Perkumpulan Pengemis

Bagaimana perburuannya?

Kuutus naga hijau untuk diletuskan Phoenix.

"Perburuannya kacau." Phoenix membalas.

Nah, perkataanku semalam benar kan?

"Dewandaru dimana kau?"

Dia mencariku bukan untuk menangis lagi di dadaku sambil mengadu bahwa tangkapannya di rampok orang eh? Dulu kejadiannya persis seperti itu, sebelum tengah malam Phoenix sudah pulang sambil berurai air mata, sesekali sumpah serapah keluar dari mulutnya. Kami semua mencoba menenangkannya dan bertanya apa yang sudah terjadi.

Dia merampas peti unguku, padahal aku yang pertama mendapatkannya dan orang itu tidak mau mengembalikan. Begitu dia bercerita tanpa menghentikan tangisnya.

Berapa banyak tanyaku lalu dia menyebutkan jumlah yang sangat banyak, tentu saja saat itu aku tidak punya sekeping pun koin emas.

Lalu aku berkata, nanti aku akan menggantinya, berhentilah menangis. Dia berhenti menangis dan keesokan harinya aku bersusah payah berburu koin emas untuknya.

"Aku keluar sebentar, apa sekarang kau menganggapku balita lalu menyuruhku pulang untuk tidur siang?"

"Bagaimana lukamu? Apa kau sudah mengganti perban?"

"Akan kuganti."

"Kapan kau pulang?"

"Kenapa? Apa kau merindukanku?"

"Ya, aku rindu menjitakmu."

"Kau tidak akan pernah bisa menyentuh kepalaku."

"Bisa, aku akan menyuruhmu berlutut."

"Oke, mari kita berlutut di altar, dihadapan para tetua dengan pakaian pengantin."

Tidak ada balasan.

"Apakah kau tidak mau? Ah sayang sekali kalau begitu."

***

Semalam, aku tidak bisa tidur di kamarku, ruangan yang sempit terasa makin sesak ketika aku berbaring, pikiran dan tubuhku sama-sama gelisah. Kupikir dipenghujung petualanganku ini akan diwarnai kisah datar nan membosankan. Hari-hariku akan dipenuhi kedamaian bagaikan orang tua dimasa senja. Namun sepertinya ini akan jadi babak baru yang membawa prahara lebih rumit.

Akhirnya aku naik ke atap dan berbaring di genting. Setiap malam di Meloxia sunyi, gilda terpencil dan jarang dilalui orang, sedangkan malam di Phoenix sepi tapi tidak sunyi. Kemarin malam aku bisa mendengar suara patroli yang menyisir area gilda. Gilda Phoenix begitu luas, mampu menampung sekian banyak orang tapi akhirnya aku menyadari inilah yang selalu kubutuhkan bahkan kekumuhan Meloxia benar-benar kurindukan.

Aku selesai membasuh muka dan membiarkan air menetes kembali ke dalam ember kayu yang terisi air. Lalu sesuatu terjatuh, membuat riak besar dan membuyarkan pantulan wajahku. Sebuah biji kering berwarna kecoklatan, pecahan buah roda.

Pohon neraka, itulah salah satu julukannya. Pohonnya menjulang tinggi dan dipenuhi duri-duri tajam. Selain itu getahnya sangat beracun dan buahnya yang sudah matang inilah yang tadi meledak. Semua hal dari pohon Hura berbahaya tapi keberadaannya membuat sejuk Meloxia.

Aku sudah membuka atasan pakaian luaranku menyisakan pakain tipis yang memperlihatkan otot-otot lenganku yang menegang saat menimba air dan yang yang paling mencolok adalah bebat bernoda kemerahan.

Aku memikirkan pesan Phoenix.

Dia bilang aku harus memeriksa lukaku.

Yang membantu membersihkan luka adalah Black, pemuda itu belum lama tiba ketika para gadis buru-buru merongrongnya dan menariknya ke hadapanku.

"Kenapa? Kenapa aku yang harus melakukannya?" Gerutunya.

"Kau tidak harus melakukannya," sahutku.

"Tidak!" Ucap para gadis serempak.

"Black, kau harus bantu bang Daru." kata Ayuni.

"Dia tidak bisa melakukannya sendiri," timpal Elis.

Za-Hwa mengangguk sungguh-sungguh.

"Kenapa tidak kalian saja yang lakukan sendiri?" Tuntut Black dengan penuh kejengkelan.

"Ah itu... "

Aku mengangkat alis pada mereka. Za-Hwa menggigit bibir, Ayuni pura-pura tidak melihatku. Sedangkan Elis teramat buru-buru berkata sebelum menghilang.

"Aku harus memanaskan air." katanya.

Para gadis enggan mendekat entah untuk alasan jijik atau tidak tahan melihat dadaku yang terbuka, satu lagi pipi mereka bersemu merah. Walau begitu mereka tak luput mengomentari pekerjaan Black.

"Cukup di totol, kau akan membuat lukanya terbuka kalau begitu. Nah, iya begitu."

"Oleskan salepnya secara merata."

"Tidak, jangan terlalu banyak, tipis-tipis saja."

"Yasudah! Sudah kubilangkan lakukan saja sama kalian."

"Aku bisa melakukannya sendiri," aku menyela, mengambil alih salep di tangan Black. Gulungan perban tersenggol olehku dan menggelinding ke bawah.

"Jangan dijatuhin dong bang."

"Kalian ribut sekali, minggir biar aku aja."

Pia menyerobot dari pintu, mendorong mundur Black. Setelah duduk di hadapanku dia mengamati lukaku. "Apa yang terjadi?" tanyanya.

"Bang Daru berkelahi," Ayuni menjawab. Tadi aku sempat memberitahu mereka secara garis besarnya. Tapi tidak sampai pada kesimpulan mengenai adanya serangan anak panah. Mereka tidak perlu mengetahui hal itu.

Jika Ayuni yang paling loyal kepadaku maka Pia lah orang yang paling tidak memedulikanku. Walau begitu dia melakukan pekerjaannya sampai tuntas.

"Nah begitu lebih baik, makasih Pia," ucap Ayuni. "Jika pacarmu salah sangka aku akan membantumu menjelaskannya."

"Tidak masalah," Pia mengibaskan lengannya. "Ah, bukannya aku sudah janji, kita akan pergi sore nanti kau harus ikut Ayuni, aku akan mengenalkanmu pada cowok yang pernah kuceritakan itu."

Ayuni melirikku sekilas sebelum meraih lengan Pia dan membawanya keluar untuk bisik-bisik.

Aku menatap sisa orang yang masih memandangiku. "Terimakasih semuanya sudah membuat repot kalian dipagi yang cerah ini."

"Aku akan ganti pakaian, jika kalian masih mematung di sini untuk menontonku, sebenarnya aku sedikit keberatan, apalagi kau Black."

"Ayok, Za-Hwa." Elis buru-buru mendorong Za-Hwa.

Aku menghela napas begitu hanya tinggal aku di dalam sini. Aku mengeluarkan biji roda yang tadi kupungut dari ember, menggelindingkannya di telapak tangan.

"Bagaimana kabarmu, Niken?"

***

Aku melangkah masuk ke dapur dan melihat mereka telah mengelilingi meja rendah yang tersaji makanan. Anggota perkumpulan pengemis nyaris lengkap pagi ini.

Ayuni sedang mengaduk-aduk mangkuknya, nyaris melompat begitu melihatku. "Ah, bang Daru sudah datang!"

"Kami semua menunggumu, kak," timpal Elis

"Hanya begitu saja?" ujar Pia menilik penampilanku. "Tapi kau lama sekali."

"Kami tidak keberatan kok, menunggu abang," Ayuni menyahut.

"Mereka berkeras tidak mau makan tanpamu kecuali si Black."

Black mendengus mendengar pernyataan Pia yang blak-blakan, isi mangkuknya memang tinggal separuh. "Aku sudah tidak tahan, dan setelah ini aku akan pergi tidur."

Para gadis memutar bola mata.

"Sungguh aku minta maap adik adik."

"Ini kak Daru." Za-Hwa telah menuang semangkuk bubur panas dengan toping yang melimpah ruah. Aku menerima mangkukku sembari mengangguk.

"Terimakasih Za-Hwa."

"Sama-sama kak."

Aku duduk bersama mereka sambil menikmati bagianku, merasa bersyukur karena kehadiran mereka dalam kisah ini.

Percakapan mengalir bebas di sekeliling meja. Aku hanya setengah mendengarkan obrolan para gadis.

Terpopuler

Comments

🍄Big Papa🍄

🍄Big Papa🍄

Elis, Zahwa, Niken... nama-nama pengguna nt tahun 2020-an ya? Kau masih mengingatnya dengan baik

2024-12-16

1

DeanPanca

DeanPanca

ada ya, rindu menjitak /Facepalm/

2025-01-26

1

Teteh Lia

Teteh Lia

malah ngajak nikah donk...

2025-01-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!