DA-12

Braaaaaak...

Para pria berkulit coklat pekat itu melemparkan empat orang yang menjadi tawanan mereka dilantai goa.

Keempatnya masih tertidur lelap dan tidak menyadari apa yang terjadi.

Sebuah ruang yang luas dengan pencahayaan minim yang terdapat dari sinar rembulan melalui celah dilangit-langit goa.

Salah satu pria bertubuh tinggi dan juga besar dengan tombak ditangannya menendang kaki Darmadi dan juga Yudi secara bergantian.

Paaaaaaak...

Terdengar suara tendangan yang menyakitkan dan itu cukup membuat keduanya tersadar.

"Hah!" keduanya terbangun dengan kondisi keheranan dan tampak mereka saling pandang satu sama lain dan tersentak kaget saat melihat orang-orang tengah berkerumun memandang mereka.

Keduanya merasakan jika kepala mereka sangat pusing dan mencoba mengingat jika saat sebelum berada ditempat ini mereka sedang tertidur ditepi hutan dan sangat mengantuk, tertidur lelap dan tiba-tiba sudah berada ditempat yang asing.

Mereka hendak bangkit, tetapi mereka dikejutkan karena ternyata tangan mereka terikat kebelakang dengan menggunakan akar tumbuhan.

Kedua pemuda itu merasakan jika mereka sedang diujung maut dan perlahan rasa gugup menghampiri mereka.

"K-kita dimana?" tanya Yudi dengan tergagap.

"Yang pastinya didalam goa, dan ini masih malam hari," jawabnya.

"Apakah nasib kita akan sangat mengenaskan?" tanyanya dengan sangat pasrah.

"Entahlah...,"

Sementara itu, Indira dan juga Emy masih tertidur karena pengaruh obat yang mereka hirup terlalu banyak.

Yudi berusaha untuk duduk dan hal.yang sama dilakukan Darmadi, mereka duduk saling membelakangi dengan berhadapan punggung yang merapat.

"Apakah kau bisa mengambilkan pisau lipat milikku yang ada dikantong celana sebelah kanan?" bisik Yudi dengan nada berbisik.

Tanpa menjawab, Darmadi mulai mencari pisau lipat yang dikatakan oleh Yudi dibalik saku celananya.

Saat bersamaan, mereka dikejutkan oleh suara desisan yang terdengar datang dati arah sebuah lorong didepan mereka.

Sssssstttsss....

Suaranya terdengar sangat mengerikan, dan ternyata itu sebanding dengan ukuran tubuh sang ular yang mana hampir memenuhi ruangan. Ular sepanjang 10 meter dengan bobot ratusan kilo tampak merayap menuju ke arah mereka dan dengan sebuah mahkota berwarna hitam diatasnya.

"Yang mulia Ratu, kami sudah membawakan dua orang pria yang akan dijadikan tumbal sebagai persembahan," ucap salah seorang pria berkulit gelap tersebut.

Sesaat Yudi merasa seperti mengenali suara sosok dibalik wajah yng bertutup topeng itu, tapi dimana, ia merasa dejavu.

"Buat ritualnya persembahan. Lalu arak mereka menuju istanaku, dan dua orang wanita itu, gabungkan mereka dengan yang lainnya," titah sang Ratu Siluman Ular.

"Baik Ratu, titahmu adalah perintah untukku," sahut pria tersebut, dan bergegas menarik Darmadi dan jug Yudi agar bangkit dari tempatnya.

Saat bersamaan, Darmadi berhasil menarik sebilah pisau dari saku celana milik Yudi dan ia mengenggamnya erat.

Sementara itu, Emy dan juga Indira dipanggul oleh para pria bertubuh tegap tersebut laksana sebuah karung bawang yang mana terlihat begitu mudahnya bagi mereka, seolah tanpa beban.

Mereka memasuki lorong gelap, dan Darmadi serta Yudi mencoba mengingat jalanan yang mereka lalui.

Ada banyak lorong dan juga ruang yang tentunya sangat membingungkan.

Darmadi mencoba mengingat jika mereka sudah memasuki pintu sebanyak 5 kali yang mana semuanya berada pada posisi sebelah kiri.

Sampai akhirnya mereka tiba disebuah tempat terbuka dengan ruangan seperti tempat penjagalan.

Tempat itu mirip sebuah stadiun yang mana ada bangku yang berundak dan melingkari ruangan tersebut. Sepertinya akan ada sebuah pertunjukkan.

"Hah," Darmadi dan Yudi tercengang saat melihat apa yang ada dihadapannya.

Bahkan saat ini ia melihat sebuah panggung megah yang terbuat dari batuan cadas setinggi satu setengah meter dengan luas 5mx5m dan terdapat sebuah meja yang terbuat dari bahan yang sama seperti panggung dengan sebilah golok berukuran besar dan tampak berkilauan pada ujung matanya, yang pastinya ia akan sangat mudah untuk memotong sesuatunya.

Tampak dibawah panggung ada banyak tengkorak yang bergelimpangan dan juga kerangka manusia yang saling terpisah.

Semuanya tampak begitu bersih karena tidak ada sedikitpun daging yang menempel ditulang belulang tersebut.

Mereka terus digiring menuju sebuah tempat yang mana mereka akan melakukan ritual terlebih sebelum dikorbankan.

Mereka dilucuti pakaiannya dan diganti menggunakan cawat, lalu dikurung pada sebuah ruangan untuk menanti masanya tiba.

Ruang tahanan itu tepat menghadap pada sebuah perapian yang terbuat dari tabung yang sangat besar.

Saat bersamaan, para wanita yang juga berasal dari suku mereka menyeret kerangka dan juga tengkorak yang berhamburan dilantai bawah penjagalan, lalu membawanya ke ruang perapian yang mirip dengan kremasi.

Para wanita itu tampak tidak menutup aurat bagian atasnya dan terbiar begitu saja.

Setelah mereka memasukkan kerangka itu ke perapian, mereka menuju sebuah ruangan dan tidak lagi terlihat.

Setelah beberapa saat. Api padam dengan sendirinya, dan mereka mengeluarkan abu dari kremasi barusan.

Kemudian para prianya mengayak abu tersebut hingga dingin dan memisahkan sisa yang tidak terbakar.

Mereka mengambil cawan dan memasukkan abu pembakaran kedalamnya, lalu mengaduknya dan meminumnya secara beramai-ramai.

Tak hanya sampai disitu, mereka mengambil abu tersebut dan membaluri tubuh mereka.

Perlahan dua orang lainnya tampak menuju ruang tahanan denagn membawa abu yang sama dan membalurkannya pada tubuh kedua pemuda yang saat ini menjadi tawanan mereka.

"Hei..., jangan.. Kau kira aku ini apapan?" Yudi mencoba memberontak, tentu saja ia sangat takut dengan hal aneh tersebut.

Akan tetapi, keduanya tak dapat menolak, karena mereka lebih terlihat beringas.

Setelah membaluri kedua tawanannya dengan abu mayit, maka mereka keluar dari ruang tahanan dan kembali menutupnya.

Kini keduanya tampak memutih tubuhnya karena terbalurkan abu mayit.

"Sungguh biadab mereka, sudah berapa yang menjadi korbannya!" ucap Darmadi kesal, ia merasakan tubuhnya sangat gatal dan aura negatif seolah sedang menyelubunginya. Bagaimana tidak, hal yang dilakukan oleh suku tersebut sangat gila.

"Dar, pisau tadi kemana?" tanya Yudi dengan nada berbisik. Ia sebenarnya merasa mual dan pusing karena pengaruh abu tersebut, tetapi mencoba untuk dikuat-kuatkan.

"Tertinggal dicelana saat mereka melucuti kita tadi," sahut Darmadi.

"Siaaal!" maki Yudi.

"Mungkin kita bisa saking membuka satu sama lain," jawab Darmadi santai.

Yudi menatapnya. "Maksudmu?" tanya Yudi dengan penasaran.

"Kau bisa menggigit taliku atau membukanya dengan gigi, dan aku akan membuka ikatanmu," saran Darmadi.

Yudi tampak berfikir. "Baiklah, mungkin bisa kita coba," jawab Yudi lalu mencoba mendekati Darmadi dan berjalan kearah belakang rekannya untuk melakukan saran yang dimaksud.

Darmadi menjulurkan tangannya dan mengangkatnya sedikit tinggi untuk memudahkan Yudi menggigitnya, dan pemuda itu mulai melakukan percobaan.

Tetapi sialnya, aksi mereka dilihat oleh salah satu penjaga yang sedang mengawasi mereka.

Terpopuler

Comments

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

kek donat 🍩 berselimut gula halus 😙

2024-08-16

4

ʟˢ ₛⷮᵤͤᵣ᩸ₜ₁ͦᵒ ⍣⃝☠️​

ʟˢ ₛⷮᵤͤᵣ᩸ₜ₁ͦᵒ ⍣⃝☠️​

𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐬𝐮𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚-𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚, 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐝𝐢 𝐢𝐛𝐚𝐫𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐢 𝐝𝐠𝐧 𝐡𝐮𝐭𝐚𝐧 pepaya🤣🏃‍♂️🏃‍♂️

2024-08-20

0

V3

V3

yaelah ... baru jg si Yudi mo mulai tp mlh dah ketahuan ja 🤣🤦🤦

2024-08-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!