Emy dan Indira terus menari. Ia melirik sosok pria yang ia selamatkan saat dipantai waktu itu. Ia sangat kesal, sebab ternyata pria itu salah satu dari mereka.
"Sial! Apakah mereka sengaja mencelakakan kami hingga terdampar ditempat ini, lalu mereka jadikan tumbal?" guman Emy dalam hati.
Sementara itu, Darmadi dan juga Yudi diikat diatas meja datar yang terbuat dari batuan cadas dengan golok jagal yang siap memenggal kepala mereka.
Kedua pemuda itu dibaringkan diatas meja penjagal, lalu diikat agar tidak melawan.
Keduanya seolah merasakan kesialan yang tidak berujung saat memutuskan untuk berlibur kepulau neraka ini.
Sesat sosok Ular raksasa dengan sisiknya yang hitam berkilauan dan mahkota yang menghiasi kepalanya merayap dengan begitu santainya.
Sssssssshhhsss....
Terdengar suara desisannya yang sangat mengerikan. Lalu kepalanya berubah menjadi sosok wanita cantik dengan aura kejam yang tergambar jelas diwajahnya.
"Persiapkan persembahan. Malam ini tepat malam gerhana bulan merah, maka kesempurnaan persembahan akan membuatku tak terkalahkan!" ucapnya lantang sekaligus menggelegar.
"Hu..hu..hu...," para orang primitif itu bersorak sorai. Mereka menari dan menghentakkan tombaknya keatas tanah sebagai wujud terimakasih pada sang iblis karena.
Mereka terus menari dan hal yang menjijikkannya lagi mereka bahkan melakukan pesta zinah ditempat tersebut.
Emy dan juga Indira tampak sangat mual melihat pemandangan yang sangat sial tersebut.
Saat bersamaan, sosok pria bertubuh tinggi dan juga berkulit gelap menghampiri Emy dan Indira. Pria berjalan dengan tatapan seringai.
"Hallo manis, mungkin kita dapat bersenang-senang," ucapnya dengan nada yang terdengar sangat mengerikan.
Emy menyunggingkan senyum sinis. "Oh, boleh saja. Tetapi tempat umum seperti ini tidak membuatku tertarik, apakah ada tempat yang lebih privasi?" gadis itu mencoba menanggapi.
Indira tercengang mendengar ucapan rekannya. "Apakah kamu sudah tidak waras?" bisik Indira dengan wajah panik."Lelenya pasti item," gadis itu mencoba menimpali ucapannya.
"Kamu gak berniat membantuku?" balas Emy dengan lirih.
"Ih, kamu saja-sana," tolak Indira dengan bergidik.
Sesaat Emy membisikkan sesuatu pada rekannya, lalu Indira mengangguk setuju.
"Baiklah, Tampan. Kita akan bersenang-senang," sahut Emy, yang ditanggapi senyum bergidik oleh Indira.
Pria itu tersenyum seringai. Kapan lagi coba bisa liat kulit putih dan mulus dari wanita, karena ia melihat wanita ditempatnya berkulit gelap semua.
Emy dan Indira bergerak menuju tempat dimana sang pria membawa mereka.
Sementara itu, suasana malam ini sangat mengerikan. Dimana selain berpesta zinah, mereka juga menenggak minuman memabukkan dari bahan alam yang mereka racik sendiri.
Bahkan mereka menyantap sisa daging manusia yang sudah mereka bakar dan tentunya mereka dapatkan dari para korban kapal yang karam.
Mereka begitu menjijikkan dan tidak layak untuk disebut manusia.
Sering kali mereka juga memakan sesamanya. Dimana jika diantara mereka ada yang meninggal dunia karena penyakit atau serangan hewan buas, maka mereka tidak menguburnya, tetapi mereka membakarnya hingga matang dan memakannya bersama-sama.
Setelah menyantap daging dan organ tubuhnya, maka tulang belulangnya mereka bakar menjadi abu, lalu mereka balurkan ke tubuh untuk membuat penyatuan jiwa agar mereka menjadi orang sakti.
Menreka menyisakan tengkorak kepala dan menyusunnya dengan rapi disebuah tempat, lalu akan mereka gunakan sebagai wadah meminum minuman memabukkan untuk waktu penumbalan seperti saat ini.
Pria itu tampak begitu riang gembira saat Emy dan juga Indira mengikutinya.
Setelah tiba ditempat yang sepi, tepatnya belakang tembok panggung penjagalan, Pria itu tak sabar menarik Emy ke dalam dekapannya. Ia duduk disebuah bongkahan batu, lalu membuat cumbuan.
Yudi dan Edy yang melihat dua rekannya dibawa pria primitif kebalik panggung merasa gerah. Mereka berusaha ingin melepaskan ikatan tali tubuh dan tangan mereka, tetapi tak juga berhasil.
Sesaat Emy mulai melayani pria itu, dan perlahan ia membuka cawat sang pria, lalu menarik senjata pria itu dengan kasar dan putus seketika.
"Arg....," Indira menyumpalkan sebuah batu berukuran besar kemulut pria itu dengan kasar, hingga sang pria mengalami luka parah.
Kemudian Emy merampas tombak tersebut, lalu menghujamkannya pada tubuh sang pria.
Craaaaaaas....
Ujung tombak menembus punggung sang pria dan ini cukup berhasil membuat pria itu tak bernyawa.
"Kita jadi pembunuh?" Indira tampak gemetar.
"Kita tidak punya pilihan, jika tidak, maka kita yang terbunuh." Emy menarik tombak tersebut dari sosok pria sialan itu.
"Bagaimana ini? Kita harus menyelamatkan Yudi dan juga Darmadi," Indira tampak bingung.
"Kita harus dapat membuka tali tersebut dan kita harus fikirkan caranya." Emy melirik ke arah Yudi dan juga Darmadi.
"Tapi apakah kita bisa mengambil pakaian yang ada didalam sana? Aku sangat risih berpakaian seperti ini," Indira merengek.
Emy mengjela nafas berat. "Ayo."ia bergerak mengendap dan menyelinap memasuki ruangan tempat dimana mereka meninggalkan pakaian mereka.
Sementara itu, sosok Ular berukuran raksasa itu menggeliatkan tubuhnya dengan sangat cepat.
Ia tampak menatap dua pemuda yang saat ini sedang berada diatas dipan batu dengan sangat tak sabar.
Persiapkan semua ritual!" titahnya dengan nada tinggi.
Seketika mereka yang sedang berpesta menghentikan kegiatannya dan menghatur sembah.
Salah satu pria bertubuh tinggi datang dengan membawa dua buah tengkorak yang berisi da-rah yang merupakan salah satu dari mereka yang telah mati karena sudah tua dan dagingnya baru saja mereka nikmati bersama.
Sosok pria itu datang menaiki panggung. Lalu menghampiri Yudi dan Darmadi yang sedang terbaring tak berdaya.
Ia menuangkan cairan pekat itu ke tubuh Yudi, lalu membalurkannya hingga bersalut selimut da-rah.
Hal yang sama pria itu lakukan untuk Darmadi, dan hal itu membuat pemuda itu merasa mual dan ingin muntah.
Perutnya serasa diaduk dan ini sangat membuatnya sesak.
Yudi merasakan tubuhnya licin saat terkena siraman saus merah pekat itu.
Pria bertubuh tinggi itu mengangkat kedua tengkorak yang sudah kosong itu keatas seolah menatap bulan yang sedang gerhana.
Ia tampak membaca mantra dan menghatur sembah pada sosok Ular Siluman yang saat ini menatapnya intens saat acara ritual berlangsung.
Setelah selesai, ia turun dari atas panggung dengan langkah yang begitu bangga.
Sementara itu, Yudi menggerakkan lengannya dan mencoba membuat ge-sekan antara tali dan juga batu agar membuatnya terputus.
Meskipun caranya sangat mustahil, tetapi ia tak ingin patah semangat.
Saat bersamaan, tampak Ular Siluman itu bergerak merayap menuju panggung.
Ia tak sabar untuk mendapatkan tumbalnya, dan hanya sekedip mata saja, ular itu sudah berada diatas panggung dan bersiap memberi perintah untuk penjagalan.
Oa membutuhkan hati dan juga energi dari dua pemuda itu.
Sebelum penjagalan, ia akan menarik energi murni dari keduanya untuk menambah kekuatannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Susi Akbarini
mudah2an mereka bisa selamat..
❤❤❤❤❤
2024-08-25
3
V3
duo Di di siram saos darah 🤣🤣
smg sgra ada orang yg menolong mereka berdua
2024-08-23
2
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
ini tenaga nya Emy yg super atau tuh senjata emang di desain gampang putus..? sekali tarik langsung putus.. 😳🙀🙀🙈🙈🙈
2024-08-23
3