--
"Tunggu, tunggu!" tahan Jae. "Lo bukan mau nyatain perasaan lo ke gue, kan?!" tanya Jae menatap Yuna dalam-dalam.
Yuna menatap Jae balik, kening gadis itu mengernyit dalam. Ia sudah hendak menjawab, tetapi Jae sudah lebih dulu bersuara.
"Nggak boleh! Lo nggak boleh nembak gue. Harus gue yang nembak lo! Awas aja, ya," kata laki-laki itu.
Yuna menghela napasnya, lalu kembali menoleh pada Jae. "Apaan, sih, lo Jae? Ngaco banget," sahut Yuna. Mana mungkin juga ia berani mengungkapkan perasaannya pada Jae? Status sosial mereka jelas berbeda, pun dia juga tidak menyimpan rasa pada cowok itu.
"Dih, siapa yang ngaco? Gue beneran kali," ujarnya, dan Yuna hanya mengibaskan tangannya dan berjalan lebih dulu menuju kantin, meninggalkan Jae lebih dulu.
Yuna mengedarkan pandangannya begitu tiba di sana, mencari keberadaan Salsa. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, suasana kantin tampak lebih tenang sebab Sasya dan Sabrina yang biasanya bertengkar tidak terlihat di sana. Mungkin mereka tidak ada kelas pagi hari ini.
Senyum Yuna langsung merekah begitu menemukan keberadaan gadis itu yang tengah melambaikan tangannya di kursi paling pojok. Gadis itu segera beranjak menghampiri sang sahabat, dan langsung duduk di sampingnya hingga tak lama kemudian Jae menyusul dan langsung duduk di hadapannya.
Raut Jae terlihat tidak baik-baik saja, dia menopang dagunya dengan dua tangan seraya menatap lurus pada Yuna yang duduk tepat di hadapannya itu.
Salsa bingung dengan sikap Jae pada Yuna, ia hendak bertanya tetapi Jae sudah lebih dulu bertanya pada Yuna.
"Lo serius nggak mau sama gue?!"
"Apa, sih, Jae?"
"Gue cuma ma--"
"Jae, kita bahasnya nanti aja, ya, sekarang makan dulu. Lo lapar, kan?" ujar Yuna memotong ucapan Jae.
Ia tidak ingin Salsa mengetahui hal yang membuat Jae sampai bersikap demikian karena gadis itu pernah bercerita padanya jika dulu ia menyukai teman laki-lakinya itu. Yuna tidak ingin hubungan ketiganya menjadi canggung atau bahkan merenggang meski mungkin Jae hanya mengatakan hal itu sebagai candaan belaka.
***
Waktu berlalu begitu saja, tak ada yang terjadi. Bahkan ketakutan Yuna pada Aksa sudah hilang. Sepertinya monster satu itu memilih melepaskannya kali ini. Dan, tentu saja Yuna merasa lega akan hal itu.
Ia melirik jam yang terpajang di kafe tempatnya bekerja. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam dan itu sudah melewati jam kerjanya. Akhir-akhir ini Yuna memang bekerja melebihi jam yang seharusnya sebab pelanggan kafe yang tak henti berdatangan, membuatnya mau tak mau harus melayani mereka.
Yuna menyusuri jalanan yang lumayan sepi. Maklum, rumahnya memang bukan pemukiman padat penduduk. Gadis itu terus melangkahkan kakinya hingga ia mendadak berhenti saat melihat seseorang yang tengah dikeroyok oleh dua lelaki dengan pakaian serba hitam tepat di depan rumahnya.
Mata Yuna lantas memicing. Bola matanya membulat lebar saat tahu siapa sosok yang tengah dipukuli itu. Tanpa menunggu waktu lebih lama, ia langsung berlari menghampiri kakaknya yang tak berhenti dijadikan samsak tinju itu.
"Tunggu, tunggu! Kenapa kalian memukuli kakak saya?!" ujar Yuna yang langsung menjadi tameng untuk kakaknya, ia masih berbicara sopan karena dua laki-laki itu terlihat lebih tua darinya, bahkan lebih tua dari Saga.
Dua laki-laki itu menatap Yuna dari ujung rambut hingga ujung kakinya kemudian mereka saling menatap satu sama lain. Melihat tingkah dua laki-laki itu membuat Yuna merinding sekaligus takut. Namun, ia sama sekali tak gentar untuk menjadi tameng Saga, ia tidak mau kakaknya dipukuli lagi.
"Temui saya besok malam!" Setidaknya itulah kalimat terakhir dari salah satu pria itu pada Saga sebelum mereka pergi. Yuna tak mengerti tujuan mereka, sekarang ia harus membawa kakaknya masuk ke dalam rumah dan mengobati luka-lukanya.
Yuna membawa kakaknya duduk di sofa ruang tamu. Ia menatap lekat pada Saga yang sesekali meringis kesakitan. Tak tega ia melihat Saga yang seperti itu. Yuna lantas pergi mengambil beberapa obat untuk mengobati luka Saga. Ia juga menyiapkan minuman dan makanan untuknya. Bukan makanan mewah, melainkan hanya nasi goreng pinggir jalan dan segelas teh manis yang biasa ia buatkan untuk sang kakak. Untung saja di jalan pulang tadi ia sempat membeli makanan untuk kakaknya itu.
Setelah semuanya beres, Yuna pun masuk ke dalam kamarnya. Ia memang tidak bertanya soal kejadian tadi, ia yakin Saga tidak akan menjawabnya barang satu kata pun.
"Kakak istirahat, ya, Yuna juga mau ke kamar," ujarnya sebelum beranjak dari sana.
Seperti biasa, sebelum benar-benar beristirahat ia harus memastikan semuanya selesai, termasuk tugas-tugas kampusnya.
Saat asik memeriksa tugas kampusnya Yuna tak sengaja melihat foto masa kecilnya yang terpajang di sudut meja belajarnya. Itu satu-satunya foto yang ia miliki saat berada di panti asuhan. Senyum polosnya yang begitu indah membuat Yuna seketika merasa tidak memiliki beban apapun di dunia ini.
"Andai saja bisa kembali ke masa itu, dan andai sajaa..." Yuna menggantung ucapannya, matanya mulai berkaca-kaca.
"... Andai saja orang tuaku ada dan bertanggung jawab atas semuanya. Mungkin semuanya ga akan jadi seperti ini hiks..."
Air mata Yuna mengalir begitu deras, bohong jika dirinya tak merasa capek dengan keadaannya selama ini. Setiap hari harus dipaksa merasa kuat dan tegar padahal dirinya juga sangat membutuhkan tempat untuk mengadu, tempat untuk menjadi dirinya sendiri.
***
Esoknya, Yuna hendak pergi ke kampus seperti biasa, hari ini mata kuliah pertamanya masuk jam dua siang. Yuna berpamitan pada Saga yang ternyata masih berbaring di sofa. Namun sebelum benar-benar beranjak dari sana, kakaknya itu malah menahan tangannya.
"Hari ini bolos dulu, ya, Dek, temenin Kakak," ucap Saga menatap Yuna.
Yuna yang melihat tatapan Saga merasa bingung dan sesak secara bersamaan, entah sudah berapa lama ia tak melihat kakaknya memberi tatapan lembut seperti itu. Sejak masuk bangku kuliah dirinya selalu diabaikan dan dianggap tak ada oleh kakaknya sendiri.
"Iya, Kak," balas Yuna tanpa membantah. Ia kembali masuk ke kamarnya untuk menyimpan tasnya. Dan berhubung Saga memintanya untuk tetap di rumah, Yuna memutuskan untuk bersih-bersih rumah saja.
--
Tidak terasa waktu sudah beranjak ke sore hari, kini Yuna tengah belajar di ruang tengah, dan tiba-tiba Saga keluar dari kamar dan menghampirinya. Laki-laki itu ikut duduk di lantai samping Yuna, membuat Yuna merasa sedikit canggung. Ia masih belum terbiasa dengan sikap Saga yang seperti ini, sudah lama sekali Yuna tidak duduk sedekat itu dengan sang kakak.
"Dek, Kakak keluar dulu, kamu jangan keluar rumah, ya?" titah Saga pada Yuna.
"Iya, Kak, siap," balas Yuna dengan senang hati, ia memang tidak berniat keluar hari ini. Ia juga sudah meminta tolong ke Mbak Lira agar mengisi shift kerjanya malam ini.
Saga beranjak dari duduknya dan berlalu keluar rumah. Sebenarnya Yuna merasa ada yang aneh dengan sikap Saga yang tiba-tiba menjadi baik, tetapi karena Yuna senang dengan perubahan Saga, rasanya ia tidak perlu menanyakan lagi penyebab kakaknya berubah
***
Jangan lupa like ya teman-teman🤍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments