Dimansion Bernard,
Begitu masuk, Duke Armand segera membawa Harry kedalam kamar yang telah disiapkannya.
Tak ingin membuat istri dan anaknya merasa tak nyaman maka Duke Armand memberikan Harry kamar didekat perpustakaan yang cukup jauh dari kamar Dunchess Roselyn dan Nathan agar tak terjadi perselisihan yang tak penting terjadi.
“Bagaimana Harry, apa kamu suka dengan kamar yang paman siapkan ?”, tanya Duke Armand penaran.
“Kamarnya sangat bagus paman, aku suka. Terimakasih”, ujarnya sopan.
Inilah kelebihan Harry, dia selalu bisa berkata manis sehingga dimanapun berada selalu bisa menarik simpati dan perhatian orang lain.
Mendengar jika Harry tampak menyukai kamar yang telah disiapkannya membuat hati Duke Armand merasa lega.
“Baiklah, karena sudah sangat malam maka paman akan meninggalkanmu supaya kamu bisa beristirahat”, ucap Duke Arman sambil mengusap kepala Harry dengan lembut.
“Dan untuk kamu, aku sudah menyiapkan ruangan disamping kamar Harry sehingga kamu bisa memantaunya dari dekat”, ucap Duke Armand sambil menatap Bella pengasuh Harry datar.
Bella mengangguk paham karena tadi Marry juga sudah memberi tahu kepadanya mengenai kamar yang akan dia tempati nanti.
Sesuai dengan pesan sang ibu, begitu Duke Armand hendak meninggalkan kamar untuk melihat kondisi sang anak ucapan Harry menghentikan langkahnya.
“Paman, apakah ayah akan mati ?”, tanya Harry pelan.
Hati Duke Armand merasa sakit mendengar pertanyaan tersebut dan membuatnya mengurungkan niat untuk keluar kamar.
“Harry yang sabar ya. Banyak berdoa supaya ayah bisa secepatnya bisa berkumpul dengan Harry lagi”, ucap Duke Armand menenangkan.
Tes...
Tiba-tiba Harry menangis, membuat Duke Armand pun secara spontan langsung memeluknya erat, memberikan kehangatan dan perlindungan pada bocah lelaki kecil itu.
“Paman, jika ayah mati bagaimana dengan aku dan ibu”
“Nenek pasti akan mengusir kami karena selama ini nenek sangat tak menyukai kami”, ucapnya sambil terisak.
Duke Armand yang mendengar ucapan Harry hatinya terasa sangat sakit karena dia juga tahu jika tuan dan nyonya Damaris sama sekali tak menyukai Dunchess Liona dan Harry yang selama dia anggap bukanlah keturunan Damaris karena Dunchess Liona hamil sebelum keduanya menikah.
“Jangan menangis lagi ya, ada paman yang akan membantu Harry dan ibu”, ucap Duke Armand berjanji.
“Apakah aku dan ibu bisa tinggal disini bersama paman jika nenek mengusir kami ?”, tanya Harry penuh harap.
“Kita doakan supaya ayah Harry cepat sadar sehingga nenek tak bisa lagi menyakiti Harry dan ibu karena ada ayah yang akan melindungi kalian berdua”, Duke Armand hanya bisa mengalihkan pembicaraan karena dia tak bisa menjawab pertanyaan Harry.
Mengajaknya tinggal sementara disini saja sudah dipastikan akan membuatnya kembali bertengkar dengan sang istri apalagi jika membiarkan mereka menetap disini, mungkin dia akan benar-benar kehilangan istri dan anaknya dan hal itu sama sekali tak diinginkan oleh Duke Armand.
Karena tak ingin membuat Harry bertambah sedih, Duke Armand terpaksa menemani bocah kecil tersebut hingga terlelap.
Melihat wajah tenang Harry dalam dekapannya membuat hati Duke Armand merasa sakit secara tiba-tiba.
“Apakah kamu masih pantas menjadi ayah Nathan setelah semua hal buruk dan sikap abai yang kamu berikan selama ini kepadanya ?”
Kata-kata Dunchess Roselyn terus menggema ditelinganya membuat rasa bersalah dalam hati Duke Armand kembali muncul.
Selama ini bukan hanya mengabaikannya saja, Duke Armand bahkan tak pernah memeluk Nathan sehangat ini.
“Ya Tuhan, apakah aku benar-benar ayah yang kejam sehingga sangat abai kepada darah dagingku sendiri”, batinnya penuh penyesalan.
Melihat Harry benar-benar terlelap, dengan perlahan Duke Armand meletakkan kepala bocah lelaki berusia empat tahun tersebut diatas bantal dan menyelimutinya.
Dengan sangat pelan, Duke Armand pun meninggalkan kamar Harry, berjalan menuju kamar Nathan dan ingin memberinya pelukan hangat seperti apa yang baru saja dia berikan kepada Harry.
Sebuah pelukan dan rasa kasih sayang yang tak pernah dia berikan selama ini, hari ini ingin dia tebus tanpa tahu jika hal itu sudah tak bisa Duke Armand lakukan lagi karena anak dan istrinya telah pergi meninggalkannya.
Kriet....
Duke Armand membuka pintu kamar Nathan dengan pelan agar tak menganggu istirahat sang anak sambil berjalan mengendap-endap.
“Kosong ?”, guman Duke Armand dengan kening mengkerut dalam.
Dicarinya keberadaan anak dan istrinya didalam kamar mandi karena siapa tahu Nathan didalam kamar mandi bersama ibunya, namun hasilnya nihil.
“Nathan...”
“Roselyn...”
Duke Armand terus memanggil nama anak dan istrinya sambil mengelilingi kamar, namun bukan hanya tak ada sautan, bahkan batang hidung keduanya juga tak tampak membuatnya mengeram frustasi.
“Mungkin mereka ada dikamar Roselyn”, batin Duke Armand yang segera berlari menuju kedalam kamar sang istri yang nyatanya juga kosong melompong.
Tak patah semangat, Duke Armand pun berupaya mencari keduanya dengan mengarahkan para pengawal yang berjaga di kediaman.
Seluruh mansion Bernard telah di telusuri namun jejak Nathan dan istrinya tak kunjung terlihat, bahkan Jesi dan nenek Ji’en juga ikut raib bersama keduanya.
Duke Armand pun segera mengumpulkan para pelayan dan pengawal dikediamanannya, berharap mereka mengetahui kemana istri dan anaknya pergi.
“Bagaimana kalian bisa tak tahu jika anak dan istriku pergi”
“Lalu apa gunanya aku menbayar kalian jika bekerja saja tidak becus”, teriak Duke Armand penuh amarah.
Semua orang saling lirik tanpa berani berbicara karena takut membuat Duke Armand semakin murka.
Jujur saja mereka tak tahu kemana Dunchess Roselyn dan Nathan pergi karena tak ada jejak apapun yang tertinggal di mansion.
Dunchess Roselyn memang sengaja tak membawa banyak barang dalam pelariannya agar tak merepotkan.
Bahkan pakaian yang dibawanya hanya beberapa lembar saja karena dia akan membelinya nanti ketika telah berada di kekaisaran Andromeda agar tak memberatkan.
Begitu juga dengan Jesi dan nenek Ji’en yang hanya membawa barang berharga mereka saja agar tak menimbulkan kecurigaan para pelayan yang lainnya.
Dalam kekacauan tersebut, Marry yang dalam hati merasa senang akan kepergian Dunchess Roselyn maju untuk mencari muka kepada Duke Armand.
“Tuan, apa mungkin nyonya dan tuan muda diculik”
“Bukankah beberapa waktu yang lalu nyonya dan tuan muda juga mengalami penyerangan yang hampir merengut nyawa keduanya”, ucap Marry bersuara.
Mendengar ucapan kepala pelayannya tersebut, darah dalam tubuh Duke Armand mulai mendidih karena tak menyangka jika musuh kembali bertindak.
Apalagi saat ini keadaan Nathan sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja membuat wajah Duke Armand diliputi kecemasan.
Belum juga ketegangan yang ada mereda tiba-tiba terdengar suara langkah datang dari luar halaman mansion dan langsung bergabung dengan semuanya.
“Ada apa ini ?”
“Kenapa kamu mengumpulkan pelayan dan pengawal tengah malam begini ?”, tanya Marco dengan nada dingin.
Deg,
Jantung Duke Armand seakan berhenti berdetak sejenak mendengar suara berat sang ayah menyapa gendang telinganya.
Apalagi dia melihat sang ibu menatapnya garang membuat Duke Armand kesulitan menelan ludah karena takut.
"Bagaimana ini ?"
"Apa yang harus kujelaskan kepada mereka sekarang ?", batin Duke Armand frustasi.
Roselyn adalah menantu kesayangan sang ibu sementara Nathan adalah cucu satu-satunya dan merupakan pewaris keluarga Bernard dimasa depan dan sekarang mereka hilang tepat didepan matanya membuat Duke Armand dilanda ketakutan akan amarah yang akan kedua orang tuanya keluarkan kepadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Sulati Cus
pdhl tanpa kau sadar kau tlh kehilangan
2024-07-18
0
Ching Ing Chin
up lagi Thor.. biar rasain tu si duke Armand akan penyesalannya.
2024-07-18
0
Bunda HB
Biar kapok Armand dibuta kan sama cinta masa lalu.skrg ank,istri pergi.dan org tua dtg....sipp biar cpt sadat otak Armand.
2024-07-18
0