Ke esokan hari nya.
Hari ini Sari mengajak mertuanya belanja ke pasar. Atika ikut serta, sedangkan Selfi iya tinggal di rumah bermain dengan temannya. Sari tidak khawatir, karena seperti biasanya, beni sedang membuat warung nya, Jadi bisa sambil mengawasi Selfi.
Esok puasa pertama, untuk itu Sari membeli beberapa kebutuhan untuk satu Minggu kedepan dan juga bahan kue.
Sekarang ibu-ibu di sekitar rumah nya, dan ibu-ibu pelanggannya untuk bulan puasa Meraka tidak pusing lagi memikirkan kue yang akan di bawa ke masjid. Sudah jauh hari mereka memesan ke Sari.
Disini, tradisinya setiap ibu-ibu perRT membawa kue. Untuk makanan anak-anak tadarus. Jika untuk ceramah, hanya beberapa kali saja mereka membawa makanan berat. Makanan berat biasa nya di bawa menggunakan rantang, nasi di masuk ke mangkok nasi, dibawahnya piring, bisa 3 atau 4 piring makan. Setelah itu mangkok berisi nasi dan piring di bawah itu, di bungkus menggunakan hijab segiempat yang bersih dan tidak terpakai tentunya.
Akan tetapi, tidak semua warga di wilayah kota Sari tinggal menggunakan seperti itu. Hanya di daerah yang bersuku Jawa saja. kebetulan tetangga Sari ini orang jawa.
“Mak, nanti beli ice cream ya?!’’ pinta Atika.
“Ya nanti Mak belikan.’’ jawab Sari.
Mereka telah di dalam toko siang malam. Untuk membeli bahan kue. Sarimah sudah tau jika menantunya berjualan kue. Dan dirinya juga sudah mengetahui, biaya semua kepindahan mereka dari uang hasil penjualan perhiasannya Sari. Dirinya tidak merespon apapun, karena kini iya belajar memikirkan hal positif terhadap menantu dan yang lainnya.
Dirinya hanya bertanya, tentang jumlah gaji Ramdan. Herannya, Sari malah tidak mengetahui. Dirinya sedikit marah, bukan karena benci, tetapi seharusnya Sari tahu gaji suami nya. dan dengan terpaksa Sari jujur, jika selama bekerja Ramdan belum pernah mengirimnya uang. Sari bilang mungkin saja gaji Ramdan akan di bayar sewaktu akan pulang, tetapi Sarimah tidak percaya.
.
.
Setelah selesai berbelanja, Sari membawa anak dan mertuanya ke toko yang menjual aneka daster. Sari memilih beberapa daster untuknya dan sang mertua.
“Usahlah kau beli lagi untuk ku Sari, di rumah sudah banyak.’’ tolak Sarimah.
“Itukan di rumah Bu, kali ini biar Sari belikan. Selama ni Sari belum pernah beli apapun untuk Ibu. Karena Sari ada duit hasil kerja Sari, baru Sari bisa belikan untuk Ibu. Walau hanya daster saja, semoga Ibu suka ya?!’’ ucap Sari.
Sarimah hanya mengangguk tersenyum. Hatinya menghangat. Bahkan, Yati pun belum pernah melakukan ini terhadapnya.
Setelah membayar belanjaan, mereka keluar toko dan menuju rumah makan sederhana. Karena hari sudah siang.
“Kita bungkus saja ya Bu? Kasian pula bila Selfi makan sendiri. Esok jika bang Ramdan telah balik sini, baru kita makan sama-sama ditaman.’’ ucap Sari tulus.
Dirinya menuju etalase aneka lauk pauk. Dia memilih ayam gulai tiga porsi, sambal , dan sayur acar.
“Sudah, ayo kita balik’’ Sari menaiki Honda nya. Begitu pun Sarimah dan Atika.
“Jadi belanjaan mu tadi semua apa di tinggal?’’ Sarimah ingat aneka sayur, ikan ayam dan bahan kue Sari.
“Tidak.mak, nanti pekerja toko mereka yang akan antar.’’ Sari menjalankan motornya pelan.
“Banyakkah hasil penjualan kue mu Sar, sehingga bisa berbelanja sebanyak ini?’’ bukannya kepo, tapi Sarimah takut karena kehadirannya, Sari jadi menghabiskan uangnya untuk memanjakan dirinya yang datang sekali-kali.
“Alhamdulillah Bu. Lumayanlah untuk memenuhi kebutuhan makan dan keperluan anak sekolah.’’ Jawab Sari.
“Alhamdulillah jika begitu. Jangan pula kau jadi boros karena ingin memanjakan orang tua ini!’’ sergah Sarimah.
Sari tertawa, dia mengerti akan kekhawatiran ibu mertuanya.
“Hari ini bang Ramdan balik Bu.’’ beritahu Sari.
“Iyakah? Tidak sabar aku ingin bertanya kemana uang gajinya selama tiga bulan ini. Tidak tahu, bini nya disini pontang panting jualan kue basah.!’’ Ucap Sarimah agak meninggikan suaranya.
Sari hanya tersenyum. Dirinya bisa melihat sang mertua sudah jauh berubah, tentunya dia bahagia.
“Jangan hanya senyum-senyum Sar!, tak taukah diri mu, aku sangat khawatir dengan lakimu tu. Perasaan ku tidak sedap ni, setelah mendengar dia tidak pernah mengirimmu uang gajinya. Awas saja bila iya macam-macam!’’ pungkasnya.
Sari diam saja. Dirinya juga khawatir setelah melihat kwitansi pembelian perhiasan pas ketika Ramdan beralasan demam, tetapi Sari malah melihat motornya di parkiran hotel berlian. Belum lagi ponsel suaminya tidak bisa di hubungi. Tapi Sari berusaha menyembunyikan kekhawatirannya di depan sang mertua.
...*****...
.
.
Ramdan saat ini sedang mengemudikan mobil milik Dahlia. Dahlia memutuskan ikut dan akan menyewa kontrakan di kota Ramdan tinggal. Dia tidak mau berjauhan dengan sang kekasih.
Mereka berhenti sejenak di rest area. Untuk makan siang.
“Abang, tolong pesankan ayam kecap dan urap Saja.’’ pesan Dahlia ketika Ramdan akan membuka pintu mobil.
“Iya, adik tunggu di dalam saja. Jangan mengikuti Abang. Nanti bisa bahaya, bila ada yang mengenal abang.’’ Ucap Ramdan mewanti-wanti.
“Iyalah! Makanya jangan di simpan!, Segera ceraikan saja dia tu. supaya tak perlu kita sembunyi macam ini.’’
’’HM iya-iya!’’ Dahlia manyun karena tidak di ajak.
Dan benar saja. Di jalan, Ramdan bertemu temannya di kampung.
“Hei Ramdan, iya pulak ya gaya kau sekarang semenjak pindah ni, Kern lah!, kerja dimana kau sekarang. Bagilah can tu.’’ ucap Rian sambil bercanda.
“Biasa saja lah kau ni, aku kerja serabutan saja. Kemarin ada di ajak kerja di luar kecamatan. Bisalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Nanti lah jika ada lowongan kosong, aku bagi tahu kau.’’ jawab Ramdan. Dirinya memandang arah mobil, takut bila sang kekasih menyusulnya.
“Cari apa kau ni.. Tengok sama sini.’’ tanya Rian ikut melihat ke arah pandangan Rian.
“Oh tidak, melihat travel ku. Tadi kata supirnya jangan lama-lama. Kalau gitu aku pergi dulu yan.’’ dirinya buru-buru menuju warung makanan Ampera.
.
.
Setelah memesan makanan, Ramdan kembali ke mobil. Ternyata sang kekasih malah tertidur. Ramdan membenarkan posisi Dahlia, dan menyelimuti sang kekasih.
Tiba di pelabuhan penyebrangan, mereka sedikit terlambat karena feri sudah berangkat. terpaksa mereka menunggu kapal selanjutnya.
“Sudah di pelabuhan rupanya bang. Lelah sekali tubuh ku ini.’’ Dahlia menggeliatkan tubuhnya karena pegal-pegal.
“Kan Abang dah cakap, adik tak usah ikut. Tapi adik nekad ikut pulang ke kota Abang. Padahal Abang hanya tiga hari saja.’’ Ramdan mengelus pipi sang kekasih.
“Nanti jika aku tidak ikut, Abang lupa pula pada ku. Maklumlah namanya lelaki. Bisa sajakan?!’’ ucapnya merajuk.
“Tidak akan Abang seperti itu, Abang pulang supaya Sari tidak curiga saja dan rindu anak-anak. tak mungkin Dahlia tak bagi Abang rindu ke anak-anak.?’' Jelas Ramdan memujuk sang kekasih.
...*****...
Sarimah sedang membereskan baju Ramdan yang sudah tidak terpakai. Tidak sengaja tangan nya memegang dompet lusuh Ramdan. Seperti nya, ketika pindah Sari tidak teliti memasukkan pakaian Ramdan, sehingga dompet lama ini terbawa.
Sarimah membuka dompet itu, dan......
“Kenapa foto ini ada di sini!? Jangan macam-macam kau Ramdan!’’ gumamnya pelan.
“Ada apa Bu?’’ tanya Sari di belakang Sarimah.
Tentu saja orang tua ini kaget, segera saja foto itu segera iya simpan di saku dasternya.
“Oh tidak, ini ibu jumpa dompet Ramdan yang lama. Sudah buruk begini, kenapa masih kau simpan Sari?’’ Sarimah beranjak dari duduk.
“Kemarin bang Ramdan yang mengemas barang-barang nya Mak. Sari hanya memasukkan nya sedikit.
Sarimah beroh-ria saja. Kini dirinya mengerti, Ramdan sengaja menyimpan foto itu. Sarimah sangat kenal wanita yang ada di foto tersebut. Bagaimana mungkin dirinya lupa, dengan wanita yang di gilai anaknya ketika remaja dan mereka mendapat hinaan dari orang tua wanita itu.
Sari telah keluar kamar. Tinggal Sarimah yang masih berdiri diam.
“Awas saja kau Ramdan, jika macam-macam’' batin Sarimah khawatir.
.
.
.
Lanjut?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments