00: 20 AM.
Aksa keluar dari bar, ia terkejut ketika melihat Yuna yang tertidur di area bar. "Lo bego, hah?! Lo nggak tahu tidur di sini bahaya?!" sentak Aksa, membuat Yuna langsung mengangkat kepalanya.
Yuna mengerjap-ngerjapkan mata, baru sadar jika ia tertidur di sana. Ia lantas mendongak, menatap pemuda di hadapannya itu.
"Gue nggak sengaja ketiduran di sini. Gue nggak mau pulang, gue takut Kak Saga ngejual gue lagi," balas Yuna dengan suara serak khas bangun tidur serta ekspresi mengantuknya, pipinya bahkan memerah karena kedinginan.
Mendengar jawaban Yuna barusan, Aksa menghela napasnya. Ia menghampiri Yuna, dan berdiri di hadapannya. Lagi, ia menatap gadis itu dalam-dalam.
"Ikut gue, tidur di apartemen gue aja," ujarnya membuat Yuna langsung menyilangkan tangan di depan dada, sepertinya kesadarannya kini terisi penuh.
"Mau apa lo?! Tadi lo bilang nggak berharap apa-apa dari gue?!"
"Oh, jadi lo lebih milih tidur di sini daripada di tempat gue?"
Demi kerang ajaib, kenapa nada bicara Aksa terdengar sangat akrab pada Yuna?
"Oke, gue ikut, tapi ada syaratnya! Tempat tidur gue sama lo harus pisah!" ujar Yuna dengan nada penuh peringatan, tidak tahu diri memang.
"Yang ngajak lo tidur bareng siapa coba? Cepet, sebelum gue tinggalin," ujar Aksa, kemudian beranjak ke mobilnya.
"Ternyata lo nggak seburuk omongan orang," gumam Yuna.
"Lo ngomong apa?"
"Nggak, orang gue lagi diem," elak Yuna.
Aksa berdecih, kemudian masuk ke mobilnya.
Selama perjalanan Yuna memilih diam, ia hanya memandangi jalan yang sepi. Ia masih tidak tahu apakah keputusannya mengikuti Aksa benar atau salah, yang jelas hanya ini jalan satu-satunya agar ia bisa tidur dengan nyenyak. Dan tentunya besok ia harus meminta bantuan Salsa untuk mencari tempat tinggal baru untuk sementara.
Aksa yang fokus menyetir menoleh sebentar, melihat Yuna yang terlihat mengantuk. Sama dengan Yuna, ia juga tidak tahu kenapa dirinya tadi mengajak gadis itu menginap di rumahnya, yang jelas ia melakukan ini karena masih memiliki rasa kemanusiaan. Belum lagi Yuna adalah seorang perempuan.
"Kalau ngantuk tidur."
"Nggak kok," balas Yuna seraya tersenyum.
"Masih bisa senyum juga lo?"
"Bisalah." Seketika senyum Yuna memudar.
"Lo nggak takut sama gue?"
"Mmm … sekarang sih takutnya cuma dikit."
Lagi-lagi Aksa berdecih mendengar jawaban Yuna yang seperti lelucon di telinganya.
"Tapi kalau di kampus gue takut setengah mati sama lo," sambung Yuna lagi.
"Lo dingin--"
"Berisik!" tegur Aksa, membuat Yuna menciut seketika. Aksa memang tidak suka kalau ada orang yang berusaha akrab dengannya apalagi menilainya sesuka hati.
"Mending lo tidur! Apartemen gue masih jauh," perintah Aksa, dan Yuna pun langsung menurutinya.
Yuna menyandarkan seluruh kepalanya dan kembali menatap ke luar jendela mobil, ia tersenyum hingga akhirnya senyumnya itu luntur seiring dengan matanya yang tertutup. Gadis itu sudah tertidur.
Setengah jam kemudian, keduanya sampai di basement gedung apartemen Aksa. Aksa menoleh, menatap wajah Yuna yang tengah terlelap. Mulut Yuna sedikit terbuka, membuat Aksa menarik sudut bibirnya dan tersenyum.
"Bisa-bisanya lo tidur nyenyak padahal lagi di dalam mobil orang asing," gumam Aksa.
Pelan-pelan Aksa menepuk bahu Yuna agar gadis itu segera bangun. Namun nihil, Yuna tak bergeming sama sekali.
"Bangun!" ujar Aksa. "Hei ...."
Yuna masih tak bergerak sama sekali.
"Lo mati?!" ujar Aksa dengan suara naik satu oktaf. "Bangun sebelum gue buang lo di jalanan!" seru Aksa lagi dengan suara kerasnya.
Yuna tersentak kaget dan langsung terbangun, hampir saja kepala mulusnya membentur dashboard mobil kalau tidak ada Aksa yang menahan jidatnya.
"Ceroboh, bahkan lo nggak pasang seatbelt," ujar Aksa.
"Gue lupa, maaf. Kita udah nyampe?" tanya Yuna seraya mengerjapkan matanya beberapa kali. Aksa tak menjawab pertanyaan Yuna, dia langsung turun. Mau tidak mau Yuna juga ikut turun, berjalan mengekor di belakang laki-laki itu.
Tak berapa lama akhirnya sampailah mereka di unit apartemen Aksa. Yuna merasa takut sekaligus canggung berada di sana. Pasalnya ini adalah pertama kalinya ia menginap di rumah teman laki-lakinya.
"Lo tidur di situ," ucap Aksa seraya menunjuk kursi sofa yang berada di ruang tamunya, Yuna membalasnya dengan anggukan mengerti dan beranjak ke sofa yang ditunjuk Aksa barusan.
"Inget, lo boleh nginep cuma malam ini doang," peringat Aksa kemudian langsung masuk ke kamarnya.
"Dingin banget, kayak es cendol Kang Maman!" celetuk Yuna tanpa terdengar oleh Aksa, ia kemudian merebahkan tubuhnya di kursi sofa.
***
Suara teriakan dari seorang wanita menggema di dalam apartemen Aksa yang luas. Itu Adara, Mama dari seorang Aksara Pradikta. Teriakannya berhasil membangunkan Yuna yang tertidur di sofa sekaligus memancing Aksa langsung keluar dari kamarnya.
"Kamu siapa?!" ujar Adara menatap lekat pada Yuna.
"Aksa! Ini siapa?! Kenapa kamu bawa perempuan ke apartemen kamu? Kamu mau mempermalukan papa kamu, hah?! Kamu ngga boleh kayak gini, Nak. Kalau kamu mau aneh-aneh ngga begini caranya!" ujar Adara menggebu-gebu.
"Apa, sih, Ma? Duduk dulu deh," balas Aksa seraya menghampiri Adara dan membawa mamanya itu duduk di sofa, lebih tepatnya duduk di samping Yuna yang masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
"Dia temen Aksa, namanya Yuna," lanjut Aksa kemudian.
"Temen kamu bilang? Terus, kenapa tidur di sini? Kamu itu laki-laki, Nak, nggak boleh berduaan sama perempuan yang bukan siapa-siapa kamu!" seru Adara makin mengomel, maklum ibu-ibu memang suka berlebihan.
"Ta-Tante ... saya minta maaf karena udah nginep di sini. Se-sekarang, sekarang juga saya bakal keluar dari sini kok, Tan," ujar Yuna kemudian, bersiap-siap untuk pergi dari sana.
"Tunggu!" tahan Adara menarik tangan Yuna, dan memintanya untuk duduk kembali.
"Tante nggak marah sama kamu, kamu duduk dulu aja. Sekarang kalian berdua harus ceritain semuanya ke Mama!" titah Adara menatap Aksa, kemudian beralih menatap Yuna.
Aksa berdecak pelan. "Dia dijual sama kakaknya, terus Aksa yang beli," jelasnya dengan singkat.
Plak!
Adara memukul paha Aksa gemas. "Kamu pikir dia barang yang bisa dijual dan dibeli semau kita?!" tegur Adara.
"Tapi emang gitu ceritanya, Ma," ujar Aksa lagi, memutar bola matanya dengan malas. Sangat tidak sopan.
Adara mengembuskan napas panjang, lalu beralih menatap Yuna yang kini menunduk lesu. “Apa benar kata Aksa?” tanya Adara dan Yuna mengangguk tanpa menatap wanita itu. Ia terlalu malu dengan dirinya saat ini. Dan ucapannya Aksa barusan memang benar terjadi.
"Sekarang, apa keputusan kamu? Kamu tidak mungkin tinggal di sini terus-menerus. Aksa itu laki-laki dan kamu perempuan, kalian tidak mungkin tinggal di atap yang sama tanpa hubungan yang jelas begini," ucap Adara dengan lembut pada Yuna.
"S-saya bakal keluar dari sini kok Tan, saya nginepnya cuma malam ini doang," balas Yuna, membuat Adara menatap kasihan padanya.
"Gimana sama kakak kamu, Nak? Dia ke mana? Dan orang tua kamu?" tanya Adara lagi.
--
Jangan lupa like teman-teman🤍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments