MCI-2

BRUAKKK

BUGHHH

BUGHHH

BRUAKKK

BUGHHH

BUGHHH

Baru saja terlelap, suara perkelahian yang terjadi diluar ruangan membuat seorang wanita yang sedang tertidur bergerak gelisah.

“Bajingan mana yang berani mengganggu tidurku malam-malam begini”, gumannya menggerutu.

Karena tubuhnya masih lemah, Dunchess Roselyn pun berusaha mengabaikan apa yang terjadi di luar namun hal itu tak berlangsung lama karena suara tangisan Nathan membuatnya terjaga.

Bau anyir menyeruak diudara seiring seiring dengan tangisan Nathan yang semakin nyaring membuat Dunchess Roselyn merasa jika ada sesuatu tak beres terjadi.

Belum juga keterkejutannya hilang ketika dia melihat belati menancap di kaki Nathan kini dia harus dikejutkan oleh keberadaan enam orang asing dengan pakaian serba hitam didalam kamarnya.

“Siapa kalian ?”

“Berani sekali kalian memasuki mansion Bernard dan membuat kekacauan disini”, tanya Dunchess Roselyn dengan nada dingin.

Bukannya menjawab, keenam lelaki tersebut justru tertawa kencang dengan tatapan mengejek kearahnya.

“Kamu tak perlu tahu siapa kami, yang jelas malam ini kami akan memberi hadiah kejutan yang tak akan terlupakan untuk anda selamanya DUNCHESS YANG TERBUANG”, ucap salah satu penyusup tersebut sambil menyeringai tajam dengan sorot mata meremehkan.

Dunchess Roselyn menatap enam lelaki dengan pakaian serba hitam yang ada dihadapannya dengan waspada sambil merogoh belati kecil yang dia sembunyikan dibalik bantal, sebuah kebiasaan yang ternyata cukup berguna saat ini.

Untung saja ingatan Dunchess Roselyn sudah kembali, jika tidak mungkin dia akan menangis dipojokan kamar dengan tubuh gemetar ketakutan berhadapan dengan para penyusup yang terlihat sangat bengis tersebut.

Melihat jika musuh akan kembali menyerang dan mentargetkan anaknya, Dunchess Roselyn pun dengan sigap melempar belatinya kearah salah satu penyusup tersebut tepat mengenai dadanya.

Melihat satu rekannya telah ambruk tak bernyawa, kelima lelaki berpakaian hitam tersebut langsung menyerang Dunchess Roselyn dengan membabi buta.

Melihat jika para penyusup kembali mentargetkan sang anak, Dunchess Roselyn yang tak ingin Nathan dalam bahaya segera menyuruh anaknya bersembunyi dibawah kolong tempat tidur setelah mencabut belati yang menancap dikakinya terlebih dahulu dan melilitkan selimut agar darah dikaki Nathan berhenti mengalir.

“Nathan tunggu disini dan jangan keluar”, bisik Roselyn yang langsung menutupi tubuh sang anak dengan beberapa kotak kayu yang ada disana agar tubuh Nathan terlindungi.

Nathan yang mendengar perkelahian didalam kamar hanya berani meringkuk seperti bola dan menggeser kotak kayu yang ada semakin rapat untuk menutupi seluruh tubuhnya.

Dunchess Roselyn menyerang para penyusup tersebut dengan penuh amarah dan beberapa kali memberikan tendangan dan pukulan tepat diwajah dan perut musuh.

“Siapapun kalian, aku tak akan membiarkan kalian hidup setelah berani mengusikku”, ujar Roselyn sambil menatap kelima penyusup yang tersisa dengan tatapan membunuh.

SETHHH

SETHHH

BRUAKKK

BUGHHH

BUGHHH

BUGHHH

CRASHHH

Darah segar mengenai tembok dan pakaian yang Dunchess Roselyn gunakan, namun hal itu tak membuatnya berhenti untuk menghajar para penyusup yang berani mengusiknya dengan membabi buta.

Kelima penyusup yang babak belur bahkan ada yang sampai muntah darah tak menyangka jika Dunchess yang tak dianggap oleh suaminya itu begitu tangguh.

Dimana wanita penakut yang hanya mengandalkan kekuasaan suaminya untuk bertahan hidup di ibukota tersebut berada.

Tampaknya rumor yang beredar diluar tersebut hanyalah hoax semata karena wanita yang ada dihadapan mereka saat ini bukanlah burung pipit yang mudah mereka bunuh melainkan iblis wanita yang kejam.

Dunchess Roselyn yang melihat musuhnya mulai terpojok kembali bertanya karena dia cukup penasaran akan orang yang menginginkan nyawanya dan Nathan malam ini.

“Katakan, siapa yang menyuruh kalian untuk membunuhku ?”, tanya Dunchess Roselyn dengan tatapan nyalang.

“Sampai mati pun kami tak akan memberitahumu”, ucap salah satu penyusup dengan angkuh.

Melihat jika musuh tampak tak mau membuka mulut, Dunchess Roselynpun tak lagi mengulur waktu karena setelah mengingat jika darah di kaki Nathan masih belum dia balut dengan sempurna.

Dunchess Roselyn takut luka dikaki Nathan akan terjadi infeksi jika dia membiarkannya terlalu lama karena bermain-main dengan para penyusup tersebut.

Dengan gerakan memutar, Dunchess Roselyn menancapkan belati ditangannya tepat dileher para penyusup dan mengoroknya hingga kepala mereka hampir putus tanpa berkedip.

Darah segar yang mengenai wajah dan pakaiannya tak dia hiraukan karena saat ini keselamatan anaknya lebih penting.

Melihat keenam penyusup yang ingin membunuhnya telah terkapar bersimbah darah, Dunchess Roselyn yang hendak mengambil Nathan dari kolong tempat tidur menatap jendela kamar yang terbuka lebar akibat pertempuran yang baru saja terjadi dengan tajam.

Sekelebat bayangan hitam pergi menjauh dan Dunchess Roselyn hanya menatapnya tajam tanpa ada niatan untuk mengejarnya.

“Kali ini aku akan melepaskanmu karena nasib anakku sedang dipertaruhkan, tapi aku akan tetap mencari siapa dalang kejadian ini secepatnya”, batinnya penuh tekad.

Jika Dunchess Roselyn mengabaikan satu penjahat yang kabur itu namun lain halnya dengan seseorang yang sejak dari tadi bersembunyi dalam gelap yang langsung memburu lelaki tersebut hingga masuk kedalam hutan.

Tak mendengar suara apapun di bawah kolong tempat tidur membuat Dunchess Roselyn merasa cemas dan segera membungkuk, menyingkirkan kotak kayu yang menutupi tubuh sang anak.

“Nathan !!!”, batinnya panik ketika melihat anaknya jatuh pingsan.

Perlahan, Dunches Roselyn mengangkat dan membaringkan tubuh Nathan diatas ranjang kemudian bergegas mengambil kotak obat untuk membersihkan lukanya.

Setelah luka Nathan terbalut perban sepenuhnya, Dunchess Roselyn yang ingin mengganti pakaiannya yang penuh dengan darah tiba-tiba meringis ketika merasa bahunya terasa sangat nyeri dan mengusapnya.

“Racun”, gumannya geram waktu dia mencium aroma darah yang keluar dari bahunya.

Menyadari jika belati para penyusup mengandung racun, Dunchess Roselyn pun bergegas memeriksa kondisi luka Nathan yang baru saja dibalutnya untuk memeriksa apakan belati yang menancap di kaki anaknya tadi juga beracun.

Melihat luka Nathan membiru dan sedikit membusuk padahal tadi waktu dia bungkus perban masih baik-baik saja membuat Dunchess Roselyn merasa sangat cemas.

Dengan cepat Dunchess Roselyn mengambil botol kecil yang dia yakini sebagai penawar racun didalam kotak obat dan segera meminumkannya kepada sang anak dengan harapan racun tersebut bisa hilang setelah meminum penawarnya.

Luka di kakai Nathan juga ditaburi oleh pil penawar racun yang telah dia gerus dengan sendok dan ditaburkan dilukanya yang terbuka agar dagingnya tak cepat membusuk sebelum dia kembali menutupnya dengan perban.

Setelah memastikan jika kondisi sang anak stabil, Dunchess Roselyn pun bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sekaligus mengobati lukanya.

Merasa jika bahu dan punggungnya semakin nyeri dan panas seperti terbakar, Dunchess Roselyn pun bergegas masuk kedalam bak mandi untuk berendam dengan beberapa ramuan daun obat yang telah dia masukkan disana.

Begitu tubuh putih mulusnya terendam dalam bak, Dunchess Roselyn baru menyadari jika punggungnya juga terluka karena disana juga terasa sakit dan sangat panas seperti terbakar.

Untung saja racun yang mereka gunakan tak terlalu kuat sehingga Dunchess Roselyn bisa mengatasinya dengan mudah.

Sambil berendam Roselyn kembali mengingat jika dia beberapa kali hendak diracuni oleh para pelayan namun berhasil digagalkan oleh pelayan pribadinya.

"Apakah karena hal itu Jesi menyediakan penawar racun dan daun obat sebagai antisipasi jika ada hal buruk terjadi padaku dan Nathan ", gumannya berspekulasi.

Setelah dirasa semua racun sudah berhasil dia hilangkan,  Dunchess Roselyn pun keluar dari dalam bak dan mengeringkan tubuhnya sebelum memakai pakaian kering yang telah disiapkannya tadi.

Melihat ruang dalam kamarnya sangat kacau dan bau anyir dimana-mana, Dunchess Roselyn pun memutuskan untuk menyuruh pengawal membereskan semuanya sementara dirinya akan tidur di kamar Nathan malam ini.

Melihat jika hanya pengawal di depan kamarnya saja yang dibantai, Dunchess Roselyn mulai curiga jika sang suamilah yang mengirim pembunuh bayaran tersebut kepadanya.

“Jika benar ini perbuatan Duke Armand maka aku tak akan melepaskannya begitu saja”, batin Dunchess Roselyn penuh dendam.

Sudah cukup cinta dan pengorbanannya selama ini yang nyatanya tak dianggap dan malah dibalas dengan hal buruk membuat Dunchess Roselyn pun bertekad untuk mengakhiri semuanya sebelum terlambat.

Terpopuler

Comments

Uti Enzo

Uti Enzo

suka thoor

2024-07-21

0

Himna Mohamad

Himna Mohamad

baru segini sdh tau ceritamu bagus thoor,,,semangat thoor

2024-07-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!