Dibawah Ancaman

Damian membantu Shanna memasukkan tasnya ke dalam mobil sebelum membukakan pintu untuknya. "Ayo, duduklah. Aku akan mengantarmu pulang," ucapnya dengan nada lembut namun tegas.

Shanna ragu sejenak. "Terima kasih, Om. Tapi saya bisa pulang sendiri naik taksi," katanya pelan.

Damian menghela napas. "Kamu belum sepenuhnya pulih, Shanna. Jangan keras kepala."

Shanna hanya diam, lalu akhirnya menurut dan masuk ke dalam mobil. Damian melirik gadis itu yang tampak begitu lelah, baik secara fisik maupun emosional.

Saat mobil melaju di jalanan sore yang mulai temaram, Damian memecah keheningan. "Apa orang tuamu sudah tahu keadaanmu sekarang?"

Shanna menggeleng lemah, menundukkan kepala. "Belum, Om… Aku belum tahu bagaimana mengatakannya."

Damian menghela napas. "Bagaimana kamu akan menghadapinya nanti?"

Shanna menggigit bibir, menahan air mata yang hampir jatuh lagi. "Aku tak tahu, Om… Aku bahkan belum tahu bagaimana memulai pembicaraan dengan mereka."

Damian terdiam sejenak, lalu menepuk bahu Shanna dengan lembut. "Mereka mungkin akan terkejut, bahkan marah. Tapi mereka tetap orang tuamu, Shanna. Cepat atau lambat, mereka harus tahu."

Shanna hanya menatap kosong ke luar jendela, pikirannya berkecamuk.

Sesampainya di rumah, Damian mengantar Shanna hingga ke depan pintu. Rumah itu sederhana, tidak terlalu besar, tetapi terlihat bersih dan rapi.

"Kamu yakin akan baik-baik saja?" tanya Damian sebelum pergi.

Shanna mengangguk. "Terima kasih sudah mengantarku, Om."

Damian tersenyum tipis, lalu berbalik menuju mobilnya. Saat ia pergi, Shanna menarik napas dalam sebelum mengetuk pintu.

Pintu terbuka, menampilkan sosok ibunya, Bu Rina, yang langsung terlihat cemas begitu melihat kondisi putrinya. "Shanna! Kamu dari mana saja? Kenapa wajahmu pucat begitu?"

Shanna menahan napas. "Ibu… ada yang harus aku bicarakan."

Belum sempat ia melanjutkan, suara bentakan keras tiba-tiba menggema di depan rumah.

"Shanna!"

Shanna menoleh dengan mata membesar. Di depan pagar berdiri seorang wanita paruh baya dengan aura angkuh dan dingin. Mega.

Di belakangnya, dua pria berbadan tegap berdiri seperti pengawal. Mega melangkah masuk tanpa menunggu diundang, seolah rumah ini adalah miliknya.

Bu Rina menatapnya bingung. "Anda siapa?"

Mega menatapnya tajam, lalu tersenyum tipis. "Nama saya Mega Wiratama. Ibu dari Rivan. Sepertinya kita perlu bicara, Bu Rina."

Bu Rina melirik Shanna dengan kening berkerut. Shanna hanya menunduk, tangannya mengepal.

Mereka masuk ke ruang tamu. Mega duduk dengan anggun di sofa, tetapi ada ketegangan dalam caranya memandang sekeliling.

"Langsung saja," Mega membuka pembicaraan, suaranya terdengar tajam. "Saya ingin Shanna menggugurkan kandungannya."

Ruangan itu langsung sunyi. Bu Rina terbelalak. "Apa maksud Anda?"

Mega menyandarkan punggungnya, menyilangkan kaki dengan angkuh. "Putri Anda hamil. Dan saya tidak menginginkan anak itu."

Bu Rina menoleh ke arah Shanna dengan ekspresi terkejut. "Shanna… benar itu?"

Shanna menggigit bibirnya, lalu mengangguk perlahan. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Aku tidak akan menggugurkannya, Bu. Anak ini… anakku."

Mega tertawa kecil, tapi tawanya terdengar dingin. "Oh, sungguh? Kau pikir bisa melawanku?"

Bu Rina menegang. "Kami mungkin bukan keluarga kaya seperti Anda, tapi kami tidak bisa dipaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani kami."

Mega mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya menusuk. "Kalau begitu, dengarkan baik-baik. Saya bisa memastikan hidup kalian hancur dalam sekejap."

Shanna dan ibunya menegang.

"Kalian hidup dari bisnis kecil-kecilan, bukan?" Mega menyeringai. "Saya bisa membuat bisnis itu bangkrut dalam hitungan minggu. Pelanggan kalian akan pergi, pemasok akan menarik barang mereka, dan kalian tidak akan punya apa-apa."

Bu Rina menelan ludah, tapi tetap menatap Mega dengan berani. "Kami akan mencari cara lain untuk bertahan."

Mega tertawa sinis. "Baiklah, kalau begitu mari kita bicarakan beasiswa Shanna. Saya punya cukup koneksi untuk memastikan kampus mencabut beasiswanya dan bahkan mengeluarkannya dari universitas. Bayangkan, tanpa gelar, tanpa masa depan, dan tanpa dukungan finansial. Apa yang akan kalian lakukan?"

Shanna terisak, tangannya gemetar di pangkuannya.

"Tidak cukup sampai di situ," Mega melanjutkan, suaranya semakin dingin. "Saya bisa membuat hidup kalian sengsara. Jadi, pikirkan baik-baik."

Bu Rina mengepalkan tangannya. "Anda kejam."

Mega tersenyum miring. "Saya seorang ibu yang melindungi masa depan anak saya. Persis seperti yang akan Anda lakukan jika Anda berada di posisi saya."

Shanna mengangkat wajahnya, air matanya jatuh membasahi pipi. "Aku tidak peduli apa pun yang Anda lakukan padaku. Aku tidak akan menggugurkan anak ini."

Mega menatapnya lama, lalu mendengus. "Kalau begitu, bersiaplah menghadapi akibatnya."

Tanpa menunggu jawaban, ia bangkit berdiri. "Saya beri waktu beberapa hari. Pikirkan baik-baik. Jangan buat keputusan yang akan kalian sesali."

Dengan itu, Mega melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam rumah.

Shanna menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat. Bu Rina hanya bisa menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca, tidak tahu harus berkata apa.

Rina duduk di sofa dengan tatapan kosong, matanya sembab, dan tubuhnya bergetar halus. Kecewa, marah, takut—semua emosi bercampur aduk di dadanya. Putri yang selama ini ia jaga dengan penuh kasih sayang, yang ia banggakan karena berhasil meraih beasiswa dengan susah payah, kini hamil di luar nikah.

Lebih dari sekadar rasa malu, ancaman Mega membuatnya semakin takut. Keluarga Wiratama bukan orang biasa. Mereka punya kekuasaan, uang, dan pengaruh yang bisa menghancurkan hidup mereka dalam sekejap.

Rina menghela napas panjang, menatap Shanna yang duduk di lantai, menundukkan kepala dengan tubuh bergetar.

"Shanna, Ibu tidak tahu apa yang ada di pikiranmu sampai kamu bisa seberani ini… Keluarga Wiratama bukan orang yang bisa kita lawan." Suaranya bergetar, terisak di tengah kalimat.

Shanna mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, tapi ia tetap diam.

Rina menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Harta ibu bisa habis, tapi bagaimana dengan masa depanmu, Nak? Beasiswa itu… Ayahmu bekerja keras agar kamu bisa mendapatkannya. Hidupmu sudah terjamin dengan itu. Jika mereka mencabutnya, kamu akan kehilangan segalanya. Kamu pikir bisa bertahan tanpa pendidikan, tanpa pekerjaan yang layak?"

Shanna terisak makin keras. Ia tahu ibunya tidak salah. Hidup tanpa gelar di dunia yang keras ini akan menjadi perjuangan berat.

Tapi bagaimana bisa ia menyerah pada sesuatu yang bahkan belum diberi kesempatan untuk hidup?

Dengan gemetar, ia berlutut di hadapan ibunya, tangannya menggenggam erat tangan Rina. "Ibu, beri aku waktu. Aku akan mencari cara untuk menyelamatkan diri dan anakku. Aku mohon, Bu…"

Air mata menetes di pipinya saat ia bersujud di kaki ibunya, memohon dengan penuh ketulusan.

Rina terdiam, dadanya terasa sesak. Sebagai seorang ibu, ia ingin melindungi putrinya dari kehancuran. Tapi melihat Shanna seperti ini, hatinya juga perih.

Akhirnya, dengan suara lemah, ia berkata, "Tiga hari, Shanna… Hanya tiga hari. Jika dalam waktu itu kamu tidak menemukan jalan keluar, kita akan menuruti permintaan mereka."

Shanna menggigit bibirnya, menahan isakan. Tiga hari bukan waktu yang lama. Tapi ia harus menemukan jalan.

Ia tidak akan membiarkan anaknya direnggut darinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!