sedang sakit dan tidak bisa datang ke kampus.
"Aku di apartemen, kayaknya butuh seseorang buat nemenin."
Membaca pesan itu, Shanna mengernyit. Ia memang sudah jarang bertemu Rivan belakangan ini, tapi permintaan itu terasa sedikit aneh. Namun, tanpa banyak berpikir, ia segera membalas,
"Oke, Van. Habis kelas aku ke sana."
Kuliah selesai pukul lima sore, dan setelahnya, Shanna menyempatkan diri mampir ke toserba untuk membeli beberapa keperluan—buah, susu, dan beberapa camilan yang mungkin bisa membantu mempercepat pemulihan Rivan. Baru sekitar pukul setengah tujuh malam ia tiba di apartemen.
Rivan membukakan pintu dengan ekspresi yang tampak biasa saja. Tidak ada tanda-tanda ia sedang sakit parah.
"Kamu kelihatan baik-baik aja, Van," komentar Shanna sambil meletakkan belanjaannya di meja.
Rivan terkekeh. "Aku kena diare, bukan demam atau flu yang bikin wajahku kelihatan lemas."
Shanna melipat tangan di dada. "Kamu salah makan, ya? Baru seminggu nggak ketemu, eh, malah sakit."
Rivan tersenyum tipis. "Ya, soalnya kamu sibuk banget. Aku kangen."
Dulu, kata-kata seperti itu terdengar manis. Tapi belakangan, kata ‘kangen’ dari Rivan justru membuatnya waspada.
Shanna meraih tasnya. "Kayaknya kamu nggak perlu ditemani. Aku pulang aja, ya."
Rivan langsung menarik pergelangan tangannya, menahannya agar tidak pergi. "Kenapa sih, Shan? Baru juga datang."
"Nggak papa."
Rivan menghela napas, lalu menatapnya penuh harap. "Kalau nggak mau nemenin, nggak apa-apa. Tapi temenin aku makan dulu, ya? Aku udah pesen makanan dan minuman kesukaan kamu."
Shanna ragu sejenak. Tapi melihat ekspresi Rivan yang tampak tulus, ia akhirnya mengangguk. "Oke, tapi nggak lama ya."
Mereka duduk di meja makan. Saat Shanna beranjak ke dapur untuk mengambil alat makan, Rivan diam-diam memasukkan sesuatu ke dalam minumannya. Sebuah bubuk putih yang ia terima dari Gama—temannya yang punya koneksi di dunia gelap.
Setelah semuanya siap, mereka mulai makan. Tak ada kecurigaan di mata Shanna, ia bahkan menikmati momen ini. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama seperti ini.
Namun, beberapa saat setelah makan, sesuatu terasa aneh. Saat ia berdiri untuk mencuci piring, kepalanya mendadak terasa ringan, seperti melayang di udara. Pandangannya mulai kabur, tubuhnya melemah.
Shanna mengerjap, mencoba tetap fokus.
"Kamu kenapa?" tanya Rivan dengan nada penuh kepedulian.
"Tiba-tiba pusing," gumamnya pelan.
"Udah, jangan dipaksa," ujar Rivan, membimbingnya menuju sofa. "Mungkin karena kolesterol tinggi, habis makan tadi."
Shanna mengangguk lemah. "Mungkin anemia juga..."
"Sini, nyender aja di bahu aku," ujar Rivan dengan suara lembut.
Shanna terlalu lemah untuk menolak. Ia bersandar, tetapi justru semakin lama kepalanya terasa berat. Sensasi aneh merayapi tubuhnya—bukan sekadar pusing biasa.
"Hmm... Van..." suaranya terdengar lemah, hampir seperti bisikan.
Rivan tersenyum tipis, puas melihat efek obat itu mulai bekerja. Ia meraih tubuh Shanna yang semakin kehilangan kesadaran, mengangkatnya ke ranjang dengan hati-hati.
"It's okay, sayang," bisiknya, membaringkan gadis itu dengan lembut.
Shanna mencoba membuka mata, tetapi kelopak matanya terasa begitu berat. Tubuhnya tak lagi bisa merespons dengan baik.
"Van..." hanya itu yang bisa ia ucapkan sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.
Rivan mengusap rambutnya dengan gerakan penuh kepemilikan. "Rileks, sayang... rileks."
Ia menatap tubuh Shanna yang tak lagi berdaya, sementara senyuman kemenangan terukir di wajahnya. Akhirnya ia dapat menguasai Shanna.
Malam ini, tak ada yang bisa menghentikannya.
Untuk menguji apakah efek obat itu sudah benar benar beraksi, Riva mengecup bibir Shanna singkat. Tak ada perlawanan. Menandakan Shanna sudah sepenuhnya dalam pengaruh obat.
Entah setan apa yang berhasil merasuki Rivan. Rivan yang dulu sangat menghormati Shanna kini bisa berbuat di luar batas. Efek obat itu tidak membuat Shanna tidak bisa merespon sama sekali, tapi justru membuat Shanna seperti orang yang mabuk. Bisa merespon sentuhan sentuhan yang Rivan berikan.
Rivan begitu menikmati permainannya, lumatannya yang mendapatkan balasan karena Shanna tak sadar melakukannya, membuat Rivan merasa semakin ingin memilikinya.
Perlahan namun pasti mereka kini sudah dalam keadaan polos. Milik Rivan yang sudah menegang, merangsak masuk memaksa Shanna mencapai batasnya. Hingga mungkin dibawah alam sadarnya Shanna ingin menolak namun yang ada hanya cucuran air mata.
Gerakan yang awalnya pelan berubah menjadi semakin panas dan dengan tempo cepat. Rivan merasakan ada sesuatu yang mengalir perlahan, ternyata sedikit darah jatuh ke sprei. Melihat itu bukannya iba, Rivan merasa puas penuh kemenangan. Dia adalah yang pertama yang berhasil menyentuh Shanna.
Rivan mendapatkan pelepasannya lalu ambruk berbaring di samping Shanna. Menutupi tubuh Shanna dengan selimut, lalu ikut terlelap.
Shanna membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa melayang tapi tidak seberat semalam. Namun ada hal lain yang ia rasakan. Seluruh badannya sakit bagai dihantam sesuatu.
Shanna kini sepenuhnya sadar, seseorang sedang mendekapnya erat. Ia ternyata lelaki yang ia percaya dengan sepenuh hati selama tiga tahun ini.
"Rivan, apa yang kamu lakukan Van?" Tanya Shanna ketika menyadari mereka sedang bergulung selimut yang sama dalam keadaan polos.
"Hmm .." Rivan tak merespon hanya bergumam pelan dalam tidur lelapnya.
"Rivan !" Suara Shanna meninggi.
"Kamu gila Rivan." Shanna mulai terdengar panik sambil menangis tersedu.
"Shan, ini masih gelap. Tidur lagi aja. Kita obrolinnya besok." Jawab Rivan santai masih menutup matanya.
"Kamu tega Van." Shanna bangkit seketika melepaskan diri dari Rivan.
"Ahh .." Sakit dan perih bercampur terasa.
Shanna merasa tubuhnya gemetar hebat, lututnya lemas seakan tak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri. Napasnya tersengal, tersendat di tenggorokan yang terasa kering. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tertahan.
Dengan tangan gemetar, ia meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, mengenakannya secepat mungkin sambil menahan isakan yang semakin kuat. Setiap gerakan terasa menyakitkan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga di lubuk hatinya yang terasa hancur.
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rivan, ia berjalan tertatih keluar dari apartemen, langkahnya gontai. Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan, bercampur dengan rasa takut, marah, dan kebingungan yang menguasai pikirannya.
Udara malam menyambutnya begitu ia melangkah keluar, tetapi tak sedikit pun mampu menenangkan kekacauan di dalam dirinya. Dunia di sekelilingnya tetap berjalan seperti biasa, sementara dunianya sendiri baru saja runtuh.
Shanna berjalan tanpa tujuan, langkahnya terasa berat seolah seluruh energinya terkuras habis. Jalanan mulai lengang, lampu-lampu kota berpendar di matanya yang masih basah. Dadanya sesak, napasnya tak beraturan, dan tubuhnya masih terasa sakit.
Ia ingin berteriak, ingin menghapus semua ini seolah tak pernah terjadi, tapi kenyataan menamparnya begitu keras. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, ingin menghubungi seseorang—siapa saja—tapi siapa yang akan percaya padanya?
Langkahnya terhenti di sudut jalan. Isak tangisnya makin keras, sementara pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang menyesakkan: Apa yang harus kulakukan sekarang?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments