Tepat jam tiga sore adalah waktu berakhirnya jam mata kuliah Yuna yang terakhir, saat ini ia tengah berjalan menuju tempatnya bekerja, yaitu Dandelion’s Caffe.
"Halo Kak, Yuna udah dateng. Kakak boleh pulang sekarang," sapa Yuna pada Lira yang juga bekerja di kafe itu. Usia mereka terpaut lima tahun, jadi Yuna memanggilnya kakak.
"Oke, Dek!" balas Lira dengan senyuman khasnya.
Biasanya Yuna bekerja di kafe itu sampai jam sembilan malam. Yuna bisa saja selesai lebih awal dari jam kerjanya, tetapi demi gaji lebih, ia mengambil jam kerja hingga malam.
Jam setengah sembilan malam, Yuna masih bergelut dengan pekerjaannya. Kalau boleh jujur ia sudah sangat kelelahan dan sangat mengantuk, tetapi ia harus menahannya sebisa mungkin. Rasanya ia benar-benar merindukan kasurnya saat ini.
"Lo harus kuat Yuna, tinggal tiga puluh menit lagi," ucapnya menguatkan diri sendiri.
Akhirnya tiga puluh menit pun berlalu, Yuna langsung terlihat bersemangat karena waktu yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Yuna langsung melepas celemek berlogo kafe Dandelion itu asal. Ia harus segera pulang sebelum Saga juga pulang.
Kring!
Lonceng pintu masuk kafe berbunyi, itu pertanda ada pelanggan yang masuk. Yuna menghela napasnya lalu memasang senyuman semanis mungkin, ia metatap seseorang yang baru datang itu dengan ramah.
"Maaf, Kak, kami sudah tutup, silakan kembali besok, ya?" ucapnya dengan penuh rasa sopan.
"Gue bukan kakak lo! Coffee Latte satu," balas laki-laki itu.
Yuna menghela napas beratnya, ingin sekali rasanya ia membantah laki-laki ini. Namun harus ia urungkan karena yang sedang berhadapan dengannya saat ini adalah Aksa, cowok dingin bak monster di kampusnya.
"Maaf, tapi kami udah tutup. Kakak bisa kembali besok."
"Nggak bisa!"
"Mohon maa-"
"Lo ngerti bahasa gabisa ha? Coffe Latte satu!" sentak Aksa membuat Yuna menarik napas panjangnya.
"Ya udah, Kakak buat sendiri saja pesanan Kakak, kami udah tutup!" balas Yuna dengan nada yang mulai jengkel, ia sudah telanjur kesal dan sudah tidak peduli lagi dengan Aksa yang masih menatap datar padanya.
Kali ini Yuna berani karena ia berpikir Aksa tidak akan mengenali dirinya. Aksa adalah seorang most wanted, tidak mungkin ia mengenal Yuna yang hanya remahan kerupuk di kampus. Yuna yakin itu.
Namun, dugaannya ternyata salah. Laki-laki itu mengenali dirinya.
“Jangan kira gue nggak kenal lo, ya, awas aja. Lo anak jurusan gue, yang tadi jatoh di depan gerbang kampus sama kena siraman kuah bakso, kan?!”
Uhukkkk
Mata Yuna membelalak, ia tersedak ludahnya sendiri saking kagetnya. Aksa tahu tentang dirinya, bahkan dia menyebutkannya dengan sangat lantang. Tak sampai di situ, Yuna bahkan lebih kaget lagi setelah menyadari kalau Aksa baru saja berbicara lebih dari sepuluh kata. Luar biasa, pikirnya.
"Maaf Kak, Kakak tadi pesan apa? Coffee Latte? Akan saya buatkan, tunggu lima menit, ya? Silakan duduk dulu," ucap Yuna mencoba kembali ke mode pelayan yang baik.
Aksa tak menggubris, ia hanya diam kemudian beranjak ke salah satu kursi di kafe itu, sedangkan Yuna sudah sibuk dengan Coffee Latte pesanan Aksa. Kali ini ia harus bersikap baik kembali pada Aksa agar terhindar dari masalah karena tidak ada yang bisa menjamin dirinya akan baik-baik saja di kampus jika sudah bermasalah dengan monster satu itu.
Pesanan Aksa telah selesai dibuat, dengan langkah kaku dan tangan yang bergetar Yuna beranjak menghampiri Aksa yang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Ini, Kak, pesanannya."
Aksa mendongak menatap Yuna, membuat yang ditatap langsung membeku seketika. Tak lama Aksa sudah mengeluarkan uang seratus ribu dan menaruhnya asal di atas meja. Setelah menaruh uangnya, Aksa langsung mengambil Coffee Latte-nya dari tangan Yuna dan langsung pergi begitu saja.
Yuna bernapas lega, tetapi ketika ia beralih menatap uang Aksa yang berada di atas meja dia langsung terkejut.
"Eh, Kak, kembaliannya?!" teriak Yuna.
Lagi, Aksa tak menggubrisnya sama sekali. Dia bahkan tak menoleh sedikit pun, membuat Yuna mencibir kesal. Bagaimana bisa ada orang seboros Aksa, minuman harga dua puluh lima ribu malah dia bayar seratus ribu?
"Dasar, ngerugiin uang orang tua aja!" racaunya masih kesal.
***
10:45 PM
Yuna baru sampai di rumahnya, semua itu terjadi karena insiden bersama Aksa tadi. Ia pulang terlambat karena harus melayani Aksa dulu. Belum lagi drama di perjalanan pulang tadi, ia sempat dikejar anjing yang ada di perempatan dekat rumahnya, hal itu memaksa Yuna harus lari memutar arah agar tak bertemu anjing itu lagi.
"Hah, bahkan sampai detik-detik terakhir pun lo masih kena sial, Yun!" gumam Yuna kemudian langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur keras miliknya. Dia bukan orang kaya yang mau-mau saja menggelontorkan sejumlah uang hanya untuk tidur di kasur yang paling nyaman.
Yuna menutup matanya selama sepuluh detik kemudian membukanya kembali. Dirinya baru saja lupa mengecek kembali buku pelajarannya untuk memastikan apakah ada tugas tambahan dari dosennya atau tidak. Ia tidak boleh lalai. Ia harus belajar demi masa depan yang cerah.
***
Yuna belajar hingga larut malam, diliriknya jam dinding tua yang berada di kamarnya. Sudah jam setengah satu malam, sebentar lagi kakaknya pasti pulang. Yuna harus segera membuat teh panas untuk Saga karena biasanya Saga akan meminta teh panas meski dalam kondisi mabuk-mabukan.
Brak!
Jangan pikir Yuna kaget dengan suara itu, telinga dan jantungnya sudah terbiasa dengan suara hantaman pintu yang dibanting dengan sengaja. Itu pasti Saga, kakaknya.
Yuna sedikit berlari keluar kamar dan menghampiri kakaknya yang ambruk tepat di depan pintu. Dipapahnya Saga dengan bahu kecilnya hingga sampai di ruang tamu. Saga memang lebih suka tidur di sana, khususnya di sofa.
"Mana teh gue?!"
"Bentar, Kak, Yuna buatin dulu."
"Cepet! Awas aja lama!" sentak Saga, membuat Yuna langsung berlari ke dapur. Dengan gerakan cepat, Yuna menyiapkan teh yang diinginkan Saga, untung saja di rumahnya selalu tersedia air panas, jadi ia tidak perlu memanaskan air lagi.
"Ini, Kak, tehnya."
"Hah, lama!" sentak Saga langsung mendorong gelas tehnya dengan kasar hingga gelas kaca itu terlempar ke lantai dan pecah berhamburan.
Yuna menatap nanar gelas itu. Bahkan tidak sampai lima detik, kakaknya itu menghacurkannya menjadi pecahan tak berharga.
Yuna segera membersikan pecahan gelas itu, ia takut Saga bangun dan menginjak pecahannya. Setelah selesai membersihkannya, Yuna mengecek kondisi Saga, laki-laki itu sudah tertidur lagi.
"Udahlah, mending aku tidur aja," gumamnya.
"Selamat tidur, Kak. Besok malam Yuna janji bakal buat tehnya sebelum Kakak pulang," bisik Yuna di telinga Saga, kemudian mencium pipi Saga sekilas.
Yuna segera masuk kembali ke kamarnya, ia langsung membungkus tubuhnya dengan selimut. Selesai sudah dramanya hari ini, waktunya untuk beristirahat dengan damai.
Semoga saja ada hal baik esok hari.
°°°
Jangan lupa like teman-teman🤍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Naila
Banyak kali dugaannyaa
2024-08-26
1