Kekhawatiranku tidak ada habisnya mengenai tanda biru yang mendekam di bawah kulitku dan juga Niken. Kami berdua menyimpan rapat-rapat soal ini dari yang lain. Sejak kami pulang aku selalu menanyakan kabarnya setiap waktu melalui pesan naga, tapi Niken selalu membalas bahwa dia baik-baik saja.
"Apa kau merasa mual, pusing, mata berkunang-kunang atau sesak di dada?"
"Aku baik-baik saja. Memangnya kau merasakan semua itu?"
"Tidak."
Tapi aku ingat bagaimana tanda itu bereaksi ketika si penulis buku mengguratkan tanda tangannya pada buku penggemarnya di kedai Begonia. Seolah dia sedang menandatangani kulitku dengan logam panas.
"Kalau begitu aku juga tidak. Daripada kau terus memikirkan tatonya, lebih baik kau cepat kesini, kak Qiu Yue membuat makanan untuk kita."
Mungkin dia memang tidak memikirkan tato itu dan untuk saat ini dia baik-baik saja. Setelah kejadian di hutan, anak itu melupakan perburuan dan tidak keluyuran. Hal itu menambah kecemasanku karena diluar kebiasaannya. Niken lebih sering pergi ke dapur untuk makan makanan yang disediakan Qiu Yue. Sejak kedatangan Qiu Yue, ada semacam dapur khusus dan dialah yang jadi juru masaknya.
"Nah ini bintang utama kita."
"Apa aku melewatkan sesuatu?"
"Tidak juga, tapi hunianmu dan dapur tidak begitu jauh gege, apa kau mengelilingi gilda untuk sampai kesini?"
"Pasti begitu," Qiu Yue datang dengan membawa nampan yang berisi makanan yang masih mengepul, lalu meletakkannya di meja. "Dia pasti membacakan puisi untuk setiap gadis-gadis yang dia temui di jalan menuju kemari."
"Kak Yue, apa kau cemburu pada mereka?"
"Tentu saja aku cemburu." Hanya Qiu Yue yang biasa menanggapi candaanku dan membalikkannya.
Aku mengambil sumpit dan memilih makanan yang dari jauh tadi sudah menggugah seleraku. Hanya satu gigitan, aku langsung tersedak. Aku yakin yang kumasukan itu makanan bukannya bara api.
"Astaga gege, kau sama sekali tidak bisa makan pedas?"
"Tenggorokanku sepertinya terbakar."
"Tidak akan separah itu, tenanglah nah minum dulu."
"Tolong, tenggorokan adalah asetku, kalau tidak aku tidak akan bisa membacakan puisi lagi."
"Baguslah, satu kebiasaan burukmu hilang," sambil berkata begitu Niken membantu meletakkan cangkirku kembali.
"Kalau begitu cobalah yang ini Tuan administrator, pasti ini tidak akan menyakitimu."
Sebagai gantinya kak Yue telah meletakan hidangan yang kelihatan cantik. Di depanku tersaji dalam pisin porselen kecil panekuk yang bertumpuk tumpuk yang diisi dengan krim lembut dan tampak dihiasi dengan beri-berian.
Nah ini jauh lebih baik, jika tadi aku dijejali bara api neraka, kini aku telah diangkat ke nirwana. Kudapan ini rasanya lezat, lembut dan tidak terlalu manis, ada rasa segar dari beri berinya.
"Sepertinya kau menyukai kudapan manis," komentar Niken begitu piringku bersih dalam sekejap.
"Memangnya kenapa, makanan manis membuatku sangat bahagia."
"Kebahagiaanmu begitu sederhana."
"Kebahagian kadang datang dari hal-hal kecil."
"Apa itu kata ibumu?"
"Tidak."
"Aku bahagia ketika orang yang memakan masakanku merasa puas."
"Kalau begitu bisakah aku membahagiakanmu, kak Yue?"
"Dia cuma mau mengatakan kalau dia minta panekuk lagi." Qiu Yue rupanya paham maksudku lantas dia menggeleng. "Sayang sekali tidak bisa. Aku kehabisan bahan untuk membuat panekuk apalagi berinya. Itu bahan terakhir yang kubawa sebelum ke sini."
"Baiklah gege, mari kita pergi belanja." Niken berdiri dari bangkunya dan mengadahkan tangan pada Qiu Yue. "Catatkan saja daftar apa saja yang kak Yue butuhkan kami akan pergi membelinya."
Niken baru saja menyimpan daftar belanja yang tertulis dalam secarik kertas kedalam kantong di pinggulnya bersama sejumlah uang. "Sejujurnya aku bosan berada di gilda, pergi belanja alasanku untuk keluar. Kau pasti akan melarangku untuk pergi ke hutan, benarkan?"
"Tentu saja, kenapa kau tidak gabung saja dengan gadis-gadis lainnya."
"Apa? mereka? Tidak terimakasih. Aku bukan kau."
Kami hendak menyewa seekor kuda, berharap bisa dapat harga yang bagus tapi kelihatannya tawar menawar yang Niken lakukan begitu alot.
"Kuda yang ini kurus dan tidak punya stamina, sebaiknya paman memberiku harga separuh dari biasanya."
"Kau tidak bisa menipuku gadis nakal, kalau kau dan temanmu itu mau melakukan perjalanan jauh pilihlah kuda paling tangguh. Kalau kau tidak punya uang lebih, sana sewa saja keledai."
Niken datang menghampiriku dengan cemberut. "Paman itu tidak bisa diajak kerja sama. Dan bukannya membantuku menawar, kau malah berdiri saja disini. Gege ada apa, kau kelihatan aneh sekali sejak keluar."
"Kau dapat kudanya?"
"Kabar baiknya, sama sekali tidak."
"Tidak?"
"Apa yang kau lihat, dari tadi kuperhatikan kau tampak cemas."
Aku merangkul pundak Niken, membawanya pergi dari tempat kami. "Karena kita tidak dapat kuda sebaiknya besok saja belanjanya."
"Gege serius, kau melupakan panekukmu? Kata pemilik penyewaan kuda kita bisa pakai keledai saja."
"Keledai tidak bisa bawa kita berdua. Ayo!"
"Kemana?"
"Kembali ke gilda."
"Untuk apa?"
"Apa saja, kita bisa melakukan apapun disana, bersenang-senang."
"Aku tahu senang-senang yang kau maksud. Aku tidak mau main tebak-tebakan."
Niken tidak berhenti protes ketika kami akhirnya tiba di depan pintu gilda Phoenix. Kutempelkan kartu identitas di panel khusus dan seketika gerbang terbuka sedikit. Melalui celah kami melangkah masuk, kudorong anak itu dengan lembut. Ketika dia sudah ada di dalam dan hendak berbalik menghadapku, gerbang terlanjur menutup.
Dari dalam terdengar anak itu menggedor gerbang dan mengumpatku.
"Gege! apa yang kau lakukan?"
Kukepal kartu pengenal yang bertuliskan namanya. Kartu identitas yang baru saja kugunakan sebagai kunci. Kini kusimpan pengenal itu dengan baik. Dengan mencurinya dari Niken, dia tidak akan bisa keluar tanpa kunci jika tidak ikut keluar bersama orang lain.
Kulangkahkan kaki secepat dan sejauh mungkin dari gilda Phoenix. Ada beberapa orang mengawasi kami dengan terang-terangan sejak kami keluar. Aku tidak bisa melibatkan Niken, jika memang akulah yang dicari tapi aku juga tidak bisa membiarkan Niken dalam bahaya jika dia yang diincar.
Aku menyelinap di tengah orang-orang yang berlalu-lalang, tetapi beberapa orang itu terus berada beberapa langkah di belakangku, seolah tidak ingin kehilangan jejakku.
Aku ingin memastikannya sekali lagi. Ada kerumunan di depanku, aku mendesak beberap orang hingga mereka saling menubruk. Segera saja terjadi keributan kecil-kecilan, aku mengambil kesempatan untuk menyelinap dan berbelok ke gang kecil dibelakang kios kerajinan tangan. Aku menunggu, mengawasi dan mereka tampak kehilangan jejakku.
"Apa kau sembunyi dariku?"
"Niken, kau? bagaimana...?"
Dia mengacungkan sebuah kartu pengenal...
Milikku!
Aku meraba-raba tempat biasa aku menyimpan kartu pengenalku dan memang sudah tidak ada disana.
"Bukan kau saja yang pandai mencuri, jika aku terkunci karena kartu pengenalku maka aku keluar menggunakan kartumu. Aku mengikutimu dan akhirnya bertemu lagi di sini."
"Pintar."
"Wah terimakasih, aku memang pintar. Siapa orang-orang itu?"
"Aku tidak tahu. Barangkali kau yang mengenalnya."
"Ah, tidak, kalau mereka mengikutimu tentu saja kaulah yang mereka cari. Gege apa yang sudah kau lakukan sampai menyinggung mereka?"
"Aku tidak tahu."
"Atau mungkin kau yang tidak ingat."
"Kalau begitu akan kutanyakan saja langsung pada mereka."
"Kau akan menghadapi mereka? Wah ini tidak seperti kau yang biasanya. Tapi seperti inilah gege yang kuharapkan."
"Apa kalian mencariku, tuan-tuan penguntit?"
"Hey kalian orang dari gilda Phoenix."
"Ya, kami. Untuk urusan apa kau menandai Gilda Phoenix ataukah kami punya utang piutang yang belum terselesaikan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Teteh Lia
Seperti tanda asam lambung naik itu mah 😔
2025-02-01
1
miilieaa
banyak penguntit nya yaa thor
2024-12-10
1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan
2025-02-13
0