Tok
Tok
Tok
Setelah mengetuk pintu Rhaella langsung membuka pintu tanpa salam atau pun permisi murid murid yang ada di dalam kelas menoleh saat mendengar pintu di buka begitu pun dengan sang guru yang sedang mengajar di sana.
Melihat tatapan bingung dari guru dan para murid di sana Rhaella menurut pintu dan berjalan masuk dan memberi tahu sang guru sebelum bertanya.
"Murid baru" singkat namun sang guru mengerti karena sebelum masuk ke kelas tadi sang kepala sekolah sudah memberi tahukan akan ada murid baru yang masuk di kelasnya mengajar mata pelajaran pagi ini.
"Oh iya jadi kamu murid baru yang kepada sekolah tadi beri tahu? " tanya sang guru pada Rhaella.
"Hmm" hanya deheman yang guru itu dapat namun sang guru mengerti dan tidak menegur karena menemukan aura dingin yang berbeda dari murid barunya itu dan guru tersebut hanya mengangguk.
"Baiklah, Kamu bisa memperkenalkan diri kamu pada teman-teman baru mu" tutur sang guru
" Rhaella Delyth " sekali lagi singkat
"Emm baik silahkan duduk di kursi yang kosong di sebelah Alora." ucap sang guru.
"Alora angkat tangan mu" ucapnya pada salah satu murid yang bernama Alora yang kursi di sebelahnya kosong
Alora pun mengangkat tangannya agar Rhaella melihat dan mengetahui letak kursi kosong yang berada di sebelahnya.
"Kamu duduk di kursi kosong sebelah teman kamu yang bernama Alora" tanpa menjawab ucapan sang guru Rhaella kemudian berjalan menuju kursi yang akan di tempati.
Sepanjang jalan menuju kursi dia kembali menjadi pusat perhatian semua murid yang ada di kelas itu menatapnya dengan berbagai jenis ekspresi. Ada yang menganggap sok misterius, sok cuek, sok dingin dan apa pula yang cukup ngerti hanya dengan melihat tatapan tajam dan aura dingin Rhaella.
Namun berbeda dengan sekumpulan laki laki tampan yang duduk di kursi belakang bagian kanan dekat jendela, mereka memperhatikan Rhaella dengan tatapan penasaran, mereka cukup terkesan dengan aura yang gadis itu keluarkan.
Mereka adalah inti dari Desmond yang ketuai oleh Gabriel yang kebetulan berada di kelas yang sama dengan teman temannya, saat para anggotanya begitu penasaran dengan Rhaella pasalnya aura yang di keluarkan Rhaella mirip dengan sang ketua mereka. Lain halnya dengan Gabriel dia malah merasa familiar dengan gadis itu.
"Tuh cewek auranya ngeri juga yah" bisik Rufus pada Calix temen sebangkunya salah satu inti Desmond
"Iya mirip mirip paketu kita" bisik Calix juga pada Rufus
"Gue jadi penasaran sama tu cewe" ucap Hans
"Hmm" deheman dari Merrit membuat mereka diam kemudian kembali pada posisi masing masing memperhatikan guru yang sedang mengajar. Merrit Juga salah satu inti dari Desmond lebih tepatnya dia adalah wakil Desmond yang sifatnya sebelas dua belas dengan sang ketua Gabriel.
Kedua sama sama mempunyai aura dingin. Tapi kalau Gabriel di takuti karena kekejamannya maka Merrit di takuti karena aura dinginnya. Diantara mereka yang paling normal adalah Calix, sedangkan untuk Rufus dan Juna mereka adalah manusia pecicilan yang kocak, receh, playboy dan sangat heboh.
Banyak siswi siswi yang mengejar mereka namun mereka menganggap Gabriel dan Merrit adalah sosok yang sulit di gapai, jadi mereka beralih mengejar Calix karena Hans lah yang normal di antara mereka dan menganggap mudah di gapai.
...
INTI DESMOND
Gabriel Duches
pemuda tampan yang begitu menawan, dengan tatapan mata tajam, hidung yang mancung bak perosotan, rahang yang tegas serta alis tebalnya dengan bola mata berwarna emerald. Gabriel adalah ketua dari geng motor yang bernama Desmond, geng motor yang paling di takuti dan hindari dari geng motor lainnya karena kekuatan mereka hampir mirip dengan kekuatan mafia. Gabriel memiliki sifat dingin, datar dan tegas. Dia anak ke dua dari tiga bersaudara anak dari Warren Duches sang pengusaha hebat yang aset kekayaannya ada di mana mana dan istrinya Suara Duches perempuan keturunan Italia.
Merrit Barney
pemuda tampan yang memiliki tahi lalat di bawah ujung mata kanannya. Pemuda tampan yang sifatnya sebelas dua belas dengan sang ketua. Merrit adalah wakil Desmond yang tegas. Merrit anak tunggal dari keluarga Barney.
Rufus Fletcher
pemuda tampan namun kelihatan manis. Rufus memiliki sifat yang kocak, heboh dan pecicilan dia dan Hans adalah sepaket yang akan menghibur teman temannya, posisinya di Desmond adalah sebagai ahli IT. Rufus anak pertama dan akan memiliki adik di usianya yang menginjak 17 tahun. Rufus anak dari keluarga Fletcher.
Hans Eames
pemuda tampan yang manis memiliki ginsul yang membuat dia terlihat manis dan imut bersamaan. Sifatnya mirip dengan Rufus namun bedanya dia adalah seorang playboy banyak siswai di sekolahnya yange menjadi korban rayuan gombalnya. Hans adalah panglima tempurnya Desmond, meskipun terlihat tengil dan kocak dia akan menjadi ganas saat di Medan pertempuran. Anak pertama dari keluarga Eames.
Calix Wilder
pemuda tampan selanjutnya yang tak kalah manis karena memiliki lesung pipi di bagian kiri. Laki laki paling normal di antara teman temannya, karna sang ketua dan wakilnya memiliki sifat dingin, kemudian ada dua temannya lagi yang tengil dan pecicilan hanya dia yang adem ayem, kadang diam kadang juga ikutan pecicilan tergantung suasana. Posisinya sebagai ahli strategi dia anak dari keluarga Wilder.
Pelajaran pertama telah selesai kemudian akan di lanjutkan dengan pelajaran berikutnya. Guru yang mengajar telah keluar murid murid pun mulai heboh, ada yang ingin keluar ke kamar mandi, ada yang langsung ngacir ke kantin karena lapar dan ada juga yang langsung bergosip ria dengan teman sebangkunya.
" Ekhm.. ha haii" sapa gugup teman sebangku Rhaella.
Rhaella kemudian menoleh dan mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya
"Gu gue Alora Eilish, Lo ngga mau ke kantin " tanyanya lagi masih dengan gugup pasalnya Rhaella hanya menunjukkan wajah datarnya.
"Nggak" singkat Rhaella
"O oke kalau gitu gue ke kantin dulu yah " ucap Alora memberi tahu
"Hmm" tanpa menoleh Rhaella kemudian mengambil earphone dan menyumpal telinganya dan menyalakan musik melalui handphone miliknya lalu menelungkup kan kepalanya di lipatan tangan di atas meja.
Suara di dalam kelas masih berisik karena banyak yang belum keluar dari kelas dan Rhaella pun tidak peduli meskipun masih bisa dia dengar suara bising tersebut namun dia seolah tidak dengar.
"Jam berikutnya kita kosong guys ibu indah ngga masuk" beri tahu sang ketua kelas seketika membuat mereka yang ada di kelas teriak bahagia kecuali dua orang pria tampan yang tetap menampilkan wajah datarnya.
Siapa lagi kalau bukan Gabriel dan Merrit, kalau Rhaella dia masih menelungkup kepalanya di atas meja.
Drrtt
Drrtt
Drrt
Bima is calling...
"Hmm" jawab Rhaella masih dengan kepala di atas meja
"Lo kosong ngga, ada job nih" tanya seseorang di seberang sana
"Hmm" jawab santai Rhaella masih sambil menutup matanya
"Jadi Lo mau ikutan " tanyanya lagi memastikan
"Hm gue ambil " jawab santainya
" Ya udah gue daftarin ntar gue kabarin lagi jamnya kapan" ucap Clive.
Tut
Setelah mendengar jawaban dari Clive, Rhaella langsung memutus sambungan telepon tanpa basa basi.
" Huft suntuk juga di sini, kalau di sekolah lama gue masih punya teman di sana" ucap Rhaella dalam hati sambil memperhatikan handphone genggamnya. Seketika dia mengangkat kepala dan memperhatikan kelasnya tampak sangat berbeda dengan sekolahnya yang dulu di sini fasilitasnya sangat lengkap.
...
"Haii tata makin cantik aja" puji Hans sambil memasang wajah sok gantengnya.
" itu Tiara, o'on emang" Rufus membenarkan sambil mendorong kening Hans karena salah menyebut nama.
"Gue Tasya" sentak cewek tersebut karena tidak ada yang benar menyebut namanya saat berpapasan dengan Hans, Calix dan Rufus.
Sedangkan Calix sendiri malah terbahak karena kedua temannya itu yang sok kenal dan sok akrab.
"Sejak kapan ganti nama sih? Perasaan kemarin namanya masih tata" ucap Hans sambil menyugar rambutnya ke belakang.
"Otak elo yang harusnya di ganti" cibir Calix pada Hans.
Setelah mengatakan itu Calix berjalan menyusuri koridor menuju rooftop menyusul Gabriel dan Merrit yang sudah terlebih dahulu pergi ke sana dan ikuti oleh Rufus dan Hans di belakang. Yah rooftop adalah salah satu tempat nongkrong mereka yang ada di sekolah. Di sekolah ini memiliki dua rooftop, dan tempat khusus mereka adalah rooftop bagian barat. Sedangkan di sisi timur untuk murid lain yang memang ingin nongkrong di sana.
Saat sampai di rooftop mereka melihat dua kulkas sedang bermain game di handphone masing masing. Bedanya sang ketua bermain handphone sambil merokok. Mereka yang baru datang pun bergabung dan duduk di sofa yang memang sudah ada di sana.
"Eh Lo pada ngga penasaran sama tu murid baru tadi?" Tanya Rufus yang memulai obrolan di antara mereka.
"Iya anjirr dia kek baddas dan kesan bad girlnya kena banget gue lihat. Udah gitu dingin dingin datar lagi" Hans menimpali obrolan Rufus.
"Apalagi tadi dia datangnya pake motor gede mana pake serba item lagi dari jaket sampe sepatunya" ucap Calix yang ikut dalam obrolan mereka
"Tau dari mana Lo tu cewe pake moge" tanya Hans yang penasaran.
"Gue sih ngga liat langsung tadi gue denger anak anak cerita. Mereka ada yang liat pas dia Dateng tadi" jawab Calix sambil mengambil rokok di atas meja dan menyalakannya.
Hans dan Rufus yang mendengar itu menganggukane kepala. Lain halnya dengan dua kulkas di samping mereka Gabriel dan Merrit seolah tidak peduli akan pembahasan teman temannya, mereka sibuk dengan aktivitas mereka sendiri.
"Lo ngga perasaan bos sama tu murid baru?" Tanya Rufus pada Gabriel.
"Hmm" deheman sang ketua mampu membuatnya menghela nafas kasar.
"Ck, gue lupa Lagi nanya sama tembok. Emang cocok deh Lo sama tuh cewe sama sama tembok" gumam pelan Rufus di akhir kalimat, namun masih bisa di dengar oleh sang ketua. Rufus yang melihat tatapan tajam dari ketuanya hanya meringis dan cengengesan sambil memberikan dua jari.
"Ampun bos cuma becanda " ucap Rufus memberikan dua jarinya tanda damai.
Hans dan Calix yang melihat itu malah tertawa melihat tatapan takut sahabatnya "makannya kalau mau ngomong mikir dulu terus liat juga siapa orangnya" nasehat dari Calix.
"Ck iya bapak Calix Wilder yang terhormat" ucap Rufus
Dug
"Adduh sakit begee Lo ngapain geplak kepala gue" adu Rufus yang kesakitan akibat pukulan di belakang lehernya dari tangan laknat Calix.
"Enak ngga? Ngomong lagi coba kaya tadi" kesal Calix.
"Hehehe piiissss" senyum lebar Rufus dengan dua jari tanda damai.
Hans hanya menertawakan kesialan sahabatnya setelah mendapat tatapan maut dari sang ketua kini dia mendapatkan pukulan juga dari sang ahli strategi.
"Ketawa aja Lo yah. Noh di cariin sama cewek Lo tuh" Rufus kesal karena di tertawakan.
"Ha? Mana? Siapa?"
Tanyanya heboh lalu menoleh ke belakang namun tidak menemukan orang di sana.
"Siapa? Emang cewe Lo ada berapa sih?" Timpal Calix yang juga penasaran.
"Ngga banyak kok cuma 4 doang" ucap santai Hans lalu kembali ke tempat duduknya.
" Empat lo bilang cuma?" Tanya Hans seolah tidak percaya.
"Merr coba Lo tonjokin mukanya biar ngga sok kegantengan" ucap Rufus pada Merrit membuat Hans seketika panik melotot. Merrit yang di sebut namanya kemudian menoleh dan memberi tatapan tajam pada Hans.
"Sirik aja ya lo. Selagi yang gue pacari itu masih perempuan jadi itu fine fine aja" jawabnya kesal pada Rufus.
" Si brengsek emang" celetuk Hans sambil geleng kepala akan kelakuan sahabatnya.
"Ada turnamen ntar malem" ucap Merrit pada mereka semua lalu memasukkan handphonenya ke saku celana.
"Turnamen apaan?" Tanya Rufus tapi tidak ada jawaban dari Merrit.
"Nanti malam ada balapan lagi, tapi kali semua bisa ikut secara acak karena ngga ada penantang" jelas ibra pada Rufus, karena dia sangat yakin kalau Merrit yang menjelaskannya si playboy dan si pecicilan itu tidak akan mengerti malah akan membuat dua kulkas berjalan tersebut emosi.
"Kapan?" Tanya Gabriel tiba tiba yang sejak tadi diam.
"Ntar malam jam kaya biasa" jawab Calix.
"Merrit yang bakal turun malam ini" perintah sang ketua kemudian berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar. Teman temannya yang melihat langsung bertanya "Kemana?" Tanya Merrit
"Kantin" jawabnya dan di ikuti oleh sahabat sahabatnya di belakang untuk menyusul sang ketua.
...
Saat mereka memasuki kantin, kantin yang sebelumnya berisik seketika diam saat para inti Desmond masuk. Meski dalam keheningan dan kegugupan murid murid lain, mereka selalu menjadi pusat perhatian bagaimana tidak, ketampanan mereka yang tidak main main selalu bisa membuat para kaum hawa menjerit akan pesona mereka. Namun jeritan kagum dan terpesona mereka harus mereka tahan karna dua kulkas berjalan tersebut tidak menyukai hal tersebut. Mereka lebih menyayangi nyawa mereka dari pada harus berurusan dengan dua kulkas berjalan tersebut.
Para inti Desmond pun duduk di tempat khusus mereka yang berada di pojok kanan kantin. Tidak ada yang berani menduduki tempat tersebut meskipun sebenarnya para inti Desmond tidak melarang atau mempermasalahkan jika murid murid lain ingin duduk di sana, namun pada dasarnya mereka yang sudah terdoktrin akan kekejaman para inti Desmond mereka lebih memilih tidak ingin berurusan dengan mereka mulai dari hal kecil apalagi besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments