Teman-teman yang sekelas dengan Yuna di mata kuliah Bu Amara mulai berdatangan, termasuk Salsa dan Jae, begitu pun dengan Aksa yang masuk paling terakhir sebelum kedatangan dosen mata kuliah.
"Silakan kumpulkan tugas kalian ke depan," perintah Bu Amara begitu selasai mengucap salam dan duduk di kursinya. Memang dosen yang satu ini suka sekali to the point.
"Lho, ada tugas emangnya?" bisik Yuna pada Salsa yang duduk di kursi sebelahnya.
Salsa menganggukkan kepalanya dengan ringan. "Kan Bu Amara minggu lalu emang kasih tugas ke kita di mata kuliah Manajemen Risiko dan Tata Kelola. Jangan bilang kalau lo lupa, ya?"
"Mampus!" Yuna menepuk keningnya dengan keras, tamatlah sudah riwayatnya.
Bu Amara tidak pernah memberi toleransi pada siapa pun mahasiswanya yang melakukan kesalahan. Beliau tidak menerima alasan sekecil apa pun, yang jelas mahasiswa yang tidak mengerjakan tugasnya harus mendapat hukuman saat itu juga.
Setelah Bu Amara mengeluarkan titahnya, Aksa dan Jae langsung berdiri dari duduknya. Mereka berdua memang selalu menjadi langganan hukuman Bu Amara. Namun tak lama, Yuna juga ikut berdiri. Bu Amara seketika geram melihat mahasiswa pemalasnya bertambah satu orang, biasanya yang sering dihukum adalah Aksa dan Jae, dua laki-laki nakal yang memang susah diatur dari dulu.
"Ada apa dengan kamu, Yuna?! Kamu sudah tidak suka Ibu ajar lagi?!" ujar Bu Amara dengan tatapan tajamnya yang sangat mengintimidasi.
"Maaf Bu, saya …." Ucapan Yuna terhenti, ia bingung harus memberi alasan apa, ia tidak mungkin mengatakan pada dosen wanitanya itu jika belakangan ia sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Aksa, kan?
Mendengar hal itu, Bu Amara langsung menggebrak mejanya dengan keras. "Cepat ikuti Aksa dan Jae, bersihkan seluruh toilet di lantai tiga dan empat, dan setelah selesai jangan lupa lapor secara langsung pada saya!" titah beliau dengan suara tegasnya. Berbeda dengan dosen lain yang lebih memilih membiarkan mahasiswanya duduk dan mengikuti kelas dengan konsekuensi nilai berkurang atau tidak lulus dalam mata kuliah yang mereka ampu, Bu Amara beda lagi. Beliau lebih suka menghukum setiap mahasiswanya yang berbuat salah dan setelahnya memberi tugas pengganti yang biasanya harus dikumpulkan kurang dari delapan jam setelah penugasan.
Yuna mengembuskan napas panjang, dan dengan terpaksa ia mengikuti langkah Aksa dan Jae yang sudah lebih dulu keluar kelas dan sudah cukup hafal dengan hukuman yang Bu Amara berikan. Bagi mereka berdua ini adalah hal yang biasa, tetapi tidak dengan Yuna. Ini masalah besar bagi gadis itu. Hah, kenapa dia sial begini?
***
Hujan masih belum berhenti dan Yuna masih setia duduk di bangku halte, pandangannya kosong dan tiba-tiba saja ia teringat akan Saga, kakaknya. Suara hujan membawa pikirannya makin dalam memikirkan semua hal yang terjadi, semua yang berawal dari Saga yang menjualnya hingga akhirnya ia terpaksa menikah dengan Aksa, laki-laki yang bahkan tak terpikirkan akan masuk di kehidupannya.
"Lo dingin dan sulit digapai," lirihnya pelan.
Yuna tersenyum sendu membayangkan ketika dalam sekejab semuanya telah berubah, berubah sangat drastis. Jujur saja sampai sekarang Yuna masih mengingat jelas ketika ia baru lulus SMA, dan saat itu ia baru masuk ke Universitas Skyworld, dan hal yang tak ia duga terjadi. Ia menyukai Aksa, itu merupakan pertama kalinya ia menyukai teman sekelasnya dan tak ada seorang pun yang tahu.
Sebenarnya menyukai seorang Aksa Pradikta adalah hal yang wajar karena Sembilan puluh Sembilan persen mahasiswi di Universitas Skyworld tak bisa menolak pesona Aksa, dia terlalu tampan untuk diabaikan. Namun sayangnya rasa suka Yuna tak bertahan lama, rasa itu hilang dalam sesaat. Yuna tahu Aksa adalah orang yang sulit didekati, dan dia juga harus tahu diri dengan status sosialnya.
"Mungkin kalau kita dinikahin dua tahun lebih cepet, pasti gue bahagia banget karena waktu itu gue suka banget sama lo," gumam Yuna tersenyum sendu lagi.
Rasa sukanya pada Aksa memang benar-benar sudah hilang, tak ada yang tersisa. Namun Yuna juga tidak bisa memungkiri kalau sebulan belakangan ini ia sudah berusaha keras untuk mengontrol perasaan lamanya, ia tidak ingin menimbulkan masalah apa pun karena itu. Yuna berharap semuanya akan tetap baik-baik saja, setidaknya untuk beberapa saat ke depan, sebelum Aksa mulai muak dan meminta berpisah dengannya.Yuna melirik jam
Lama berselang, Yuna melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah sore dan hujan juga sudah berhenti. Sebenarnya Yuna sudah bisa pulang sejak tadi, tetapi ia sengaja berlama-lama di halte itu untuk menghibur dirinya yang sudah sangat lelah dengan takdirnya sendiri. Setidaknya jika Aksa bertanya kenapa ia terlambat pulang, ia bisa memakai alasan hujan.
"Cih, ngapain juga gue geer, nggak mungkin juga dia nanyain kenapa gue telat pulang," gumamnya kemudian terkekeh geli. Yuna berdiri dari duduknya dan segera menahan taksi yang kebetulan akan lewat di depannya. Saatnya untuk kembali dan menjadi Yuna yang selalu terlihat kuat.
***
Sampai di apartemen, Yuna hanya disambut oleh televisi yang menyala, sementara Aksa tidak ia tahu di mana. Ia lantas mengambil remot benda persegi Panjang dengan ukuran lebar itu dan mematikannya. Ia beralih masuk ke kamar, dan langsung mendapati Aksa yang tidur tengkurap di atas kasur. Dengan langkah pelan ia beranjak ke kamar mandi untuk mengganti bajunya yang masih sedikit basah. Namun tiba-tiba Aksa memanggil, membuatnya langsung berhenti melangkah.
"Tadi Mama nanyain lo," ujar Aksa yang kini sudah berbalik menatap Yuna.
"Gue …." Yuna terlihat ragu untuk menjawab.
"Lo kehujanan?" tanya Aksa ketika melihat baju Yuna yang masih basah.
"I-iya."
"Sana, cepet ganti baju," suruh Aksa kemudian kembali melanjutkan tidurnya.
"Aneh," gumam Yuna kemudian masuk ke kamar mandi.
Segera Yuna melanjutkan langkahnya dan segera mengganti bajunya, rasanya ia sudah mulai masuk angin karena kedinginan.
--
Jam menunjukkan pukul delapan malam dan kini Yuna tengah duduk di ruang tengah. Rasanya begitu membosankan karena dirinya masih belum terbiasa tanpa bekerja seperti sebelum-sebelumnya. Ah rasanya ingin sekali keluar jalan-jalan.
Tlinggg...
Satu notifikasi berhasil menyadarkan Yuna dari lamunannya dan membuatnya seketika duduk tegak.
Salsa : Lo dimana? Kafe?
Yuna bingung harus menjawab apa, entah alasan apa yang harus ia berikan pada sahabatnya itu.
Salsa : Gue ke kafe yaa, suntuk eii
Membaca pesan sahabatnya Yuna dengan cepat mengetik balasannya.
Jangannnn, gue izin hari ini sal
Salsa : yauda gue otw ke rumah lo yaa, dah
Yuna menarik nafas panjangnya mencoba bersikap tenang, ia tidak boleh panik. Kini ia beranjak dari tempat duduknya. Ia harus ke rumah lamanya sebelum Salsa duluan yang sampai disana.
Tepat depan pintu kamar langkah Yuna terhenti, ia menebak apakah Aksa sudah bangun atau belum. Tangan kanannya mulai terangkat hendak mengetuk pintu, tapi.
Ceklek...
Pintu sudah lebih dulu terbuka dari dalam. Yuna diam mematung, itu Aksa.
"Ada apa?" tanya Aksa datar.
"Emm, gapapa." Laki-laki itu melewati Yuna begitu saja tanpa memberi balasan apapun.
"Sa tunggu!" Aksa berbalik mendengar namanya dipanggil.
"G-gue boleh keluar sebentar nggak?"
"bodoh ngapain gue izin segala!" racau Yuna dalam hati.
"Nggak." Aksa kembali melanjutkan langkahnya membuat Yuna menatap tak percaya dengan jawaban singkat Aksa. Ia tentu tak menerima jawaban Aksa yang seperti itu, tanpa sadar ia malah menyusul Aksa dan menghalangi jalannya sebelum Aksa keluar dari apartment.
"Gue punya urusan penting, Sa!"
"Ga peduli, lo istri gue! Jadi apapun itu lo harus ikutin keputusan gue!"
Mata Yuna membelalak tak percaya dengan jawaban Aksa barusan, istri? Aksa menyebutnya istri barusan, rasanya seperti mimpi saja. Entah itu mimpi buruk atau mimpi indah. Tak berapa lama Aksa menangkup bahu Yuna dan menggeser gadis itu agar tidak menutupi jalannya.
"Jangan keluar satu langkah pun sebelum gue balik," titahnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Yuna yang masih mencerna ucapan Aksa barusan.
Tak berapa lama Yuna membuka benda pipih yang daritadi berada di tangannya, sekarang ia harus memberi alasan apapun kepada Salsa agar tidak ke rumah lamanya. Jika hal itu terjadi Salsa bisa curiga dengan dirinya.
***
Jangan lupa like teman-teman🤍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Fitrotus Saadah
ceritanya bagus lho...lanjut kak /Good//Good/
2024-08-14
1