Pelukan Kegelapan

"Apakah tampangku masih enak dipandang? Bagaimana dengan rahangku, hidungku?"

"Aman, semua masih ditempatnya, hanya ada sedikit lebam beberapa hari lagi juga sembuh."

"Aku benar-benar lega."

Sebenarnya bukan itu yang ingin kubahas, walau telah berulang kali aku mengatakan itu pada Qiu Yue yang penyabar dan mau saja meladeniku. Aku merasa lebih normal jika terus meracau ketimbang tenggelam dalam perenungan.

Qiu Yue pasti mengartikan lain lagi, dia pasti mengira aku benar-benar terpukul atas sedikit perubahan yang menimpa wajahku. Dia tahu aku sering menyebut-nyebut wajah adalah salah satu aset berhargaku.

Tampang rupawan akan membuat orang terkesan, wajah buruk sekalipun orang akan mengingatnya, tapi dua hal itu bisa dengan mudah dilupakan. Namun memberikan seseorang kesan secara mendalam akan terpatri dalam ingatan mereka terutama kesan baik. Lain hal jika itu kesan buruk, orang akan ingin cepat melupakannya dan aku khawatir telah membuat kesan buruk pada Niken.

Saat kembali ke Gilda, kami disambut seperti pahlawan yang pulang dari medan perang. Mereka menghampiri kami dengan kecemasan masih terbayang di wajah-wajah itu.

Aku mengobrol sedikit dengan Phoenix, tapi Niken bahkan sebentar saja tidak melirik anggota yang ada disana, anak itu langsung pergi ke belakang.

"Apa ada masalah dengannya?" tanya Phoenix.

"Tidak apa-apa, dalam waktu yang berdekatan anak itu telah banyak mengalami hal sulit, tolong jangan sampai ada yang mengganggunya."

Sepertinya pesan itu juga berlaku untuk diriku. Tidak ada alasan bagiku menemuinya. Walau semua anggota pernah berguyon bahwa akulah satu-satunya orang yang bisa menghadapi Niken. Justru karena akulah dia bersikap seperti itu saat ini.

Setelah pertarungan berakhir dia terkesan menjauhiku, bahkan dia berjalan di sisi Erlang. Apakah karena Niken telah melihat api amarahku membara pada saat itu? Niken senang melihatku berkelahi, namun ketika aku mengangkat pedangku tinggi-tinggi dan hampir menghilangkan nyawa manusia barangkali itu terlalu berlebihan hingga membuatnya takut.

Jika benar demikian, satu-satunya orang yang tidak ingin dia temui saat ini tentulah aku. Aku memutuskan kembali ke tempat Qiu Yue setelah memandangi hunian Niken dari kejauhan.

"Kau pasti sangat pandai bertarung, mereka pasti kesulitan menyentuhmu ya? Karena kalau tidak Tuan Administrator kita yang berani ini pasti sudah habis babak belur."

"Kak Yue, apa pernah merasa sangat takut ditinggalkan oleh seseorang hingga rasanya begitu putus asa?"

"Aku yakin semua orang yang memiliki hati pernah merasakan hal itu. Apakah Tuan Administrator kita sedang jatuh cinta? Siapa, gadis yang mana?"

"Tidak yang mana-mana. Bagaimana jika kehidupan meninggalkanku, ketika aku mulai menyukai kehidupan ini."

"Mungkin kau harus mengejar kehidupan. Aku tidak tahu apakah saranku itu berguna karena aku sama sekali tidak paham apa yang kau maksud. Tapi jika diibaratkan seorang gadis, maka kau harus memperjuangkan gadis itu jika kau memang mencintainya."

Aku tidak mau menghilang. Qiu Yue benar, aku harus memperjuangkan bunga-bungaku tetap mekar dan bersinar di pohonnya. Niken adalah salah satu bungaku, aku tahu istilah gugur satu tumbuh seribu, aku tidak akan membiarkan satupun gugur karena menumbuhkan seribu bunga bukanlah perkara mudah. Aku harus memperbaiki ini.

"Niken?"

Aku sudah pasrah kalau saja anak itu tidak membalasku tapi gelembung pesan naga berkilau melayang rendah menghampiriku.

"Iya, ada apa, gege?"

Tiba-tiba aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadanya. Qiu Yue melirikku sebentar sebelum pergi menghilang ke ruangan lain.

"Kau baik-baik saja?"

"Iya aku baik-baik saja. Gege boleh tidak aku bertanya?"

"Ya, boleh."

"Gege, sebenarnya kamu itu siapa?"

Aku tidak akan melakukan kebohongan, namun aku akan mengatakan apa yang ingin kukatakan.

"Aku hanya diriku."

"Saat pertama kali bertemu denganmu kau bahkan tidak ingin mencari keributan, tapi setelah tadi, aku terkejut."

"Apa sekarang kau takut padaku?"

"Sebenarnya tidak, asal aku ingat aku tidak boleh membuatmu marah."

"Lain kali aku tidak akan dekat-dekat dengan pedang, aku lebih suka menggunakan kemoceng bulu ayam."

"Sebenarnya pedang juga sangat cocok denganmu."

"Apa sebaiknya aku belajar meniup seruling atau memetik kecapi, bagaimana?"

"Bagus, aku akan menantikan hari saat kau memainkan lagu buatku. Jadi, segeralah belajar."

Saat kembali ke kamar, tidak lama aku jatuh tertidur lalu aku mengalami mimpi buruk sekali. Aku berada di rumah, dibawah pohon jiwa. Bunga-bunganya bermekaran cemerlang dan menebarkan bau harum. Saat aku ingin menyentuh salah satu bunga yang paling terang, tiba-tiba kuntum bunganya layu dan jatuh.

Sinarnya padam dan membusuk, berikutnya hal sama terjadi pada bunga-bunga lainnya. Daunnya ikut meranggas, aura merah darah menebar dari pangkal pohon, mencekikku sampai paru-paruku rasanya seperti terbakar. Lalu melahapku sampai tubuhku melebur jadi bagian asap merah darah tersebut.

Aku terbangun penuh keringat. Kuraba dada memastikan bahwa aku masih mewujud. Untuk memastikan, aku melakukan sihir pemanggil yang paling praktis. Aura kuning emas mengalir dari ujung jari-jariku dan berkumpul di sana. Rasanya masih terasa sama, manis dan menyenangkan.

"Daru?"

Seketika eliksir kehidupan putus dan lenyap seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Aku beranjak dari tempat tidur bermaksud membukakan pintu. Aku lupa kalau penampilanku sangat berantakan dan kurang pantas menerima tamu karena begitu pintu kugeser, Phoenix terperanjat.

Kurapatkan pakaian untuk menutupi dadaku yang basah.

"Maap, ada apa?"

Phoenix nampak salah tingkah, pandangannya tidak difokuskan padaku.

"Aku mengganggu ya?"

"Tidak, kau mau masuk?"

"Aku disini saja. Aku kesini tadinya untuk mengajakmu. Kita dapat undangan, ada even perburuan kupikir ini kesempatan Gilda Phoenix dapat koin emas. Apakah kau mau ikut denganku tapi dengan keadaanmu seperti ini, aku ingin kau istirahat saja. Dan apakah aku boleh pergi mungkin dengan Erlang?"

Aku memahami niat baik Phoenix, dengan datang kesini dan meminta ijin dariku yang bukan apa-apa dia pasti tidak ingin membuatku tersinggung.

"Erlang pilihan yang tepat, pergilah dan tolong berhati-hati."

Phoenix pergi menjelang sore, namun dia kembali sebelum tengah malam sambil menangis dan membuat gempar seisi Gilda. Dibelakang nya Erlang cuma angkat bahu saat aku bertanya tanpa suara. Lalu dia membubarkan semua orang. Dari sana aku paham persoalan ini bukanlah hal darurat. Phoenix kehilangan hasil buruannya, tentu itu amat berharga untuknya.

"Tidak apa-apa kalau kau mau menangis, menangislah."

Aku membiarkannya menangis untuk beberapa waktu. Semua orang sudah kembali ke huniannya masing-masing hingga menyisakan kami berdua.

"Mau ikut pergi ke kamarku?"

Phoenix mengangkat wajahnya yang sembab namun begitu dia kelihatan bertanya-tanya.

"Mau bersenang-senang tidak?"

Kerutannya makin dalam.

"Yasudah ikut saja."

"Eh, Daru!"

Kami bergerak melintasi taman, kolam koi dan tibalah di kediamanku. Aku segera masuk dan keluar membawa sesuatu yang telah kusiapkan beberapa waktu yang lalu. Aku nyaris mengira benda ini tidak lagi berguna.

"Apa itu?" tanya Phoenix.

Aku tidak segera menjawab tapi aku meraih pinggangnya yang ramping lalu melesat terbang dan mendarat di atap.

"Aku pernah janji membawamu ke sini. Kutepati malam ini."

Kami duduk dan mulai mengurai semua barang yang tadi kubawa. Kami akan menerbangkan lampion. Sebelum menerbangkannya Phoenix terpejam dengan khidmat.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.

"Tentu saja merapalkan harapan," ucap Phoenix dengan suara serak. "Daru ayo kau lakukan juga."

Aku memejamkan mata, tapi aku tidak sedang merapalkan apa-apa malah mengintip dengan sebelah mata dan rupanya Phoenix sedang memperhatikanku.

"Lakukan dengan sungguh-sungguh," katanya.

Aku beringsut mendekat. "Memangnya apa harapanmu?"

"Itu rahasia, dan kau sendiri apa?"

Aku menarik napas, lampion di tanganku siap terbang dengan nyala api kecil yang bergoyang-goyang. Perlahan kulepaskan lampion hingga melayang di hadapanku.

"Aku harap bisa terus melihatmu tersenyum."

Harapanku langsung terkabul, Phoenix cepat-cepat menghadap pada lampionnya dan melepasnya. Lampion Phoenix menyusul lampionku. Dua lampion terus terbang dilatar belakangi langit malam.

"Ketika wanita tersenyum aku tahu dunia akan baik-baik saja."

Hari-hari berikutnya dunia memang terasa baik-baik saja, apalagi Niken sudah bersedia bertemu denganku seperti dahulu. Setelah beberapa hari ke belakang dilanda badai disinilah masa tenangku walau tabku terus berdenting. Benda itu tidak ada gunanya bagiku. Aku tidak begitu memedulikan anggota baru, seperti yang pernah di kata Phoenix mereka bisa mengurus diri mereka sendiri.

Aku lebih peduli pada ayam Qiu Yue yang tidak sengaja kabur karena ulahku.

"Tolong tangkap itu ayam, adik-adik!"

Oktavia dan Faradisa mau saja mematuhiku. Disana ada beberapa ekor ayam yang sedang berkeliaran jadi mereka menangkap masing-masing satu dengan susah payah.

"Salah bukan yang itu, yang jenggernya merah."

"Semua juga jenggernya merah."

"Maksudku yang putih jengger merah."

"Dapat!"

"Oktavia jangan teriak, nanti kak Qiu Yue dengar."

"Ayam ini punya kak Yue?"

"Ya."

Oktavia tersenyum dengan niat jahat lalu dia melepas lagi si ayam.

"Okta!"

Namun beberapa saat kemudian kami bertiga bekerja sama mengepung ayam putih jengger merah dengan alasan Oktavia yang murah hati teramat mengasihaniku.

Terpopuler

Comments

kata2nya gak monoton, kursus nulis dimana kak? hehe 🤭 mantap!!! 👍 aku aja nulis cerita masih kurang kosakata hehehe 😄 erlang itu jadi ngingetin aku sama dewa erlang, dan ya erlang disini sama gagahnya dgn dewa erlang 😉 ehh malah lebih peduli sama ayam, maen sama ayam hehehehe 🤭 lanjuttt kak!!!! 😊👍

2024-12-19

2

Cakrawala

Cakrawala

ya pasti masih ada ditempatnya kalo hidungnya geser dijidat kan jadi aneh. kamu ini ada ada saja.😆😆😆😆😆

2025-01-19

1

miilieaa

miilieaa

ayam jengger merah itu jago kah thor?

2024-12-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!