Sebulan, hanya sebulan waktu untuk Cakra dan Adara menyiapkan pernikahan Aksa dan Yuna. Keputusan besar yang mereka ambil untuk anaknya tentu tidak terlepas dari pengalaman mereka sendiri. Cakra dan Adara dulu malah menikah saat keduanya masih SMA, dan itu bukanlah halangan besar selama mereka bisa menyikapinya dengan benar. Tak mudah memang, tetapi mereka sudah bertahan sampai sejauh ini. Bahkan Cakra dan Adara sudah memiliki dua anak, yaitu Aksara Putra Pradikta dan Claranesya Putri Pradikta.
Adara tentu juga mempertimbangkan masa depan anak-anaknya. Keputusannya untuk menikahkan Aksa dan Yuna pun bukan keputusan yang ia buat dengan gegabah meski ia memikirkannya dengan waktu yang sangat singkat. Selain bisa menyelamatkan Yuna dari kekejaman kakak laki-lakinya, tentu Adara memiliki harapan yang baik untuk Aksa. Mungkin dengan menikahkan sang putra, Aksa yang bandel, keras kepala, dan suka semaunya sendiri bisa belajar menjadi laki-laki yang lebih bertanggung jawab dan lebih dewasa di umurnya yang sebentar lagi memasuki kepala dua.
Beberapa jam yang lalu acara pernikahan Aksa dan Yuna telah diselenggarakan, semua tamu yang datang sudah kembali pulang termasuk pihak dari keluarga Aksa. Keluarga Yuna? Tentu tidak ada, yang ada hanya beberapa pengurus panti yang dulunya merawatnya dan Saga.
Pernikahan mereka memang tertutup, tak banyak yang hadir. Hanya keluarga inti saja yang datang, bahkan teman-teman Aksa dan Yuna saja tidak diundang.
"Jagain Yuna, ya, Nak? Kamu tahu, kan, Mama percaya sama kamu?" titah Adara pada anak pertamanya itu.
"Iya, iya," balas Aksa acuh tak acuh.
"Yuna, nanti sering-sering ke rumah, ya, Nak?" ucap Adara mengusap lembut kepala Yuna.
"Iya, Tante."
"Mama," ralat Adara dengan cepat.
"I-iya, Ma."
"Ya udah, Aksa pulang, Ma!" pamit Aksa. Yuna pun segera mengekor di belakangnya.
***
Yuna dan Aksa sudah tiba di apartemen laki-laki itu sejak satu menit yang lalu. Sedari tadi yang Yuna lakukan hanya berdiri kaku di tengah ruangan, memandang Aksa yang tak begitu memedulikan eksistensinya di ruangan itu. Benak Yuna mulai memutar kilas balik tentang semua hal yang sudah menimpanya. Ia mengingat awal semuanya dimulai, awal ketika ia datang dan menginap di apartemen laki-laki itu. Ini kedua kalinya ia datang ke sana, dan kedatangan yang kedua ini Yuna sudah memiliki status yang berbeda, ia sudah menjadi istri seorang Aksa Pradikta, most wanted Universitas Angkasa.
"Kamar dan kasurnya cuma satu, jadi lo harus tidur di bawah, nanti gue cariin kasur lipat," ujar Aksa dengan nada datarnya.
"Iya," balas Yuna tanpa menolak, ia memang tidak berharap lebih dari Aksa, tidak mungkin laki-laki itu memberikan kasurnya begitu saja karena yang pendatang di sini adalah dirinya.
Mereka masuk ke dalam kamar yang sama. Aksa langsung beranjak ke lemarinya, mencari kasur yang ia maksud tadi. Kemudian ia berikan kasur itu ke Yuna yang dari tadi hanya berdiri bak barang pajangan.
"Nih!"
Yuna langsung menerima kasur lipat itu dan menggelarnya di lantai marmer putih itu.
"Gue nggak suka berisik, jadi lo tahu, kan, apa aja yang nggak boleh lo lakuin?" peringat Aksa pada Yuna yang masih sibuk merapikan kasurnya.
"Iya …."
"Oh iya, lo tahu, kan, gue nggak--"
"Iya, gue tahu, lo nggak bakal ngakuin status gue sebagai istri lo di kampus. Tenang aja, mulut gue rapet kok, gausah khawatir," potong Yuna sebelum beranjak menuju kamar mandi, ia harus membersihkan riasan di wajah dan juga mengganti gaun pernikahan yang masih membungkus rapat tubuhnya itu.
***
Pagi hari, Yuna bangun lebih awal. Bahkan matahari pun belum menampakkan cahayanya. Ia beranjak ke kamar mandi tanpa menimbulkan suara sedikit pun, pintu kamar mandi pun ia tutup dengan hati-hati.
Tiga puluh menit waktu yang Yuna butuhkan untuk bersiap-siap dan membereskan segala keperluan kampusnya. Yuna pun keluar dari kamar dan beranjak ke dapur. Biasanya ia sarapan dengan roti alakadarnya. Namun kali ini sepertinya ia bisa sarapan lebih dari itu.
Yuna membuka kulkas yang ternyata penuh dengan bahan masakan, ia tersenyum simpul dan berpikir jika mertuanyalah yang sudah menyiapkan semuanya. Yuna pun memilih untuk membuat omelet yang lebih praktis dan cepat dimasak. Setelah masakannya selesai, Yuna menatanya di meja, dan memakan bagiannya dengan cepat sebelum Aksa bangun dari tidurnya.
Pukul tujuh lebih, Yuna berangkat menuju kampusnya dengan naik taksi. Menikah dengan Aksa otomatis mengubah hidupnya secara perlahan, bahkan sekarang uang bukanlah masalah besar untuknya.
Ya, semua itu karena mama mertuanya. Yuna menerima banyak cinta dan kasih sayang dari beliau, bahkan Adara tidak mengizinkan Yuna bekerja lagi. Katanya, itu akan sangat melelahkan jika melakukan dua hal sekaligus dalam sehari. Padahal Yuna sudah menjalani hal itu beberapa tahun belakangan.
Setengah jam kemudian, taksi yang Yuna tumpangi berhenti tepat di depan gerbang kampusnya. Perjalanan Yuna menuju kampus memang cukup lama sebab apartemen Aksa yang jaraknya cukup jauh dari sana. Dan seperti biasa, hal pertama yang Yuna lakukan adalah menyapa Pak Dadang, sebelum melanjutkan langkah menuju ke kelas. Kampus masih terlalu sepi, mungkin karena tidak banyak mahasiswa yang ikut kelas pagi.
Baru hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas, ponsel yang berada di sakunya terasa bergetar. Rupanya ada pesan masuk dari nomor yang tidak ia tahu siapa.
Gue nggak suka telur!
Yuna mengernyit heran setelah membaca pesan singkat itu. Perasaan ia tidak pernah bertanya perihal suka atau tidak suka tentang telur, tetapi mengapa ada orang yang mengirimnya pesan seperti itu?
"Ah, paling juga salah kirim," gumamnya kemudian, memasukkan ponselnya ke dalam saku dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kelas.
Drrrt … Drrrt … Drrrt ….
Ponsel Yuna kembali terasa bergetar. Yuna memutuskan untuk duduk lebih dulu sebelum kembali merogohnya.
Ini gue, Aksa.
Itulah pesan kedua yang laki-laki itu kirimkan padanya.
Mata Yuna membelalak lebar. Dengan resah, ia menggigiti ujung kukunya. Bingung harus bagaimana membalas pesan laki-laki berstatus suaminya itu, takut apabila malah semakin membuat Aksa marah, hingga akhirnya satu kata terlintas di pikirannya.
Maaf
Besok-besok masak telur lagi gue buang telurnya sama piring-piringnya!
Iyaaaa, maaf sekali lagi
Yuna menghela napasnya, masakan pertamanya untuk Aksa ternyata membawa petaka.
"Ketus amat kayak emak-emak nagih kontrakan," gumam Yuna yang merasa kesal. Gadis itu segera melanjutkan langkahnya menuju kelas.
***
MAKASIH YAH YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI, JANGAN LUPA KASIH LIKE DI TIAP PARTNYA. WOPYUU GUYS🤍 MAAF KALAU CERITANYA MASIH BANYAK KELURANGAN.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Fitrotus Saadah
maraton bacanya...asyik ceritanya kak /Good//Good/
2024-08-14
1