Amnesia

Monitor ICU memperlihatkan bahwa tanda vital Grey semakin lama semakin memburuk, itu karena ia terlalu lama berada di keadaan bawah sadarnya.

"Dok, kenapa begini? Dokter bilang anak saya bakalan sembuh," isak Aresa yang sudah hampir pingsan ditahan oleh Haga.

"Kami sudah melakukan yang terbaik, kita hanya menunggu keajaiban dari Tuhan," ucap sang dokter sebelum pergi.

Aresa memandang Grey dengan mata yang penuh air mata. "Greyna, sayang... hei, bangun, nak! Ini Bunda. Bangun, sayang... Bunda kangen sama kamu, Bunda kangen ngomel sama kamu, Bunda..."

Aresa jatuh tidak sadarkan diri, Haga meringis "Astaga!" ia menggaruk kepalanya sambil berlari pergi menuju kedokter.

Tian melihat sekeliling seperti hendak mencuri, ia tidak menemukan kehadiran Aresa, Haga, maupun Hanne. Dengan sigap ia masuk ke dalam ruang ICU.

Ia meringis melihat keadaan Grey yang terbilang sangat memprihatinkan. Wajahnya penuh lebam, kaki kirinya yang di-gips juga wajahnya yang memucat. Tian mengusap rambut Grey dengan air mata menetes. Ia membelai wajah dingin Grey.

"Hei, kamu betah banget ya tinggal disana. Ayo kembali, saya disini. Sayang, bangun. Jujur saja, saya tidak bisa... bercerai dengan kamu. Andai waktu itu saya tidak menandatangani surat perceraian itu, mungkin sampai sekarang kamu masih sibuk keliaran bikin saya marah. Maafin saya," kata Tian dengan suara yang bergetar.

Tian mengenggam tangan Grey dengan lembut, berharap dirinya akan segera sadar. Ia memandang wajah Grey dengan mata yang penuh harapan. "Bangun, sayang. Saya tidak bisa kehilangan kamu lagi."

Tian merasakan ada sesuatu yang bergerak dalam dadanya. Ia merasakan cinta yang masih ada di dalam hatinya untuk Grey. Ia sadar bahwa ia tidak bisa meninggalkan Grey, tidak bisa kehilangan dia lagi.

Tianlah yang duluan mendengar kecelakaan itu, tetapi dirinya paling terakhir datang menemui Grey. Ia merasa malu, ia tidak bisa memunculkan batang hidungnya di depan Aresa, yaitu mantan mertuanya.

"Saya janji kalo kamu sadar, saya... saya bakalan menjaga kamu dengan ketat dan saya akan melindungi kamu dari segala hal agar tidak terjadi hal seperti ini lagi. I love..."

"Bener-bener kacau, Mama pingsan, Penyakit omah kambuh, Kak Grey belum sadar-sadar," Haga duduk di depan ruang ICU bersandar di kursi besi memejamkan matanya.

Tian yang berjongkok, perlahan berdiri melihat Haga, ia menyempatkan diri untuk mengecup kening Grey sebelum kabur dari ruangan itu agar tidak ketahuan.

Tian merasa lega setelah melakukan itu, ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia berharap bahwa Grey akan segera sadar dan ia bisa menjaga dan melindunginya seperti yang ia janjikan.

Kini Tian berada di lampu merah, melihat para pejalan kaki menyebrang jalan. Ia melihat seorang wanita mengendong bayinya dan satu lagi memegang tangannya. Sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.

Tian merasa hatinya terenyuh melihat pemandangan itu. Ia tidak bisa tidak memikirkan tentang apa yang bisa terjadi jika ia dan Grey masih bersama. Mungkin sekarang ia sudah menjadi seorang calon ayah yang bahagia.

Tian menghela napas dalam-dalam, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu dari kepala. Ia tahu bahwa ia tidak bisa mengubah masa lalu, tapi ia bisa mencoba memperbaiki masa depan.

"Ia masih ada di sana," kata Tian kepada dirinya sendiri, memikirkan tentang Grey yang masih terbaring di rumah sakit. "Aku masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan ku."

......................

"Waktu ku kecil, aku gak tau yang mungil mungil. Ku sentil sentil ku kira pentil, Gak taunya pensil~~~" nyanyi Kiera menjadikan handphonenya sebagai mikrofon.

"Waktu ku tolol. Aku gak tau yang nongol nongol, ku senggol senggol ku kira botol Tak taunya pestol~~" sambung Alka menggoyangkan pantatnya.

"Tembak tembak dor dor dor dor Tembak tembak~" "Tembak tembak dor dor dor dor Tembak tembak~" Keduanya kini duet sambil joget ala biduan sedangkan Erland dan Gio duduk menonton keduanya.

"Bakat yang harus dipendam," ucap Gio ke Erland dengan nada yang berlebihan.

"Cukup kita aja yang denger, kasian telinga orang," tambah Erland sambil tertawa.

Kiera dan Alka tidak peduli dengan komentar kedua pacar mereka. mereka terus bernyanyi dan menari dengan gembira. Mereka seperti tidak memiliki masalah di dunia, hanya ingin menikmati waktu bersama pacarnya.

Tiba-tiba, Gio berdiri dan mengambil handphone Kiera. "gue bakalan rekam ini, sebagai bukti bahwa kalian berdua punya bakat yang... unik," katanya sambil tersenyum.

Alka dan Kiera menatap Grey yang duduk di ujung bersama Fajar tanpa bergeming sedikitpun. "Ah, seriusan, abis kecelakaan, amnesia pula. Greyna, karma apa yang lo dapet?" ucap Fajar yang duduk di samping Grey.

Tatapan kosong tanpa tujuan itulah yang terlukis di mata Grey, setelah sadar tingkahnya 3.600 derajat. Ia seperti orang yang telah kehilangan identitasnya sendiri.

"Grey," panggil Erland, Grey menoleh tanpa menjawab, menatap Erland dengan mata yang kosong.

Alka dan Kiera merasa sedih melihat Grey seperti itu. Ia tidak mengenali temannya yang dulu selalu ceria dan bersemangat.

"Grey, kamu tidak mengingat apa-apapun? Kita sering nyanyi bareng disini, dikamar ini," kata Kiera dengan nada yang sedih.

Grey tidak menjawab, ia hanya menatap Kiera dengan mata yang kosong. Ia seperti orang yang telah kehilangan identitasnya sendiri.

"Ah, udah, Ka. Gue cape," ucap Kiera, duduk di sofa diikuti Alka. "Gue juga cape," tambahnya.

Sudah seminggu sejak Grey pulang dari rumah sakit, sejak itu pula rumah Aresa yang dulunya ramai akibat Grey yang suka keluyuran kini menjadi sepi. Grey lebih suka menyendiri, menatap langit dengan tatapan kosong.

Rumah yang dulunya penuh dengan tawa dan musik kini menjadi sunyi. Aresa yang dulunya selalu sibuk mengurus Grey kini menjadi bingung, tidak tahu bagaimana caranya untuk membantu Grey sembuh.

Haga mengetuk kamar, ia membuka pintu melihat teman-teman Grey yang lelah. "Kak, nih gue bawa cemilan sama minuman," ucap Haga meletakkan napan berisi makanan.

Sesekali ia menatap Grey yang terlihat murung. "Udah inget sesuatu?" Tanya Haga. Mereka menggeleng, bahkan untuk berbicara pun Grey enggan mengucapkan sepatah kata.

"Yaudah, gue tinggal ya, Kak," ucap Haga pergi.

Setelah kecelakaan, Hanne dan Haga memutuskan untuk tinggal di rumah Aresa hingga Grey sembuh, yang entah kapan itu terjadi. Aresa kini duduk di kursi meja makan, ia memijat pelipisnya.

"Bun, sakit kepala lagi?" Kata Haga yang baru saja turun dari tangga.

"Uhm, sayang, kamu udah anter makanannya?" Haga mengangguk.

"Ayo, aku bantu Bunda ke kamar," ucap Haga memegang lengan Aresa. "Omahmu belum pulang?"

"Belum, Bunda enggak usah khawatir, ada bodyguard yang jagain omah," kata Haga.

Aresa mengangguk, ia merasa lega karena Haga dan Hanne ada di sampingnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Grey, tapi ia yakin bahwa dengan bantuan mereka semua, Grey akan sembuh dan kembali seperti semula.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!