Setelah sholat subuh Sari segera memasak sarapan, sengaja Iya masak makanan berat dan banyak sekalian untuk makan siang. Selesai memasak, Dirinya membuat kue bolu, setelah adonan bolu di masukkan ke oven, Iya lanjut mengadon adonan kue basah. kebetulan hari ini Ada pesananan Catering snack box untuk syukuran menyambut bulan suci Ramadhan, jadi sisa nya baru Ia posting ke sosmed. Sambil menunggu kue nya matang, Sari menuju kamar sang anak untuk di bangunkan.
"Fi, bangun nak!. Mandi, setelahnya sholat. Hari ini jadi tak, mau ikut Mak daftar sekolah Selfi yang baru?" Ucap Sari membangunkan sang putri. Semen sang adik masih nyanyak tidurnya, sengaja tidak Sari bangunkan.
"Iya Mak jadi, Maaf Selfi kesiangan." Selfi mengucek matanya, beranjak mengambil handuk dan keluar kamar menuju kamar mandi belakang.
Setelahnya Sari membangunkan sang suami.
"Bang, bangkitlah. Kata Abang mau ngantarkan Sari untuk daftar Sekolah Selfi." Ucap Sari. Dia membuka jendela dan menggeser hordeng nya.
"Silau Sar, tutuplah lagi tirainya!, kau pergilah sendiri bawa serta anak-anak, Abang nak istirahat. Masih penat rasanya badan Abang ni." Ramdan menarik kembali selimutnya dan lanjut tidur.
"Ya sudahlah jika begitu." Sari keluar kamar dan melanjutkan pekerjaannya.
.
.
Selfi keluar kamar mengenakan pakaian biasa, karena datang ke sekolah hanya untuk pendaftaran.
"Sarapan dulu nak, baru setelah itu kita perginya." Pinta Sari.
"Mak, adik dah bangun, tapi merajuk hanya hendak Mak yang bawa dia keluar kamar." Beritahu Selfi.
Sarie mengangguk, diri nya beranjak menuju kamar dan membawa si bungsu ke dapur untuk di mandikan.
.
.
.
singkatnya, Sari telah pulang dari mendaftarkan sekolah sang putri, di perjalanan pulang, Sari seperti melihat motor sang suami yang terparkir di restoran Berlian. tapi Iya segera menampiknya, karena dirinya pikir sang suami sedang tidak enak badan dirumah.
Sesampainya di rumah Sari agak kaget karena motor sang suami tidak ada dan pintu juga di kunci dari luar.
Saat masuk rumah benar saja, di rumah sudah kosong, makanan yang disiapkan juga tidak di sentuh.
"Kenapa pula Abang ni?... Bukannya tadi cakapnya penat, lagipula belum makan juga nya dari tadi malam." gumam Sari. Iya khawatir terhadap suaminya.
"Apa mungkin itu tadi betulan Honda bang Ramdan? tapi kenapa bisa nya makan di restoran mewah?" Sari mulai gusar.
Kepala nya mendadak pusing, belum lagi masalah ponsel yang terkunci tidak seperti sebelumnya, kini timbul hal baru.
.
...🌾🌾🌾🌾🌾...
Sementara seorang pria bermesraan dengan seorang wanita.
"Bang, kapan Abang hendak menceraikan Dia? Jangan-jangan adik hanya Abang jadikan mainan saja." ucap wanita itu cemberut.
"Tak macam tu, kau kan tau sendiri bini Abang tu garangnya macam mana. Biarlah Abang ambil surat rumah Mak nya dulu, baru bisa kita menikahnya." Balas sang pria memujuk si wanita.
"Awas saja kalau Abang berani bohong." Jawab wanita itu.
Setelahnya mereka melanjutkan makan.
"Wira? Siapa pula dia ni? Kenapa kau begitu mesra dengan dia?"
Wira menoleh, dia tersedak lontong nya.
Segera si wanita memberikan gelas berisi air ke Wira.
"Sa.. Sari?!" Wira kaget bukan main.
"Kenapa muka mu terkejut macam tu? Seakan merasa takut ketahuan?!" Sari pura-pura tidak tau. Begitu malas dirinya ikut campur, apalagi mengingat prilaku iparnya selama ini.
"Oh, ini istrinya bos ku, kebetulan lakinya ke kamar mandi." jawabnya gugup.
Sari hanya mengangguk, dirinya berjalan menuju pemilik warung. Tadi ketika tak mendapati sang suami dirumah, Sari memutuskan keluar lagi. Anak-anaknya dititip kan ke saudaranya, dan si saudara memesan lontong langganan tepi laut, oleh karena itu Sari berada di sini sekarang.
Setelah membayar pesanan nya Sari bergegas menjalankan kendaraanya menuju restoran Berlian. Tapi ketika Iya tiba di parkiran, ternyata motor suaminya sudah tidak ada.
Huft!!!!
Sari agak kecewa karena tidak bisa membuktikan apapun. Iya jadi berfikir mungkin saja dirinya salah lihat tadi. Sari pun kembali pulang, sebelum itu Ia mampir ke rumah saudara untuk membawa anak-anaknya.
...*************...
Sampai di rumah ternyata sang suami telah pulang. Sari langsung membawa motornya ke belakang.
"Assalamu'alaikum." ucap Sari.
"Wa'alaikum salam, dari mana dik?" tanya Ramdan.
"Tadi beli lontong bang, sekalian bawa anak jalan sekejap. Abang tadi kemana, kenapa saat Sari tinggal Abang tak ad di rumah?" Tanya balik Sari, Ia memasukkan lontong dalam wadah.
"Tadi keluar kejap, beli rokok." Jawab Ramdan.
"Oh iya bang, tadi malam saat Sari terbangun Sari lihat ada pesan masuk, tapi hp Abang kunci. Ada pesan dari tukang galon." Sari memperhatikan mimik wajah suaminya.
"Abang kemarin pesan air, Abang kesian tengok Sari sudah sibuk ngurus anak dan buat kue lagi, kesian pula bila harus masak air pakai kayu, jadi Abang pesan tapi Abang lupa balas, mungkin karena itu dia mengirim pesan."
Sedikit masuk akal, dan Sari lihat juga wajah sang suami biasa saja. Sari pun mengedikkan bahu acuh.
"Nah bang, di makan dulu lontong nya, tadi malam tak makan kan?, siapa tahu selera pula nanti Abang." Ucap Sari.
Tidak mau membuat Sari tersinggung, Mau tidak mau akhirnya Ramdan memaksakan memakan lontongnya, walaupun sebenarnya Dia sudah kenyang makan di luar.
Sedangkan Sari, dirinya mulai menyusun kue ke dalam box. Selesai semua dirinya menelpon si pembeli.
"Assalamu'alaikum kak, Hallo kak."
........
"Ni kue nya sudah siap. Boleh di jemput sekarang."
.........
"Iyalah jika begitu, Assalamu'alaikum."
Sari kembali menaruh ponsel ke meja.
"Sar, Abang dapat kerja di luar daerah, malam nanti berangkatnya." Tutur Ramdan tiba-tiba.
"Kenapa baru beritahu Sari bang? Mendadak pula pergi nya." Sari berdiri mendekati suaminya.
"Macam manalah, memang semua serba mendadak. Abang baru tadi di telfon sama bos nya. Jadi tolong siapkan baju Abang ya, Abang mandi dulu. Sore nanti jalan-jalan sebentar kita." Ramdan berlalu meninggalkan Sari yang masih bengong.
Sari pun segera menuju kamar dan menyiapkan baju sang suami.
"Tak sedap pula rasa hati ku ni, ada apa gerangan?" Batin Sari.
Ramdan masuk ke kamar dan bersiap-siap.
"Bangunkanlah anak tu, kejap lagi jalan kita."
ucap Ramdan. Sari hanya diam saja dan menuju kamar anak-anaknya.
*****
Pukul empat sore keluarga Sari akhir nya pergi jalan-jalan. Ramdan membawa istri dan anak nya ke taman yang ada mainan anak-anak. Sari dan Ramdan duduk di kursi plastik yang ada meja nya.
Sari melihat anak-anaknya sedang bermain ayunan, tak lupa mengingat sang anak supaya hati-hati.
Dalam diam perasaannya terombang ambing, ada rasa bimbang di hati nya, ntah mengapa hati nya mengatakan jika Ramdan telah berbohong tapi dirinya tidak punya bukti. Lamunan Sari buyar ketika seorang pelayan datang.
"Pesan apa kak?" tanya wanita muda.
"Mie so satu porsi, Bakso dia porsi, cendol satu dan es coklat dua." Jawab Sari.
"Saya mie so dan teh hangat saja." ucap Ramdan sebelum karyawan bertanya.
Karyawan itu mengangguk dan segera pergi.
15 menit kemudian pesanan mereka datang. Betapa riang nya anak-anak Sari hari ini, karena mereka sangat jarang seperti ini.
"Selfi senang betul Mak, yah!, biasanya Selfi selalu tengok di hp kawan-kawan, orang-orang tu jalan-jalan dan makan di taman ini lah. Akhirnya Selfi pun bisa macam kawan-kawan tu. Syukur kita tinggal di kota kan Mak?" tutur Selfi panjang lebar.
"Iya nak, kalau Selfi dan Atika senang, Mak ayah pun senang." Sari tersenyum seraya mengusap kepala kedua anaknya.
Bahagia di rasa Sari karena bisa membawa anaknya jalan-jalan dan makan di luar. Biasanya jalan ke kota hanya mendekati lebaran untuk beli pakaian saja.
Sedang Ramdan, Ia dari tadi hanya memainkan ponselnya.
"Ayo nak di makan!, Bang, sudahlah dulu main hp nya. Kan lagi kumpul keluarga, jarang-jarang kita macam ni." ucap Sari. Agak kesal juga dirinya dengan tingkah sang suami. Makin hari semakin menjadi.
"Iya dik, maaf, bos Abang bertanya bila Abang berangkat." Jawab Ramdan. Sari hanya diam saja dan terus makan, sesekali juga menyuapi si bungsu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments