DA-7

Traaaang....

Ujung tombak milik Yudi beradu dengan ujung tombak milik manusia primitif yang menjadi lawannya. Sedangkan pemimpin mereka menyerang Darmadi yang baru saja beranjak bangkit.

Tanpa pemuda itu sadari, ia telah menggumakan jurus yang ia dapat dari wanita cantik yang tadi mencoba menyerangnya.

kraaaaaas....

Ujung tombak milik lawannya berhasil merobek kaos milik Yudi. Pemuda itu tercengang. Belum sempat ia berfikir, sosok lawannya sudah kembali memberikan serangan, dan pemuda itu menggunakan gerakan menghindar, lalu memutar tubuhnya dan memberikan serangan balasan.

Sreeeeeeekss...

Satu hujaman ujung mata tombak mengenai perut manusia mengerikan itu hingga menembus kebagian belakang. Seketika darah memercik dari luka tersebut.

Seketika sosok itu terdiam, lalu mencoba mengangkat tombaknya, tetapi Yudi tak memberikannya kesempatan, ia menendangnya hingga tombak terlepas dari tubuh lawannya.

Seketika lawan tersebut ambruk dan mengejang bagaikan seseorang terkena ayan, lalu perlahan diam dan tak berkutik lagi.

Sementara itu Darmadi menggunakan pisau lipat yang diberikan oleh Yudi padanya untuk melawan serangan manusia primitif.

Berkali-kali ia harus melompat untuk menghindari ujung tombak yang seakan ingin menjadikannya buruan.

Sosok itu kembali menghunuskan tombaknya, lalu Darmadi menghindar ke sisi kira, dan dengan gerakan cepat memutar tubuhnya, sehingga posisinya tepat berada dibelakang lawannya, lalu ia menghujam kan pisaunya tepat dibagian pundak lawan, dan menariknya dengan gerakan membelah ke bawah hingga membuat lawannya terpekik menahan sakit.

Kraaaaaas...

"Aaaaaarrrrggghh...," Sosok itu meraung kesakitan, dan dengan cepat Darmadi melumpuhkannya.

Seketika kedua pemuda itu merasakan nafasnya tersengal karena pertarungan yang terlalu sengit dan tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.

Melihat mereka akhirnya selamat. Keduanya berpelukan teletubies karena sudah terhindar dari maut yang mengincar mereka.

"Ayo, kita segera ketepi pantai. Kita harus memperingatkan yang lainnya untuk berhati-hati," ucap Darmadi sembari melepaskan pelukannya.

Yudi menganggukkan kepalanya. Lalu Darmadi akan beranjak dari tempatnya.

"Tunggu," cegah Yudi.

"Apa lagi? Mau ngajak pelukan ulang?" ledek Darmadi.

"Iss... Brengsek, Lu," maki Yudi kesal. "Kita bawa tombak dan senjata yang ada pada tiga mayat ini, untuk jaga-jaga." Yudi memungut tombak dan sumpit yang ada pada salah satu mayat tersebut.

Darmadi ikut memungut dan mereka menyelesaikannya dengan cepat.

****

Sebuah kapal nelayan yang terbuat dari kayu berkualitas tampak merapat ke pelabuhan. Seorang pria yang menjanjikan akan barang tersebut benar adanya.

"Ini, sesuai kesepakatan," ucap pria yang bernegosiasi pada pemuda bernama Oi tersebut.

Oi mengangguk, lalu turun ke kapal dan bersiap akan pergi. Tetapi ia terhenti saat seorang pria berwajah tampan dengan kulitnya yang berwarna putih datang dengan setengah berlari mengejarnya yang sudah menghidupkan mesin.

"Tunggu, aku ikut!" teriaknya dengan nafas tersengal. Tanpa menunggu persetujuan dari Oi, pemuda itu melompat naik keatas kapal. Lalu duduk didekat kemudi.

Oi merasa bingung. "Siapa kamu?" tanyanya dengan penuh selidik.

Pemuda berwajah tampan itu menunjukkan kartu identitasnya, yang mana ia seorang pelancong sama sepertinya, hanya berbeda kota saja.

"Lee?" guman Oi ketika membaca nama tersebut.

"Ya, kau ingin ke pulau itu-bukan? Maka tujuan kita sama, aku akan membayarmu dengan uang lebih, maka berlayarlah sekarang," titahnya dengan nada dingin, lalu memberikan segepok uang yang pastinya jumlahnya sangat banyak dalam sebuah plastik kresek.

Jujur saja Oi merasa kesal, sebab ia tak suka diperintah, apalagi dengan orang asing. Tetapi ia memilih untuk mengalah, sebab tujuannya ingin segera tiba dipulau itu dan bertemu dengan rekan-rekannya.

Oi mengemudikan kapal menuju pulau yang dikabarkan menjadi destinasi wisata paling viral dan memiliki keindahan alam yang begitu indah.

Kapal berlayar ditengah lautan. Keduanya masih bungkam dan tidak ada yang saling berbicara. Hingga saat sebuah kapal kecil datang menghampiri mereka dengan tiga penumpang didalamnya.

Ketiga orang tersebut terlihat membawa tombak, sebuah alat tradisional dan hampir punah, tetapi tidak dapat diremehkan.

Kapal kecil yang lebih dikenal dengan sebutan sampan motor itu merapat ke kapal yang mereka tumpangi. Tentu saja Oi merasa sangat takut dengan hal tersebut.

"Tenanglah," ucap Lee pada Oi yang mulai tampak gelisah.

"Siapa mereka?" tanya Oi dengan gemuruh didadanya.

Belum sempat Lee menjawab, dua penumpang kapal kecil sudah naik ke atas kapal mereka dengan menghunuskan tombak. Sepertinya mereka akan merompak.

Oi merasakan jika tindakannya untuk menyusul rekan-rekannya akan berakhir dengan sesuatu yang sangat mengerikan.

"Berikan uangmu!" ucap manusia mengerikan itu,"

Oi terpaksa memberikan uang dalam kantong kresek yang baru saja diberikan oleh pemuda tampan yang baru dikenalnya hari ini.

"Tas," titah sang perompak dengan ujung tombak yang berada tepat ditelinga kiri Oi.

Lagi-lagi Oi harus merelakan tas-nya, karena ia masih menyayangi nyawanya. Ia melepaskan tas ranselnya, lalu memberikannya pada sang perompak.

Setelah berhasil melucuti harta benda milik Oi, keduanya kini mulai memeras pemuda tampan disebelahnya yang terlihat tenang tanpa perlawanan sedikitpun.

Mereka memberikan isyarat agar Lee juga memberikan harta bendanya. Tampak pemuda itu tersenyum datar. Lalu membuka tas ransel miliknya, dan mengambil sesuatu untuk diberikan kepada kedua perompak tersebut.

Tetapi tanpa diduga, sang pemuda menarik tangannya dari dalam tas dan mengeluarkan sesuatu dengan cepat, lalu...,

Dooor... Dooor... Dooor...

Terdengar suara tembakan sebanyak tiga kali, dan hal itu membuat Oi menggigil ketakutan, karena ketiga perompak sudah terkapar tak bernyawa dengan luka tembak dibagian dada kiri mereka.

Belum sempat Oi hilang rasa takutnya. Pemuda itu sudah memindahkan dua jasad perompak itu kembali ke kapal kecil, lalu menelangkupkannya dengan ketiga jasad dibawahnya.

Oi semakin menggigil ketakutan, sebab baru kali ini ia melihat seseorang dihabisi dan menghabisi didepan matanya, bahkan dengan gerakan yang begitu cepat.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, pemuda tampan itu kembali duduk dikapal dan duduk disisi Oi dengan begitu tenang seolah tiada masalah.

Tampak cairan merah mengambang dibagian permukaan air, sepertinya berasal dari luka tembakan para korban.

"Bergegaslah pergi, sebelum ikan hiu datang karena mengendus aroma anyir tersebut," pesan Lee pada Oi yang masih tampak syok.

Tangan pemuda itu gemetar dan seperti tremor. Ia seolah tak dapat mengendalikan rasa takutnya. Seorang pemuda tampan yang saat ini bersamanya telah menciptakan rasa takut dalam hitungan menit saja.

Melihat hal tersebut. Lee tak ingin berlama-lama ditempat ini, sebelum kawanan hiu datang untuk menghancurkan kapal dan mencabik mereka. Pemuda tampan itu mengambil alih untuk mengemudi, dan mengarungi lautan untuk menuju kearah yang menjadi tujuannya saat ini.

Oi kembali tercengang melihat pemuda bernama Lee itu mengemudikan kapal dengan kecepatan yang tinggi. Jantung pemuda itu kembali bergemuruh dan ia harus berpegangan pinggir badan kapal dengan kuat.

Terpopuler

Comments

ʟˢ ₛⷮᵤͤᵣ᩸ₜ₁ͦᵒ ⍣⃝☠️​

ʟˢ ₛⷮᵤͤᵣ᩸ₜ₁ͦᵒ ⍣⃝☠️​

𝐰𝐡𝐨𝐲... 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠 🤣🤣

2024-08-20

0

ʟˢ ₛⷮᵤͤᵣ᩸ₜ₁ͦᵒ ⍣⃝☠️​

ʟˢ ₛⷮᵤͤᵣ᩸ₜ₁ͦᵒ ⍣⃝☠️​

𝐧𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐢𝐡, 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐠𝐞𝐦𝐮𝐤 𝐝𝐚𝐫𝐢𝐩𝐝 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠 ular🤣

2024-08-20

0

ʟˢ ₛⷮᵤͤᵣ᩸ₜ₁ͦᵒ ⍣⃝☠️​

ʟˢ ₛⷮᵤͤᵣ᩸ₜ₁ͦᵒ ⍣⃝☠️​

𝐨𝐡 𝐭𝐞𝐫𝐧𝐲𝐚𝐭𝐚 𝐘𝐮𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚𝐣𝐚𝐫𝐢𝐧 𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐭𝐨.
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐢𝐧𝐢 𝐲𝐮𝐝𝐢

2024-08-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!