Lima belas

Selepas sholat magrib Sari mengajak selfi mengaji, kini anaknya itu telah Qur'an Juzz 10. Selfi sekarang kelas 2 SD. Sedang sang adik bermain dengan neneknya.

Setelah selesai mengaji, Sari menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka. Sesuai request sang anak, untuk menu malam ini Sari membuat ayam krispi, gulai jengkol untuk Ramdan dan pindang ikan lomik untuk Sarimah. Sementara untuk menu sahur, Sari telah mengungkep ayam dan bumbunya, nanti subuh tinggal ia goreng jadi ayam lengkuas.

Sarimah baru menyadari, jika menantunya ini cekatan. Soal masakan jangan di tanya lagi, selain enak, Sari pasti akan membuat sesuai selera masing-masing.

Diluar terdengar mobil berhenti di tepi jalan.

Ramdan sedang pamitan dan berci**man mesra dengan selingkuhannya, sebagai tanda pisah. Padahal nanti juga ketemu kembali.

Atika berlari menemui Sari.

“Mak, di jalan depan rumah kita, ada mobil berhenti.’’ beritahu gadis ini.

“Oh ya?! Cepat sana minta tolong kakak buka pintu nya!’’ ucap Sari. Dia tau jika itu sang suami.

Segera saja anak-anak menunggu di depan teras. Sarimah tidak ikut, dirinya memilih ke dapur saja melihat kegiatan Sari, mau menolong juga dilarang sang mantu.

“Lah, kenapa ibu kesini? Itu bang Ramdan sudah sampai. pasti bang Ramdan senang ibu jika tau ibu di sini’’. Sari sedang mencuci peralatan memasak tadi sore.

“Biarlah anak kalian saja yang menyambutnya. Sebentar lagi masuk waktu isya, biarlah aku mengaji barang sekejap. Nanti jika kalian lapar, tidak usah menungguku.’’ Sarimah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.

“Nanti kami nunggu ibu saja.’’ Sari yakin jika mereka makan duluan, pasti Sarimah tidak akan makan nantinya. Biasanya juga begitu di kampung.

****

Sementara di luar anak-anak dikejutkan dengan kepulangan Ramdan. Dia membawa dua boneka besar dan beberapa pack jajanan.

Mereka masuk rumah bersama, Atika di gendong Ramdan, sedang selfi menggandeng ayahnya.

Sari segera mendekati mereka, menyalami sang suami.

“Tengok tu Mak kalian, tak hendaknya menyambut kepulangan ayah ni!’’ Ramdan memasang wajah memelas menggoda anak-anak nya.

“Ih Ayah.... Mak tu sibuk di dapur masak dan menyusun makanan dimeja.’’ Selfi membela ibunya.

’’Iya-iya, anak ayah kenapa tak bantu Mak tu?’’ tanya Ramdan, dia mengulurkan tas pakaiannya pada Sari.

“Mak sudah di bantu oleh Mak wa yah!’’ ucap si kecil.

“Oh ya, Mak wa ada di sini? kenapa ayah tak nampak, Mana Mak wa nya?’’ Ramdan melihat kesana kemari.

“Lagi sholat isya barangkali bang_’’Sari yang menjawab. Dia membawa handuk dan menyampirkannya ke bahu Ramdan.

“Abang mandi dulu, setelah itu kita makan.’’ Sari beranjak menuju kamar untuk sholat. Tidak lupa mengajak anaknya.

.

.

“Abang tak sholat?’' tanya Sari melihat Ramdan setelah berpakaian langsung menuju pintu.

“Abang rasanya lelah betul Sar, lapar juga. Ayolah kita makan dulu.’’ Ramdan segera keluar kamar, berbarengan Sarimah juga baru keluar.

“Mak, apa kabarnya?.. Bila mak ke sini?’’ tanya Ramdan. Dirinya agak kaget juga setelah tahu sang ibu mau nginap dirumah mereka, saat dirinya tidak ada.

“Baik. Mari kita makan!, Kesian Sari sudah lelah memasak masakan untuk kita semua.’’ Sarimah meninggalkan Ramdan yang masih bengong.

Bagaimana tidak, sang ibu tidak pernah peduli pada Sari. Dan apa ini?

.

...*****...

.

Mereka di meja makan dalam suasana hening. Hanya suara Atika dan Selfi yang sibuk bercanda.

“Nak, kan Mak sudah beritahu kemarin, bila makan tidak boleh bercanda.’’ ucap Sari.

“Ya mak.’’ kedua nya langsung terdiam dan lanjut makan.

Baik Ramdan maupun Sarimah, mereka diam saja. Apalagi Ramdan, dirinya jadi canggung setelah lama tidak bicara banyak dengan sang istri, Sari juga tidak mengajaknya bicara.

Sedangkan Sari, Dia sengaja diam. Menunggu sang suami memulai obrolan nya. Biasa nya di meja makan begini, mereka ngobrol ringan dan bercerita masalah anak, pekerjaan dan rencana kedepan mereka. Kini, seakan mereka menjauh padahal mereka dekat.

Sarimah juga tidak nyaman dengan suasana begini. Di kampung dulu, walaupun dia kerap marah-marah saat makan, tetapi Ramdan dan Sari tetap ngobrol. Sekarang dia yang merasa aneh.

“Kerja apa kau di sana Ramdan?’’ Akhirnya Sarimah memulai obrolan. Tidak tenang juga dirinya bila berdiam diri seperti ini.

“Anu Mak, ee kerja pabrik pakaian’’ ucap Ramdan sedikit gugup, Sari melihat itu.

“Maksud ku, kerja bagian apa?’’ tanyanya lagi ingin tahu.

“Bagian ngepak barang mak’’ Jawab Ramdan.

“Berapa gajinya sebulan itu?’’ Ramdan akhirnya berhenti makan.

Sudah beberapa kali Iya akan menyuap makanan, tetapi gagal karena pertanyaan sang ibu. Sari menahan tawanya.

“Pulang ini aku membawa RP1500.000, Aku banyak hutang nya Mak. buat bayar sewa, makan dan lainnya.’’ jelas Ramdan memberi alasan.

“Rumah bagaimana yang Abang sewa?... Bukannya kemarin Abang kata 1 rumah ada empat orang, tentu kalian patungan membayar sewa dan makan.’’ kali ini Sari yang berbicara.

Sarimah menyipitkan matanya menatap sang anak. Kini dirinya makin curiga.

“Ramdan, besok temankan Mak sebentar. Belikan Mak baju untuk lebaran nanti. Tadi siang Sari sudah membeli Mak baju. Jadi, giliran kau pula membeli untuk mak.’’

Sarimah sengaja mengatakan itu.

Akhirnya dengan terpaksa, Ramdan mengiyakan ke inginan Ibunya. Jika menolak, dirinya takut istri dan Ibunya akan curiga.

“Kau tau tak, bini kau ni sekarang jualan kue basah. Harus mengurus anak, membuat kue saat subuh hari dan mengantar Selfi, serta urusan lainnya. Untung saja kini kue nya tak perlu di antar ke warung-warung. Jika tidak, makin sibuk saja dirinya. Bisa lah membantu mu sedikit mengurangi beban.’’ Ucap Sarimah.

Sengaja dirinya menjelaskan panjang lebar kerjaan sang mantu, berharap anaknya sadar diri.

Ramdan hanya diam saja, dirinya makin merasa aneh, karena sekarang Ibunya sudah akrab dengan sang istri.

“Apa saja oleh-oleh yang kau bawa tadi?’’

“Hanya mainan dan jajanan anak saja Mak. Aku kan pulangnya dengan travel, berdesakan didalam. Nanti jika di razia petugas percuma, karena mereka akan menyita makanan. Belum lagi mobil di tilang. Jadi, supirnya tidak mau ambil resiko.’’ jelas Ramdan.

Kali ini alasannya memang masuk akal, tetapi tetap saja dirinya berbohong. Karena dia pulang dengan Dahlia.

.

Sari kebelakang, meninggalkan ibu dan anak itu mengobrol berdua. Dirinya mencuci piring bekas makan mereka. Setelahnya, Sari menimbang bahan kue, jadi ketika esok subuh, dirinya tinggal membuat adonan saja.

.

...*****...

.

Di teras rumah, ibu dan anak itu masih ngobrol santai. Tepatnya hanya Sarimah yang banyak bicara. Sedangkan Ramdan, asik chatan dengan selingkuhannya.

“Kau ni, dari tadi ku tengok asik handphone saja yang kau telek’’ sergah Sarimah. (telek:lihat)

“Dari bos mak.’’ Ramdan memberi alasan.

“Katanya kau cuti karena menyambut bulan suci Ramadhan, tapi kenapa masih saja dia mengganggu waktu libur mu? Jangan bohong kau ramdan_’’ Sarimah mulai naik darah.

“Dari tadi aku seperti orang bodoh, bicara dengan pokok pisang!’’ Sarimah kesal dengan tingkah anaknya sekarang ini.

Dulu ketika di kampung, anaknya ini memang terkadang membela istrinya atau bahkan tidak memihak keduanya, tapi Ramdan tidak pernah seperti sekarang ini, Tidak menghargai orang tua yang bicara dengan nya.

“Tidak Mak, aku tak berdusta. Cuba Mak lihat ini.’’ Ramdan memperlihatkan nama dari pengirim pesan. Disitu tertulis Bos c.

“Hm, semoga saja kau tidak berdusta. Lagipun kalau pun kau berdusta, aku tidak rugi Ramdan. Kaulah yang berdosa_“

“Kau tau Ramdan, setelah kalian pergi, aku kesepian. Baru ku sadari, jika Sari adalah menantu terbaikku. Bukan karena orang tuanya kaya raya, tetapi karena caranya memperlakukan anak dan cucuku, juga terhadap ku. Bahkan anak perempuan ku saja tidak pernah memperlakukan ku sebaik Sari. Awalnya ku kira, kepindahan kalian memang yang terbaik. Ternyata aku salah!. Kali ini Sari telah salah membawa kau pindah ke kota ini.’’ Sarimah begitu kecewa. Setelah mengatakan itu, dirinya masuk rumah.

Dirinya tak sengaja menabrak Sari. Sarimah langsung memeluk sang menantu. Dia terisak pelan.

Selama menjadi menantunya, baru kali ini mereka berpelukan ikhlas. Dulu pertama kalinya berpelukan, saat Sari pertama kali datang sebagai menantu, itupun Sarimah terpaksa, karena banyak orang waktu itu.

Kini, dirinya tergugu di pelukan Sari, menumpahkan sesak di dada. Sari mengusap lembut punggung mertuanya, dia pun tidak tahu akan menanggapi apa. Yang jelas hati ya sedikit bahagia, bukan karena anak dan ibu itu berselisih, tetapi karena akhirnya mendapat kasih sayang tulus dari mertuanya.

Walaupun dirinya kecewa oleh Ramdan, setidaknya ada sisi baiknya.

Begitulah Sari, bersyukur untuk hal kecil di tengah rasa kecewa.

.

.

.

.lanjut?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!