Jika aku selamat dari serangan brutal pedang Ren aku harus menagih kompensasiku pada Jenderal Erlang, dan jika sebaliknya dia harus bertanggung jawab untuk gadis-gadis yang nantinya akan menangisiku. Tidak, kurasa itu akan terlalu menguntungkannya, enak saja. Sebaiknya aku harus selamat. Sekarang nikmatilah duel spektakuler ini dalam hitungan tiga dua satu ...
Seperti yang kuharapkan Ren melesat maju lebih dulu, aku berayun kesamping, berputar menghindari mata pedang yang menyasar sisi leherku hingga kami berhenti sesaat untuk saling memunggungi.
"Keluarkan pedangmu," desis Ren.
"Jika memang mau melihatnya, tentu saja akan kutunjukan."
Kami bergerak lagi secara bersamaan, Ren mengibaskan pedangnya. Bilah pedang berkilat perak diterpa cahaya matahari pagi, berdentang membentur pedangku. Kuakui Ren punya tekhnik pedang yang tinggi dan kekuatan yang bagus. Kecepatan gerakan, langkah dan ketepatan sasarannya membuatku sedikit kerepotan. Aku terus menangkis, menutup celah atau membiarkan Ren menebas udara kosong. Dia terpaku sesaat, aku mengambil kesempatan melebarkan gerakan, aku berdiri menunggunya dan Ren pasti menangkap pesanku sebagai; coba tangkap aku kalau bisa.
Dulu Phoenix menyebutnya tekhnik pecundang hanya karena aku tidak kunjung memberikan perlawanan dan itu membuatnya kesal. Sedangkan Jendral Erlang menamainya tekhnik gadis usil.
Tapi Ren bukanlah Jenderal Erlang yang mudah terpancing atau Phoenix yang lebih jago menggunakan busur. Alih-alih ikan mas, justru aku dapat hiu. Ren pengguna pedang sungguhan, bukankah lebih baik menjadikannya kawan daripada lawan? Jadi seharusnya aku tidak terlalu mempermainkannya.
Ren kembali mengarahkan pedangnya, aku masih ingin bertahan dengan jurus gadis usil, tekhnik pecundang atau terserahlah namanya, namun ayunan pedang Ren kian rapat memaksaku untuk mengeluarkan serangan balasan dan berhenti bermain-main. Kali ini Ren tidak akan memberiku ampun.
Aku sedang menimbang-nimbang haruskah aku mengaku kalah saja, tapi itu akan mengecewakan gadis-gadis yang mungkin sudah bertaruh untukku di barisan penonton.
Baiklah, akan kutunjukan kebolehanku, aku pantang mengecewakan mereka bukan?
Kuayunkan pedangku untuk menahan serangan Ren. Kutumpukan tenaga pada satu titik dimana pedangku bertemu dengan bilah pedang Ren untuk memukulnya mundur.
"Bersiaplah," seruku.
Aku memutar pedangku dan mulai melakukan serangkaian balasan dengan ayunan cepat dan tusukan tajam. Ren tampak terkejut oleh serangan yang mendadak, tapi aku terus bergerak maju tidak memberi celah untuk Ren. Dia mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan aku mengangkat alis.
Ini bukan pertarungan untuk saling membunuh jadi aku akan mengingatkan Ren jika dia lupa soal ini. Akan kuajari dia seni keindahan pedang.
Ini tekhnik yang kuajarkan pada Phoenix. Gerakan-gerakannya terlihat lebih anggun dan tajam, mengalir sehalus air namun mematikan. Tekhnik ini mengajarkan ketenangan. Jika kau bertarung dalam emosi yang meluap kau akan mudah kehilangan konsentrasi dan cepat lelah. Itu yang kukatakan pada Phoenix dulu. Kunamakan tarian pedang.
Kau akan dikenal sebagai wanita berbaju merah yang dingin dan haus darah, aku menggodanya.
Aku lebih suka ungu, merah terlalu berapi-api, ungkapnya. Itu juga mungkin jadi alasan kenapa Phoenix memasang ornamen ungu dipedang yang dia hadiahkan untukku.
Kubilang padanya, bukankah itu sangat cocok denganmu, kau galak...
Kesini kau, akan kuperlihatkan tarian pedangku, katanya.
Tapi tarian pedang Phoenix tidak seperti yang kuharapkan, aku tidak berani berkomentar tapi dia mengakuinya sendiri. Kupikir aku gak akan bisa seluwes dan selicin kau, bagaimana kau melakukannya? Kau membuat tekhnik yang menyusahkan, gerutunya.
Kau memang berapi-api, kataku waktu itu, tapi kau tidak cukup bengis untuk melakukan tarian pedang.
Itu artinya aku orang yang baik hati, katanya.
Lalu maksudnya aku jahat. Eh? Aku berlagak kecewa.
Tidak, kau itu menyebalkan, katanya. Kau dan tekhnik pecundangmu dan tarian pedang bener-benar menyebalkan.
Menyebalkan di mata Ren dan Phoenix tentulah berbeda. Menyebalkan versi Ren pastilah aku bagaikan gangguan yang harus segera dienyahkan. Seperti peraturan duel ini, yang pertama tumbang dialah yang kalah. Tapi baik aku maupun Ren tidak akan dengan mudah memberi kemenangan untuk satu sama lain. Kukira kami sudah menemukan lawan yang seimbang.
Kami sama sama bertahan, menyerang, atau menerjang menuju satu titik di tengah hingga pedang kami saling berbenturan, menciptakan riak kekuatan yang melontarkan kami kembali kebelakang. Pertarungan ini semakin sengit, Ren seperti harimau yang terus memamerkan taring dan cakarnya untuk menerkam seekor belut.
Ditengah pertempuran tiba-tiba ada suara yang mengangguku. Gemanya mengusik telingaku lebih dulu. Bukan bunyi pedang yang menebas udara, ini suara angin yang membawa sesuatu. Seseorang tengah menembakan anak panah.
Sesuatu yang berkilau tertangkap mataku, melesat dengan kecepatan. Ren sekilas menangkap tatapanku tapi dia terlambat memahaminya, dia sudah mengayunkan pedangnya. Aku bergerak, meliuk bagaikan naga dalam pusaran, menangkis ujung mata panah yang tajam sekaligus menyambut pedang Ren.
Kadangkala jika kau ingin meraih sesuatu kau harus siap kehilangan yang lainnya, begitu pepatah yang kudengar. Ada dua momen saling bertolak belakang. Aku bisa menghindar dari hantaman pedang Ren namun aku mungkin akan kehilangan seseorang karena sebatang anak panah.
Aku terjatuh dan berguling, pedangku terpelanting dengan bunyi nyaring kekalahan.
Hadirin terkesiap, kemudian ada yang merayakan kemenangan Ren, namun sesaat kemudian di susul keragu-raguan, kini gumaman tersebar di kerumunan penonton.
"Daru!" itu suara Phoenix. Gadis itu berdiri dari bangku podium menuruni undakan dan masuk ke lapangan.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku begitu dia terengah dihadapanku.
"Apa-apaan," Phoenix mengabaikanku. "Lihat siapa disini yang terluka?" Mata Phoenix menyusur luka robek di lenganku, darah merembes hangat dari sana membasahi lengan bajuku dengan noda merah pekat.
"Ini tidak apa-apa," kataku. Meski dikatakan aku tercabik, aku tidak sepayah kelihatannya, aku berhasil berdiri seperti ksatria.
"Renn! Kenapa eh kemana dia..."
Phoenix tampaknya belum menyadari apa yang sesungguhnya terjadi, atau bahkan semua hadirin kecuali Jenderal Erlang, dia menyadari keganjilan yang tengah terjadi di lapangan. Dia tidak menahan Ren yang melesat pergi sebelum dia mengeluarkan sepatah katapun.
Phoenix mengikuti arah yang kutunjuk, sebilah anak panah tergeletak begitu saja. Sesaat aku melihat Phoenix terkesiap.
"Seseorang membidikkan anak panah dari suatu tempat." kataku. Aku menunggu Phoenix menanggapi tapi respon yang dia berikan amat lambat.
"Apa?" katanya. "Tapi siapa yang dia targetkan?"
Aku memandangi Phoenix. "Mungkin seseorang dibarisan penonton?" kataku.
Phoenix tampak terguncang dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Aku membungkuk untuk memungut pedangku yang terjatuh. "Aku yakin Ren bisa mengatasinya tapi bagaimanapun aku juga harus memeriksanya." Setelah berkata begitu aku berlari menjejak tanah melesat mengikuti kemana tadi Ren mengejar penyusup.
Dari atap aku punya peluang untuk bisa melihat segalanya ke berbagai sudut, mencari tanda-tanda orang mencurigakan yang mungkin berlari untuk kabur.
Seseorang berpakaian serba hitam keluar dari sudut bangunan, Ren terbang melewati kepalanya dan mendarat di hadapannya tidak sampai sepuluh langkah jauhnya. Ren memunggungi si penyusup dan si penyusup tidak berpikir panjang lagi, dia mendekati Ren dalam rentan sekali tarikan napas, melesat dengan segenap amarah.
Mereka tersungkur ke tanah, Ren hilang keseimbangan karena ditimpa bobot si penyusup yang langsung menghajar Ren dengan kekerasan. Ren bereaksi dengan cepat dan berhasil membalikkan keadaan. Mereka sama sama berdiri saling memandangi.
Si pria bercadar berlari ke arahnya, Ren merunduk dan menendang kearah kakinya tapi dia juga berhasil menghindar dan mencoba kabur. Kubidikkan pedangku hingga tertancap tepat dihadapan si penyusup. Dia memandang kearahku dengan berang.
Kakiku berhasil menjejak tanah, tapi rupanya dia tidak ingin menghabiskan waktu denganku. Aku mencoba mengejarnya menembus bom asap, kukibaskan lengan berharap asapnya cepat pudar, ketika asap menipis hanya menyisakan kami berdua, Ren yang bangkit berdiri dan aku mengumpat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
🍄Big Papa🍄
Makasih kakak sudah mengganti kata 'kagak' menjadi 'tidak', itu lebih enak dibaca
2024-12-03
1
Dewi Payang
Dewandaru : ayo tangkap aku Ren, aya tangkap. aku....
2025-02-27
1
Dewi Payang
Dua jagoan belum berhasil membekuk penyusup....
2025-02-27
0