MCI - 7

Setelah melakukan penelitian semalaman, dokter Arnold pun pada akhirnya memperoleh hasil.

"Sesuai dugaan. Nathan terkena racun ular es",gumannya sedih.

Saat ini masih belum ada seorang pun yang bisa membuat penawar racun tersebut termasuk dirinya yang hanya bisa memberi obat agar racun tersebut tak sampai masuk kedalam aliran darah dijantungnya.

"Jika Nathan terkena racun ular es, kenapa Dunchess tidak?"

"Apa mereka sengaja mengincar Nathan karena dia adalah pewaris satu-satunya keluarga Bernard ?", gumannya berspekulasi.

Meski Dunchess Roselyn terkena racun, tapi racun yang masuk kedalam tubuhnya tergolong ringan sehingga bisa cepat dihilangkan.

"Apakah selama ini Dunchess Roselyn sering keracunan atau memang ada seseorang dalam kediaman Bernard yang berusaha membunuhnya, tapi siapa?", guman dokter Arnold penuh kecurigaan.

Melihat jika Dunchess Roselyn menyediakan obat penawar racun bukan tidak mungkin wanita itu tahu jika nyawanya sedang terancam jadi dia sudah memiliki persiapan sejak awal.

Hanya saja Dunchess Roselyn mungkin tak mengira jika para pembunuh bayaran tersebut akan menggunakan racun ular es yang sangat langkah dan mematikan.

"Aku harus secepatnya memberitahu Duke Armand agar dia waspada karena tampaknya ada musuh dalam selimut dimansionnya",guman dokter Arnold tajam.

Setelah membereskan peralatan uji cobanya, dokter Arnold pun bergegas kekuar untuk memberi kabar tersebut kepada sahabatnya.

Sementara itu didalam mansion, Dunchess Roselyn yang melihat panas tubuh Nathan masih belum turun juga merasa gelisah.

Apalagi dia beberapa kali mendengar Nathan mengerang kesakitan sambil berderai air mata membuat Dunchess Roselyn pun menjadi panik.

"Jesi, cepat panggil dokter Arnold sekarang juga !!!", ucapnya dengan penuh kecemasan.

Melihat Jesi masih berdiri mematung ditempatnya, Dunchess Roselyn pun menatapnya nyalang karena menganggap pelayan pribadinya itu tak menjalankan perintahnya.

"Maaf nyonya, tapi sebaiknya anda meminta ijin dulu kepada Duke karena jika tidak maka saya juga tak bisa keluar dari mansion untuk menjemput dokter Arnold", cicit Jesi ketakutan.

Dunchess Roselyn mengeram marah karena dia lupa jika selama tinggal di mansion ini hanya ucapan sang suamilah yang didengar oleh para pelayan dan pengawal dirumah ini.

"Baiklah, aku akan meminta ijin. Sekarang kamu jaga Nathan dan segera panggil aku jika kondisinya semakin memburuk", perintahnya tegas.

Dengan hati panik dan emosi, Dunchess Roselyn pun berjalan cepat menuju ke ruang kerja sang suami karena biasanya Duke Armand lebih banyak menghabiskan waktunya disana jika tidak sedang bertugas atau pergi ke istana.

Para pengawal yang melihat kedatangan Dumchess Roselyn pun menghalaunya karena Duke Armand memerintahkan kepada semua pengawalnya agar tak membiarkan istrinya masuk kedalam ruang kerjanya.

"Minggir kalian, aku perlu bertemu dengan Duke Armand sekarang juga", ucap Dunchess Roselyn tajam.

"Maaf Dunchess, kami tak bisa mengijinkan anda masuk karena Duke melarangnya", jawabnya tegas.

Dunchess Roselyn mengertakkan giginya hingga terdengar suara gemelatuk sambil mencengkeram ujung gaunnya menahan amarah yang kembali membara didalam hatinya.

Tak ingin membuang waktu karena nyawa sang anak berada dalam bahaya, Dunchess Roselyn pun memukul kedua pengawal hingga membuatnya pingsan di tempat dan langsung mendobrak masuk kedalam ruang kerja suaminya dengan kasar.

Dokter Arnold yang baru saja tiba bersama Jonathan yang mengantarnya keruangan Duke Armand terbelalak melihat bagaimana mudahnya Dunchess Roselyn melumpuhkan para pengawal yang menjaga ruang kerja Duke Armand.

"Apakah itu benar Dunchess ?", tanya dokter Arnold dengan raut wajah tak percaya.

"Itu memang Dunchess tuan", jawab Jonathan datar.

Masih dengan kedua mata melotot sempurna, dokter Arnold pun mempercepat jalannya untuk melihat apa yang akan Dunchess Roselyn perbuat didalam ruang kerja Duke Armand hingga berani menerobos masuk seperti itu.

Duke Armand yang mendengar pintu ruang kerjanya dibuka dengan kasar mengangkat wajahnya dan langsung mengkerutkan keningnya cukup dalam melihat sang istri berdiri didepannya dengan tatapan pembunuh kearahnya.

"Aku tahu kamu memang sama sekali tak menganggapku, tapi Nathan....dia adalah darah dagingmu sendiri. Haruskan kamu sebagai ayah abai terhadapnya disaat kondisinya kritis seperti ini !!!", ujar Dunchess Roselyn dengan nada tinggi.

"Memang apa yang terjadi pada Nathan ?", tanya Duke Armand datar.

Melihat respon datar yang diberikan sang suami, Dumchess Roselyn hanya bisa tersenyum miris melihat ketidak perdulian lelaki itu kepada anak kandungnya sendiri.

Coba saja jika yang sakit itu Harry, Duke Armand pasti akan sangat cemas dan berusaha untuk mengobatinya dengan cepat.

"Untung saja ingatanmu sudah kembali Roselyn, jika tidak entah bagaimana nasib anakmu dimasa depan", batinnya kesakitan ketika membayangkan betapa perhatiannya sang suami terhadap anak orang lain dibandingkan anak kandungnya sendiri.

Melihat jika berbicara dengan Duke Armand akan menguras semua kesabarannya, Dunchess Reselyn pun memilih untuk segera menyampaikan keperluannya datang menemui lelaki itu.

"Kondisi Nathan semakin buruk dan aku ingin kamu memanggil dokter Arnold secepatnya sebelum semuanya terlambat", Dunchess Roselyn mengucapkan semua kata dengan penuh penekanan sambil menatap tajam sang suami yang hanya menatapnya datar.

Melihat tak ada respon, Dunchess Roselyn pun berbalik namun sebelum dia keluar dia kembali bersuara "Jika sampai terjadi sesuatu hal buruk terhadap Nathan maka aku tak akan pernah memaafkanmu dan kupastikan kamu akan MENYESAL".

Belum sempat Duke Armand merespon, pintu ruang kerjanya lebih dulu ditutup oleh Dunchess Roselyn dengan kasar seiring menghilangnya siluet tubuhnya dibalik pintu.

Begitu keluar dari ruang kerja sang suami, Dunchess Roselyn yang masih memendam kekesalan dalam hatinya akibat sikap sang suami tiba-tiba merasa senang begitu dia melihat dokter Arnold berdiri dihadapannya.

"Dokter Arnold, syukurlah anda ada disini", ucap Dunchess Roselyn dengan kedua mata berbinar senang.

"Mari ikut saya", ucapnya yang langsung memegang pergelangan tangan dokter Arnold dan membawanya pergi menuju kamar Nathan.

Karena semua terjadi dengan sangat cepat, dokter Arnold hanya bisa pasrah ketika tangannya ditarik oleh Dunchess Roselyn yang terus membicarakan kondisi Nathan sepanjang perjalanan meninggalkan Jonathan yang berdiri mematung karena terkejut.

"Kenapa kamu berdiri linglung seperti itu ?", tanya Duke Armand sambil menautkan kedua alisnya heran ketika dia keluar ruangan bermaksud mengejar sang istri malah mendapati asisten pribadinya berdiri mematung seperti orang binggung.

Lamunan Jonathan buyar seketika ketika suara serak dan berat menginterupsinya dan diapun langsung menunduk hormat.

"Saya tadi hendak mengantar dokter Arnold untuk menemui anda tapi Dunchess lebih dulu membawa dokter Arnold pergi setelah keluar dari ruang kerja anda, tuan", ucap Jonathan menjelaskan.

Mendengar jika sahabat sekaligus dokter keluarganya itu dibawa sang istri kekamar sang anak, Duke Armand pun bergegas untuk menyusul keduanya karena tak bisa dipungkiri diapun merasa sangat khawatir apalagi dokter Arnold sempat mengatakan jika kemungkinan Nathan terkena racun ular es sangatlah besar.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!