Setelah ngobrol panjang malam itu dan Ramdan pun telah setuju, Sebulan kemudian rencana Sari untuk pindah ke kota akhirnya terlaksana. Yang paling tidak setuju disini ialah Sarimah dan Yati. Selama ini pekerjaan rumah pun jadi ringan semenjak Sari menjadi menantunya, pekerjaan Sarimah hanya nyadap karet saja, itupun hanya sesekali saja. Yati pun demikian, Ia jarang masak, karena setiap hari nya ia datang ke rumah ibunya untuk meminta sayur dan lauk.
Di gazebo terlihat Ibu dan anak ngobrol serius.
"Macam mana pula ini Mak, kenapa Abang jadi setuju untuk pindah ke kota? Kenapa pula Mak tak melarang nya?!" Ucap Yati. Ia menggaruk kesal kepalanya.
"Kau macam tak tau pula Abang mu tu, Dia itu mudah saja di setir bini nya. Sudah berbuihnya mulut ku ini memujuknya supaya tidak menuruti kata bini nya, malah di tinggal pergi aku ini." Ujar Sarimah kesal.
"Apalah Mak ni, biasa nya mau nya Abang tu ngikut cakap Mak, ku rasa kurang usahanya Mak ni." Balas Yati lagi.
"Ahhhhh!!, tutuplah muncung mu tu, pening pula tambah kepala ku ini. Macam mana nantinya aku mengatur pekerjaan rumah dan lainnya. Aduh-aduh!." Sarimah memijit keningnya.
Dirinya mulai pusing, khawatir tentang ke uangan, pekerjaan rumah dan yang lainnya. Biasa nya sehabis pulang dari nyadap karet, dirinya langsung santai-santai dan jalan-jalan saja, dan kali ini sepertinya Ia harus bekerja lima kali lipat.
"Kalau begitu, tinggal di sini sajalah kau Yati, temani Mak malam-malam. Lagipula kan lakimu tidak juga nya ada dirumah." Ucap Sarimah, tiba-tiba teringat akan suami Yati yang pulang seminggu sekali, karena bekerja membawa alat berat.
"Eh tak maulah Mak, Yati kan sudah berkeluarga, punya rumah sendiri pula. Walaupun bang Wira jarang pulang, tak baik pula di tengok orang, masa menumpang makan dirumah Mak." Yati memberi alasan. Padahal Ia mengelak karena tidak mau mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti Sari.
"Biasa juga kau bawa kresek untuk minta makanan, sudahlah Yati kesian mamakmu tu tidur sendiri malam-malam." Rahmah datang jadi kompor.
"Ku tengok kau ni lama-lama menjadi-jadi ya Rahmah, ada saja dirimu ikut campur urusan keluarga kami!" Sergah Yati kesal.
"Sudahlah! Kenapa pula kalian nambah pening kepalaku ni, dan kau Yati, benar juga cakap Rahmah tu, apa salahnya menemani ku malam-malam."
"Ck, Mak ni. Ya sudah besok-besok ku temankan. Hanya nemankan saja!" Sari beranjak dan pulang ke rumah nya dengan hati kesal.
.
.
🌾🌾🌾🌾🌾
Di kota.
Sari sedang berbelanja di Mini market bersama Ramdan, tetapi Ramdan tidak ikut masuk. Sedangkan anaknya, di titipkan ke orang tua Sari. Orang tua nya kembali datang setelah mendengar sang anak jadi untuk pindah.
Setelah masuk, Sari mengambil keranjang belanja dan mulai mencari keperluan rumah, dari bahan makanan juga persabunan. Setelah penuh, ia menitipkan di sekitar kasir dan Ia naik ke lantai dua guna mencari peralatan masak dan peralatan makan. Di kampung Ia juga ada beberapa membeli peralatan masak, tapi sengaja tidak ia bawa.
Selesai belanja dan membayar, Sari berjalan keluar, tanpa sengaja Ia menabrak seorang perempuan.
"Eh maaf mbak!." ucap wanita itu.
"Tak apa-apa, saya juga salah." jawab Sari tersenyum. Sari pun segera menuju sang suami dan mereka meninggalkan mini market. Sedangkan perempuan tadi terus melihat hingga kendaraan Sari menjauh.
*****
"Bang, berhenti dulu di Toko siang malam itu ya!" pinta Sari.
"Hendak beli apa dik?" tanya Ramdan, Dirinya mengehentikan motornya.
"Ada beberapa keperluan untuk membuat kue." jawab Sari.
Sari memutuskan untuk mencoba menjual kue, rencana nya Ia juga akan membuka warung kecil khusus kue-kue. Tapi untuk sementara ini, Dirinya hanya menjual lewat Online saja sebelum warungnya di bangun.
Sedangkan Ramdan, Dirinya telah membeli gerobak. Nantinya ia akan membawa tanah, batu-bata, pasir dan lainnya sesuai permintaan. Uang hasil menjual perhiasan Sari lumayan banyak, sehingga bisa untuk modal Sari dan Ramdan.
Sepeninggal Sari ke Toko bahan kue, Ramdan mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan memainkan ponselnya sambil sesekali tersenyum.
Selesai berbelanja bahan keperluan rumah dan membeli oleh-oleh untuk kedua buah hatinya, Sari mengajak Ramdan pulang. Setelah sampai rumahnya, Sari disambut anak-anaknya.
"Tau aja anak-anak Mak ni, Mak bawa jajan." Ujar Sari, Ia mengeluarkan aneka jajanan, dan juga 2 boneka untuk kedua anaknya.
"Ye ye, akhirnya bisa juga Selfi punya boneka labubu ni Wan, dah lama Selfi mau nya." Ucap selfi terlonjak senang.
"Kenapa tak cakap Wan, kalau Selfi mau boneka tu? Tau gitu lama dah WAN belikan." Jawab Ibu Sari.
"Kata Mak tak baik menyusahkan Wan dan Atuk, tapi Sekarang dah punya pun Selfi boneka nya." Ujar Selfi sangat girang.
Sari tersenyum senang melihat kebahagiaan anak-anaknya, padahal hanya barang sederhana tapi anaknya bukan main girang.
"Alhamdulillah kalau anak-anak Mak senang. Kalau gitu, Selfi harus makin rajin belajar dan mengajinya ya nak!" Ucap Sari lembut.
"Yalah Mak, Selfi janji!". Jawab Selfi. Selfi mengajak sang adik memainkan boneka nya di kamar.
"Mana Ramdan tadi Sar?" tanya ibu Sari.
"Ntah Mak, tak nampak pula Sari. Mungkin keluar sekejap beli rokok."
Ibi Sari mengangguk saja, tangan nya sibuk mengeluarkan dan menata bahan kue ke dalam almari kecil. Sari memang tidak perlu membeli barang-barang besar seperti almari dapur, almari pakaian dan kompor gas dan tv lagi, karena di rumah ini sudah lengkap sewaktu Iya bersekolah dulu. paling nanti nya, hanya akan membeli almari plastik untuk kedua anak nya dan merenovasi kamar mandi.
Setelah barang belanjaan selesai di tata, Sari dan Ibunya gantian bebersih dan menyiapkan makan malam. Malam ini Sari hanya masak ayam goreng tepung dan sambal terasi serta lalapan saja, karena lebih praktis dan karena lelah juga. Setelah makanan dihidangkan merekapun mulai makan.
"Kapan rencana nya berjualan nak?" tanya ayah Sari di sela makan malam mereka.
"Rencananya lusa Pak, tadi lupa Sari membeli box kue." Jawab Sari.
"Oh begitu, rencana nya besok Bapak dan Mak nak balik lah lagi, kebun dan ternak disana sudah lama di tinggalnya, walaupun kemarin di titip ke tetangga, tapi tak enak pula lah kan." Ujar Ibu sari menimpali.
"Alah cepat betullah balik nya, bakalan kesepian lagi kami nanti ni, tapi iya juga cakap Mak Bapak tu, tak sedap pula ninggalkan kebun dan ternak lama-lama." Ucap Sari agak sedih dirinya mendengar orang tua akan pulang. Yang jelas pasti masih lama akan ke rumahnya lagi. Sementara Ramdan hanya diam dan makan, sesekali saja menimpali jika di tanya.
Selesai makan malam, Ayah dan Ramdan ngobrol di teras. Sari datang membawa minuman kopi teh serta cemilan singkong rebus dan goreng. Setelahnya Sari, Ibunya beserta anak-anak langsung istirahat.
Visual Rumah sederhana Sari
.
.
.
Hallo🤗
Semoga masih betah membaca karya sederhana ku.
Jangan lupa like, subscribe dan komentar nya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments