Tepat pukul 16.30 sore mereka telah bersiap-siap ke lokasi bukber. Rupanya Ramdan siang tadi keluar untuk mencari tempat bukber, takut tidak dapat kebagian tempat. Karena biasanya puasa hari pertama ini, sebagian orang akan berbuka di luar. Baik bersama keluarga, sahabat dan pasangan. untuk itu Ramdan tidak ingin rencan buka bersama mereka gagal.
Dia mencari tempat juga di temani Dahlia. Karena wanita itu juga ingin ikut makan diluar. Awalnya Ramdan menolak keras, tentu dirinya takut ketahuan. Tetapi melihat wajah sang kekasih sedih, akhirnya Ramdan mengalah asalkan posisi Dahlia jauh dari mereka.
15 menit kemudian, mereka telah tiba di taman air mancur. Di sini sudah hal biasa menjadi tempat nongkrong orang-orang dari berbagai kalangan, tak terkecuali orang tua. Biasa nya jika hari libur, para keluarga dan juga para grup pertemanan akan makan bersama ala piknik di sekitaran taman ini.
Disini terdapat rumahan seperti pendopo, lapangan mini yang di kirim kanannya kursi santai, taman bermain. Ada juga meja makan set. Bisa di booking untuk makan bersama.
Masih di sekitar air mancur, belakangnya terdapat lapangan pasir, biasa di sini juga di jadikan tempat perhelatan konser jika ada artis ibu kota datang. Tempat perlombaan dan lainnya. Lapangan pasir ini bersebelahan dengan laut. Di tepi laut juga terdapat tempat duduk santai dan juga ada orang berjualan makanan dan minuman ringan.
.
.
Tiba di taman, anak-anaknya Sari bermain di taman. Selfi yang tadinya di rumah dia lemas lesu, disini dia begitu bersemangat. Seakan rasa lapar dan haus nya hilang seketika.
Sedangkan para orang dewasa hanya mengawasi dari jarak tidak seberapa jauh. Ramdan lah yang mengawasi mereka dari dekat. Sesekali Dirinya serius memainkan ponsel.
.
Tidak berapa lama, mobil Avanza terparkir di sebelah motor mereka. Dari kejauhan terlihat seorang wanita berpakaian lumayan seksi kelar dari dalam mobil tersebut.
Dari tempatnya duduk, Sari tidak melihat wanita itu. Dirinya fokus melihat sang suami yang menatap wanita itu penuh damba atau kagum, Sari juga tidak bisa menyimpulkan. Yang jelas pandangan itu bukan pandangan orang pertama kali bertemu.
Sari juga tidak ingin berfikiran macam-macam, dirinya kembali melihat anak-anaknya bermain.
Sedang Sarimah, wajah orang tua itu antara gugup dan marah. Bagaimana mungkin ini hanya kebetulan. Pikiran orang tua ini makin curiga terhadap sang anak. Pastilah ada apa-apa, pikirnya.
Saat dirinya menatap sang anak tajam ,saat itu juga netra Ramdan tak sengaja melihat ibunya. Mereka saling bersitatap. Ramdan menelan ludah kasar. Dirinya ketahuan melihat Dahlia.
Sarimah tidak lagi bisa menahan rasa curiganya, dirinya berjalan mendekati sang anak.
“Ini kebetulan kan Ramdan?!’’ tekannya.
“Apa yang Mak cakap ni? Ramdan tak paham.’’ jawab Ramdan mengelak.
“Kau memang bisa menipu orang lain. tapi, kau tak bisa berdusta pada aku. Aku yang melahirkan kau. Sekarang..._’’ ucapan Sarimah terpotong saat Sari mendekati mereka.
“Makanan dah di anter pelayan. Yuk Bu kembali ke meja kita!’’ ajak Sari.
Mereka melangkah meninggalkan Ramdan. Sarimah berbalik menatap tajam anaknya. Sari bukannya tidak tahu, jika ibu dan anak itu sedang bersitegang. Tetapi dirinya hanya berpura-pura tidak tahu. Tidak mungkin juga dirinya ikut campur. Sari hanya tidak tahu, apa yang menjadi penyebab keduanya bermasalah.
.
Ramdan telah kembali ke tempat duduknya. Anak-anak juga sudah berhenti bermain.
“Sari ke WC umum sebentar.’’ beritahu Sari.
Berjalan ke arah Utara Sari mencari WC umum. Dulu nya dia sering ke sini bersama teman-teman, setelah menikah sangat jarang dia ke sini. Wajar saja dia lupa arah menuju Toilet.
Saat keluar toilet, Sari tidak sengaja melihat wanita yang dulu pernah tidak sengaja dirinya tabrak di depan mini market.
Wanita itu ternyata, wanita yang keluar dari mobil Avanza tadi.
Saat berpas-pasan dengan Sari, winita itu hanya melirik, tanpa menyapanya. Sangat berbeda ketika pertama kali mereka bertemu. Wanita itu begitu ramah.
“Aneh!’’ batin Sari.
...*****...
Dahlia berjalan melewati meja keluarga Ramdan, tangannya membawa minuman cup. Saat berjalan dengan sengaja dirinya menabrak kaki kursi, sehingga hampir terjatuhlah dirinya. Minuman yang dia bawa sedikit mengenai gamis Sarimah.
“Eh aduh,,,, Maaf Mak cik. Lia tak sengaja’’ ucap Lia memelas. Dirinya sibuk mengelap baju orang tua itu dengan tisu.
“Sudahlah, jangan berlebihan. Ini cuma sdikit yang kena, tapi respon kau melebih-lebihkan.’’ balas Sarimah telak.
“Mak, Dia ini sudah minta maaf dan berniat baik. Kenapa pula Mak kasar becakap nya?’’ Ramdan menimpali, sedikit membela Dahlia.
“Jangan pula kau bela betina ini. Untuk apa dia lewat sini, sedangkan jalan masih banyak!’’ timpal Sarimah tak mau kalah.
Ramdan memijat keningnya. Pusing akan memberi alasan.
Sari yang baru tiba dari toilet, melihat ketegangan itu.
“Ada apa ini Bu?’' Tanya Sari.
“Tidak apa-apa, masalah sedikit. Yuk duduk!, kejap lagi masuk waktu berbuka’’ Ramdan memotong saat Sarimah akan bicara.
“Untuk apa lagi kau disini? Pergi sana ke meja mu’’ sentak Sarimah mengusir Dahlia.
Dahlia pergi dengan hati kesal bukan main. Dulunya orang tua ini baik padanya, sekarang sudah berubah drastis. Belum juga masalahnya dengan sang ibu, kini dia juga di musuhi oleh orang tua kekasihnya. Makin menyalah hati Dahlia ini.
Dirinya langsung menuju mobil. Memutuskan pulang ke kontrakannya, dan tidak jadi makan. Masuk mobil, menutup keras pintu mobil, hingga terdengar di telinga keluarga Ramdan. Merera merasa wanita ini kasar, sementara Ramdan merasa bersalah.
Sebelum menghidupkan mobilnya, Dahlia menyempatkan mengirim pesan ke sang kekasih. Setelahnya menghidupkan mobil dan meninggalkan lapangan pasir.
.
.
Keluarga Ramdan mulai memakan pesanan mereka. Tidak terlihat kebahagiaan di wajah Sarimah, meskipun berbuka bersama di luar. Sari juga merasakan hal yang sama. Yang ada mereka hanya saling diam dan canggung setelah kejadian drama minuman tumpah tadi.
Tiba-tiba ponsel Ramdan berbunyi, pertanda ada pesan masuk. Tanpa menunggu Ramdan menyambar ponselnya dan mulai mengetik.
“Apakah bos kau tu, mengganggu libur pekerja lainnya juga? Apa lagi di tengah berbuka begini Ramdan!’’ geram Sarimah. Dirinya masih kesal masalah tadi, kini kembali Ramdan membuat ulah.
“Sudah Bu, makan dulu. Tak sedap di tengok orang.’’ Sari mengelus bahu mertuanya.
“Nantilah main handphone nya bang. Di rumah nanti puas-puaskanlah Abang mainnya. Ini kan waktu makan dengan keluarga!’’ tegur Sari masih berbicara lembut.
Ramdan memasukkan ponselnya ke saku dan lanjut makan.
Di rumah, Dahlia begitu kesal karena pesannya tidak kunjung di balas, hanya mengetik yang tertera di ponselnya. Tidak mungkin mengetik selama itu, pikirnya.
“Ckkk sialan orang itu!!!. Secepatnya aku akan buat dia berdua berpisah!’’ Umpat Dahlia kesal.
Entah apa rencananya untuk memisahkan Sari dan Ramdan.
.
.
Sampai dirumah, Atika langsung di baringkan di ranjang nya, karena anak ini ketiduran di jalan. Sementara Sari, Selfi dan Sarimah melaksanakan shalat isya.
Ramdan hanya mengantar mereka, dirinya kembali keluar. Alasannya, di ajak ngopi oleh temannya yang mencari lowongan pekerjaan.
*
Setelah sholat kedua nya duduk di ruang tv. Sari membuat kopi gula aren untuk mereka berdua, tidak lupa cemilan.
.
“Mana Ramdan tadi Sari?’' tanya Sarimah. Karena tidak melihat keberadaan anaknya.
“Jumpa kawan kata dia Bu, ada yang nanya lowongan kerja.’’ jawab Sari.
“Kau ni, jangan terlalu percaya dengan lelaki, walaupun suami sendiri. Bukan aku mau menghasut dan memburukkan anak aku, tapi kita ini perempuan harus tegas!_’’
“Di luaran sana banyak penggoda. Mana kita tahu diluaran sana laki macam mana tingkah ya. Mungkin dirumah seperti kelinci penurut, tetapi jika di luar, macam beruk kelaparan.’’ ucap Sarimah panjang lebar.
Agak sedikit kesal terhadap menantunya ini. Karena menurutnya, Sari ini begitu percaya pada anaknya.
Sari hanya tertawa, mendengar kata beruk.
Tiba-tiba Sari mengingat wanita di taman tadi.
.
“Siapa dia? apa ibu mengenalnya?’’ tanya Sari langsung.
“Siapa?’' balas Sarimah.
“Wanita yang menumpahkan minuman nya ke ibu tadi.’’ lanjut Sari.
Sarimah gelagapan. Tidak tahu harus jujur atau tidak. Ingin dirinya jujur pada Sari, tetapi tidak tahu mau bicara apa. Sarimah takut apabila dia bercerita, anak mantunya ini akan bertengkar hebat, dan dialah penyebabnya.
Oleh sebab itu, untuk sekarang dirinya belum sanggup bercerita. Malu juga dia rasakan punya anak seperti Ramdan. Dulu dia begitu menentang Ramdan menikahi Sari, takut anaknya sengsara dan di setir oleh Sari. Kini semua malah berbalik. Kelaku anaknya lah yang bejat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments