Delapan

Pagi ini Sari mulai menjual aneka kue, untuk sementara, Sari hanya membuat beberapa kue basah dan dua macam kue Bolu saja. Baru saja di unggah di jaring sosial kuenya sudah di serbu pembeli. Apa lagi sebentar lagi menyambut bulan suci Ramadhan, tentu saja peminatnya lebih banyak. Dia juga menyertakan alamat, supaya yang order bisa menjemput ke rumahnya langsung.

Sekitar jam 9 Siang kue nya sudah ludes terjual. Saat dirinya sibuk mengemasi box kue, tiba-tiba ada tamu yang datang.

"Assalamu'alaikum.!" Ucap serentak dua perempuan.

"Wa'alaikum salam, Silakan duduk kak." Ucap cari mempersilakan tamunya duduk di kursi teras nya. "Sekejap ya kak,saya ke belakang." Sari ke dapur menyeduh teh dan menyiapkan kue dan beberapa potong bolu sisa penjualan.

"Di minum kak teh nya!" Ujar Sari.

"Ya Allah, malah buat minum pula adik ni. tapi makasih lah. Oh iya, kami tahu rumah adik ni dari Sosial Media, jadi kami datang ni sengaja hendak mengorder kue adik Sari untuk pernikahan adik kami lepas lebaran." Ujar wanita yang lebih tua.

"Oh, masih lama juga ya kak, nanti Kakak pastikan saja maunya tanggal berapa ngambilnya, soalnya kami belum ada jasa antar." Ucap Sari tersenyum malu.

"Iya, Memang sengaja pula kami ngorder dari sekarang, takut pula kami tidak kebagian. Soal antar tak usah di pikirkan, nanti banyak pemuda rewang yang bisa jemput kue nya." Balas wanita itu

"Ada-ada saja kakak ni, Kalau gitu ambil dulu nomor Sari ni, dan ini Brosur menu-menu kue nya." Ucap sari, Ia memberikan lembaran kertas berisi foto aneka kue nya.

"Wah kelihatan nya enak ini." Ucap wanita tersebut.

"Sila kan di cicipi kue ini kak, Ini adalah satu kue yang ada seperti di foto." Ujar Sari.

Wanita itu pun mencoba mencicipi kue buatan Sari.

"Hem, enak sekali. Seperti nya puasa nanti saya order juga ya dik, letak di warung saya nanti." Ucap Wanita yang satunya.

"Oh boleh kak, Alhamdulillah jadi Sari sudah tak perlu mencari pelanggan lagi." Sari tersenyum senang.

"Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu. Assalamu'alaikum." Ucap kedua wanita itu.

"Wa'alaikum salam." Sari masuk ke rumah dan melanjutkan mencuci box kue nya.

Aneka Kue buatan Sari

"Siapa tadi dik?" tanya Ramdan.

Diri nya sedang bersiap-siap. Karena jam 1 nanti akan narik gerobak, ada pesanan membawa angkutan batu-bata dan pasir.

"Itu tadi ada ibu-ibu yang memesan kue. Alhamdulillah bang, bulan puasa ini sudah ada yang order dan lepas raya nanti juga ada untuk pesta pernikahan." Ucap Sari. Betapa senang hati nya, Baru saja pindahan, Allah SWT sudah memberi rezeki berlimpah pada keluarga mereka.

"Baguslah kalau gitu, bisa bantu-bantu untuk duet belanja hari-hari, biasanya hanya Abang sendiri yang mencari nafkah." Ujar Ramdan santai.

Sari agak terkejut dengan ucapan sang suami, tetapi Ia anggap saja sebagai ungkapan karena lelah Ramdan bekerja selama ini, belum lagi tekanan dari sang Ibu.

Setelah makan siang Ramdan pamit kerja. Sedangkan Sari, Ia mengajak anak nya ke Toko buku untuk membeli peralatan Selfi yang baru, karena Selfi akan pindah sekolah untuk itu butuh buku dan seragam baru.

Saat di perjalanan pulang, Sari melihat-lihat ada toko yang menjual aneka etalase. Berhenti sebentar dan bertanya harga, tidak lupa menawar ala ibu-ibu. Setelah di dapat harga yang pas, Sari menitipkan di toko saja, setelah warung di bangun, etalasenya baru akan di angkut. Tidak lupa Sari berbelanja bahan makanan.

...🌾🌾🌾🌾🌾...

Hari sudah menunjukkan pukul 07.15 malam, tetapi Ramdan belum kunjung kembali kerumahnya. Sari semakin khawatir, biasa nya menjelang magrib Ramdan sudah tiba di rumah, bahkan ponselnya pun tidak aktif. Untuk membuang rasa khawatirnya, Sari memutuskan untuk mencari ide resep kue baru. Tidak lama kemudian terdengar suara motor di luar. Sari beranjak dan menuju pintu guna menyambut suaminya pulang.

"Assalamu'alaikum." Ucap Ramdan.

"Wa'alaikum salam, lama pula hari ini Abang baliknya." Ucap Sari. Dirinya mengambil handuk dan memberi ke suami, setelahnya ke dapur untuk menghangatkan makanan.

"Tadi Honda Abang rusak, jadilah lama baliknya." Ramdan masuk ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian Ramdan telah mandi dan berpakaian.

"Makan dulu bang, anak-anak dari tadi nunggu Abang, rupanya lama pula Abang baliknya, sampai ketiduran mereka tu." Sari menyedihkan teh.

"Besok sajelalah Abang makan ya Sar, penat betul rasanya Abang, Abang tidur dululah kalau gitu." Ramdan berlalu masuk ke kamarnya.

Sari mengernyitkan kening heran, tidak biasanya Ramdan begini. Biasanya di kampung juga begitu, pulang nyadap karet Ramdan istirahat sebentar langsung cari umpan lanjut pergi melaut menjaring ikan. Bahkan pulang malam, tidak pernah merasa lelah.

"Mungkin karena beda kerja barangkali, abangkan tidak pernah narik gerobak." gumam Sari, Ia mengedikkan bahu acuh.

Sementara Ramdan, di dalam kamar Dirinya tidak langsung tidur, Dia menyempatkan memainkan ponselnya. Saat mendengar langkah kaki menuju kamar, Ramdan langsung meletakkan ponselnya ke nakas dan Dia buru-buru memejamkan matanya.

Sari masuk ke kamar, Ia menuju kemeja rias dan mengoleskan krim malam ke wajah nya setelah tadi sudah di bersihkan. semenjak pindah rumah, sari menyempatkan merawat dirinya. Jika kemarin saat tinggal di rumah mertua nya, dirinya tidak bisa bebas merawat diri, takut di cap menghabiskan uang suami, Walaupun kenyataanya Sari punya uang sendiri dari hasil kebun sawit pemberian sang ayah. kebun sawit itu di kelola saudara Sari yang tinggal di kota ini dan tidak ada yang tahu soal ini, termasuk Ramdan. Ntah kenapa Sari enggan memberi tahu soal tanah ini.

Setelah memakai krim malam, sari beranjak menuju ranjang nya dan berbaring. Matanya melihat ponsel sang suami dan Iseng membuka nya. Tapi...

"Ha? Terkunci dan pakai sendok ini? Kenapa pula Abang mengunci hp nya ni? Tidak biasanya." Batin Sari bertanya.

Tiba-tiba bunyi notifikasi. Walaupun tidak bisa di buka karena terkunci tapi masih bisa melihat nama pengirim.

"Desa galon?, tumben nyimpan nomor tukang galon, kan dirumah ini air masak semua." Ucap Sari pelan. Agak heran dirinya.

Sari memutuskan untuk tidur, soal tukang galon dan hp yang terkunci akan Ia tanya besok pagi.

pukul 01.23, Sari kebelet pip*s. Setelah menunaikan hajatnya, Dirinya kembali ke kamar. Tetapi Ia kembali melihat ponsel sang suami menyala, lalu mengambil ponsel itu.

"Pesan dari tukang galon lagi? tengah malam macam ni?." ujar Sari mulai curiga.

Mau membuka pun Dirinya tidak bisa, terpaksa rasa penasarannya Ia bawa tidur menunggu esok tiba.

.

.

.

"Wira?"

Terpopuler

Comments

kalea rizuky

kalea rizuky

awas klo selingkuh buang aja sar laki. tak guna

2025-03-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!