Episode 13

Mereka melihat Rhaella yang sudah menyelesaikan semua soal kuis yang sulit itu, mereka juga melihat apa yang berbeda dari Rhaella.

Mereka pun menoleh ke arah kaki Rhaella yang ternyata sedang berjalan pincang, diantara mereka banyak yang bertanya-tanya kenapa dengan kakinya, kenapa bisa sampai seperti itu dan ada juga yang kagum karna Kuis baru berjalan sekitar dua puluh menit tapi Rhaella sudah menyelesaikan kuis itu. Bukankah itu berarti Rhaella pintar hampir menyerupai Gabriel pikir mereka semua.

Ggrrtt

Kini giliran suara kursi Gabriel yang berbunyi, kembali mereka pun menoleh ke arah Gabriel yang baru saja bangun dan menyusul Rhaella mengumpulkan lembar jawabannya setelah menyelesaikan kuis tersebut.

"Kamu sudah selesai Rhaella?" Tanya guru itu pada Rhaella, kalau Gabriel dia tidak perlu bertanya karna memang Gabriel sudah terkenal akan kejeniusannya.

"Iya" jawab datar Rhaella.

"karena Kalian berdua sudah selesai kalian bisa keluar lebih dulu" ucap ibu Jessi setelah menerima lembar jawaban dari kedua muridnya.

Gabriel dan Rhaella pun berjalan keluar dengan Gabriel di belakang Rhaella seolah melindungi agar Rhaella tidak terjatuh.

"Kaki lo kenapa?" Tanya Gabriel di belakang Rhaella. Tanpa menoleh pun dia tahu siapa yang bertanya karena hanya dia dan Gabriel yang baru keluar dari kelas barusan.

"Jatoh" jawab datar dan asal Rhaella tanpa menghentikan jalannya. Sampai tanpa sadar ternyata Gabriel masih mengikuti langkahnya menuju toilet, karna memang tujuan Rhaella ingin ke toilet, Rhaella pun menoleh ke belakang dan otomatis menghentikan langkah Gabriel.

"Lo ngapain ngikutin gue?" Ucap datar Rhaella tapi terdengar kesal pasalnya Gabriel sendiri malah menyergitkan dahinya.

"Kenapa?" Gabriel malah balik bertanya.

"Gue mau masuk ke toilet"

"Tinggal masuk"

"Ya Lo ngapain di sini" Rhaella sudah mulai kesal karena melihat tampang datar Gabriel, dia jadi berfikir apakah setiap orang yang pernah berbicara dengannya juga akan merasa kesal seperti ini.

"Gue juga mau ke toilet"

"Ya udah sana"

"Hmm"

Setelah melihat Gabriel pergi menuju toilet pria yang memang berjarak hanya sekitar sepuluh Langkah dari toilet perempuan.

Kemudian dia sendiri pun masuk ke salah satu bilik toilet untuk buang air kecil yang sudah ia tahan sejak tadi, Saat mencuci tangannya di wastafel dia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dia merasa seperti ada yang berbeda dengan dirinya sendiri, dia merasa lebih banyak berbicara saat dirinya bersama Gabriel.

Saat dia ingin keluar ternyata ada Daena yang kebetulan masuk dan kemudian menahannya.

"Gue kira Lo nggak bakal masuk sekolah hari ini, ternyata Lo pinter juga yah buat nutupin luka di wajah loini " bisik Daena tiba-tiba pada Rhaella dengan tersenyum sinis.

"Gue bukan orang lemah kaya lo dan lebih tepatnya gue ngga lebay kaya lo, luka kecil harus masuk ke rumah sakit" jawab Rhaella tak kalah sinis.

"Lo ngga usah banyak tingkah sialan, luka di wajah lo ini masih baru dan ya kaki lo lagi pincang kan sekarang, jangan sampai gue tambah dengan nggadu ke ayah" ejek Daena karna melihat Rhaella berjalan pincang.

Rhaella tersenyum smirk "keahlian lo emang cuma itu ya?" Sinis Rhaella "gue bahkan nggak peduli lo mau aduin atau nggak" lanjut Rhaella kemudian berjalan pergi meninggalkan Daena yang emosi. Jika lebih lama lagi dia di sana dia takut tidak bisa mengontrol emosinya dan itu bisa merusak rencananya. Sejak mengetahui satu fakta itu Rhaella lebih emosional dan mudah terpancing jika berhadapan dengan Daena apalagi Alane. Dia bahkan sekarang merasa seperti sedang mengharapkan seseorang untuk menjadi tempatnya bersandar.

Saat akan keluar dari toilet dia terkejut akan keberadaan Gabriel yang sedang berdiri bersanda pada dinding toilet perempuan dengan menunduk melihat sesuatu di handphonenya. Gabriel pun menoleh menyadari kehadiran seseorang dan memasukan handphonenya kembali ke saku celananya.

"Udah?" Tanya Gabriel dengan wajah datarnya.

"Lo nungguin gue?" Rhaella balik bertanya dengan kening mengkerut.

"Hmm"

"Ngapain?"

"Ke kantin bareng gue"

"Nggak"

"Gue nggak nanya gue cuma ngasih tahu" jawab Gabriel dengan santainya.

"Gue nggak mau bareng Lo gue males berurusan sama fans lo" jawab Rhaella

"Gue udah pernah bilang gue nggak suka dengan penolakan Rhaella" jawab Gabriel datar dengan aura dinginnya yang sekarang sedang menunduk berhadapan langsung dengan elsa dengan kedua tangannya berada dalam saku celananya.Rhaella yang di tatap oleh mata indah Gabriel pun hanya diam, dia akui sepertinya dia terpesona dengan mata indahnya tidak dengan orangnya, ralat bukan tidak tapi belum.

"Ya udah jalan" jawab Rhaella sedikit gugup karena Gabriel sepertinya menyadari bahwa dia tadi sempat terpesona.

Gabriel yang melihat kegugupan Rhaella pun tersenyum kecil bahkan hampir tidak terlihat jika dia sedang tersenyum. Mereka pun jalan bersama menuju kantin, Gabriel hanya mengikuti Tempo langkah Rhaella yang memang berjalan pelan akibat kakinya yang sakit, sebenarnya dia ingin sekali bertanya apa yang terjadi sehingga membuat kakinya seperti itu, tapi dia sadar Rhaella tidak akan mudah memberi tahu kepada orang lain yang menurutnya baru. Tapi bukan Gabriel namanya jika tak mendapatkan jawaban, jika Rhaella sendiri tak memberi tahu dia bisa menyuruh bawahan ayahnya atau Rufus untuk mencari tahu.

"Bagaimana apa rencana kalian berhasil?"

"Maaf Saya hanya berhasil untuk mencelakainya karena dia berhasil kabur sepertinya dia menyadari jika sedang di serang"

"Bodoh!! Saya ngga mau tahu kalian harus bereskan itu saya nggak mau kalau dia masih berkeliaran, kamu sudah Saya bayar penuh jadi cepat selesaikan itu"

"Baik"

Tut

"Lanai sialan awas saja, akan aku lenyapkan dia secepatnya, dia bisa jadi Boomerang untukku, aku tidak mau kehilangan semua ini yang susah payah aku dapatkan" emosi Alane pada seseorang bernama Lanai.

Dia membayar seorang pembunuh bayaran untuk melenyapkan Lanai tapi pembunuh bayaran itu hanya berhasil mencelakainya, itu berarti dia masih hidup sekarang, dan itu membuat Alane jadi gelisah, dia yakin jika dia sudah tahu siapa pelaku yang ingin mencelakainya, jadi sebelum orang itu datang merusak semuanya dia harus cepat melenyapkannya.

...

Di sisi lain Rhaella sedang duduk makan di kantin bersama Gabriel dan teman temannya, yah beberapa menit setelah Gabriel keluar di susul oleh Merrit dan kemudian di beberapa menit berikutnya di susul juga oleh Calix, Hans, dan Rufus dan berakhir mereka kini makan di satu meja yang sama.

Penghuni kantin yang melihat itu jelas saja ada yang merasa iri dengan keberadaan Rhaella di tengah tengah para most wanted itu dan tak jarang juga ada yang mencibir Rhaella habis-habisan karena merasa Rhaella sok kecantikan dan genit, seperti saat ini si para pelabrak Rhaella kemarin, mereka merasa geram ingin sekali mereka menghampiri Rhaella kembali, tapi tangan mereka masih sakit akibat ulah elsa kemarin jadi mereka urungkan, apalagi saat ini ada Gabriel dan Genta di sana mereka tidak mau ambil resiko.

Rhaella memang sedang makan bersama para inti Desmond tapi dia fokus pada suara percakapan seseorang di earphone yang dia pasang di handphonenya sejak tadi, dia bahkan tidak peduli pada Rufus, Hans dan Calix yang sedang asik bercanda gurau didekatnya apalagi cibiran cibiran Penghuni kantin padanya, Gabriel dan Merrit pun menyadari bahwa Rhaella sedang mendengarkan suara seseorang di balik earphonenya, karena mereka berdua memang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap sekitar dan Gabriel juga melihat sesekali wajah cantik Rhaella mengerutkan keningnya dan kemudian tiba-tiba berhenti makan sejenak, semua apa yang di lakukan oleh Rhaella tak luput dari penglihatan Gabriel karena memang Gabriel dan Rhaella duduk berhadapan.

...

"Lanai?" Gumamnya tanpa sadar, tapi masih bisa di dengar oleh Gabriel tapi tidak dengan yang lain.

'dia menyebut nama Lanai' Rhaella tanyanya dalam hati sembari memencet asal handphonenya agar Rhaella tidak menyadari jika dia mendengar yang barusan dia ucap. Rhaella yang baru menyadari jika dia menyebut nama seseorang meskipun pelan langsung sadar, dia pun melihat sekitar Gabriel dan teman temannya yang sepertinya tidak menyadari apa yang dia ucapkan, kemudian menormalkan kembali ekspresi wajahnya.

'Gimana caranya gue bisa tahu yang namanya Lanai itu?' pikirnya dalam hati, dan seperkian detik berikutnya dia menyeringai tipis terlintas sebuah ide dalam benaknya.

'Ada untungnya juga gue pinter yah' celetuknya sendiri dalam hati kemudian tersenyum tipis. Dan yah semua ekspresi wajah elsa sudah di lihat oleh Gabriel, Gabriel sendiri mengangkat sebelah alisnya dia sebenarnya begitu penasaran semua tentang Rhaella, dan dia sendiri pun bingung kenapa dia begitu ingin tahu akan kehidupannya.

...

"Sayang aku mau hubungi Shaera yah mau ke tempatnya sekalian mau lihat anak-anaknya pasti udah pada besar-besar sekarang" ucap Ashley pada Lorenz.

Yah mereka sudah dua hari berada di Indonesia, mereka tinggal di mansion mereka sendiri. Karena memang Ashley sendiri berkewarganegaraan Indonesia, dia anak dari keluarga terpandang pula tapi orang tuanya sudah meninggal lima bulan sesudah hari pernikahan adiknya.

"Iyah sayang telepon aja, lagian jaraknya tidak begitu jauh kan dari sini, kita bisa sama-sama ke sana" ujar Lorenz kepala sang istri.

"Ya udah aku hubungi dulu yah" kemudian berjalan menuju kamarnya untuk mengambil handphonenya.

...

Bel tanda berakhirnya pelajaran pun berbunyi, dan saat ini sudah banyak siswa siswi yang berhamburan, ada yang memang langsung menuju parkiran untuk pulang dan tidak sedikit pula yang pergi ke kantin dan sebagainya karena waktu menunjukkan waktu pulang, Rhaella pun sudah memesan taxi untuknya agar tidak lagi menunggu taxi datang saat keluar dari sekolah nanti.

Setelah berjalan menuju luar sekolah dia bisa melihat ada taxi yang sedang menunggunya di seberang jalan, sudah bersiap untuk menuju gerbang tiba-tiba dia kembali di hadang oleh Gabriel sontak elsa pun terkejut hampir saja dia terjatuh karena kakinya yang masih sakit tidak bisa mengimbangi berat tubuhnya, tapi dengan sigap Gabriel memeluk pinggang Rhaella dengan menggunakan satu tangannya. Dan kejadian itu tak luput dari penglihatan para inti Desmond dan para penghuni sekolah yang memang belum pulang semua.

"El Lo ngapain sih ngagetin aja" ucap kesal Rhaella dan menghempaskan tangan Gabriel dari pinggangnya.

"Ayo naik" ucap Gabriel tanpa memperdulikan kekesalan Rhaella dan tatapan bertanya serta memuja dari murid-murid yang berlalu lalang.

"Nggak perlu, tuh di sana gue udah pesen taxi" tolaknya dengan menunjuk ke arah taxi pada Gabriel, Gabriel pun mengikuti arah tunjuk Rhaella kemudian kembali menatap Rhaella.

"Lo, ke sini!" Panggil Gabriel pada seseorang yang lewat di samping mereka.

"Gu-gue El?" Tanya pemuda itu dan di angguki oleh Gabriel.

"Lo pergi pake taxi itu" ucapnya pada seseorang itu dengan memberikan 3 lembar uang seratus ribu. Rhaella pun terkejut apa yang di lakukan oleh Gabriel, tak berbeda jauh dengan pemuda itu, tapi tetap menurut saja dari pada bermasalah. Setelah pemuda itu pergi Rhaella menatap kesal ke arah algaraz.

"Mau lo apa sih?" Tanya Rhaella sudah sangat kesal.

"Ayo naik" ucap datar Gabriel.

"Nggak"

"Gue bilang naik El" kali ini dengan tatapan tajam beserta aura dinginnya. Rhaella yang mendengar itu pun agak sedikit ngeri, diapun menurut saja, entah kenapa dia begitu takut dengan aura yang Gabriel keluarkan padahal dia tidak pernah begitu sebelumnya.

"Tapi kaki gue sakit ngga bisa naiknya" ucapnya kesal tapi malah terdengar sedikit manja menurut Gabriel. Gabriel pun kemudian turun dari motornya dan langsung mengangkat tubuh Rhaella untuk duduk di atas motor, Rhaella sendiri terkejut karena di angkat tiba-tiba begitu pun dengan para siswi mereka bahkan sudah ada yang melotot dan juga histeris melihat adegan itu. Setelah mengangkat Rhaella ke atas motornya Gabriel sendiri pun naik dan kemudian pergi melajukan motornya meninggalkan area sekolah.

Para inti Desmond yang masih berada di sana pun tak kalah terkejut termasuk Merrit tapi dia di tutupi dengan wajah datarnya, sedangkan Rufus dan Juna sudah melotot Ibra sendiri sudah terkekeh melihat kelakuan sahabatnya dinginnya itu.

"Anjir si El gercep banget" celetuk Hans yang sudah geleng geleng kepala.

"Nggak banyak ngomong langsung sat set sat set" sambung Rufus dengan menggerakkan tangannya.

"Dan pastinya nggak banyak tingkah kaya Lo berdua" sambung Merrit tiba-tiba dengan kata pedasnya.

"Lo sekalinya ikut nimbrung langsung bikin kesel yah, sumpah mending diem aja deh Lo" ucap kesal anjas pada Merrit.

"Langsung jleeb anjir" sambung Hans sambil menertawakan kebenaran ucapan sahabatnya itu pada Rufus dan dirinya. Tapi Merrit tidak menghiraukan sahabatnya Merrit kemudian pergi melajukan motornya meninggalkan mereka dan ucapan Merrit langsung di hadiahi tawa oleh Calix sedangkan Rufus dan Hans sudah mengumpati sang wakil ketua yang sialnya adalah sahabatnya juga.

Gabriel kini sudah sampai di basement apartemen Rhaella dia pun membuka helm dan kemudian turun terlebih dahulu untuk menurunkan Rhaella.

"Makasih" ucapnya kemudian pergi tanpa mendengar jawaban Gabriel tapi baru beberapa langkah Rhaella melangkah kemudian Rhaella berbalik dan melihat bahwa Gabriel masih mengikutinya.

"Mau ngapain?" Tanya Rhaella bingung

"Nganterin lo sampe kamar lo" jawab datar Gabriel

"Ngga perlu gue bisa sendiri " tolak Elsa tak kalah datar

"Jalan" titah Gabriel yang tidak mau di bantah.

"Ck" Rhaella pun kemudian berjalan melanjutkan tujuannya menuju lantai kamar apartemennya, tidak mau berdebat dengan Gabriel dan entah kenapa juga dia tetap menurut ujung-ujungnya.

Mereka pun menaiki lift di dalam lift tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua Gabriel sendiri sibuk dengan ponselnya.

Ting

Pintu lift pun terbuka, mereka pun berjalan menuju nomor kamar apartemen Rhaella.

"Udah kan, sana pulang" usir Rhaella dengan nada datarnya.

" Hm gue balik dulu" kemudian pergi dari sana, Rhaella sendiri belum masuk ke apartemennya, dia masih melihat punggung tegak Gabriel yang sudah menjauh pergi memasuki lift, dia menghembuskan nafas kasar bingung juga akan kelakuan Gabriel dan respon tubuhnya pada Gabriel.

Setelah melihat Gabriel pergi Rhaella pun masuk dan langsung menuju kamar mandi, dia ingin membersihkan tubuhnya yang cukup lengket, dan juga membersihkan wajahnya dari make up yang menutupi wajah lebamnya. Dia merasa tidak nyaman berlama-lama menggunakan make up.

20 menit membersihkan diri Rhaella kini sudah memakai pakaiannya, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya agar kembali pulih agar besok rencananya berjalan lancar. Baru saja dia ingin berjalan menuju kasurnya yang nyaman, seseorang malah memencet bel kamarnya, dengan Malas dia pun berjalan menuju pintu kemudian membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang datang.

"El Lo mau ngapain lagi?" Gabriel sendiri diam, dia terkejut karena melihat ada banyak lebam di wajah Rhaella tapi masih bisa dia tutupi dengan wajah datarnya, dia jadi bertanya-tanya padahal beberapa menit yang lalu lebam di wajahnya ini tidak ada, tapi dia diam tidak ingin menanyakannya. Karena tidak ada jawaban dari Gabriel, Rhaella pun kembali bertanya.

"El?"

"Nih makanan buat lo"

"Kenapa Lo beli?"

"Tadi gue lihat waktu dikantin Lo makan sedikit" dan Rhaella hanya mengangguk.

"Oke makasih"

"Ya udah gue pergi" ucap Gabriel kemudian pergi.

"Hmm" kemudian menutup pintunya setelah Gabriel pergi, Rhaella semakin bingung dengan tingkah Gabriel dia hanya menggaruk pelipisnya yang tak gatal sama sekali, dan di detik berikutnya dia pun tersadar akan sesuatu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!