"Uhuk...uhukk..," Yudi terbatuk dan memuntahkan air dari mulutnya. Ia masih begitu sangat berat untuk membuka matanya, sebab kepalanya masih terasa sangat berat dan sakit.
"Sssshhtss..., aaaaarrrgh," terdengar seseorang mengerang kesakitan tepat berada didekatnya.
Yudi memaksa matanya untuk terbuka dan pandangannya masih samar. "Wooooy, bangun!" ucap seseorang dengan nada tegas.
Pria itu menyipitkan ujung matanya, dan melihat seorang wanita berambut bergelombang sebahu sedang berkacak pinggang berdiri dihadapannya dengan pakaian yang basah kuyup, ternyata itu adalah Emy.
Yudi mencoba bangun dan merubah posisinya untuk duduk, meskipun kepalanya masih terasa berat. "Huh, ternyata kamu!" ucapnya menggerutu.
"Iya baginda raja, ada yang bisa saya bantu?" sahut wanita berkulit kuning langsat tersebut dengan nada mencibir, dan tentunya memasang wajah meledek.
"Ambilkan aku minum," jawab Yudi senaknya.
"Ambil saja sendiri. Noh, masih banyak tuh dilaut, minum sampai kembung!" jawab Emy, lalu beranjak pergi dan membantu teman mereka yang masih tak sadarkan diri, terutama Indira yang masih tergeletak tak jauh darinya.
Yudi menggerutu dengan jawaban Emy. Wanita itu selalu saja membuatnya gemas, entah angin apa yang membuatnya ikut berlibur bersamanya.
Disisi lain, Darmadi dan Guntur membantu para teman mereka yang masih terlihat syok dengan kejadian yang baru saja menimpa mereka, dan nasib baik mereka masih terselamatkan, meskipun entah dimana keberadaan mereka saat ini.
Mia dan Syahfitri sudah dapat duduk dengan baik, sedangkan Andini mencoba mencari dedaunan dipinggiran hutan yang tak jauh dari tepi pantai untuk mengobati luka para sahabatnya, terutama menghentikan pendaharan yang terjadi.
"Kita ada dimana?" tanya Yudi dengan rasa penasaran. Saat ini yang terlihat hanya hamparan laut lepas yang seolah tiada betepi.
"Tanya mbah google saja?" sahut Andini yang baru saja tiba didekat mereka dengan daun senduduk ditangannya.
Seketika pria itu mengingat akan ponselnya. Ia mero--goh tas selempang miliknya, dan benda itu masih ada disana, tapi sayang sudah mati total. "Sial!" makinya kesal saat mengetahui benda pipih itu tak berfungsi saat akan dibutuhkan.
"Bang, bantu haluskan ini, luka Mia cukup parah dibagian betisnya, sepertinya terkena goresan puing kapal!" titah Andini pada Darmadi.
Pria itu menganggukkan kepalanya, lalu menghaluskan daun senduduk kunyahannya.
Guntur mengamati sekitarnya. Ia merasakan jika mereka sat ini belum benar-benar selamat, sebab lokasi mereka berada ditengah-tengah pulau tak berpenghuni dan ini adalah bencana.
"Gawat!" gumam pria itu sembari mengacak rambutnya.
"Ada apa, Bang?" tanya Syahfitri penasaran. Ia mulai dapat mengumpulkan kesadarannya.
"Kita terjebak dipulau yang kita sendiri tidak tahu dimana? Kita harus mencari cara bagaimana agar dapat selamat dan keluar dari tempat ini," ia tampak sangat berfikir keras.
"Kita buat rakit saja," sahut Indira.
"Tebang bambu atau pohonnya digigit ya? Soalnya kagak ada golok," Yudi menimpali. Seketika Indira mencebikkan bibirnya dan menatap kesal pada sahabatnya.
"Aku-kan kasih ide. Emang kamu punya ide apa!" jawab gadis berambut panjang lurus itu.
"Sudah, jangan berantem. Kita fikirkan nanti, yang penting kita rawat luka teman yang masih parah," Darmadi menengahi.
Guntur mencoba mencari tempat untuk mereka berteduh. Hamparan pasir putih nan luas serta air laut yang menghijau sungguh pemandangan menakjubkan, tetapi tidak aman untuk dijadikan tempat tinggal.
"Ayo, kita ke tepi hutan. Mungkin disana lebih baik, dari pada kita berjemur dipantai, ntar yang ada gosong," ajak Guntur pada teman-temannya.
Mereka beranjak bangkit dan mengikuti ajakan Guntur untuk menepi ke pinggiran hutan bakau yang tampak tumbuh rimbun.
"Arrrrrrghh..." terdengar suara seorang pria merintih kesakitan dari arah utara. Sepertinya ia juga korban dalam tragedi kapal mereka yang karam.
Mereka serempak menoleh kearah sumber suara, lalu Darmadi menoleh pada Yudi. "Coba bantu lihat," pintanya.
Seketika Yudi tercengang "Hah, aku?!" ia menunjuk mukanya sendiri.
"Iya, kamu. Coba periksa, apakah dia korban juga,"
"Kamu saja yang periksa, kenapa harus aku!" bantahnya.
Emy menggeretakkan giginya. Lalu berjalan menuju utara untuk memeriksa apa yang terjadi. Melihat hal tersebut, Yudi akhirnya memutuskan untuk mengekori wanita tersebut, tak lupa ia memungut sebatang kayu yang masih basah dan sepertinya terbawa ombak, tujuannya untuk berjaga-jaga.
Sesat ia terkejut. Sebab ujung batang kayu yang ia temukan terlihat meruncing, yang mana artinya itu adalah bekas sayatan benda tajam. "Hah!" ia merasakan persaannya tidak enak.
Emy sudah berada tak jauh dari sosok yang mengerang kesakitan tersebut. seorang pria dengan berperawakan tinggi besar sedang terluka dan tergeletak dipasir putih. Wanita itu berjongkok hendak memeriksanya.
"Tunggu!" cegah Yudi menahan sahabatnya agar tak mendekati pria tersebut.
Emy tersentak kaget mendengar suara Yudi, lalu beringsut mundur. Pria itu menghampirinya setengah berlari, dan menggunakan kayu sepanjang satu meter setengah untuk memeriksa pria terebut.
"Gak sopan banget, kamu!" ucap Emy kesal melihat ulah Yudi.
"Jangan sembarangan, kita tidak mengenal pulau ini, bisa saja bahaya mengintai disekitar kita," jawabnya. Kali ini ia tak ingin berdebat.
Sementara itu, Darmadi dan Andini memasuki hutan. Mereka harus mencari sumber air tawar dan juga makanan untuk mengganjal perut mereka, sebab tidak ada perbekalan yang tersisa, semuanya hilang dalam kecelakaan yang terjadi.
"Ikut," Syahfitri berlari mengejar keduanya yang tampak memasuki hutan.
Sedangkan Guntur bertugas menjaga para wanita yang masih memerlukan perwatan, terutama Mia dan juga Indira.
Sepanjang jalan, Syahfitri menggandeng lengan Andini, ia takut jika terpisah ditengah hutan nantinya.
"Kita mau makan apa?" tanya Syahfitri sembari memegangi perutnya yang terasa lapar.
"Makan nasi Padang," jawab Darmadi.
"Emang ada?" tanya wanita itu penasaran.
"Ya ada, kalau kamu tinggal dikota," jawab pria itu sembari meledek.
Wanita itu memanyunkan bibirnya, sedangkan Andini hanya tersenyum geli.
Sreeeeek....
Terdengar suara gemerisik dari balik semak. "Apa itu?" Syahfitri tampak takut. Ia semakin mengeratkan cengkramannya dilengan Andini.
"Sssssstt... Jangan berisik" Andini mengingatkan.
Sementara itu, Darmadi memberi isyarat agar mereka tetap berada ditempat, sedangkan ia akan pergi untuk melihat apa yang terjadi.
Pria itu berjalan mengendap-endap, dan ternyata seekor rusa jantan sedang merumput dan ia merasa sangat beruntung jika seandainya hewan itu dapat diburu, tentunya akan menjadi penunda lapar mereka.
Tetapi Darmadi lupa, ia tak memiliki senjata untuk berburu.
Wuuuuuuussssh....
Sreeeet....
Sebuah anak panah melesat tepat dileher sang rusa, dan dengan seketika rusa itu ambruk diatas rerumputan. Lalu sesosok wanita melesat dengan sekejap mata dan membawa sebuah pisau sangkur ditangannya, lalu menyembelih hewan tersebut.
Darmadi diam terpaku. Ia bagaikan membeku saat melihat siapa yang ada dihadapannya. Wanita cantik dengan kulit putih laksana seorang puteri yang mana tak dapat ia gambarkan kecantikannya sedang berada tak jauh dari tempat ia mematung.
Wanita itu adalah sosok yang ia lihat saat dikapal, sepertinya ia selamat saat kapal mengalami musibah dan mereka terdampar dipulau yang sama. Tetapi siap dia?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
AQ hadir sebagai pembaca setia buhul gaib kusaih jejak KK thor tmbh smgt q nanti kelanjutannya yah
2024-08-13
0
✪⃟𝔄ʀ 𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ☕☕☕
wehhhh Jan petualangan yg menarik ringalndi pulau yg anrah neranrah nya rak tau btw ini ada dimana nasi Padang begedek dan sambal ijo euuuuuhhhhh bikin
2024-08-13
1
ʟˢ ₛⷮᵤͤᵣ᩸ₜ₁ͦᵒ ⍣⃝☠️
apakah asih ada di pulau itu juga?
2024-08-12
1