Episode 7

Brum brum

Brum brum brum

Suara motor saling bersahutan dari kejauhan. Terlihat ada segerombolan laki laki berparas tampan menuju tempat balapan akan di laksanakan kemudian di susul oleh kedatangan beberapa anggota Desmond. Kedatangannya mereka menjadi pusat perhatian apalagi kaum hawa yang berada di sana menjerit histeris bukan karena takut tapi kagum akan visual dari para inti Desmond. Apalagi ketampanan sang ketua meskipun hanya menampilkan wajah datarnya tapi kadar ketampanan dari seorang Gabriel mampu membuat para kaum hawa menjerit kegirangan di tambah dengan teman temannya yang tak kalah tampan.

"Akhirnya kalian Dateng juga gue kira ngga jadi" ucap Clive si penyebar informasi saat ada pertandingan. Clive yang sering juga memberi informasi pada Rhaella jika ada pertandingan atau job.

"Jadi yang maju kali ini siapa?" Lanjut bertanya.

"Merrit yang maju" jawab Ibra pada Clive yang bertanya. Clive pun menoleh ke arah Merrit yang masih duduk di atas motornya dengan wajah datarnya.

"oke gue masih nunggu peserta lain yang belum pada dateng katanya lagi di jalan mungkin bentar lagi dateng" ucap Clive

"Kita tunggu siapa?" tanya Hans yang turun dari motornya. Sambil menyugar rambutnya ke belakang.

"Yang kemarin tanding sama El yang hampir menang lawan El" jawab Clive membuat mereka langsung menoleh ke arahnya tak terkecuali Gabriel yang sedikit terkejut mendengar lawannya kemarin kembali mengikuti pertandingan.

"Ha serius dia ikut lagi?" Ucap Rufus sedikit heboh.

"Iya dia ikut lagi" jawab Clive lalu mereka semua menoleh ke arah suara motor sport hitam yang baru saja datang dengan jarak sedikit jauh dari mereka

Brum

Brum

Brumm

Mereka semua menoleh ke arah Rhaella yang baru saja sampai "tuh dia udah dateng orangnya" ucap Clive kemudian "Queen" panggil Clive melambaikan tangannya pada Rhaella karena dia melihat Rhaella seperti sedang mencari seseorang yang ia yakini itu adalah dirinya yang Rhaella cari.

"Queen?" Ucap mereka berbarengan termasuk Merrit berbeda dengan Gabriel yang mengangkat sebelah alisnya.

"Lo pada mukanya kenapa cengo begitu?" Tanyanya pada mereka karena mendengar mereka menyebut nama queen bersamaan.

"Lo tadi manggil dia queen berarti dia cewek dong Clive" Calix bertanya memastikan pendengarannya.

"Iya dia emang cewe" jawabnya sedikit gugup karena melihat ke arah dua kutub yang sedang menatapnya tajam.

"Haa" kaget kemudian berteriak mendengar jawaban Clive.

"I-iyaa dia queen dia cewe" jawabnya yang masih sedikit gugup tapi masih bisa menguasai diri dari kegugupannya. Dia tahu mungkin mereka sedikit kaget dan juga penasaran saat tahu bahwa lawan Gabriel kemarin ternyata seorang perempuan apalagi kekuatannya yang bisa menandingi Ketua mereka.

"Gue cabut dulu, ntar kalo udah mulai tanding gue panggil " sambung Clive kemudian pergi dari sana menyisakan beberapa dari mereka yang masih sedikit kaget.

"Ngga nyangka gue ternyata lawannya Al kemarin itu cewe" celetuk Rufus masih dengan ekspresi penasarannya.

"Iya mana di panggil Queen lagi gimana ngga syok kita. Jadi makin penasaran gue pasti tuh cewe cakep udah gitu jago balap kereen" sambung Hans mulai heboh sambil melihat ke arah Rhaella berada.

"Otak Lo sehari aja ngga mikir cewe cantik ngga bisa? Dasar buaya buntung " ucap kesal Rufus melihat wajah sok ganteng sahabatnya.

"Itu tandanya gue masih normal dan sangat normal" ucap Hans tak mau kalah.

"Kita ngga pernah mikirin cewe jadi maksud Lo kita kita ini nggak normal apalagi El sama Merrit" ucapnya sengaja mengompori.

Hans yang mendengar itu tak bisa tak melotot pada Rufus kemudian melirik dua manusia kulkas yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Melihat itu membuat Hans seketika gelagapan lalu mengangkat tangannya dengan gerakan tidak disertai gelengan kepala.

"Eh Lo jangan kompor yah gue ngga pernah bilang gitu anjir" ujar kesal Hans pada Rufus.

"Udaah. Itu udah mau di mulai kita udah di panggil. Mending kita ke sana" ucap Calix tiba tiba pada mereka yang ingin lanjut berdebat. Ingin sekali rasanya dia tendang ke dua sahabatnya itu.

Para peserta pun sudah berada di posisi masing masing termasuk juga Rhaella dan Merrit yang sudah berada di posisinya.

Balapan pun di mulai. Saat ini yang memimpin jalan adalah Merrit dan juga Rhaella mereka saling berebutan agar menjadi yang paling depan sedangkan di belakang ada peserta lain yang sedang berusaha untuk menyalip Merrit dan Rhaella. Namun ada salah satu peserta yang sepertinya ingin berbuat curang, saat di tikungan orang tersebut sudah berhasil menyusul mereka berdua sepertinya orang tadi ingin menargetkan Merrit terlihat orang itu hanya berusaha berada tepat di belakang motor Merrit tidak di samping padahal jalanan itu cukup luas. Rhaella melihat gerak gerik orang itu di belakang lewat kaca spionnya, Rhaella bisa tahu bahwa orang tersebut tidak mengincarnya tapi mengincar Merrit. Rhaella tidak ambil pusing akan hal itu bukan karena tidak punya hati tapi Rhaella sadar kenapa dia harus berusaha peduli dengan orang lain sedangkan dia sendiri tidak peduli dengan diri sendiri.

Merrit pun peka dia tidak sebodoh itu untuk tidak tahu maksud dari orang di belakangnya.

Dia tahu akan terjadi sesuatu dan Merrit pintar membaca situasi terbukti saat di tikungan selanjutnya orang di belakangnya melaju berusaha menyalip Merrit dan Merrit yang tahu itu langsung menambah laju motornya sehingga mendahului orang tersebut tapi naasnya Rhaella yang tidak hati-hati atau sekedar waspada malah mengganti posisi Merrit.

Kejadiannya begitu cepat orang yang ingin mencelakai Merrit tidak sadar bahwa motor yang ia tendang bukan milik Merrit tapi Rhaella sampai motor itu terjatuh.

Brukk

Motor Rhaella terjatuh sedangkan orang yang menendang tadi kembali melajukan motornya karena garis finis sudah di depan matanya tapi dia kesal bukan Merrit yang berhasil di celakai. Para penonton yang melihat kecelakaan tersebut heboh dan berlari ke arah Rhaella termasuk anak-anak Desmond.

"Sial kenapa jadi gue yang jatuh sih" gerutunya kesal karna malah dia yang jadi sasaran.

"Queen astaga Lo nggak papa" tanya Clive berusaha membangunkan motor Rhaella karena sedikit menindih tubuhnya.

"Ngga papa" jawabnya yang masih duduk di tempatnya terjatuh. Dia ingin membuka helm nya karena mereka sesak usai terjatuh namun terhenti saat melihat seseorang yang di kenalnya sedang menghajar habis habisan orang yang ingin mencelakai temannya tadi.

Bug

"Maksud Lo apa ha?" tanya orang itu

"Lo pikir kami nggak tahu Lo sengaja kan mau nyelakain teman gue" celetuk Hans yang sudah emosi.

"Buktinya yang jatuh bukan temen Lo kan tadi" jawab songong orang itu

Bug

Bug

Bug

Kreekk

"Aaarrrggh"

"Hadiah buat Lo karena udah berniat main-main sama Desmond" ucap Gabriel setelah mematahkan tangan orang itu. Dia ingin kembali menghajar orang itu

"Stop" suara keras seseorang tapi terdengar lembut membuat tangan Gabriel terhenti saat ingin menghajar orang tersebut, dia menoleh dan melihat Rhaella datang masih menggunakan helmnya dan kemudian Gabriel terkejut karena tiba-tiba Rhaella mengambil alih.

Bug bug

Bruk

Kreek

"Aarggh" erangan kesakitan kembali mereka dengar

"Itu juga hadiah dari gue karena udah bikin gue jadi sasaran" ucap Rhaella pada orang tersebut setelah berhasil mematahkan kaki kirinya lalu berbalik berdiri di hadapan Gabriel.

"Temen lo ngga papa" kemudian elsa pergi berlalu menggunakan motornya. Mereka semua masih melongo akan kejadian beberapa menit lalu di mana mereka melihat seorang perempuan dengan ganasnya mudah mematahkan kaki seseorang. Tak terkecuali Gabriel yang tak kalah terkejut dia bahkan merasa penasaran yang cukup tinggi akan perempuan itu. Senyum miring pun terbit di bibirnya 'cukup menarik' ucapnya dalam hati, melihat perempuan tersebut sudah mulai jauh kemudian menghilang dari pandangan.

Rhaella sekarang berada di apartemennya dia memilih untuk pulang ke apartemennya yang lebih dekat jaraknya dari sirkuit dari pada rumahnya. Jam menunjukkan pukul 3 pagi dia tidak membersihkan diri serta lukanya karena sudah cukup lelah dan mengantuk mungkin efek terjatuhnya tadi akan ia rasakan saat bangun tidur pagi nanti.

...

Di pagi hari saat sudah bangun Rhaella masih duduk di atas kasurnya karena kepalanya terasa pusing akibat tidur hanya 2 jam dan badannya yang serasa remuk karena jatuhnya semalam apalagi di bagian lengan kirinya ada memar, tapi sakit ini tidak ada apa-apanya bagi Rhaella. Kemudian dia pergi ke kamar mandi setelah lebih kurang 15 menit membersihkan diri iya berlanjut memakai seragamnya.

Saat sampai di sekolah Rhaella langsung menuju kantin untuk mengisi perutnya terlebih dahulu, sepanjang perjalanan Rhaella masih menjadi pusat perhatian banyak yang kagum, terpesona dan tidak jarang juga ada yang mencibirnya karena merasa Rhaella itu sok misterius dan sok dingin. Tapi sekali lagi ini adalah Rhaella dia tidak peduli dengan hal seperti itu, di tempat lain tepatnya di parkiran para inti Desmond Juga baru sampai.

Murid-murid Siswi yang masih berada di parkiran berbinar melihat segerombolan pemuda tampan itu.

"Astaga itu si El kenapa makin ganteng banget sih"

"Iya ganteng parah. Tapi si kulkas Merrit juga keren banget"

"Rufus manis banget sih"

"Juna juga kiyowo"

"Calixxx Will you marry me?"

Dan masih banyak lagi teriakan heboh mereka tapi sudah biasa di dengar oleh para inti Desmond.

"Gila yah gue makin hari makin ganteng aja" celetuk Hans melihat pantulan dirinya di kaca spion motornya sambil menyugar rambutnya ke belakang.

"Siapa yang ganteng?" Tanya Rufus sok tak tahu

"Gue lah" jawab Hans dengan percaya diri

"Lo sama kucing di rumah gue aja masih cakepan kucing gue kemana mana" jawab Rufus sambil menyeringai.

"Kucing Lo terlalu cakep kalau di bandingin sama dia" sambung Calix lalu tertawa bersama Rufus.

"Mulut Lo makin lama makin pedes yah" cibir Hans pada Calix, sang pelaku hanya mengangkat bahu acuh. Sedangkan Gabriel dan Genta hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan tiga temannya.

Mereka pun berjalan menuju kelas dengan Gabriel yang berada di belakang. Dia berjalan menunduk sambil melihat handphone, Saat Algaraz akan masuk dia tidak sengaja menabrak lengan kiri Rhaella yang hendak keluar dan itu membuat Rhaella sedikit meringis

"Ssshh "

"Sorry" ucap datar tapi dia akui dia sedikit terkejut mendengar ringisan seseorang yang dia tabrak.

Rhaella mendongak diam sejenak melihat warna bola mata pemuda didepannya tapi kemudian tersadar "Hmm" ucap Rhaella kemudian keluar dari kelasnya menuju toilet. Gabriel yang melihat kepergian Rhaella menatapnya dengan penuh arti

Saat selesai dari kamar mandi dia berdiri di depan cermin untuk mencuci tangan dan memikirkan laki-laki yang dia tabrak tadi. Yah dia memikirkan Gabriel dia sedikit terpesona garis bawahi hanya sedikit.

"Mata yang indah" gumamnya tanpa sadar. Kemudian menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan.

"Astaga mikir apaan gue. Nggak nggak " berusaha untuk mengelak

Setelah sampai di dalam kelas dia duduk di kursinya pergerakannya tak luput dari perhatian seorang Gabriel. Gabriel menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Dan itu di ketahui oleh Rhaella tapi dia acuh selagi tidak mengganggunya ia biarkan saja. Tapi tidak dengan Merrit yang menyadarinya kemudian bertanya pada sang ketua.

"Tertarik?" Tanyanya pada Gabriel dengan wajah datar.

Gabriel yang mendengar pertanyaan itu menoleh sebentar lalu kembali menatap elsa "Belum " jawab Gabriel tapi matanya masih tertuju pada Rhaella.

Merrit yang mendengar jawaban dari sang ketua hanya menyeringai dan itu di sadari oleh Gabriel dan Gabriel pun mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya.

"Semoga berhasil" jawabnya

...

Saat ini mereka sedang dalam proses belajar mengajar tapi guru yang sekaligus wali kelas membuat peraturan baru dengan mengubah tempat duduk murid-murid karena guru tersebut jengah pada murid-muridnya bukannya memperhatikan penjelasan guru malah mengobrol dengan teman sebangkunya. Alhasil sang wali kelas membuat peraturan secara acak siapa dengan siapa mereka akan duduk.

Guru tersebut sudah membuat nomor yang akan di pilih oleh mereka.

"Nomor 5" teriak Hans

"Gue" jawab Merrit datar

"Asyik sama yang pinter kalau ada ulangan bisa minta" gumamnya senang tapi pelan

"Rhaella kamu nomor berapa?" Tanya guru tersebut

"9" jawab singkat Rhaella

"Angkat tangan yang dapat nomor 9" tanya guru pada murid-muridnya.

Karna tidak ada jawaban kemudian Juna bertanya pada Gabriel "nomor berapa El?"

Gabriel pun memberikan kertasnya pada Hans. Hans pun membuka dan melihat kertas itu dan menoleh ke arah Rhaella.

"Rhaella Lo duduk sama El dia nomor 9" ucap Hans

Rhaella melihat Gabriel kembali duduk di kursinya, dia pun mengambil tasnya untuk duduk di kursi sebelah Gabriel. Keduanya pun duduk diam tanpa ada niatan untuk saling sapa sampai akhirnya Sang guru keluar.

Drrt

Drrt

"Hmm"

"Iya"

Tut

Setelah memutuskan panggilan Rhaella kemudian melirik ke arah Gabriel karena dia merasa di perhatikan dan ternyata dia memang sedang menatapnya dengan duduk menyamping bersandar pada tembok tangan yang di lipat di depan dadanya.

Rhaella melihat itu mengangkat sebelah alisnya dan Gabriel hanya menyeringai tentu saja itu membuat Rhaella bingung dan bertanya-tanya ada apa dengannya.

Kali ini Rhaella pulang ke rumahnya. Yah setiap lukanya sembuh dia akan kembali ke rumahnya, rumah yang akan kembali memberinya luka. Dia tadi menerima telepon dari pembantu rumahnya memberi tahu bahwa sang ayah sudah pergi ke luar kota, yah sebelumnya Rhaella memang bertanya pada maid di rumahnya kapan ayahnya akan ke luar kota dan mengatakan untuk memberi tahukan kepadanya kalau ayahnya pergi ke luar kota. Rhaella memiliki rencana untuk mencari tahu keburukan dan kejelekan ibu tirinya dan saudari tirinya.

"Bi" panggil Rhaella pada salah satu maid "Iya non. Non butuh sesuatu?" Tanya maid tersebut.

"Engga bi Rhaella mau tanya Tante Alane di rumah?" Tanya Rhaella kembali

"Enggak non. Nyonya tadi baru-baru keluar setelah tuan Leif keluar kota" Rhaella pun mengangguk dia tidak bertanya tentang Daena karena dia tahu bahwa dia belum pulang karena dia tidak melihat ada mobil yang biasa dia pakai ada di garasi.

"Ok makasih bi. Bibi bisa kembali" jawabnya dan di angguki sopan oleh maid tersebut.

Kemudian Rhaella menaiki tangga menuju kamar ibu tirinya, dia berniat untuk memasang cctv dan alat penyadap suara di kamar tersebut, begitu pula di kamar Daena dia melakukan hal yang sama. Dan di beberapa titik lainnya yang menurutnya strategis.

Sebelum ke rumahnya dia memang mampir untuk membeli alat-alat tersebut satu hal yang keluarganya tidak ketahui bahwa Rhaella sangat mahir dalam bidang IT dia bahkan pernah melakukan pekerjaan seperti mencari data-data penting seseorang dan di bayar dalam jumlah yang cukup besar tapi tentu dengan tetap merahasiakan identitas pribadinya.

Setelah memasang alat-alat tersebut Rhaella berniat turun untuk makan, Rhaella pun duduk dan mulai menikmati makanannya.

"Ngapain lo di sini?" Tanya Daena yang baru sampai rumah.

Tidak mendapatkan jawaban Daena kembali bertanya.

"cewe sialan Lo tuh ngga pantes di sini sana pergi" dengan suara tinggi karena Rhaella malah tetap asyik makan dan itu membuatnya kesal merasa di acuhkan

"emang Lo siapa berani ngusir gue?" Tanya santai Rhaella

"Gue yang bakal jadi pewaris seluruh harta Blaze jadi gue berhak ngusir lo dari sini karna gue anak kandungnya yang jelas. Bukan kaya Lo anak dari jalang" jawab percaya diri Daena.

"Percaya diri banget Lo jadi pewaris dari keluarga Blaze?" Tanya Rhaella sambil tersenyum miring

"Yah jelas lah" jawab Daena penuh percaya diri

"Tapi kok Lo nggak ada mirip miripnya yah sama ayah?" Tanya santai Rhaella melipat kedua tangannya di depan dadanya

Daena yang di tanya seperti itu terdiam. Pertanyaan sederhana tapi cukup menyentil ulu hatinya. memang dia menyadari akan hal itu dari bentuk wajah, hidung, serta alis Rhaella mewarisi perawakan dari Leif yang memang masih terlihat tampan bahkan di usianya saat ini, tidak dengan dirinya yang tidak ada sama sekali kemiripan dengan Leif yang dia anggap sebagai ayahnya tersebut. Melihat keterdiaman Daena membuat Rhaella tersenyum miring sepertinya dia akan mencari tahu juga hal ini. Dia pergi meninggalkan Daena yang masih diam memikirkan ucapannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!