Malam hari Zena membanting tubuhnya ke sofa setelah berjalan mengelilingi mall setengah hari. "Baru pulang, ma?" tanya Tian yang turun dengan handuk kecil dikepalinya.
"Baru tau kamu," sindir Zena menatap jengkel. "Kamu ambil gih barang-barang di mobil, besok bagi-bagiin ke pelayan."
Tian ikut duduk di sebelah Zena. "Mama abis belanja apa?"
Zena menghela napas. "Itu mantan pacar kamu traktir Mama, beli baju, tas, high heels, lipstik."
Tian terkejut. "Siapa?"
Zena menatap Tian dengan kesal. "Memang kamu punya mantan berapa sih?"
Tian tersenyum. "Dua sih."
Zena menggelengkan kepala. "Mantan pacar kamu tuh..."
Tian mendelik. "Ooo, Jenny!"
Tian menatap Zena dengan serius. "Iya, Jenny. Dia yang traktir Mama belanja hari ini."
Tian terkejut. "Apa maksudnya? Apa Jenny punya niat lain..."
Zena mengangguk. "Iya, Jenny ingin kamu dan dia... kamu tahu, jadian lagi."
Tian terkejut. "Apa? Enggak mungkin! Mama, enggak serius kan?"
"Mama bilang apa sama dia?" tanya Tian penasaran.
"Enggak, Mama jawab," kata Zena dengan santai. "Sebelum kamu kasih pelayan foto dulu barangnya, biar nanti kalo dia tagih, Mama balikin semuanya."
Zena bangkit dari sofa, meregangkan tubuhnya. "Aduh, lelahhhnya."
Tian menatap Zena ke tangga untuk kamar. "Oh, satu lagi, kamu itu niat bikin bangkrut perusahaan ya, dikit-dikit dipecat mulu."
Tian menatap Zena dengan kesal. "Mama enggak bisa memahami keadaan perusahaan. Karena enggak tahu apa yang terjadi di balik layar."
Zena mengangguk. "Mama hanya ingin membantu. Tapi, Mama enggak ngerti kenapa kamu harus memecat begitu banyak karyawan."
Tian menghela napas. "Aku enggak punya pilihan lain. Perusahaan sedang mengalami kesulitan keuangan. Saya harus membuat keputusan yang sulit untuk menyelamatkan perusahaan."
Zena menatap Tian dengan mata yang tajam.
"Serius Mama tidak percaya. Mama tahu kamu punya alasan lain untuk memecat karyawan-karyawan itu."
"Itu karena kinerja mereka yang buruk, juga kurang berusaha," kata Tian, Zena memutar bola matanya.
Zena menatap Tian dengan mata yang tajam. "Mama tahu kamu mencari kesalahan mereka satu persatu agar bisa memecatnya, bukan?"
Tian menggelengkan kepala. "Enggak seperti itu."
Zena tersenyum sinis. "Jujur saja, kau sangat membenci orang jorok. Bahkan saat melihat sedikit ujung kukunya hitam saja, langsung menjauh karena jijik."
Tian menatap Zena dengan kesal. "Mama harus ngerti aku cuma menjaga kebersihan dan kenyamanan di tempat kerja."
Zena mengangguk."Mama tahu. Tapi, Mama juga tahu bahwa kamu memiliki standar yang sangat tinggi tentang kebersihan dan kenyamanan. Dan kamu tidak ragu-ragu untuk memecat orang yang tidak memenuhi standar tersebut."
"AH TERSERAHMU, hanya....jika perusahaan bangkrut jangan berlutut dikaki ku, oke" ucap Zena dengan senyum sinis. "Karena jika itu terjadi, aku tidak akan menyelamatkanmu, Tian. Aku akan membiarkanmu tenggelam dalam kegagalanmu sendiri."
Tian menatap Zena dengan mata yang terkejut dan sedikit takut. Ia tahu bahwa Zena tidak akan membiarkannya gagal, tapi ia juga tahu bahwa Zena tidak akan ragu-ragu untuk membiarkannya jatuh jika ia tidak memenuhi harapannya.
Lagipula bangkrut satu tidak membuat Zena miskin, paling hanya Tian yang miskin, hahaha.
"Tolong kurang-kurangi sifat emosionalmu dan bersikap lembutlah mereka karyawan yang mengabdi di perusahaan, bekerja siang malam agar bisa menghidupi dirinya, orang tuanya, dan juga keluarganya. Kau jangan terlalu kejam, berhenti bersifat kejam, dan fokuslah untuk membuka cabang baru," omel Zena dengan nada yang tegas tapi juga penuh harapan.
"Tian, aku ingin kamu menjadi seorang pemimpin yang bijak dan adil, bukan seorang tiran yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Kamu harus belajar untuk menghargai dan menghormati orang-orang yang bekerja untukmu," tambah Zena dengan mata yang tajam menatap Tian.
"Mama menjadikanmu pemimpin bukan untuk bermalas-malasan, tetapi menjadi pemimpin seperti ayahmu yang bijak," kata Zena dengan suara yang tegas tapi juga penuh harapan. "Jika kau ingin berhenti menjadi CEO dan ingin memulai dari nol, Mama izinkan. Tapi, kamu harus ingat bahwa keputusan itu akan memiliki konsekuensi yang besar, tidak hanya untukmu, tapi juga untuk perusahaan dan orang-orang yang bekerja di dalamnya."
Zena memilih pergi, meninggalkan Tian yang merenung di sofa. "Perasaan gue udah jadi bos yang baik, enggak ada yang lembur, gaji aman, marah juga jarang," kata Tian dengan nada yang sedikit mempertanyakan dirinya sendiri.
Memang tidak lembur, tetapi Tian tanpa sadar selalu menelepon mereka di malam hari untuk meminta mereka mengerjakan laporan.
Tian menghela napas, merasa bahwa dia masih memiliki banyak hal yang harus dipelajari tentang menjadi seorang pemimpin yang baik. "Mungkin Mama benar, gue masih perlu belajar banyak hal," kata Tian dengan nada yang sedikit menyesal.
Zena yang sudah bersiap tidur melihat Tian keluar dari rumah dengan pakaian olahraga. "Ahh, lihat semenjak bercerai tingkahnya semakin ada-ada saja, orang macam apa yang lari di jam 11 malam?" kata Zena dengan nada yang sedikit khawatir dan bingung.
Zena hanya bisa berdoa memohon perlindungan agar putranya tetap waras. "Ya, Tuhan, tolonglah Tian, jangan biarkan dia terjebak dalam keputusan yang salah," doa Zena dengan mata yang tertutup.
"GREYNAA!!" "GREYNA!!!" "STELLA!!" "STELLA!!" mereka saling bersorak mendukung masing-masing pembalap.
"Kok remnya enggak berfungsi?" batin Grey saat menarik rem, merasa panik dan khawatir.
"GREYNA!!!" "GREYNA!!" Mereka terus berteriak melihat keduanya yang sejajar dan berusaha saling mendahului.
Saat berada di turunan dengan tikungan tajam, Grey tidak bisa mengendalikan motornya sehingga ia pun masuk jurang. "Ahhh!" teriak Grey saat motornya terjatuh, untungnya dirinya sempat melompat walaupun itu tidak membuatnya terhindar dari cedera.
Penonton yang menonton balapan itu terkejut dan berteriak ketakutan melihat kecelakaan yang terjadi. "Woi panggil Ambulans cepattttt!!!" Mereka semua panik dan pergi menghampiri Greyna, yang tergeletak di tanah dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
Stella berdiri di sana, memandang jurang dimana ada kobaran api dari motor milik Greyna. "Oh, Tuhan... tidak... tidak bisa terjadi..." kata Stella dengan suara yang terguncang, merasa takut dan khawatir dan menghampiri kerumunan
Kin berlari menghampiri Greyna, dengan wajah yang penuh kekhawatiran. "Greyna! Greyna! Bangun! Tolong bangun!" teriak Kin, mencoba untuk membangunkan Greyna yang tidak bergerak.
Sementara itu, api dari motor Greyna semakin besar, membuat situasi semakin genting dan membutuhkan pertolongan secepatnya. "Tolong, cepat! Ambulans harus segera datang!" teriak Kin merasa semakin panik.
Greyna, yang masih tergeletak di tanah, membuka matanya sedikit dan melihat Kin yang berlutut di sampingnya. "Ki....n...a" kata Greyna dengan suara yang lemah, sebelum kepalanya jatuh kembali ke tanah.
maaff jika ceritanya bertele-tele -author
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments