Tiga

5 hari telah berlalu

"Sari, kalau Ramdan kedai nanti tolong kau suruh dia beli Racun ya!, aku nak cari orang untuk mengait pinang dulu." ucap Sarimah. Ia sedang menyiapkan arit untuk mengambil pinang.

"Yalah bu, ibu hati-hati. Selepas ini pun Sari mau antar Selfi undangan ulang tahun kawannya." balas sari

"Ha kalau gitu biarlah ibu saja yang nemankan Selfi, kau pergilah ke rumah Rahmah, bilang saja, aku suruh dia mengait pinang!." Ucapnya lagi.

Tanpa menunggu jawaban sang menantu, dirinya beranjak menuju kamar, untuk ganti pakaian.

Sari hanya menghembuskan nafas. Padahal dengan menemani sang anak, ia bisa ngumpul bersama ibu-ibu sekitarnya, sekalian jalan-jalan. Tapi apalah daya, menolak juga tidak mungkin.

Teringat ketika Ia masih single, dirinya bebas kemana pun bersama teman-temannya. Hangout, setiap sore jalan-jalan. Bukan dirinya menyesali menikah, hanya saja terkadang setelah kegiatan di rumah sebagai wanita, ia juga ingin bersosialisasi dan jalan-jalan alakadarnya sebagai pengobat rasa lelah setelah seharian kerja di rumah.

Lamunan Sari buyar ketika suara sang mertua menggelegar.

"Hm, baru saja aku hendak jadi mertua lemah lembut, tapi dirimu nampak nya sengaja memancing emosi ku. Tengok ni, bukannya tadi ku suruh kau ke rumah Rahmah, rupanya duduk santai pula dia ini!." Ucap Sarimah emosi.

"Maaf Bu, Sari lupa." jawab Sari.

Ia segera beranjak menuju kamar menemui sang anak. Terlalu malas dirinya selalu beradu mulut dengan sang mertua. Jika saja Sarimah seumuran Sari, ingin sekali Ia meremas mulut sang mertua, tapi ia masih sopan. Karna tidak baik baginya melawan orang tua.

"Selfi udah siap nak?." Sari bertanya pada anak nya.

"Udah Mak, yuk!." Ajak Selfi menggandeng tangan ibunya.

"Maaf ya nak, kali ini Mak tak bisa ikut, Selfi pergi sama Mak wa dulu ya?!, Mak ada pekerjaan sedikit, adik sama mamak saja." ujar Sari hati-hati.

"Ok!, tak apalah, lagian rumah Ina juga dekat ini." jawab Selfi antusias.

Dia memang suka jika ada pesta ulang tahun seperti ini. Karena keluarga mereka tidak pernah bikin pesta, hanya makan-makan sekeluarga saja.

"Iya, disana jangan nakal ya, dengar cakap Mak wa." pesan Sari. Agak ketar-ketir juga Sari takut anaknya menolak untuk pergi bersama neneknya.

"Iya Mak, Selfi janji." ujar Selfi sambil memberi jari kelingkingnya sebagai tanda janji.

Setelah melihat sang anak pergi, Sari membawa si bungsu ke rumah tetangga nya untuk dimintai tolong.

"Assalamu'alaikum..." Sari mengetuk pintu.

"Wa'alaikum salam, siapa? Maaf lagi cuci piring di belakang, Masuk saja". Jawab seseorang berteriak terdengar sayup-sayup.

Sari langsung berjalan menuju arah dapur rumah tetangga nya. Ia juga sudah biasa, karena Rahmah sangat baik pada nya.

"Oalah, cuci piring rupa nya kak, Sari kira cuci baju, biasa nya kan sepulang anak kakak sekolah, akak langsung mencuci pakaian mereka." Ucap Sari. Sedikit banyak Ia tau kebiasaan tetangganya ini.

"Taklah Sar, Besok hari minggu, jadi besok saja kakak nyuci sekalian. Ha ada apa gerangan kau kerumah siang begini?." Tanya Rahmah. Karena biasanya Sari jalan kerumahnya saat sore.

"Ibu minta tolong akak ambil pinang." jawab sari.

"Oh iya, lupa pula kakak ni. Kamarin memang ada mertua kau bilang, untung saja kau ingatkan kakak" Rahmah membuka kulkas dan mengeluarkan cemilan dan ice cream dan di berikan ke anak bungsu Sari.

"Mana kakak nya? Tumben tidak ikut." Ucap nya lagi.

"Selfi pergi undangan pesta ulang tahun Ina kak." jawab Sari seraya membuka tutup ice cream.

"Oh... Pantesan sibuk ku tengok rumah Badriah, Ulang tahun Ina rupa nya. Oh iya Sar, apa nggak mau kau pindah saja?." Tanya Rahmah. Dia kasihan melihat tetangga nya ini.

"Sebetulnya ingin kali aku tu kak, Ada juga rencananya mengajak Abang tinggal di kota saja, tapi belum sempat untuk ngobrol." Balas Sari.

"Baguslah kalau begitu, kesian kali ku tengok kau di perlakukan buruk oleh mereka. Tapi, jika pindah jadi jauh pula kita." Ucap Rahmah agak sedih juga.

"Ah kakak ni, belum tau nya Sari pindah, kan baru rencana. Kalau memang benar nanti kan bisa sekali-kali Sari pulang atau kakak yang main ke kota." Timpal Sari.

Ya, Sari memang berniat untuk pindah ke kota. Soal rumah dia tidak khawatir, kebetulan saat SMA dulu orang tua nya membelikan rumah kecil untuk Sari, supaya dirinya tidak jauh pergi sekolah. Di kampung pun mereka tidak punya pekerjaan tetap, Sari ingin mencoba mengais rezeki di kota.

Setelah tidak ada lagi yang di bicarakan Sari pamit pulang, baru saja kaki nya melangkah..

"Oh iya Sar!, Besok bisa tidak kau temankan kakak cari rame-rame(makohe)?." Ajak Rahmah. Ia ahli dalam mencari makohe.

"Besok?, Insyaallah ya kak, Besokkan Minggu, Selfi juga libur, bisa menjaga adiknya. jika Abang tidak nyadap getah, besok bisa kita pergi. Sudah lama juga Sari tak makan rame-rame." jawab Sari.

"Ya sudah, Wa saja nanti."

"Iya kak."

Sari pulang menggendong si bungsu.

Rumah Rahmah tidak jauh dari kediaman sari, hanya berjarak tiga rumah. Saat akan tiba di rumah sebuah suara menghentikan langkah kaki Sari.

"Pantas saja Mak ku selalu sakit kepala, begini rupanya kerjaan menantu nya, hanya jalan-jalan, sedangkan Mak ku disuruhnya jadi baby sitter." Ucap Yati. Ia tersenyum miring.

Sedangkan Sari hanya diam, tidak kuasa menanggapi ucapan yang menurutnya tidak penting. Ia kembali melangkahkan kakinya. Yati yang tidak di ladeni ucapannya makin emosi hatinya.

"Hei wanita kurang ajar, dasar murah*n, tidak tahu malu!, sudah tidak di terima keluargaku masih saja kau menikahi Abang ku." maki sari berapi-api. Dia sengaja mencari gara-gara.

Sari mengepalkan tangannya, jika saja dirinya yang dulu tentu sudah di tabok mulut adik ipar nya ini. Lagipula ada si bungsu. Dirinya hanya menghela nafas supaya di beri ketenangan sebelum berucap.

"Hufffft.. Wahai adik ipar ku, bukan aku yang murahan tapi abangmu yang mengejar ku. Diriku ini mahal, cantik, putih dan serba bisa, siapa pula yang tidak tergila-gila. Itukan penyebab iri dan dengkimu tu?!." Balas Sari menekan setiap katanya.

Skakmat!

Yati terdiam, tidak mampu menangkis ucapan Kak iparnya. Memang benar, ia iri dengan sang ipar, selain karena sari cantik dan serba bisa, dulu Yati satu sekolah dengan Sari, tetapi dia 2 tingkat di bawah Sari. Dia menyukai seorang pria ,tetapi si pria malah menyukai Sari. Semenjak saat itu Yati membenci Sari, apalagi sang musuh malah menjadi iparnya, makin menyala dirinya.

.

.

.

jangan lupa like, subscribe dan komentar🤗

Terpopuler

Comments

kalea rizuky

kalea rizuky

bca ne cerita jd inget drakor skg yg lagi boming iu sama par bogum/Curse/

2025-03-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!