episode-16

Ditempat lain, Edy melesat membawa Guntur, Mia dan juga Andini keluar dari sarang ular yang sudah musnah.

Mereka menyusuri lorong dengan cara melayang kencang, dan...,

Brrrrrrrrrrr....

Terdengar suara sesosok makhluk yang saat ini sedang mengejar keempatnya.

Tampak sosok ular raksasa berkepala tiga sedang ikut mengejarnya dan aura kemarahan begitu terpancar dari wajahnya.

"Hah!" keempatnya tercengang, dan mereka melihat sebuah cahaya yang terang benderang didepannya, lalu....

"Aaaaaaaaaaa....."

Teriakan mereka terdengar sangat kuat saat cahaya yang mereka kira adalah dataran, ternyata tebing jurang yang sangat dalam dan bebatuan cadas siap menyambut mereka.

Saat itu pula ular berkepala tiga itu ikut terjun dan bersiap melahap mereka sebagai dessert yang tertunda.

Mulut ular itu tampak terbuka lebar. Memperlihatkan taring yang mencuat tajam.

Sedangkan dua kepala disisi kiri dan kanannya tampak perlahan memanjang dengan kecepatan maksimum, dan siap melahap ketiga orang tersebut.

Saat bersamaan, sesuatu melesat kencang dan...,

Braaaak....

Sebuah tebasan dari senjata tajam mengenai salah satu kepala ular disisi kanan.

Kraaaaasss.....

Semburan cairan pekat berwarna hijau menyembur dengan deras, hampir saja leher sang ular terpenggal.

"Aaaaaarrrgggh....,"teriak ular itu kesakitan.

Sekelebat bayangan itu menangkap Andini dan juga Mia, sedangkan Guntur dibawa oleh Edy yang tadi juga ikut terjun.

Seketika kedua gadis itu tercengang melihat betapa cantiknya wanita yang telah menyelamatkan mereka.

Mereka mendarat disebuah batu besar yang tampak banyak terdampar didaratan.

Wanita itu menurunkan keduanya, begitu juga dengan Edy.

Ketiga orang itu tampak bingung dengan kedua sosok sakti mandraguna yang sudah menyelamatkan mereka.

"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Guntur yang kesekian kalinya. "Apakah Siluman Ular itu ada hubungannya dengan kalian?" Guntur menimpali ucapannya.

Tetapi kedua orang itu hanya diam saja. Terlagi wanita cantik tersebut, dimana ia begitu sangat diam dan bersikap dingin.

Ia menghampiri Edy, lalu mengusap luka yang ada dikening sang pria, dan hanya dalam sekejap, luka itu menghilang.

Lagi-lagi, ketiganya tercengang. Mereka menatap sang wanita dengan bingung, sebab dapat menyembuhkan luka dengan begitu mudahnya.

Belum sempat hilang rasa takjub mereka, tiba-tiba wanita cantik melemparkan pedangnya ke arah Andini yang berdiri bengong menatap sang wanita.

Wuuuuusssh....

Andini memejamkan kedua matanya. Ia mersa pasrah saat seseorang itu menyerangnya.

Pedang itu berputar bagaikan sebuah roda yang melayang diudara dan siap untuk memenggal apa yang menjadi sasarannya.

Pedang melewati ujung telinga Andini yang sudah pasrah akan nasibnya.

Srrrrrrreeek....

Terdengar suara ujung pedang menancap pada salah satu sosok dibelakangnya. Saat ia membuka matanya, ia mengerjap dengan nafas memburu, dan ia merasakan juka masih bernafas.

"Aaaaaarrrgggh....," teriakan kesakitan berasal dari seseorang dibelakang yang terkena ujung pedang.

Dengan gerakan cepat, Andini, Mia dan juga Guntur menoleh kearah belakang, dan ternyata seseorang berkulit gelap telah terkena ujung pedang yang mengenai dadanya menembus hingga kepunggung.

Tanpa diduga, wanita cantik itu melesat, lalu menarik kepala pedang dan memberikan tendangan kepada sosok pria bertubuh tinggi dan besar itu hingga ambruk ketanah.

Saat bersamaan, ribuan ular datang bagaikan sebuah air bah, dan hal itu membuat Andini, Mia, dan Guntur ketakutan.

Ular-ular berbisa itu merayap dengan begitu cepat dan menuju kearah mereka.

Tetapi Edy dan wanita cantik itu menghadang serangan yang datang. Keduanya memutar tubuh dan mengayunkan pedangnya, lalu menebas satu persatu ular yang datang dengan begitu cepat.

Wanita itu mengucapkan mantra Waringin Sungsang dengan gerakan menggebrak, ia membuat semua ular terpental kebelakang, lalu bertumpuk menjadi satu.

Saat bersamaan, sebuah ajian Segoro Geni digunakan oleh Edy dan membuat ular-ular itu terbakar hangus.

*****

Syahfitri berjalan diantara sesemakan. Ia sudah kehilangan jejak para sahabatnya, kini ia sendirian.

Wanita itu berjalan menyusuri hutan. Tanpa sengaja ia menemukan tombak milik Emy yang tertinggal. Ia memungutnya, dan memperhatikan sekelilingnya.

Ia tampak begitu ketakutan dan juga waspada.

Ia melihat tanaman pisang tumbuh dengan buahnya yang menguning dan beberapa burung memakannya.

Ia menelan salivanya, lalu menarik daun pisang dan merobohkannya.

Ia berhasil mendapatkan buah pisang itu dan memakannya dengan sangat lahap.

Sudah semalaman ia belum mendapatkan makanan dan bahkan ia melewatkan malam tadi dengan sendirian, bahkan serangga menggigit kulitnya dan menghisap da-rahnya.

Sreeek... Sreeeek....

Terdengar suara gemerisik dari balik semak dan ia bersembunyi diantara rimbunan pohon pisang, dan mencoba mengintai apa yang berada dibalik semak dengan menghunuskan ujung tombaknya.

Sesaat ia merasakan sesuatu menyentuh pundaknya. Gadis itu memutar tubuhnya dan bersiap menghunuskan ujung tombaknya untuk menyerang sosok yang menyentuhnya.

Taaap...

Satu tangkapan tepat dibatang tombak, dan keduanya saling bertatapan.

Seketika Syahfitri tercengang. "Ka Oi!" pekiknya dengan tertahan.

Ia seolah tak percaya saat melihat sosok dihadapannya berdiri dengan tegak. Ia mendekap pria dihadapannya dengan tangisannya yang meledak.

"Tenanglah, aku disini," ucap Oi mencoba menenagkan hati wanita yang sedang kalut itu.

Ia mencoba mengusap punggung sang wanita yang saat ini sedang tersedu sedan, bahkan tergugu.

"M-mereka... Mereka menghilang," ucapnya dengan nada terbata. Wanita itu melepaskan dekapannya, lalu menoleh kearah selatan.

"Orang-orang itu membawa mereka ke sana," ungkapnya lagi.

Oi menatap arah yang ditunjuk oleh sahabatnya.

"Tenanglah, kita akan membawa mereka pulang dengan selamat," pria itu mencoba meyakinkan.

Sesaat Syahfitri merasakan memiliki kekuatan untuk dapat bertahan ditempat ini.

"Apakah kau sudah makan?" tanya Oi lagi.

Wanita itu menganggukkan kepalanya. Sesaat ia dikejutkan oleh seorang pria muda berwajah tampan yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.

"Siapa, Dia?" bisik Syahfitri saat melihat pria tersebut.

"Kami bertemu dengan kebetulan saja dan ia akan membantu kita untuk menemukan mereka," ungkap Oi pada sang wanita.

"Apakah ia bisa dipercaya?" tanya wanita itu dengan nada berbisik.

"Aku mempercayainya," sahut Oi kembali meyakinkan.

Syahfitri menganggukkan kepalanya, lalu mereka berjalan menuju ke Selatan untuk mencari jejak keberadaan rekan mereka yang menghilang.

"Terakhir kali kamu melihat mereka dimana?" tanya Oi dengan penuh selidik.

"Malam tadi begitu gelap. Aku hanya melihat mereka ditandu dengan posisi terbalik dan dibawa menuju ke Selatan," sahutnya.

Oi menoleh kearah pria tampan berwajah dingin itu.

"Bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan petunjuknya?" tanya Oi dengan kegelisahan.

Pria itu mengedarkan pandangannya kesegala arah. Hingga ia menemukan jejak kaki diatas rerumputan yang berukuran sangat besar dan ini tidak seperti biasanya.

"Kita ikuti arah jejak kaki ini, dan pastikan membuat tanda pada setiap pohon yang kita lewati agar tidak tersesat," titah pria dingin itu dengan begitu sahaja.

Oi menganggukkan kepalanya untuk memberikan persetujuan atas pernyataan yang dilontarkan oleh pria muda berwajah tampan yang kini ia daulat menjadi pemimpin mereka untuk menyelesaikan misii penyelamatan.

Terpopuler

Comments

V3

V3

knp kang oi gak bawain aku milk shake atau bakso goreng githu 🤣

2024-08-23

0

✪⃟𝔄ʀ 𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ☕☕☕

✪⃟𝔄ʀ 𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ☕☕☕

selamet2 yah tp gmn dgn yg lain akan bertemu kembali apa gimana 🤔
wis d tgu ae lah yo

2024-08-22

1

ʟˢ ₛⷮᵤͤᵣ᩸ₜ₁ͦᵒ ⍣⃝☠️​

ʟˢ ₛⷮᵤͤᵣ᩸ₜ₁ͦᵒ ⍣⃝☠️​

asih dan edi ini menguasai ajian Waringin sungsang dan segoro geni. mirip satria y

2024-08-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!