Penghianatan

Jika mereka tidak bisa memasuki Gilda Phoenix, maka kami lah yang digiring keluar dari rumah kami sendiri. Wen Yi, pria yang kusebut si bajingan yang memasuki Gilda bersama rombongan pemabuknya, pria sama yang menyewa orang bayaran yang menyerang kami di pasar. Kini duduk pongah di kursi yang diapit beberapa orang yang siap menyerang kami kapan saja telunjuknya bergerak.

Ya, persoalan hantu Gilda belumlah selesai seperti yang kukhawatirkan. Hari-hari tenangku yang singkat rupanya telah usai.

Beberapa jam sebelumnya...

Sore itu seluruh anggota berkumpul di kedai yang dipesan khusus untuk Gilda Phoenix. Gadis itu bilang untuk merayakan ulang tahunnya yang tentu saja sudah lama berlalu. Phoenix baru saja kehilangan koin-koin emasnya bagaimana dia mau membayar makanan untuk semua orang? Akhirnya dia menyebut salah satu anggota Gilda yang namanya saja tidak bisa kuingat.

Phoenix menyeretku ke dalam rombongan. Erlang menepuk pundakku.

"Ikuti saja kehendaknya, kita tidak akan pernah menang melawan wanita. Lagi pula kita hanya disuruh makan bukan mencari kitab suci ke barat."

Aku malah ingin pergi ke barat mencari kitab suci karena para pramusaji tidak menyajikan hidangan. Dari awal, kedai nampak mencurigakan dan benar saja tidak lama kemudian mereka menutup semua pintu keluar, melakukan penjagaan oleh orang-orang yang tadi kami anggap pengunjung biasa.

Kami semua di arahkan ke lantai dua dan langsung dihadapkan pada dalang dibalik ini semua. Phoenix mendesiskan sebuah nama. Lelaki itu menyeringai padanya, lalu pergi setelah mendapat sekantong uang dari pria yang duduk di kursi.

"Terimakasih, kak Wen Yi."

"Mereka akan menghabisi kita." Erlang berbisik begitu dekat denganku. Ekspresinya penuh waspada namun juga gugup. Kami harus memikirkan cara untuk melindungi semua orang.

"Atau hanya aku yang dia inginkan."

Aku melangkah, mengabaikan musuh yang sigap terhadap pergerakanku. Wen Yi turun dari kursinya sembari merentangkan lengan seperti orang yang menyambut kenalan lama. Orang-orangnya menurunkan senjata dan mundur.

"Kau masih ingat aku, Tuan Hantu?"

"Kau hanya punya urusan denganku, jangan libatkan yang lainnya," aku berkata.

"Apa itu sebuah permohonan?"

"Kau dendam kepadaku karena aku tidak mengijinkan kalian mengacak-acak Gilda Phoenix malam itu?"

Wen Yi tertawa, "Aku bisa mendapatkan Gilda kosong sebanyak yang kumau di Daratan Merah. Namun masalahnya ada padamu, kau mirip orang yang ingin kuhajar seumur hidupku, dimana lagi aku bisa menemukan kebetulan semacam itu."

Ekspresi Wen Yi berubah dingin.

"Wen Yi, dendammu seperti orang yang sedang jatuh cinta, ketika kau tidak dapat orang yang kau mau kau mencari yang sama persis tapi kau tahu keduanya berbeda. Kau ingin menghajarku sampai dirimu puas, yakinkah dendammu itu terbalaskan?"

"Kalau begitu mari kita coba."

"Kau tahu persis aku tidak akan dengan mudah mengatakan ya."

"Menurutmu apa arti mereka bagimu?" Dia melangkah ke depan, merentangkan tangan dan tersenyum.

"Kuperingatkan sekali lagi padamu, jangan libatkan mereka. Hanya pecundang yang melakukan gertakan licik semacam itu. Mari kita lakukan hanya kau dan aku."

"Itu bukan kelicikan, aku hanya memanfaatkan semua sumber daya yang ada."

"Apa maumu?"

Wen Yi memberi isyarat dan salah satu orang bergegas pergi, tidak lama kemudian orang tadi kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.

Wen Yi mengadahkan tangan tanpa mengalihkan perhatian dariku, bibirnya tersungging begitu benda itu berpindah ketelapak tangannya.

"Mencambukmu sebanyak seratus kali." katanya.

"Mustahil! Tidak manusiawi."

Beberapa orang sigap bereaksi dan Erlang dengan hati-hati kembali mundur dan berusaha tenang.

Ada begitu banyak orang yang dia bayar di dalam ruangan ini, belum sisanya menjaga di luar. Jika hanya aku dan Erlang mungkin kami akan mempertimbangkan untuk melakukan perlawanan habis-habisan, tapi dengan adanya anak-anak lain kami tidak bisa bergerak sama sekali.

"Aku ingin melakukan penawaran."

Wen Yi menaikkan alisnya tapi dia tampak ingin tahu.

"Aku tidak boleh lupa bahwa kau besar mulut. Cepat katakan, penawaran apa yang kau inginkan diakhir-akhir waktumu ini."

"Aku akan membiarkanmu mencambukku, namun jika aku bertahan sampai seratus cambukan apa kau bersedia menyerahkan seluruh kantong uangmu padaku? Jika aku gagal, lepaskan semua orang. Kau tidak berhak meminta lebih dari nyawaku, itu harga tertinggi yang kumiliki. Bagaimana?"

Dia menimbang-nimbang perkataanku sambil mengetuk-ketukan cambuk ke telapak tangannya.

"Mo!" Wen Yi berseru dan orang yang dipanggil melangkah ke sampingnya. Aku pernah berhadapan dengan orang ini malam itu.

Wen Yi bisik-bisik dan Mo tampak enggan. "Sejak kapan kau membantahku?"

"Maap, baiklah kakak."

Mo kembali dengan kantong-kantong uang, saat diletakan di atas meja dihadapan Wen Yi terdengarlah gemerincing. Kantong-kantong uang itu lebih besar daripada kantong yang biasa. Wen Yi mengeluarkan satu kantong uang dari balik bajunya dan melemparnya untuk disatukan dengan kantong lainnya.

"Kuterima tawaranmu." katanya.

"Gege, kau bukan kucing yang punya tujuh nyawa."

Dalam situasi lain aku pasti akan memberitahu Niken kalau kucing tidak punya tujuh nyawa tapi hanya satu saja seperti manusia. Aku bukan kucing dan aku juga bukan manusia.

"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?"

Wen Yi menggigit ujung jarinya lalu meneteskan darahnya pada lilin menyala, api lilin pun padam. Ada orang yang memang melakukan tradisi sumpah seperti yang Wen Yi lakukan.

"Baiklah, ayo kita akhiri ini!" Aku berlutut di hadapan Wen Yi.

"Tidak, gege!" Jeritan Niken mengiringi lecutan pertama, menghantam punggungku, membuatku tersentak. Kukepalkan kedua tanganku.

Aku telah memberi isyarat pada siapa saja untuk tidak mendekatiku. Aku bersyukur Erlang menahan Niken, dia bisa saja berlari ke sini. Phoenix menangis di pelukan Manda.

"Delapan belas..." ucap sang juru hitung.

Sebelum mendaratkan lecutan ke delapan belas, Wen Yi berseru. "Lepas bajunya!"

Aku tidak melakukan perlawanan ketika beberapa orang datang dengan paksa melepas pakaian atasku. Dipunggungku pasti sudah tampak bilur merah sekarang.

Aku mengangkat tangan dan berkata pada Wen Yi.

"Biarkan mereka pergi dari sini."

"Kami tidak akan pergi dari sini tanpamu."

"Jangan keras kepala Niken."

Padahal aku tidak ingin mereka melihat penyiksaanku.

"Aku yakin yang lainnya tidak ingin melihatnya."

"Aku tetap disini," ucap Phoenix.

"Cukup mengobrolnya," timpal Wen Yi.

Setiap lecutan bukan hanya melukai punggungku tetapi juga merobek jiwaku. Rasa sakit dan penderitaan ini yang ingin disampaikan Wen Yi seumur hidupnya. Aku tidak tahu bentuk kekerasan apa yang sudah dia dapatkan dan dari mana. Barangkali dari orang yang sangat dia percayai sampai dia tidak berani memberontak secara langsung. Hingga menjadi sosoknya yang seperti sekarang ini.

Aku meneteskan air mata untuk segalanya, Okta, Fara, Lu Shi, Qiu Yue dan yang lainnya. Seharusnya mereka tidak menyaksikan kekerasan semacam ini, jiwa-jiwa mereka lembut.

Tidak ada senjata manusia yang bisa menewaskanku. Aku tidak akan mati karena di cambuk, tapi reaksi dari tubuh manusia ini membuatku kewalahan. Setiap kali lecutan, lukanya bertambah dalam, punggungku semakin panas dan pedih. Aku menahan diri untuk tidak berteriak.

Tubuh manusia begitu rentan dan rasanya semakin sengsara ketika tahu kematian bahkan tidak akan menghampiriku, ini seperti siksaan yang tiada akhir.

"Empat puluh delapan... "

Aku menantikan cambuk ke empat puluh delapan turun tapi tidak kunjung datang. Aku mendongak bertemu dengan tatapan Wen Yi.

Terpopuler

Comments

Cakrawala

Cakrawala

bukankah katanya Gege adalah hantu? jadi kalo dia dicambuk otomatis gk bakal kena.
tapi
wusss
trabas

2025-01-21

1

miilieaa

miilieaa

cambuk ke 48 , nggak bisa dibayangkan /Sob/

2024-12-24

1

FIE

FIE

wanita selalu benar. yes👍

2025-01-29

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!